a/n: anu, ternyata saia masih ingin melanjutkan cerita ini. Makasih atas dukungan pembaca sekalian :) Terutama pada love30katrina, Roanolic, dan Roux Marlet reviewer chapter lalu. Untuk silent reader dan silent favoriter (?), makasih banyak juga :)
Hug and Kiss
.
Things to experience when you have friends along your path
Chapter 11: CRAZE
.
.
=xoxo=
Percaya atau tidak, salah satu pelajaran wajib para putri ShinRa adalah mengarang puisi.
Puisi bagi sebagian besar orang dianggap sebagai media penyampaian perasaan yang efektif. Tapi harus diingat, tak semua orang pandai menulis puisi, seperti Tifa Lockhart contohnya.
Boleh setuju boleh tidak, tapi sebagian besar orang menganggap dan mengakui, para pujangga puisi biasanya mereka yang melankolis dan romantis. Tetapi mengalami berbagai kepahitan tak lantas membuat seorang insan jadi melankolis, apalagi romantis.
Hari itu Tifa dikabari bahwa kesehatan ayahnya mulai memburuk. Tak heran, beliau memang sudah lebih dari setengah abad usianya. Ditambah lagi, Tuan John Lockhart termasuk tipe pekerja keras yang suka lupa waktu makan dan istirahat. Ini membuat Tifa sangat khawatir.
Tak hanya di tanah kelahirannya, di sinipun Tifa mempunyai kekhawatiran yang lain. Siapa, sih, yang tidak tahu Tifa begitu perhatian pada Kunsel? Dan siapa, sih, yang tak tahu Kunsel sekarang sedang demam tinggi lantaran digilas traktor-traktor brutal Golden Province? Seakan belum cukup, Tifa masih dihantui masalah perselisihan di klub bela dirinya. Sang pelatih terancam dikeluarkan setelah kepergok menjalin hubungan terlarang dengan salah seorang anak didiknya sendiri, yang menimbulkan pro kontra berkepanjangan.
Sesak dada Tifa memikirkan itu semua. Ia ingin mencurahkan masalah-masalah yang tertimbun dalam hidupnya itu ke kertas, lalu membakarnya habis. Tapi kertasnya kosong. Tifa Lockhart belum menulis puisinya.
"The mysterious abyss is the Gift of the Goddess. In pursuit of this gift we take flight. Within the heart's water surface a hopeless wander will flow. Like ripples to waves come forth the dreams below.Loveless. Act one."
Itu tadi adalah sepenggal kutipan kumpulan puisi kuno berjudul "Loveless", dibacakan guru sastra di depan kelas. Guru itu menghayati tiap kata yang ia ucapkan secara penuh, dan bagi separuh isi kelas malah kelihatan konyol.
Huh. Kayak si guru itu peduli saja.
"Ungkapkanlah perasaan kalian lewat puisi: cinta yang tak terbalas, dengki yang tertimbun, kebahagiaan yang meluap-luap, apapun itu," kata sang guru.
Setelahnya, Genesis Rhapsodos kembali membaca puisinya tanpa berhenti. Sambil berjalan-jalan memutari kelas si lelaki berkepala merah menekankan kata-kata yang menurutnya 'indah dan menyakitkan di waktu yang sama'.
Argh! Tifa jadi ingin menutup kupingnya. Boro-boro bisa melakukan itu, nafasnya membeku menyadari Sir Genesis telah berdiri di sampingnya.
"Alas… An hour ain't enough? Are you making a dough?"
Alas...harusnya aku yang bilang begitu,Tifa membatin.
"Rupanya kau bukan tipe yang berbakat walau penampilanmu memikat," lanjut SirGenesis tanpa sungkan. "Tak apa. Terkadang manusia butuh rangsangan tertentu 'tuk dapat ekspresikan perasaan. Aku, rangsangan itu adalah "Loveless". Ah~ roman ini sempurna. Aku bisa menelurkan karya luar biasa hanya dengan membaca salah satu part-nya," celotehnya dengan nada mengenang.
Guru nyentrik itupun berlalu sambil ... Tifa mulai merinding. Tapi tidak berhenti di situ saja. Tak lama kemudian ia berbalik.
"Aha… Untuk kasusmu mungkin justru kehancuran yang menjadi pemacu andalan. Don't ye forget… The mysterious abyss is the Gift of the Goddess."
Teman-teman satu kelas melirik-lirik ngeri ke arah pria tiga puluhan tersebut. Memang dari dulu guru nyentrik satu ini memang sudah terkenal dengan sifat anehnya. Tapi tetap saja...
Syukurlah Tifa tidak harus berlama-lama lagi. Bel segera berbunyi.
Melangkah cepat, si gadis setinggi 167 cm turun untuk menyelesaikan urusan di loker. Di tengah perjalanan Tifa bertemu Jessie dan Elena.
"Hei Tifa!" sapa Elena ceria. Jessie ikut melambai sekilas.
"Hai. Kalian mau ke mana?" sapa Tifa balik, melambatkan langkah.
"Perpustakaan. Tahu nggak, cowok keren yang baru saja masuk sini itu ternyata sering terlihat di perpustakaan. Hihihi… Aku dan Jessie kepingin lihat juga. Cuci mata, cuci mata."
Sela Jessie, "Aku nggak ikut-ikutan, kok. Aku ke perpustakaan untuk mencari referensi untuk tugas akhirku. Cuma si Elena ini yang kecentilan."
Elena menyikut si Ekor Kuda. Pipinya pun ikut digembungkan.
"Kau nggak akan bisa berpaling dari cowok itu kalau sudah lihat sendiri wajahnya. Dia itu ganteng bangeet!"
"Whaaat? Lalu Tseng mau kaukemanakan, hah? Bahkan pacar sendiri dinomorduakan. Benar-benar gadis tak berbakti kau Elena!"
"Hei, hei. Aku juga nggak mau dianggap menjauhkanmu dari Tseng, lho" goda Tifa ikut-ikutan.
Wajah Elena memerah. "Aku dan Kak Tseng nggak pacaraaan! Err… Belum. Err… Semoga nanti…"
Tifa dan Jessie terkikik-kikik. Dan Elena pun semakin merah saja.
Akhirnya Tifa berkata lagi, "Yah, karena aku ada perlu juga, tak ada salahnya. Sebelumnya—eh! Tunggu, aku mau ke loker dulu. Elena! Hentikan! Aduduh!"
Elena yang langsung mengamit dan menarik Tifa menyerbu perpustakaan dengan penuh semangat. Selanjutnya di tengah jalan mereka bertemu Yuffie yang setelah diceritai memutuskan untuk ikut. Lalu Biggs dan Wedge juga ikut. Lalu Zack. Reno ikutan diseret. Akhirnya orang-orang itu berbondong-bondong masuk ke dalam ruangan tenang di ujung lorong.
"Psst! Yang mana orangnya?"
Elena celingukan. Bisiknya, "biasanya di… Di mana ya?"
Aduh! Anak ini...
Sementara Tifa dan Jessie berusaha tetap sabar, Yuffie masih mengamati sekitar layaknya ninja. Sedang para cowok yang cuma ikut-ikutan malah berkeliaran melihat-lihat koleksi buku.
Sejurus kemudian, Elena berseru, "Ah! Itu dia! Cowok yang pakai topi baseball hitam di situ tuh."
"Mana? Mana?"
"Eeeh? Jadi cowok ganteng itu maksudnya Kanseru? Nggak lucu!"
"Lho, harusnya bukan. Kunsel kan masih demam di kamarnya," timpal Wedge tahu-tahu.
"Mana? Mana?" Biggs juga kepingin lihat.
"Itu? Itu Rufus," papar Zack. "Oooi! Rufus!"
"SSSSSST!"
Serentak seluruh mata memelototi rombongan berisik Zack. Librarian ikut membeliak garang ke arah mereka. Gerombolan itupun sibuk membungkuk minta maaf. Dan mereka berjinjit menuju orang yang telah dicari-cari itu.
.
.
=xoxo=
"Lagi baca buku apa, sih?" dengan sok akrab Zack mengawali perbincangan. Tanpa ragu direbutnya buku tebal dari hadapan Rufus.
"Tentang penyakit?"
Tiba-tiba Zack menutup buku keras-keras, dan memandang Rufus penuh arti.
"Rufus… Tak kusangka kau sangat perhatian pada Kunsel."
Pemuda pirang itu mendengus, sangat-sangat terganggu. Ingin pindah, tapi delapan makhluk menyusahkan itu membatasi gerakannya. Dan yang paling membuatnya risih adalah si perempuan pirang dengan model rambut bob. Mata birunya yang besar membulat, seakan-akan Rufus itu alien atau apa. Menjengkelkan.
Si Pirang tak segan melempar tatapan apa-lihat-lihat terdinginnya. Sialnya mata biru itu semakin membulat penuh kekaguman.
"Boleh kenalan—"
"Hai. Aku Jessie. Siapa namamu?" tanya Jessie sesudah sukses mendorong Elena ke samping.
Dasar... Tadi katanya nggak ikut-ikutan. Hah... Yang namanya perempuan memang di mana-mana sama saja.
"Huh."
Sayangnya si cowok ganteng mengabaikannya, membuat Jessie cemberut. Dan Elenapun terkekeh penuh kemenangan.
"Rufus, aku nggak nyangka kau suka menyendiri di tempat seperti ini. Itu sama saja kayak mengetahui Reno ternyata sering banget nelpon mamanya," kicau Wedge lancar.
"Shut up, dazoto!" raung Reno. Wajahnya sekarang sewarna rambutnya.
Zack tergelak. "Benar juga. Kamu hobi baca ya? Apa di sekolahmu yang lama kamu juga sering mampir ke perpustakaan?"
"O iya, kita malah belum tau Rufus itu dari SMP mana. Mana dia masuknya telat, lagi. Sebenarnya kau dari mana, sih?"
"Bukan urusanmu, Gendut," katanya ketus, membuat Wedge terkesiap dan nyaris menangis.
Tifalah yang pertama tertawa geli.
"Kenapa ketawa?" tanya Reno sebal. Dia kira Tifa sedang mentertawakan dirinya, meski Tifa ketawanya telat.
Tifa tersenyum. "Nggak," katanya, "awalnya semua cowok berlagak cool seperti Rufus, tapi setelah itu sifat cool mereka menguap entah ke mana, dan tinggal kegilaan yang tersisa dari mereka. Aku bertanya-tanya, apa Rufus juga bakal berakhir seperti Zack dan yang lain."
Reno lagi bergumam 'aku masih cool, dazoto,' waktu si Pirang menengok sekilas. Mungkin bukan karena ucapan Tifa barusan, tetapi keningnya agak berkerut sekilas. Namun Rufus melengos pura-pura tak peduli sejurus kemudian.
"Hehe. Yang satu ini mungkin butuh waktu agak lama. Gengsinya tinggi juga," komentar Tifa lagi.
.
.
=xoxo=
"Ki o tsukete, ne," pesan Yuffie yang artinya "hati-hati, ya."
Hm. Aneh. Cewek itu tidak pernah mengucapkan itu padanya sebelum ini. Tapi kalau diingat-ingat, memang banyak hal aneh hari itu. Kalau SirGenesis bertingkah aneh, sih, sudah biasa, tapi bukan itu maksudnya. Sambil terus merenungkannya, Tifa berjalan kaki menuju rumah gurunya, Zangan.
Tifa berbelok dan memasuki gang sempit yang selalu ia lewati. Gang itu sepi dan agak gelap, tapi jalan pintas yang dekat ke tempat Zangan. Di mulut gang ia merasakan sesuatu: perasaan tidak aman. Perasaan itu disusul suara aneh dari jalanan di luar. Ia mengabaikannya—mungkin itu keanehan lainnya—sampai sebuah batu memantul di dinding bata dan jatuh tepat di sebelah kakinya.
Tifa berbalik. Dan—
BOOOOM!
Tepat di mulut gang meledaklah granat.
"My—" pekik Tifa seraya berlindung di balik waste container besar. Gelombang udara panas dirasakannya merambas masuk gang yang sempit itu. Beberapa benda yang menempel di dinding berjatuhan akibat getaran ledakan.
"Ah!" pekik Tifa lagi. Rasa sakit menghampirinya.
Belum sempat dia mengecek apa yang melukainya, ia mendengar komando dari arah jalan raya.
"Periksa setiap sudut! Tawan semuanya!"
Apa yang sebenarnya terjadi?raung kesadaran Tifa.
Suara tembakan lantas bergaung. Disusul ledakan yang lain dan jeritan beberapa orang. Tifa kalut. Ia tidak tahu apa-apa, kebingungan, dan takut setengah mati.
Ia berusaha keras menyeret kaki, berjuang mencapai ujung lorong. Lebih keras lagi usahanya ketika didengarnya derap langkah di mulut gang. Tifa hanya bisa berharap langkah kaki itu bukan milik orang jahat. Kalau iya ia takkan bisa lari dari mereka.
"Hey!"
Oh tidak.
Tersaruk-saruk perempuan itu berusaha kabur. Ia tiba di mulut gang hanya untuk mendapati jalanan nyaris tanpa pengguna, dan kakinya ternyata berdarah-darah; ada pecahan botol kaca tertancap di sana. Tifa meringis ngeri. Tapi tak ada waktu lagi untuk itu. Dengan kalap arah ke rumah Zangan diambilnya.
Tifa benar-benar berharap bisa mendapat perlindungan di sana. Masalahnya, rumah Zangan paling tidak masih satu kilometer jauhnya.
"Hey!" Ia mendengar panggilan yang diucapkan secara brutal itu lagi. Dan suara deru mesin. Ia semakin dimakan ketakutan.
Tifa memejamkan mata, berusaha menenangkan diri. Kepanikan itu menghancurkan.
Dan kalau harus hancur, aku takkan hancur karena panik,ikrarnya tanpa sadar.
Ting!
Diingatnya perkataan Sir Genesis tentang kehancuran yang bisa jadi ilham. Sebenarnya kegilaan macam apa ini? Bisa-bisanya perkataan itu jadi kenyataan.
Tifa menarik nafas dengan cepat. Alih-alih memikirkan hal remeh, mencari cara untuk kabur saja belum tentu bisa menyelamatkannya. Apalagi deru mesin itu kian keras.
Situasi semakin genting sampai akhirnya Tifa memutuskan berpikir dengan tenang pun takkan membantu banyak. Tepat saat ia mulai menyeret kaki lagi, mesin hitam menyambangi langkahnya.
Terlambat, batin siswi itu putus asa.
.
.
.
.
"Tifa."
.
.
=xoxo=
"It's unfortunate that you cannot understand the beauty of these lines."
-Genesis, FFVII: CC-
KABOOM!
Suara ledakan yang jauh itu didengar oleh mereka di Gentlemen's RoomAsrama Firaga. Umpatan-umpatan berlambungan. Seluruh boardermerapat ke jendela, di mana dari sana terlihat asap hitam membumbung. Tak hanya satu-dua orang dari para lelaki itu yang langsung panik.
"Kita terlalu dekat dari medan tempur!" teriak yang satu.
"Kita tidak aman di sini!" teriak yang lainnya.
"Berisik banget, sih! Nggak perlu menjerit-jerit segala, kali! Kayak perempuan saja."
"Bukan kami yang kayak perempuan. Kau yang gila! Kita bisa mati!"
Di tengah kekacauan intradormitory, sosok Zack merenung sambil memandangi jendela dari jauh.
"Gawat."
.
.
"Kali ini mau ke mana?"
Orang itu berhenti. Kalau sudah kepergok mau bagaimana lagi?
Zack melipat tangan. "Apa kau mau pergi ke bar-bar itu lagi? Bukannya aku mau ikut campur, tapi pergi ke bar dilarang. Apalagi kerja di bar. Dilarang keras."
"Problem?" tantang orang itu. Ia segera pergi, tak memberi kesempatan bicara lagi.
Zack hanya bisa berteriak, "lain kali ajak aku! Hey,Rufus!"
.
.
Kunsel yang seharusnya tak keluar kamar terhuyung-huyung menghampiri Zack. "Ada apa ini?" tanya Kunsel.
Mata Zack masih menerawang.
"Perang dimulai."
Kegetiran nyaris tersurat dari suaranya.
"Harusnya aku melarangnya pergi."
.
.
=xoxo=
Mesin berderu halus itu berhenti tepat di samping Tifa sekarang. Tifa bisa merasakan mata pengendaranya terpaku mengawasi tiap gerak-gerik yang ia buat.
Tifa sudah tahu saat seperti ini pasti datang.
Inilah guna Zangan melatihku.
"Tifa."
Tifa hampir saja menghantam siapapun itu yang bisa tahu namanya. Untung saja sebelum tinjunya menghantam tengkorak orang itu, Tifa keburu sadar siapa dia.
"Kau! Rufus?"
Keanehan apa lagi ini?
"Naik," kata sang pemuda, nyaris seperti titah.
Tiba-tiba saja perempuan kelahiran Mei itu merasa bodoh. Ia merasa tidak mengerti banyak hal. Apa-apaan kericuhan yang tiba-tiba ini? Apa sebabnya? Kenapa dia harus berada di tengah-tengah situasi menegangkan ini? Dan—
Kenapa ia harus percaya pada orang di atas mesin hitam itu?
Sebuah granat melambung. Tak ada waktu untuk berpikir.
Dengan kebingungan dan susah payah Tifa menuruti perintah pemuda berambut pirang itu.
"Pegangan."
Dan Werewolfmelesat dengan kedua pengendaranya, meninggalkan ledakan dahsyat granat di belakang mereka.
.
.
=xoxo=
Kedua pelajar tengah bersembunyi. Mereka menemukan sebuah gedung tua yang sekarang menjadi tempat perlindungan sementara mereka, meski kata sementara sebenarnya juga kurang tepat. Tifa Lockhart tidak tahu sampai kapan ia harus berada di sana bersama pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya.
Ya, ia sama sekali tak kenal, tapi setidaknya sekarang ia tahu segila apa Rufus di jalanan.
Perempuan itu masih berusaha mengatur napas yang habis di jalanan tadi. Yang menghadang mereka di sana benar-benar kegilaan yang tak dapat dibayangkan. Missile meluncur dari segala arah. Granat meledak di sana sini. Tembakan di mana-mana tanpa diketahui siapa yang penembaknya. Di kiri kanan, gedung-gedung terkena serangan dan kaca-kacanya pecah berserakan. Pasti hanya karena kemampuan bermotor orang bernama Rufus itu sekarang mereka berdua masih bernyawa. Tentu saja. Kegilaan hanya bisa dikalahkan dengan kegilaan yang lain.
Sang pengemudi sekarang mengintip ke luar jendela. Raut wajahnya datar.
Tifa berpikir, Orang itu pasti gila. Dia berada di tengah semua kekacauan ini dan sama sekali tidak merasakan apa-apa.
"Apa kau mau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Tifa. Suaranya serak saat bertanya demikian. Tak hanya itu, rasanya energinya sudah terkuras.
"Sst."
Beberapa orang melintasi gedung tempat mereka bersembunyi. Tapi tidak berhenti.
Setelah mereka berlalu Rufus berbalik.
Orang itu mendecih.
"Kau berdarah."
Tifa langsung diserang rasa nyeri yang luar biasa. Dan mengertilah ia kenapa dirinya lemas. Ia telah kehilangan darah secara signifikan.
Bergerak sesigap tentara, laki-laki itu menarik keluar sesuatu di Werewolf yang diparkirnya di dalam gedung. Tak lama ia kembali membawa sebuah kotak. Dan secekatan serigala ia mengobati luka itu—membersihkannya, menghentikan pendarahannya, membubuhkan sesuatu berwarna hitam di sana, dan membalutnya, rapi dan kencang.
"Once your wound's done, we're outta here."
Tifa mengangguk sambil meringis. Dia meringis menahan perih tiap kali tangan orang itu menyentuh lukanya. Tapi orang itu tak pernah berhenti, seakan tak peduli. Bisa jadi dia memang tak peduli. Tapi bisa jadi juga untuk urusan ini Rufus sudah terlatih. Keanehan yang lain.
Setelah pertolongan pertama selesai, gadis itu bertanya lagi pada sang pemuda sambil berusaha berdiri. "Sebenarnya apa yang terjadi, Rufus?"
Orang itu menatapnya. Mata birunya bersinar ganjil.
"Mereka mengger—"
DRRRRT!
"Kami tahu kau di dalam! Keluar sekarang!" seseorang berteriak lantang dari luar.
Rufus mendecih lagi.
DDDDRRRRRRRT!
Amunisi ditembakkan seakan tidak akan habis. Satu peluru memantul dan menggelinding, lagi-lagi di samping kaki Tifa.
"Kita pergi. Sekarang!"
Rufus menarik Tifa secara sepihak. Tapi tak cukup cepat. Sebuah peluru menyerempet lukanya secara kebetulan. Serangan rasa sakit membuat Tifa mengerenyit. Perlahan kesadarannya menghilang, dan badannya terkulai di tempatnya duduk, sementara musuh semakin mendekat. Nyawa mereka berada di ujung tanduk.
Selesai sudah.
.
.
=toBcontinued=
"No, it's... feeling something. ...Yeah, it senses murder."
Rufus ternyata tahu nama Tifa?
Bagaimana mungkin dia jago dalam rawat-merawat?
Apa yang bakal terjadi pada mereka berdua?
The next chapter is on the way!
Thanks for reading ^^
