"Insiden bom di International Bank of Sector One Midgar siang tadi menewaskan belasan jiwa. Jenazah korban akan dibawa ke Midgar Hospital untuk identifikasi. Sementara itu korban luka-luka—"

Anak itu tak lagi menggagas komat-kamit si pembaca berita di televisi. Bayangan-bayangan menakutkan terlanjur menguasai akal sehatnya. Tak ia gubris erangan Loz yang terbangun akibat jeritannya. Yang ada di kepalanya sekarang hanya nama saudaranya.

"YAZOO!"

Diterkamnya gagang pintu, ditabraknya Zack yang berusaha menghalangi. Kadaj tidak mau tahu kalau gerbang sekolah akan ditutup pukul sepuluh. Dia tidak peduli kalau harus tidur di jalanan malam itu. Ia bahkan sama sekali lupa bahwa dirinya tidak begitu tahu di mana Midgar Hospital. Yang Kadaj tahu, dia berlari secepat yang ia bisa menuju lapangan parkir, menaiki motor hijaunya, dan melaju kencang meninggalkan Firaga.

"Kenapa sih anak itu?!" raung Loz sementara itu, disusul erangan-erangan para Firan yang terganggu tidurnya. Gentlemen's room yang tadinya senyap menjadi gaduh seketika.

"Bank Sektor Satu dibom," jelas Zack, masih menghadap pintu keluar. Beberapa detik tanpa reaksi menandakan Loz masih belum mengerti. Malah orangnya tambah bersungut-sungut. Baru saat Zack bertanya, "di mana saudaramu Yazoo?" dia terdiam.

Sejurus kemudian Loz melakukan persis yang dilakukan Kadaj beberapa detik sebelumnya.


.

.

Hug and Kiss

Things to experience when you have friends along your path

Chapter 9: SHOURISA (Winner)

.

.

=xoxo=


"... It's nothing like I expected."

-Reeve, FFVII: DoC-


"Baiklah, kalau begitu kerjakan soal-soal di halaman delapan puluh."

Ah, tak terasa sudah hampir selesai sekolah hari itu. Tidak seperti biasanya, kelas Biologi siang itu terasa tenang dan damai. Apa yang Mister Reeve instruksikan dilakukan tiap siswa tanpa pembangkangan. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan aneh dan melenceng dari topik diajukan padanya. Tidak ada lelucon bodoh di tengah-tengah suasana serius. Tidak ada tiga—well, setidaknya dua— provokator berambut keperakan, sang trio pengacau kelas.

Reeve Tuesti menghela nafas. Kenapa dia justru merana dalam keteraturan ini? Ada yang kurang. Sepi rasanya…

Seorang siswa mengacungkan tangan di tengah lamunan sang pengajar.

"Ya, Lo—"

Berhenti.

"... Ya, Fuhito?"

Mister Reeve ternyata merindukan para pembuat onar itu.

"Saya agak kurang yakin dengan jawaban pertanyaan nomor tiga. Bisakah Anda menjelaskannya untuk saya, Sir?"

Guru berkumis tipis itu pun melirik sekilas soal yang dimaksud. Tak lama kemudian dia berkata, "baik. Semuanya, perhatikan. Ini bagannya."

Sambil menulis di whiteboard, dalam hati Mister Reeve berjanji akan segera besuk ke Midgar Hospital setelah kelasnya berakhir.

.

.

=xoxo=

Ruang rawat VIP Midgar Hospital siang itu sama tenangnya dengan kelas terakhirnya.

"Permisi," salam Mister Reeve. Ditariknya dalam-dalam nafas dan beliaupun masuk tanpa menunda-nunda lagi.

Mister Reeve sudah mempersiapkan diri untuk momen ini selama perjalanan tadi, tetapi hatinya tetap mencelos menyaksikan seonggok tubuh terbaring tak bergerak di atas sebuah ranjang putih. Begitu banyak selang dihubungkan ke sana. Di samping, sebuah alat pendeteksi detak jantung bekerja, menghasilkan bunyi-bunyi konstan tapi lambat.

Guru ShinRa itu mengalihkan perhatian dari alat itu. Bukannya Reeve Tuesti tidak tahu arti bunyi-bunyian yang dihasilkannya. Dia hanya berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Semuanya akan baik-baik saja," yakinnya. Dan guru tersebut masuk lebih dalam, mendekati sosok yang dikenalinya sebagai Yazoo.

Hatinya berdenyut nyeri sekali lagi tatkala sosok-sosok yang dikenalnya sebagai provokator kelas tertidur di sisi ranjang. Keduanya kelihatan letih.

"Begadang menjagai saudara kalian, ya?" Reeve Tuesti tersenyum agak pedih. "Kalian punya sisi lembut juga rupanya. Tapi kenapa aku harus melihatnya di saat-saat seperti ini?"

"Mungkin karena hanya ini kesempatan mereka menunjukkannya."

Berbalik, ternyata beberapa pemuda dari ShinRa berdiri dan menunggu di depan pintu. Ia tak mengenal mereka semua, namun cukup yakin bahwa si jabrik yang paling tinggi itu namanya Zack, anggota klub baseball Firaga kalau tak salah.

"Kalian…" suara serak terdengar di belakangnya. Mister Reeve kembali berbalik dan melihat muridnya itu terbangun.

"Loz." Yang disapa mengucek mata. "Bagaimana keadaan Yazoo?"

Jawaban Loz tak lebih dari sebuah kebimbangan. "Aku juga nggak tahu," katanya. Kesesakan terbaca dalam suaranya yang parau.

Bersamaan dengan itu derap segerombolan orang bergema di koridor rumah sakit. Sejurus kemudian muncullah beberapa gadis, ada yang membawa bungkusan berisi buah-buahan, buku bacaan, bahkan yang lebih aneh, bawa karangan bunga besar bertuliskan 'Yazoo get well soon, we love you'. Semuanya mengenakan seragam yang sama.

"Whoa, to," gumam Reno dengan dialek anehnya. "Blizard dazoto."

GEDEBRUK GEDEBRUK GEDEBRUK!

Cewek-cewek itu melempar bawaannya sembarangan lantas langsung mengerumuni Yazoo yang 'tergolek tak berdaya' di atas tempat tidur. Dan dimulailah rumpian ngalor-ngidul mereka. Ada yang berceloteh (dengan hebohnya) tentang seberapa parah Yazoo terluka; ada yang berpendapat kalau Yazoo harusnya masuk ICU (secara berlebihan); dan seorang siswi Out Of Topic malah membicarakan betapa gantengnya Yazoo waktu tidur (dengan semangatnya). Mister Tuesti melongo. Kehadiran sang guru ShinRa itu sama sekali tidak diperhatikan. Jangankan Reeve. Loz dan Kadaj yang jelas-jelas 'berjaga-jaga' di samping tempat tidur saja sampai tertendang ke samping.

JDIAK!

"OI!" raung Loz. Si tertua mendengus sebal. "Dasar gadis-gadis itu. Mereka datang langsung jadi anarki!"

"Tapi tumben-tumbenan, lho, Blizard mau melakoni yang seperti ini. Kukira hati mereka sudah beku," komentar seorang Firan. Gumaman-gumaman setuju susul menyusul. "Pasti ada udangnya nih," celetuk Biggs.

"Mana, mana?" sambung Wedge. Ini anak kalau topiknya makanan langsung nyambung.

"Tentu saja kami peduli. Yazoo, Loz dan Kadaj kan teman kami juga," kata Tifa Lockhart, tahu-tahu muncul dari belakang. Gadis itu membiarkan rambutnya yang gelap mengilat tergerai siang itu. Penampilan barunya menyebabkan dia kelihatan manis alih-alih kuat seperti biasa. Lebih manis lagi ketika sang finalis MAC mengungkapkan simpatinya pada Loz dan Kadaj diiringi sebuah senyuman menguatkan.

Mister Reeve mengembangkan senyum. "Tak kusangka hari ini semuanya kumpul. Ternyata solidaritas kalian tinggi juga, ya."

Jawab Reno, "begitula—"

"Iya dong, Mister!" potong Biggs bangga. Wedge tak mau kalah, "kami kan together forever happily ever after!"

Mereka yang berada di dalam ruangan itu mentertawakan kemiripan kata-kata Wedge dengan epilog kebanyakan roman picisan. Atau ending serial kartun anak-anak.

Beberapa waktu berlangsung seperti itu. Blizard dan Firan menikmati kebersamaan mereka. Saat-saat yang langka. Terlebih lagi Loz dan Kadaj pun kadang tertawa bersama teman-temannya. Mereka kelihatan sangat normal siang itu, lain dari hari-hari yang lalu. Meski tawanya tidak lepas, semua orang di ruangan itu mengerti, dua bersaudara berterima kasih kepada mereka semua.

"Baiklah. Saya rasa sekarang saya harus kembali. Masih banyak tugas yang harus saya kerjakan," Mister Reeve berpamitan.

"Kalau begitu kami juga," izin Tifa mewakili semua Blizard.

Belum sempat mereka yang berpamitan berdiri,

"Tunggu," cegah Loz. "Aku harus ngomong sesuatu."

"Apa itu, Loz?" sambung satu-satunya guru di ruangan tersebut.

Semua orang menunggu. Tifa menunggu. Mister Reeve apalagi, rasa ingin tahunya memuncak. Semakin lama si jagoan itu menahan pengutaraannya, semakin penasaran semua orang di dalam kamar tersebut. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan calon pemenang Martial Arts Championship ini?

.

.

=xoxo=

Jarum detik jam sudah berputar sekali. Satu menit telah berlalu sebelum akhirnya hal itu tersampaikan olehnya.

"Aku mengundurkan diri."

.

Kesunyian melahap ruangan berisi belasan manusia tersebut.

Tunggu dulu. Apa?

"… dari pertandingan itu, aku mundur."

.

Hening lebih lama lagi.

Kata-katanya sangat tidak bisa diterima mentah-mentah.

"Kau bicara apa, Loz?" tanya Kunsel, mulai tanggap. Sedangkan yang ditanya hanya melengos. Melengos ke arah adiknya yang saat itu sedang berpetualang di dunianya sendiri. Berpetualang sendirian… entah sampai kapan.

Pandangan Loz menerawang lagi. Mereka yang satu ruangan dengannya bertanya-tanya apa persisnya yang sedang dilihat Loz dari adiknya itu. Bulu mata Yazoo yang di luar dugaan lentikkah? Atau hidungnya yang bagus? Dahinya mungkin? Tidak ada yang tahu. Yang mereka tahu, Loz memandangi adiknya itu lama sekali.

"Bisa jadi ini adalah waktu yang paling nggak tepat, tapi… sekali saja, aku aku ingin berada di sampingnya."

.

Untuk yang ketiga kalinya, sunyi.

.

Loz melanjutkan. "Aku minta maaf. Maaf bila membuat kalian kecewa. Tapi... yah, kalian tahulah, kami sudah bersama-sama bahkan sebelum lahir ke dunia. Dan... tapi... aku..."

Loz berdehem pelan. Keraguan tersirat dari air mukanya. Sekilas ia melirik Kadaj, lalu pandangannya berhenti lagi di Yazoo.

"Selama ini aku nggak pernah ada untuk Yazoo. Karena itu kali ini… Mungkin bakal jadi kali terakhir... aku... ingin... di sisinya..."

Tak yang berani bernafas.

"Loz…" panggil Kadaj lirih. Ditepuknya bahu saudara tertuanya itu.

Tak ada hati yang tidak luluh. Ternyata di balik ke'kurang waras'an mereka, ada sebuah ikatan persaudaraan yang amat kental.

"Jangan salahkan Yazoo. Ini keputusanku. Kalau kalian marah, marahlah padaku."

"Jangan menangis, Loz," bisik Kadaj sedikit terharu.

Selama beberapa saat, yang terdengar hanyalah suara isakan terpututs-putus pria dengan julukan 'Jagoan' itu. Padahal agak memalukan juga kalau dipikir-pikir, seorang calon juara bela diri menangis? Tapi pada situasi tertentu menangis bukanlah hal yang memalukan. Menangis menunjukkan sisi manusiawi seorang manusia.

Lagipula toh nyatanya tidak ada yang benar-benar berani dan rela memecah saat mengharukan itu.

.

.

"Kalau begitu, aku juga mundur."

.

.

.

Gadis itu telah berdiri di depan pintu. Rambutnya yang panjang telah diikat lagi.

"WUEEEH?!" sentak semua orang.

"Ta-tapi! Tifa..!"

Langsung saja keheningan terusir. Para pelajar ShinRa ribut sendiri-sendiri. Di tengah-tengah semuanya, Yuffie berceletuk mengandalkan suara cempreng bin melengkingnya.

"Tifaaa! Apa kamu lupa dengan tekadmu? Menjadi juara pertama MAC yang perempuan!"

Tifa hanya tersenyum simpul. "Juara macam apa yang menang tanpa bertanding?"

Mendengar hal itu, Yuffie melongo tak percaya. "Demo demo demo..." Yuffie bertapi-tapi dalam bahasanya.

"Bagiku menang atau kalah tidak penting lagi. Guruku selalu berkata, yang penting adalah mengikuti kata hati serta melakukan apa yang benar. Itu jauh lebih penting daripada sekadar menjadi yang terbaik."

"Taa-taapiiii… kalau gitu nanti kalian mengecewakan banyak orang, dong?" ungkap Wedge takut-takut. Sebenarnya dia juga agak kecewa. Dia sudah beli tiketnya. Biggs menjitak kepalanya yang ditutup slayer itu seketika.

Tifa tersenyum penuh makna. "Hidup itu penuh pilihan dan dilema, Wedge," tuturnya. Ia lantas berpaling ke si mantan rival.

"Lagipula, kita masih bisa bertanding di kesempatan yang lain. Iya, kan, Loz?"

Pemuda yang disebut melempar tanda tanya sambil menelengkan kepala. "Ya," katanya, intonasinya naik; agak tak yakin.

Terisi senyum respek maupun keluh kekecewaan, ruangan VIP itu tak lagi senyap. Ya, semua orang memiliki pilihannya sendiri-sendiri. Pilihan yang mungkin mengecewakan bagi sebelah pihak, namun bagi pemilihnya dianggap sebagai sesuatu yang benar. Karena setiap manusia memiliki hak untuk memutuskan masa depannya.

Simpul Reeve Tuesti, "hmm, saya rasa hari ini kita semua mendapat pelajaran berharga. Ternyata saya yang sudah tua ini masih bisa belajar sesuatu, ya, dari kalian. Saya bangga pada kalian semua."

Anak-anak langsung menoleh ke arah guru mereka. Oh, masih di situ dia rupanya.

"Karena itu adalah pilihan mereka, kita sebaiknya menghargainya."

"Aku juga sependapat dengan Mister Reeve," aku Kunsel. "Dan tak hanya itu, kurasa kita harus belajar mendukung keputusan Loz dan Tifa."

"Yah, aku, sih, bukannya nggak setuju… Malahan menurutku Loz dan Tifa kelihatan keren banget hari ini."

"Un! Nggak nyangka Rozzu bisa lumayan keren juga. Kalau Tifa sih, emang selalu keren…"

"Nepotisme, dazoto."

"Oi Banci! Nggak ada hak bicara!"

Zack menghela nafas. "Kalian berdua ini memang selalu bertengkar dalam situasi apapun ya. Dasar pasutri sejati."

"OI-OI-OI!"

"OI ZAKKUSU! Hati-hati bicaramu!"

Derai tawa pun mengakhiri pertemuan kelompok satu almamater itu. Mungkin keputusan kedua rival tersebut tidak seperti harapan banyak orang. Namun, tidak mungkin seburuk itu juga, kan? Apalagi ada sebuah alasan yang tepat di belakangnya.

Dan harapan akan esok yang lebih baik pun terbit.

.

.

=toBcontinue=


"But enough of the small talk. You pretend not to care, but you always come through in the end."

-Reeve, FFVII: DoC-


Cerita author: saia beneran punya temen kembar 3 di sekolah. Gyaaa... Bahkan setelah dewasa mereka bertiga tetep imut. Bedanya sama Loz-Yazoo-Kadaj adalah mereka sangaaaaat sangat amat teramat pendiam. Dan pintar. Tapi kembar 3 emang terasa spesial di mata banyak orang ^^

Terima kasih banyak untuk pembaca chapter lalu dan chapter ini. Nggak lupa saia ucapkan terima kasih buat reviewer chapter lalu: love30katrina, Ayumi Takahasy, dan Reiya Sumeragi.

Oh iya, selamat lebaran bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir batin.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya! Ja ne! ^^