Matahari bersinar terik siang itu, ketika Tifa Lockhart berjalan kaki menyusuri jalanan macet Sektor 1 Midgar. Namun panasnya suhu udara tak menarik perhatiannya sama sekali. Ia merasa perasaannya jauh lebih panas daripada kulitnya yang terbakar ultraviolet.

Tifa merenung sepanjang perjalanannya. "Victory is sweet, but the taste of defeat is bitter"Kini ia paham maksud kalimat itu, yang pernah ia baca dalam buku The New Hero karangan salah seorang gurunya. Kenyataan bahwa dirinya telah dikalahkan itu pahit. Apalagi mimpinya adalah menjuarai MAC.

Menjadi wanita pertama. Yeah, hal itu begitu ingin dicapai Tifa. Dulu. Sekarang ia justru berpikir, betapa bodoh mimpinya itu.

Terus berjalan, tahu-tahu dirinya telah tiba di depan rumah tua berlantai kayu. Dari dalam, seorang pria menegurnya.

"Melamun di tengah jalan itu berbahaya," katanya dengan suara serak. Lelaki berkulit kemerahan itu terkekeh dan mengajak gadis itu masuk masuk.

"Maaf, ya, nggak ada makanan kecil. Maklumlah, baru pindahan," ujarnya basa-basi.

Tifa, tersenyum berterima kasih, bersimpuh di sebelah pria itu.

Sejenak keduanya duduk saja tanpa bicara apa-apa, hanya memperhatikan kesibukan Midgar melalui lubang jendela. Dalam diam Tifa menghirup bau kayu basah rumah tersebut dalam-dalam. Ah, aroma itu mengingatkannya akan sesuatu.

"Akhirnya kau benar-benar membeli rumah ini, eh, Zangan?" mulai Tifa. Pria bernama Zangan itu tertawa renyah lalu bertanya balik padanya.

"Bukannya kau suka rumah ini?"

"Baunya seperti rumah. Hmm… Aku baru sadar betapa rindunya aku pada rumah," ungkap Tifa. Dan Tifa pun tersenyum pedih.

Zangan menyembunyikan perasaan ibanya ketika Tifa mengatakan sebentar lagi peringatan satu bulan kepergian ibunya. Ia masih bisa menangkap kesedihan mendalam dalam suara lembut gadis itu. Lelaki akhir lima puluhan itu bahkan hampir lupa bagaimana rupa Tifa ketika tersenyum bahagia. Sudah lebih dari tiga minggu kemurungan menggusur semangatnya.

"Maaf, Master," celetuk Tifa akhirnya. Oh ya, Zangan sudah tahu ke mana permintaan maaf itu akan berlanjut. Tentu saja ini tentang kegagalan di semi final MAC dua hari yang lalu.

"Seandainya aku mendengarkan kata-katamu… Seandainya aku berusaha mengesampingkan perasaan pribadiku…"

"Sudahlah, Tifa. Tidak perlu merasa bersalah. Failure isn't an option. It is bundled with your system," tutur Zangan bijaksana.

Syukurlah pengertiannya dapat memancing sedikit senyuman Tifa.

Mereka berdua terdiam lagi selama beberapa saat sampai sang master menepuk pahanya dan berdiri.

"So, you wanna fix that failure or not?"

Tifa ragu-ragu. "But my battle was already over," kilahnya. Namun diikutinya juga gurunya ke tengah ruangan, sebuah tempat kosong seperti arena bertarung kecil.

"Well, you never know what lies ahead."

Guru dan murid itu pun berlatih.

Satu jam berlalu. Satu setengah jam. Dua jam. Sampai akhirnya jam delapan malam, dan Tifa benar-benar harus kembali ke asrama. Jadi dipamitinya Zangan, martial arts master yang telah melatihnya sejak usianya empat tahun, yang bagi Tifa sudah seperti ayah keduanya, dan Tifa berjalan menuju pintu.

Ketika membuka pintu geser, Tifa mendapati sesosok gadis mungil membungkuk sambil berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

"Yuffie-chan!"

"Ano… Ti-fa masuk fai-na-ru."


"To my most precious student, From Zangan"

-Zangan, FFVII-


.

.

Hug and Kiss

Things to experience when you have friends along your path

Chapter 8: SHOCKWAVE

.

.

=xoxo=

"Ano… Ti-fa masuk fai-na-ru."

Sementara Tifa membatu, Zangan garuk-garuk jenggot.

"Jangan-jangan, yang kau maksud itu 'final', Nona Yuffie?" ia meluruskan.

"Memangnya apa lagi?" balas Yuffie, merasa agak tersinggung. Dia memang selalu sebal tiap kali orang mempermasalahkan aksennya yang memang agak aneh itu. "Ti-fa ma-suk fai-narl," kali ini dia berusaha mengucapkan 'final' dengan benar.

Guru-murid itu menatapnya heran sekaligus tak percaya, seakan-akan Yuffie barusan bilang 'kucingku melahirkan beruang', tapi dua-duanya sama-sama diam saja. Tak kunjung memperoleh reaksi yang diharapkan, bibir Yuffie mengerucut.

"Sebel. Nggak asyik, ah!" gerutunya.

"Tapi aku kan sudah kalah," tentang Tifa akhirnya.

"Yah, siapa, sih, yang bakalan menang melawan obat perangsang?" timpal Yuffie. Tifa dan Zangan bertukar pandang.

"Begini, lho. Ada pakar yang nonton pertandingan kemarin. Dia tak bisa menahan kecurigaannya, habis katanya tenaga Kotch itu nggak manusiawi. Kalau Zangan-senpai nonton juga pasti bakalan curiga. Masa bertarung nggak ada jedanya? Ahli medis ini bersikeras meminta Kotch diperiksa. Setelah dicek, ternyata benar, Kotch terbukti mengkonsumsi dopamine. Diskualifikasi instan. Tifa masuk fainaru. Yaaay!"

Selama lima detik setelahnya masih belum ada reaksi.

"Huh, bener-bener nggak asyik—" Detik ke enam, wajah Tifa menyiratkan dia akan menjerit sekencang-kencangnya.

Tifa berakhir menjerit-jerit kegirangan bersama Yuffie. Sementara sang master tersenyum dan geleng-geleng kepala tatkala kedua gadis mulai melompat-lompat di atas lantai kayunya.

.

.

=xoxo=

Dua perempuan berambut gelap itu berjalan pulang menuju kawasan sekolah mereka sambil berbincang. Kisah Yuffie, begitu sadar pemberitahuan dari penyelenggara MAC siang tadi bukan salah sambung, Yuffie langsung marathon ke rumah Zangan. Tifa tergelak. Untunglah dia pernah memberinya alamat sang martial arts master-nyatersebut. Kalau tidak, cewek yang buta arah parah itu pasti nyasar ke mana-mana.

Hampir sampai keduanya saat seorang yang mereka kenal muncul dari balik kios mungil persis di depan mereka. Seorang lelaki melambai-lambaikan tangan. Semangatnya merebak ke mana-mana.

"Terima kasih banyak, nona-nona yang cantik! Datang lagi, ya!" teriaknya ceria kepada pelanggan yang barusan meninggalkan kios.

"Lho, itu kan Zakkusu? Oi! Zakkusu!"

"Oh, hai Yuffie! Eh, ada Tifa juga."

Ternyata benar, itu Zack Fair si Rambut Landak. Dalam otak Tifa plus Yuffie segera muncul pertanyaan yang sama: sejak kapan dia punya kios di depan sekolah?

Jawaban pertanyaan mereka dapatkan secara instan. Si pemuda yang rambutnya selalu menentang gravitasi mengajak mereka masuk kios yang dijaganya. Ia segera mengenalkan seorang gadis belia yang kalem pembawaannya. Ketiganya bersalaman diiringi senyuman.

"Jadi, Aerisu pemilik kios ini?" Yuffie bertanya sembari melihat-lihat isi toko. "Ah, kirei na hana. Wutai punya banyak bunga liar. Jadi rindu rumah, nih~" curhatnya merana, membuat sang pemilik kios tersenyum geli.

"Mohon dimaklumi, ya. Bocah ini memang begitu," bisik Tifa kepada Aerith Gainsborough.

"Jadi, Aerisu nyewa Zakkusu buat bantu-bantu?" selidik Yuffie. "Sepertinya pilihanmu kurang baik. Tangan besar Zakkusu bisa mematahkan tangkai-tangkai bunga yang rapuh dengan mudah sekali. Jangankan tangkai bunga, stik baseball saja dia patahkan," umbar Yuffie tanpa sungkan.

"Hei Wutai, aku ini selalu hati-hati sama bunga! Lagian, keberadaanku bikin kios ini makin laris, tahu. Masa nggak tahu, cowok ganteng penarik pelanggan paling ampuh. Terutama pelanggan wanita," koar si Mako-eyed man dengan alis dinaik turunkan.

"Dari dulu dia kata dirinya ganteng. Padahal yang pernah ngakuin paling-paling cuma ibunya," tuding Yuffie pedas.

"Uapaa? Sudah banyak cewek yang bilang begitu! Yah, kalau dari cewek macam kamu, sih, aku juga nggak mengharap," counter Zack.

"Huuh, siapa juga yang sudi? Huweeek!"

Tifa dan Aerith tertawa nyaris terpingkal-pingkal. Beberapa saat setelahnya baru Zack ikutan terbahak, dan terakhir Yuffie, meski ketawanya agak maksa.

Keempat remaja itu ngobrol agak lama. Sampailah ke topik yang semula dibahas Yuffie bersama Tifa dan Zangan. Ketika Yuffie selesai, tidak ada suara yang lebih keras daripada suara terkesiap seseorang dari luar kios. Yuffie bersumpah tidak pernah mendengar jeritan semacam itu keluar dari mulut seorang lelaki sebelumnya.

"EEEEP!" jerit Biggs.

Ternyata Biggs dan kawan-kawan sudah menunggu di luar. Kepala-kepala mereka nongol di balik kain penutup kios, urut dari atas ke bawah: Kunsel, Biggs, Wedge. Samar-samar dari luar sebuah gerutuan terdengar. Oh. Reno ada juga rupanya.

"Oh my oh my oh my… You're not kidding are you?" ujar Biggs menyambung pembicaraan. Ia masuk ke dalam kios bunga Aerith.

Ruangan tiba-tiba terasa sangat sesak waktu Wedge juga memutuskan masuk.

Batin Yuffie, "siapa, sih, nih bocah-bocah? Tahu-tahu nimbrung aja."

"Benar, Tifa?" tanya Kunsel. Matanya berbinar antusias. Tifa mengiyakan. Dan binar itu semakin terang.

"Wow…" Wedge bergumam penuh kekaguman. "Berati Tifa itu hebat banget, ya, bisa meladeni atlet yang pakai perangsang. Tos dulu, tos!" ajak Wedge pada Tifa.

"Daripada cuman tos-tosan nggak jelas, bagaimana kalau kita bersulang saja? Ayo makan malam bareng! Aku yang traktir, deh!" ajak Zack semangat. Wedge langsung melonjak kegirangan. Untung saja tidak menyenggol tiang kios Aerith. Bisa rubuh seketika nanti kiosnya.

Akhirnya, acara semula lima sekawan (Zack, Reno, Kunsel, Biggs, Wedge) yang ke Arcade SOLDIER dibatalkan, dan ketujuh manusia (lima sekawan ditambah Tifa dan Yuffie) sepakat mengadakan pesta kecil-kecilan merayakan keberhasilan si gadis martial artist. Semuanya kelihatan senang sekali sore itu. Yah, bahkan Reno yang biasanya malas ngapa-ngapain lumayan menunjukkan ketertarikan.

Sebelum keluar kios bunga Aerith, Zack memastikan, "kamu yakin nggak mau ikut, Aerith?"

Gadis itu bilang dia harus merawat adiknya yang sedang sakit.

"Mungkin lain kali. Selamat bersenang-senang," katanya diselingi senyuman manis.

Tak lama kemudian semuanya membantu si penjual bunga menutup kiosnya. Setelah Aerith pulang dan gerombolan itu sedang mendiskusikan tujuan wisata kuliner berikut, Tifa berceletuk.

"Apa betul nggak apa-apa nih? Jangan-jangan nanti kalian dikira memihakku? Kan tidak enak sama Loz," katanya. Yuffie bilang sebodo amat sama Loz, tetapi para Firan kompak membenarkan pernyataannya.

"Kalau gitu kita ajak Loz sekalian aja. Dengan begitu netral, kan?" usul Wedge.

"Benar juga. Kalau Loz nggak mau, ya sudah. Yang penting kita sudah mengajaknya," tambah Biggs. "Kita memang duo jenius, Wedge!"

"Panjang umur, dazoto," gumam Reno.

Dari arah gerbang sekolah, siluet pemuda berambut keabu-abuan tersebut mendekat. Tapi ternyata bukan Loz melainkan saudara kembarnya, Yazoo.

"Oooi! Mau ke mana, Yazoo?" sapa si Rambut Landak.

Menghentikan motornya, Yazoo menjawab singkat, "bank."

"I see. Untuk tugas beginian, memang cuma kamu yang bisa dipercaya, sih, ya?" gurau Zack. Yazoo hanya tersenyum sekilas.

Zack melanjutkan, "eh, kita mau makan malam merayakan keberhasilan Tifa. O iya, sekadar informasi, Tifa yang masuk final MAC, lho."

"Begitukah?" tanggap Yazoo seadanya. Diucapkannya selamat. Tifa merasa senang menerima ucapan dari orang yang jarang bicara itu, meski tidak tahu juga, ucapannya itu tulus atau hanya basa-basi.

"Jadi kami pikir, karena Loz juga berhasil, kenapa nggak sekalian diajak? Kalau mau, kamu dan Kadaj juga boleh ikut. Bagaimana?"

"Mumpung Zack yang nraktir," tambah Wedge.

Yazoo menolak dengan santun. Katanya dia harus mengurus fiskalnya sekarang juga, tapi kalau mereka mau mengajak Loz dan Kadaj, keduanya sedang bermalas-malasan di ruang tengah asrama. Tambahnya, Loz dan Kadaj jarang mau diajak pergi kalau sudah santai-santaian begitu.

"Wah, sayang sekali," kata Zack.

"Begitulah. Nah, aku harus pergi sekarang."

"Baik. Sampai jumpa kalau begitu."

Akhirnya sosok nan pembawaannya paling dewasa di antara triplets tersebut segera menghilang di balik gedung-gedung pencakar langit Midgar.

Hari semakin gelap. Pada akhirnya rombongan lima cowok dua cewek tersebut memutuskan makan bertujuh saja. Naik taksi semuanya menuju sebuah restoran baru di pinggiran Sektor 1. Segera saja dua meja makan 'dijajah' komplotan anak muda itu.

"Aku pesan sup kentang dan sup jagung rebus sebagai appetizer. Terus main course-nya mau steak iga dan ayam bakar lemon. Oh, oh! Tambah spaghetti bolognise! Dessert-nya banana split ekstra coklat! Minumannya deep forest dan milkshake stroberi yang ada taburan cinnamon di atasnya. Oke? Kuulangi lagi, ya. Sup kentang…"

Sementara Wedge memesan hampir seluruh menu makanan, Tifa menanyakan tentang Aerith pada Zack; bagaimana ia bisa bertemu dengan gadis itu, dan siapa dirinya bagi seorang Zack.

Dengan santai saja pemuda berkulit fair tersebut menjawab interogasi Tifa. Bagi Zack, Aerith itu sudah menjadi teman baiknya.

"Tapi tidak lebih, kok," tegasnya. "Kenapa? Kamu cemburu?" goda Zack.

"Jangan bercanda," Tifa mengelak dan melengos. Pandangannya justru bertemu dengan tatapan Kunsel. Pemuda itu segera pura-pura sibuk mengaduk minumannya yang hanya air mineral dengan sedotan.

"Hati-hati, Tifa. Kanseru cemburu, lho, kalau kamu cemburu sama Zakkusu."

Ini lagi, si Yuffie, malah nambah-nambahin. Kunsel jadi salting, kan… Yuffie langsung bersorak-sorak penuh kemenangan.

"Woi, norak, tahu nggak? Bisa nggak, sih, bersikap normal sehari saja?" sambar Reno.

Si Nona Wutai sudah tentu langsung tersulut emosinya. Mulailah mereka berdua bercekcok ria.

"Reno itu cuma semangat kalau diajak bertengkar Yuffie-nee. Benar, kan?" simpul Wedge. Tifa mengangguk-angguk setuju. Biggs, Kunsel, dan Zack pun tak mau ketinggalan. Selain dua pasangan itu, tidak ada yang bicara. Semua memperhatikan pertengkaran husband-wife-like tersebut dengan seksama.

"Ini referensi kalau suatu saat kamu dan Tifa bertengkar setelah jadian," kata Zack tanpa ekspresi. Wajah Kunsel langsung merah dibuatnya. Satu hal yang Zack jago, yaitu menggoda orang lain.

Makanan disajikan. Akhirnya, setelah perdebatan panjang, Kunsel berhasil membujuk Reno-Yuffie untuk suspend acara mereka. Ketujuh pelajar tersebut menikmati makan malam dengan tenang. Syukurlah.

Di luar, hujan rintik-rintik turun. Meski rainy summer seharusnya sudah berakhir, peak summer tahun ini tidak sepanas puncak musim panas biasanya. Hujan yang turun sore itu menambah rasa syukur Tifa atas peak summer yang ini. Seulas senyum muncul di bibirnya.

Sambil menikmati santapan yang terasa semakin hangat seiring bertambah derasnya guyuran hujan, orang-orang di kedua meja saling berbagi cerita.

Si pentraktir bertanya, "ngomong-ngomong, liburan ini kalian mau ke mana?"

Mendadak diam. Ternyata tak satupun dari mereka punya rencana liburan. Kecuali Tifa, tentu saja. Mengunjungi makam ibunya di Mount Nibel sudahmenjadi agenda fix yang tak mungkin berubah.

"Hm… Bagaimana kalau kita liburan sama-sama saja?" usul Zack. Tidak ada yang kelihatan keberatan dengan ide tersebut. "Camping. Bagaimana menurut kalian?" cetus Zack dengan gaya brilian.

"Iie, iie. Aku tahu yang lebih baik," sela Yuffie. "Shopping."

Yuffie disambut sorakan 'huuu' dari Reno. Uh-oh. Perang dunia ketiga, nih.

"Oh, aku tahu yang lebih baik! Kita camping di tengah hutan Nibelheim! Hutan di mana terpendam misteri selama ribuan tahun. Hutan yang memerangkap pesona tak terjamah nan indah seribu rupa. Hutan di mana sulur-sulur menjulur…" bersikukuh, Zack malah terdengar seperti sedang baca puisi.

"Gimanaaaa? Mau kaaaan?" paksanya.

"Ums… Menurutku idemu lumayan. Tapi itu kita pikirkan nanti saja. Sekarang, mari pulang. Kalian para Blizard nggak boleh pulang lebih dari jam setengah sepuluh, kan?" usul Kunsel. "Oh iya, sebelum pulang, kita cheers dulu."

Tujuh-tujuhnya berdiri, mengangkat gelas minuman masing-masing.

"To the final battle," kata Kunsel.

"To the finish line!" Wedge berteriak.

"Buat semangat juang tak terpadamkan!" seru Biggs.

"Semoga beruntung, zoto," kata Reno ikut andil.

"Untuk kemenangan yang sudah di depan mata," suara cempreng Yuffie.

Penutupnya, seruan Zack "To Tifa Lockhart!"

"CHEERS!"

.

.

=xoxo=

Ruang tengah asrama putra itu kotor, seperti selalu. Bungkus-bungkus makanan kecil berserakan di atas karpet. Tubuh-tubuh yang malas bergelimpangan di area depan televisi. Beberapa jiwanya telah melayang ke dunia mimpi.

Kadaj bersama saudaranya Loz hampir berangkat ke alam bawah sadar waktu Lima Sekawan melewati ruang tengah yang disebut Gentleman's Room itu. Kelimanya tidak menggubris 'jasad-jasad' yang berserakan di lantai ruangan itu dan terus melangkah menuju jamar masing-masing.

Suara samar tayangan televisi membuat Zack mengurungkan niatnya. Pertandingan klub baseball favoritnya sedang disiarkan.

Tiba-tiba sebuah berita memotong penayangan tersebut. Zack mendecak namun diikutinya juga berita itu demi menunggu lanjutan pertandingan baseball tersebut.

"Malam ini sebuah insiden terjadi di Sektor Satu, kawasan timur Midgar. Sebuah bom meledak di International Bank of Sector One, Midgar, tepatnya pada pukul delapan lewat tiga menit. Bom meledak di pintu masuk bank, tempat banyak orang berlalu lalang. Peristiwa tersebut memakan belasan korban jiwa, sementara korban luka-luka yang berjumlah puluhan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat."

Berita dua menitan tersebut memang membuat kaget sebentar, tapi segera menjadi angin lalu bagi si Rambut Landak yang ingin segera menyaksikan lanjutan pertandingannya.

Namun jiwanya terusik tatkala tiba-tiba saja seseorang meraung dari arah belakangnya.

"YAZOO!"

Itu jeritan Kadaj.

.

.


"That'll be end of everything."

-Yazoo, FFVII: AC-


=toBcontinued=


Minna-saaaan! Sepertinya saia lagi-lagi harus minta maaf atas kelamaan update-nya. Gomen, gomeeeen! Saia berusaha update lebih cepat! Saia juga kepingin cerita ini cepet tamat, sebelum saia kuliah kalau bisa XD.

Btw, kalau ada yang bertanya2 kenapa di akhir beberapa dialog Reno ada 'zoto' dan 'dazoto', keduanya adalah dialek asli dia baik di AC maupun game yang lupa saia masukkan di chapter2 sebelumnya.

Terima kasih sudah menanti-nantikan xoxo. Hontou ni arigatou gozaimasu!

Sampai jumpa lagi di chapter 9.

Kyou wa yomu arigatou (thank you for reading). Kochirae dozo (this way please), review onegai (review if you don't mind) ^w^