(Lagu mengalun dari pengeras suara)
When we played our charade…
We were like children posing…
Playing at games, acting out names, guessing the parts we played…
.
.
.
KRUUUUK~
.
.
.
Oh what a hit we made
We came on next to closing…
.
KRUUUUK KRUUUUK~
.
Best on the—
KRUUUUK~
Lovers un—
KRUUUUUUUK~
"GYAAH! Daritadi perutmu bunyi-bunyi terus! Jangan-jangan habis ini kamu kentut, lagi!"
"Aaaw! Sori, Biggs! Tapi aku tidak bisa menahannya."
"Kamu ini, yang dipikir makanan melulu sih! Hei Wedge, kalau yang kauisi cuma perutmu, lama-lama kepalamu bisa kopong kaya balon, terus nanti meletus!"
"Tidaaaak! Habis gimana lagi? Menu hari ini lezat banget. Ayam panggang siram madu… Sup daging sapi saus kental… Keripik kentang crispydengan saus tomat segar…"
KRUUUUUUUUK~!
Separuh kelas menoleh waspada pada siswa bernama Wedge itu. Beberapa anak bahkan sudah siap-siap menutup hidung. Guru yang sedang mengajar ikut-ikutan bergaya terganggu dengan memelorotkan kacamatanya. Untung saja tiba-tiba pintu kelas terbuka. Perhatian kelas Fisika pagi itu pun teralihkan.
Seorang pemuda berdiri di ambang pintu, membuat semua siswa mengrenyit heran.
Who's that?
.
.
Hug and Kiss
Chapter 6: CHARADE
.
.
=xoxo=
"If you ever got anything you want to get off your chest, you can always talk to me."
-Wedge, FFVII-
"Aku masih lapaaar~" rengek Wedge. Diliriknya french fries Biggs yang belum tersentuh. Biggs menjauhkan makanannya dengan sigap.
"Jangan harap," tolak Biggs. "Katanya mau kurus, gimana sih?"
"Sudah kurus~ Aku turun setengah kilo, lho. Masa nggak kelihatan?"
"Setengah kilo mana ada yang sadar?" sentak Biggs tak sabar. Wedge merengek sedih.
Di tengah-tengah 'perjuangan' Wedge mencomot kentang goreng yang menggiurkan itu, dua pemuda tiba di meja mereka. Masing-masing duduk di sebelah Wedge dan Biggs.
"Oh, hai Zack!" Biggs nyaris berdiri untuk menyapa upperclassman-nya itu. Biggs memang begitu, sampai-sampai Wedge yang adalah best friend-nya tidak habis pikir si sohib yang agak congkak itu bisa punya kekaguman berlebihan terhadap kakak kelas.
Zack Fair balik menyapa Biggs. Sesaat kemudian dia sudah melanjutkan lagi brolan serunya dengan Reno yang sempat terputus.
"Daripada capek-capek meyakinkanmu, mendingan kamu lihat sendiri nanti," ujar Zack lalu menyeruput supnya.
"Paling kau cuman ngelindur waktu itu."
"Sudah kubilang, kan, selama tiga bulan pakai, Mako eyestidak pernah salah. Mata itu benar-benar keren. Hei, kalian. Kalian berdua tahu apa itu Mako eyes, kan? Advancedly designed contact lensyang lagi ngetren di mana-mana itu lho," tutur Zack sambil mengangkat-angkat alis. Biggs dan Wedge yang daritadi hanya toleh kanan kiri mengikuti perbincangan mengangguk-angguk penuh kekaguman.
"Malah pamer, lagi. Kaya cuma dia yang pakai saja," cibir Reno. Masalahnya Reno sendiri juga menggunakan contact lensitu. Ini yang membuat warna matanya yang aslinya biru pucat jadi sedikit lebih gelap, seperti birunya laut.
Selama beberapa saat setelahnya ketiga siswa—Wedge tidak termasuk—sibuk dengan santapan masing-masing. Nganggur, Wedge pun membuka pembicaraan kembali.
"Eh eh, tadi guru Fisika kami tiba-tiba memutar lagu swing, loooh," katanya dengan gaya cerianya yang khas.
Sekejap Zack dan Reno berhenti makan. Keheranan yang amat tampak gamblang di wajah mereka berdua. Astaga. Guru tua paling kaku se-ShinRa itu ternyata penyuka musik swing? Alamaaak. Baru tahu mereka kalau ada yang seperti itu.
"Tapi akhir-akhir ini memang banyak kejadian aneh, ya," lanjut si Jabrik Hitam. "Pertama berita duka dari keluarga Tifa, terus guru Kalkulatoria yang keluar tanpa sebab yang jelas itu. Kemarin, Werewolftiba-tiba muncul. Dan sekarang… Pak Tua yang kita kenal sebagai 'Si Muka Papan' itu tiba-tiba suka musik. What next?"
Keempat manusia itu mengingat-ingat lagi peristiwa beberapa hari terakhir. Memang, dalam waktu yang berdekatan tragedi serta momen-momen membingungkan datang susul-menyusul, seakan mereka tidak diberi jeda untuk menenangkan diri. Hari-hari ini, semuanya berjalan begitu cepat.
"Tunggu dulu. Werewolf? Maksud Zack motor terkeren, tercepat, dan paling termahal abad ini?" respons Biggs agak terlambat.
"Yeah. it's here!"
"Hah? Keren!" teriak Biggs.
Reno memutar bola matanya. "Gampangnya kau percaya," katanya.
"Oh iya! Ada lagi, Tadi waktu kelas Fisika, siswa baru tahu-tahu muncul."
"Heh?"
Entah sudah berapa kali satu meja itu ber-'heh' keheranan jam makan siang itu. Ternyata kejutan-kejutan yang muncul belakangan ini belum akan berhenti.
"Anak baru? Apa mungkin pertukaran pelajar? Rasanya tidak mungkin. Di OSIS, program semacam itu tidak pernah dibahas," terang Reno sebagai salah satu anggota Organisasi Intra Sekolah. Ini membuat ketiga yang lain lagi-lagi ber-'heh'. "Salah lihat kali," cetus Reno tenang. Sang siswa berambut coklat pun menggeleng kuat-kuat.
"Kau benar-benar nggak pernah melihatnya? Mungkin itu hanya Rude yang menumbuhkan rambut?"
"Ngaco. Rude itu setingkat di atas mereka," tegas si Rambut Merah. "Dan nggak mungkin rambut bisa tumbuh secepat itu."
Zack menepuk jidat. Biggs dan Wedge sudah terlanjur tersedak tawanya sendiri.
Biggs pun menceritakan tentang laki-laki tak dikenal tadi pagi. Bahwa yang bersangkutan masuk kelas hanya demi menandatangani daftar hadir, dan tak lebih dari sepuluh detik sudah keluar lagi. Biggs juga menjelaskan gerstur dan caranya berjalan yang benar-benar tidak pernah dilihatnya sebelum ini. Dia bercerita dengan gaya hiperbola tentunya.
"Cara berjalannya seperti snithcer. Agak bungkuk dan matanya tidak melihat lurus ke depan, seakan-akan dia sedang menilai lingkungan untuk menjalankan aksi kriminal. Hm… Misterius…" Biggs membiarkan kalimatnya menggantung.
"Tremendously interesting!Seperti apa penampilannya?"Zack dengan mudah termakan umpan Biggs. Senyum kemenangan merekah di wajah kotak Biggs.
"Aku nggak memperhatikan dengan seksama. Hmm… Kurasa matanya biru. Dan berpendar dengan aneh."
"Wooow! Kau jeli sekali! What else?"
"Tingginya sekitar seratus tujuh puluh senti. Rambut pirangnya jabrik, dan dibelah kiri kalau tak salah. Kulitnya putih dan agak kasar. Ada giwang di telinga kanan—eh tidak. Telinga kiri."
'Apanya yang "nggak memperhatikan dengan seksama"?' batin Wedge plus Reno.
"Whoa! Benar-benar misterius!"
"Benar kan? Dari pertama aku melihatnya, aku sudah tahu dia menyimpan banyak rahasia!"
"Yeah? Dia pasti bukan orang sembarangan. Aku jadi ingin ketemu!"
"Aku akan mengenalkanmu padanya, Zack!" Padahal Biggs sendiri kan belum kenal…
"Whoa!Aku jadi nggak sabar!"
"Aku juga nggak sabar!"
Kata Reno pada Wedge, "begini deh kalau dua orang heboh kumpul."
.
.
=xoxo=
"Heh heh... We'll do even better next time."
-Biggs, FFVII-
Pulang sekolah, para siswa maupun guru tidak langsung kembali ke asrama. Agen penjualan tiket Martial Art Championship membuka sebuahstand kecil di main hall ShinRa. Tiket sudah hampir habis ketika Zack tiba. Untung dia tidak terlambat. Jadilah dua tiket di tangannya sekarang. Pemuda ini pun pergi keluar area sekolah demi menyerahkan satu tiket pertandingan kepada si Nona Bunga yang tak pernah absen ia kunjungi seminggu terakhir. Tapi sayang seribu sayang, ajakannya ditolak.
Tentu saja ajakannya ditolak. Ayolah Zack… Seandainya dirimu mempertimbangkan sifat gadis itu, kau tak mungkin mengajaknya nonton tontonan berbau kekerasan—meskipun sebenarnya tidak demikian—semacam MAC.
"Sekarang, harus kuberikan siapa tiket yang satu ini? Semua orang sudah punya sendiri-sendiri. Tapi kalau dibuang, jadi mubazir," ratap Zack. "Mana mahal, lagi."
Bingung, si Jabrik celingukan sambil berjalan pulang ke asrama. Dan… Bingo! Sejurus kemudian Zack melihat siluet seseorang. Orang yang bertopi dan berjaket itu dikenalinya sebagai salah satu teman dekatnya, Kunsel.
"Kunsel? Ya, Kunsel saja deh. Dia kan baik, pasti mau bayar. Heheheh…"
Pemuda itu pun dengan bersemangat mengikuti Kunsel. Tetapi, semakin dekat jaraknya dengan Kunsel, dia semakin menyadari ada yang berbeda dari orang yang diikutinya itu. Zack ber-'heh' heran lagi lantaran tidak mengenali gestur dan caranya berjalan.
"Pasti dia mabuk lagi," simpul Zack mengingat-ingat kebiasaan sobatnya itu. Laki-laki yang tidak pernah melepaskan topi baseball dari kepalanya itu setahu Zack memang tipe perasa. Kalau perasaannya sedang kacau, pelariannya pasti ke alkohol. Dan selama kelas sebelas ini, Kunsel jadi semakin sering minum-minum. Masalah mulai dari reputasi hingga percintaan melanda hidup pemuda itu. Kadang-kadang Zack kasihan padanya.
Didorong rasa empati, Zack membuntuti temannya itu.
Lho? Dia kok mengendap-endap di belakangnya?
…
"Ghishishishi… Kerjain ah…"
Dasar makhluk satu ini. Masa gara-gara ditolak cewek saja dia lantas jadi kurang kerjaan? Ckckck… Ternyata Zack malah lebih parah dari Kunsel.
Sambil berjingkat Zack mengendap-endap di belakang target. Ah, Zack, bisakah kau menghindari ranting-ranting yang berserakan di jalanan? Dan cobalah untuk tidak berjalan berdecit di selasar asrama! Hei! Ikat tali sepatumu! Kau bisa—
GEDEBUKH!
Great.
Dengan jatuh berdebumnya badannya yang besar itu, banyak orang kini mencurigainya. Malah, rasa-rasanya semua orang memergoki apa yang dia lakukan. Semua kecuali yang diikuti. Yah, seandainya tidak sedang mabuk, Kunsel juga pasti sudah sadar dari tadi.
"Oi, ngapain sih?" Reno menegurnya.
"Sssst!"
"Zack, ngapain kamu tiarap di lantai?"
"Sssst! Tolong pelan sedikit," protesnya. "Lihat tuh. Kunsel mabuk-mabukan lagi."
"Kunsel?"
Orang yang diikuti Zack berjalan lurus di lorong sampai ke kamar paling ujung. Lalu membuka pintu dan menghilang. Hal ini membuat Zack kebingungan. Pasalnya, setahu Zack itu bukan kamar Kunsel.
"Kunsel ada di sini."
Si kurang kerjaan satu ini kaget. Lho? Yang bicara di belakang telinganya itu, kan, Kunsel? Topi baseballmenutupi wajah Kunsel, seperti biasa. Handuk tersampir di pundaknya, perlengkapan mandi di tangan kanan. Bau sabun yang segar menguar dari tubuh tegap itu.
"Coba jelaskan bagaimana caranya aku mabuk sambil mandi?"
"A-ada dua Kunsel," Zack ngeles.
Si satunya lagi mendesah. "Mungkin Mako eyes-mu memang nggak pernah salah," katanya, "tapi matamu yang katarak kali," sindir Reno sarkastis. Yang disindir nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Kalau ini Kunsel, terus yang tadi itu siapa?"
"Itulah orang yang aku ceritakan tadi siang, Zack."
"Biggs!" seru Zack.
"Sejak kapan dia ada di sana?"
Biggs mengusap-usap dagunya dengan gaya penting. "Kurasa inilah saatnya kita beraksi."
Zack, Reno, dan Kunsel terheran-heran memperhatikan topi aneh motif kotak-kotak bertengger di kepala anak muda itu. Dan entah bagaimana Biggs bisa menemukan pipa cerutu yang matchingwarnanya dengan topi nyentrik itu. Ini adalah gaya detektif seabad yang lalu, kalau Zack tidak salah lihat di salah satu lukisan yang dia sudah lupa di mana.
"Let's go."
.
.
=xoxo=
"Kenapa?" Reno bertanya setengah jam berikutnya, setelah para lelaki ini masuk sebuah bar remang-remang di ujung jalan buntu dekat ShinRa.
"Karena kita melihatnya masuk kemari. Laki-laki pirang misterius itu," jawab Biggs dengan yakin.
"Bukan. Kenapa aku harus terlibat juga?" protes Reno. Untuk keluar mengikuti rencana penyelidikan Biggs saja laki-laki ini sudah ogah-ogahan. Sekarang dia terjebak bersama teman-temannya di sebuah bar sumpek yang jelas-jelas bukan kelasnya.
"Dan kenapa bocah tambun ini ikutan?" cecar pemuda Merah itu lagi sambil menunjuk-nunjuk Wedge.
"Hm, simpan pertanyaanmu untuk nanti, Scarlet. Ada kasus yang lebih penting yang harus kutangani sekarang."
Reno uring-uringan. "Nih anak cepet banget ngelunjaknya."
"Sudahlah. Aku rasa kasus—haha, meski kayaknya terlalu keren disebuh begitu, kasus ini cukup menarik. Kurasa nggak ada salahnya terlibat yang semacam ini," hibur Kunsel. Orang itu memang bukan tipe yang suka bersungut-sungut seperti Reno.
"Kau tertarik hanya karena orang itu punya gaya berpakaian yang sama necisnya sepertimu kan?" counterReno.
"Awas, dia berjalan kemari. Jangan kelihatan terlalu mencolok," tiba-tiba Biggs memperingatkan.
"Kau itu yang mencolok! Jangan pakai topi aneh di dalam bar!"
"Sssst. Dia datang tuh," Zack menengahi.
Kelima siswa ShinRa itu pun langsung berusaha bersikap normal. Reno yang sudah menyembunyikan rambut merah panjangnya di balik kerudung jaket melengo, menyembunyikan wajahnya. Wedge pura-pura berjalan ke toilet. Biggs mengambil majalah di meja, membukanya, dan mengangkatnya setinggi kepala demi menutupi topinya yang seperti cangkang kura-kura itu. Sementara Zack sendiri langsung duduk di kursi kosong sebuah meja yang sudah terisi orang. Dari kelimanya, akting Kunsel-lah yang paling wajar. Dia beneran minum-minum.
Orang yang mereka buntuti itu, setelah menyelesaikan urusannya di bar, yang menurut Detektif Biggs adalah berbicara dengan bartender di sana, keluar sambil memasukkan secarik kertas ke saku dalam jaketnya.
"Oi, we gotta go," isyarat Biggs. Sambil menyeret Kunsel, keempat yang lain mengikutinya.
Sejauh ini, metode 'kucing-kucingan' yang diterapkan si Biggs terbukti ampuh. Dengan cara seperti itu, kelima grup detektif dadakan yang diketuainya memasuki tiga bar berbeda malam itu. Semuanya melihat si 'klon-Kunsel'—sementara ini mereka sebut begitu saja—di dalam setiap bar.
Namun kali ke-empat sepertinya tidak berjalan semulus sebelum-sebelumnya.
"Sepertinya kita kehilangan jejaknya," kata Kunsel. "Tapi mungkin belum jauh. Kalau berpencar mungkin bisa menemukannya. Ya Tuhan, aku sendiri bingung kenapa aku jadi keranjingan misi ini. Hahaha! Bahkan aku menyebut permainan ini misi," lanjutnya girang.
Jawaban Biggs membuat Kunsel mengangguk-angguk, "oh, ini bukan sekadar permainan, Bro. Ini adalah tantangan bagi jiwa petualangan laki-laki tangguh seperti kita."
"Lalu kenapa aku nggak tertarik sama sekali?" sanggah si 'Scarlet' mulai jengah.
Si angkatan kelas sepuluh menambahkan, "kita berempat."
'Kurang ajar si satu ini. Mana bisa aku disamakan dengannya yang masih bocah?' pikir Reno geram.
"Gimana sekarang? Pencar?"
"Jangan. Aku punya metode yang lebih akurat." Si penutur yang masih menyelipkan pipa cerutu mainan di antara bibirnya mengeluarkan sebuah koin. Dilemparnya koin itu ke udara lalu ditangkapnya dengan punggung tangan.
"Ke arah sana."
Dan dia berlari ke sebuah gang, meninggalkan rekan-rekannya di belakang membatu berempat.
"Aku kira dia beneran hebat."
"Ternyata cuma keberuntungan belaka."
"Sudah kuduga, sekali bocah, selamanya ingusan."
"Konyol banget. Dan aku baru sadar pencarian kita ini nggak bertujuan. Toh suatu hari kita pasti ketemu sama duplikatku ini. Kan satu asrama."
Setelah berkata begitu, empat pria itu kembali ke asrama. Dan tidak ada yang mendengar Biggs memanggil-manggil mereka karena berhasil menemukan sasarannya.
.
.
=xoxo=
"Nilai-nilaiku turun semua, nih. Yang terbayang tiap kali aku menghadapi ulangan ya monster-monster itu. Aku nggak sabar menunggu hari Sabtu. Kalau aku berhasil mengalahkannya, aku akan naik pangkat jadi second class! Yahui!" cerita Zack pada Reno, Kunsel, Biggs, dan Wedge suatu hari sepulang sekolah di hari Selasa. Setelah permainan detektif yang mereka laksanakan sehari sebelumnya, kelima orang ini berteman semakin akrab. Mereka bahkan pergi ke sebuah game centerbaru yang berjarak sembilan blok dari sekolah mereka bareng-bareng.
"Tidak perlu tanya jawab kenapa nilai-nilaimu terjun bebas. Kau keracunan arcadebaru berjudul SOLDIER itu. Sudah sana, masuk kamar lalu belajar," titah Reno.
"Sirik," cibir Zack. "Dia kesal nggak bisa jadi SOLDIER. Seminggu main dia cuma jadi Turks, itupun game over lima-enam kali. Kalau nggak kubantu dia pasti berakhir jadi villain. Ya nggak, Kunsel?" cerocos Zack yang diakhiri permintaan dukungan. Sementara yang dimintai pendapat geleng-geleng kepala.
"Aku rasa Reno ada benarnya. Kau jadi freak."
Jalanan menuju asrama ramai hari itu. Semua anak cowok cepat-cepat pulang untuk bersiap pergi ke Martial Art Championship nanti sore.Qualification round jam empat nanti sudah mulai.
Langkah lima pemuda itu tersendat ketika dilihat mereka sebongkah logam besar di dekat gerbang asrama. Tapi ternyata bukan bongkahan logam biasa. Itu bongkahan logam langka yang hanya bisa ditemukan di tambang Northern Crater.
"I-i-i-i-it-it-itu…" susah payah Wedge mengucapkan sepatah kata.
"Mustahil… Wedge! Aku pasti mimpi. Tampar aku!"
Plak!Tampar Wedge telak di jidat Biggs.
"Wow, jidatmu lebarjuga. Ciri orang pandai."
"Te-ri-ma ka-sih."
Sudah jelas sekali reaksi Zack melihat mesin itu. Dia sangat bangga. Untuk itu Reno mencibir, karena hanya itu yang bisa dilakukannya sekarang. Kunsel langsung mendekat demi menyentuh bodi Werewolf. Berkat baginya bisa menyentuh langsung apa yang cuma pernah dilihatnya di katalog. Apalagi, yang dilihat langsung ternyata lebih keren.
"Aku langsung jatuh cinta padanya," tutur Kunsel sepenuh hati. "Dia cantik sekali, ya."
"Katamu aku freak. Kamu sendiri nggak lebih baik dariku."
Selain mereka berlima, segerombol pemuda juga berkumpul menyaksikan mahakarya Deepground Otoparts abad ini. Begitu asyiknya kerumunan itu menggrepe-grepe Werewolf, sampai-sampai matahari sudah hampir tenggelam pun mereka tak sadar.
"Oh tidak!" teriak salah satu cowok, "Martial Art Championship-nya!"
"Waduh, aku lupa, lagi! Nggak usah mandi, deh. Langsung cabut! Ayo semuanya!"
Ramai-ramai para penghuni Firaga ngebut menuju tempat diselenggarakkannya lomba, Gedung Olahraga Sektor 1 Midgar dengan kendaraan masing-masing.
.
.
=xoxo=
Rombongan Firaga kembali ke asrama selepas jam delapan. Hampir seluruh tenaga mereka dikerahkan demi mendukung Loz the Tiger, jagoan mereka. Loz berhasil lolos ke babak penyisihan selanjutnya. Yang ini mereka sudah yakin. Tetapi yang membuat kaum adam ini heran adalah berhasil masuknya petarung dari asrama sebelah ke babak berikut dalam keadaan cidera. Untuk itu perdebatan panjang makin menguras energi para cowok ini sampai yang mereka pikirkan setelah sampai di asrama hanyalah cepat-cepat pergi tidur.
Namun lain halnya dengan Zack. Didorong insting, pemuda itu malah berhenti di depan gerbang asrama. Werewolf masih bermalas-malasan di sana.
"Activate night vision."
Mata biru Zack menjadi lebih terang. Whoa. Yang dikatakannya sebagai advancedly designed contact lensternyata bukan isapan jempol belaka. Hebat sekali bisa memiliki teknologi canggih yang sebenarnya dirancang khusus untuk militer ini. Lebih hebat lagi kalau Zack bisa memiliki mesin yang sangat efisien—kecepatan, kekuatan, dan durabilitas dalam satu paket—bernama Werewolf ini.
"Baru kusadari. Ternyata Kunsel benar. Dia sangat cantik," gumamnya jiwa laki-laki dalam dirinya. Diusapnya baja penutup mesin motor supermahal itu. Dingin. Mesin ini sudah berjam-jam mati.
Kemudian pemuda tak berponi itu kembali bertanya-tanya. Siapa gerarang pemilik si Cantik ini?
Beberapa saat berlalu. Hanya ada dia dan Werewolf. Semakin lama dia berduaan dengan mahakarya itu semakin merasa "sayang"lah Zack pada motor itu. Waktu sadar betapa dia sudah jatuh cinta pada si motor, dia sampai merinding sendiri.
Lalu orang itu datang. Orang berjaket tebal dan bertopi baseball hitam. Kedatangannya sangat tak terduga.
"Jadi motor ini punyamu?" tanya Zack Fair ketika mereka sudah cukup dekat. Orang itu sampai kaget melihat ada orang bersandar pada motornya.
Pemuda itu belum menurunkan topi baseball-nya untuk menatap si penanya secara langsung, tapi Zack, dengan bantuan night vision Mako eyes-nya, bisa melihat bahwa rambutnya pirang.
"Kamu pasti anak baru itu."
Ia mengangguk dengan kikuk, membuat Zack tergelak.
"Tidak perlu kaku begitu. Omong-omong namaku Zack," ujarnya mengenalkan diri seraya mengulurkan tangan. Orang itu menjabat tangan Zack. Ia juga menggumamkan namanya sendiri.
"Kamu mau pergi, ya?"
Dia mengangguk lagi.
"Baiklah. Jangan pulang terlalu malam. Pintu gerbang dikunci jam sepuluh."
"Hn. Terima kasih."
"Sama-sama, Rufus."
Keduanya mengangguk.
Lalu Werewolfdan penunggangnya pergi menjauh. Sementara pemuda yang satunya masih bertahan di tempatnya. Tak lama kemudian sebuah suara yang dikenal sang pemuda sebagai suara Reno membuyarkan pikirannya.
"Semua sesuai dugaanmu, nampaknya?"
"Kebetulan, ya," simpul Zack puas. "Kau sudah lihat pemiliknya itu?"
Sebagai jawaban si Merah bergumam.
"Menarik, ya?"
"Bagian mananya?"
Zack berpikir sejenak. Tapi terlalu banyak penilaian yang bisa dikemukakan dari pemuda bertopi baseball itu.
"Ada teka-teki di dalam matanya," rangkum Zack. 'Teka-teki misterius. Sangat misterius,' lanjut pemuda itu dalam hati.
Reno menarik nafas. Oh. Dia akan membantah.
"Santai saja. Itu hanya Mako eyes."
Zack tidak menanggapi komentar Reno lagi. Tapi dia tahu. Sesuatu yang menarik menanti. Eh tidak. Baru saja dimulai.
=willBEGIN=
Chapter 1 tentang kepergian ibunya Tifa. Chapter 2 tentang hubungan Yuffie dan Reno. Chapter 3 chapternya Jessie. Chapter 4, pertemuan Zack sama Aerith. Chapter 5 tentang kejutan dalam diri seorang Loz. Chapter ini… seseorang yang mengaku sebagai Rufus muncul. Dengan begini, sesi perkenalan selesai sudah. Perkenalan guru-guru nanti saja seiring cerita.
Cerita yang sesungguhnya baru akan dimulai bersamaan dengan MAC. (Jadi yang kemaren2 itu apa? *ditimpuk*) Kayak nggak maju2, ya TT_TT Gomen gomen.
Kepada pembaca yang setia mengikuti jalan ceritanya, terima kasih m(_ _)m Bagi yang rela bersedekah, tinggalkanlah review dengan klik tombol di bawah. Komentar, saran, masukan, kritik, rekomendasi, dkk akan sangat membantu.
Thank you. Catch ya later next chapter ^^
