a/n: Aha! Sekarang saia tau! Cerita ini jadi terlalu serius dan melenceng dari rencana awalnya. Maap, maap. Ini karena saia kurang kemampuan /ngesot
Semoga semoga semoga chapter ini lebih baik dari postingan gagal beberapa minggu lalu TT. Jadi di sinilah akhir dari ketidakjelasan masalah "perang" itu.
Saia berharap pembaca mengingat chapter ini. Beberapa chapter ke depan masalah di sini bakalan kepake lagi. Tapi kalo lupa... yah nggak papa sih :p
Kisah sebelumnya
"Kita terlalu dekat dengan medan tempur!"
"Ada apa ini?"
"Perang dimulai."
Kegetiran tersurat dari suara Zack.
"Harusnya aku melarangnya pergi."
Hug and Kiss
.
Things to experience when you have friends along your path
Chapter 12: PACE
.
.
=xoxo=
"You're still a rookie here. So you'd better listen to whatever I tell ya!"
-Biggs, FFVII-
Langit begitu gelap tatkala pemuda itu berlari-lari di bawahnya. Pemuda itu takut.
Aku tidak percaya kios itu masih di sana!
Pemuda itu, dengan hati berdebar-debar, mendekati tempat itu.
"Aerith!"
Perempuan bernama Aerith yang dicarinya kaget mendapati pemuda itu berteriak-teriak masuk ke dalam kiosnya. Senandungnya beberapa saat lalu langsung berhenti.
"Zack?"
Laki-laki itu menyatukan kedua tangannya. "Oh, terima kasih, Gaia." Tidak lama kemudian Zack kembali pada Aerith. "Kamu masih di sini? Bagaimana mungkin kamu masih di sini?"
"Kenapa… Aku baru mau pulang," kata perempuan itu.
"Ya ampun! Sangat berbahaya berada di sekitar sini! Kamu nggak dengar ledakan?"
Gadis itu melirik ke kiri, mengingat-ingat. "Ledakan? Ah, suara petasan itu, ya? Hm, ya, ya, aku dengar. Aku rasa perayaan musim panas tahun ini lebih cepat, ya?"
Kaki Zack lemas. Ledakan granat dikira petasan… Perempuan ini bisa saja terluka!
"Pokoknya, harus cepat pulang. Ayo! Aku antar kamu. Kali ini kamu nggak boleh menolak! Aaah! Hujan!" Zack meraung. Tetes pertama hujan turun menyentil hidungnya.
Aerith bingung tapi tidak membantah. Mulailah gadis itu beres-beres. Zack membantunya.
"Eh? Bunga-bungamu laku semua?" tanya Zack di tengah-tengah kegiatannya.
Dengan ceria Aerith mengiyakan. "Aku tidak membawa banyak hari ini, tapi pemuda itu sungguh pemurah. Dia membeli semuanya. Hehehe. Sungguh pemuda yang baik."
JEGLER!
Halilintar menyambar.
"Pemuda? Pemuda yang mana?" selidik Zack. Kecemburuan ikut menjulur bersama lidahnya.
Gadis itu tersenyum. Ia dan Zack sudah mulai berlari menuju rumahnya waktu ia menjawab, "Pemuda yang memiliki mata yang sama dengan Zack."
Heh? Yang bermata sama denganku? Zack mengerutkan hidung. Bermata sama?
"Masa abangku datang jauh-jauh dari Gongaga cuman buat beli bunga?" Zack memiringkan kepala.
"Aku tidak tahu Zack punya abang."
"Memang nggak punya..." gumam Zack murung. "Apa Reno? Kalau mata, sih, dia juga ada Mako eyes…"
Aerith menggeleng. "Rambutnya pirang."
Kunsel? Zack membatin sendiri. Tapi kan dia lagi sakit.
DEG!
Mendadak Zack berhenti dan membiarkan air hujan menghajar rambutnya.
"Oh. Jadi… Dia sudah mutusin mau nembak Tifa."
"Za-ack! A-e-rith!"
"Hm? Oh. Ooi!"
.
.
.
Guntur menggelegar. Hujan akan segera turun, deras dan berangin.
"Melarang pergi siapa?" tanya Kunsel. Ia memandangi Zack dengan sebuah tanda tanya.
"Kunsel ke-dua," jawab Zack singkat.
Remaja bertubuh jangkung itu melesat menuju kamarnya. Keluar dengan membawa jaket, Zack melewati Kunsel yang masih belum paham apa yang terjadi dan membuka pintu depan. Katanya pada Kunsel, kalau ada yang tanya,
"Bilang aku pergi ke Gold Saucer untuk berkencan dengan Aerith."
Kunsel melongo.
Tak sampai tiga detik, Biggs berlalu-lalang di depan hidungnya. Dia bolak-balik mengambil barang, mulai dari topi detektif kotak-kotak hingga pipa rokok mainan. Biggs masih belum puas main detektif-detektifan? Kali ini kasus apa lagi?
"Lho, Kunsel?" anak laki-laki itu terkaget-kaget. "Kok ada di sini? Bukannya lagi sakit?"
Kunsel menggosok belakang lehernya yang terasa dingin. "Karena ada ribut-ribut, aku keluar."
"Aha. Ya, saat yang tepat. Saat ini sesuatu yang menarik sedang terjadi."
Tanya Kunsel penasaran, "Sebenarnya apa?"
"Ya ampun. Apa cuma aku yang tahu?" erang Biggs. Sok penting.
"Zack bilang perang dimulai. Perang apa? Bagaimana bisa terjadi? Di Midgar?" Kunsel mengorek informasi.
"Tidak, tidak, tidak. Sama sekali bukan perang. Ini ada kaitannya dengan sebuah sindikat gelap rahasia," ungkap Biggs. "Aku searching tentang ini berhari-hari."
"Sindikat apa?"
Mendengar itu, Biggs tersenyum penuh misteri. "Itu juga yang mau kami selidiki."
Dan langkah-langkah kaki yang beratpun mendekat. Ternyata itu adalah langkah Wedge yang memanggul ransel besar, seakan-akan akan pergi jauh dalam waktu lama.
"Ayo, Wedge. Oh iya, tolong bilang kami berdua mau main hockey di Icicle."
Kunsel kembali melongo. Ini malah lebih aneh dari omongan Zack.
"Kalian mau ke mana?"
"Pokoknya bilang kami keluar Midgar! Kami memutuskan mempercepat liburan musim panas! Daaah!"
Dua bocah yang bahkan belum selesai akil balig itu menghilang. Kunsel berusaha menelaah lagi, namun tak sampai tiga detik berikutnya,
"Kunsel, Kunsel!"
"Apa lagi…"
"Tifa! Tifa Lockhart ada di depan! Seseorang mengantarnya kemari. Dia tidak dalam keadaan baik. Ayo, ikut aku!"
.
.
=xoxo=
"I don't look like it, but I'm a coward at heart."
-Wedge, FFVII-
"Bar Thunder Bird. Jadi benar di sini tempatnya," gumam Biggs.
"Suram," kata Wedge menggambarkan bangunan sempit dua lantai di hadapannya. Lampu iklan yang menunjukkan nama bar telah redup sinarnya.
Ketika hujan mulai berderai dan memaksa mereka masuk, Biggs dan Wedge akhirnya mendapati suasana di dalam barpun sama saja dengan luarnya. Suram, mencekam. Hal baik tentang tempat itu hanya bahwa orang-orang di dalam bar terlalu sibuk untuk menyadari kedatangan mereka.
Biggs, memberi isyarat pada Wedge, mendekati meja tempat seorang bartender tua sedang mengocok cocktail berisi campuran rum dan ginger beer.
"Biggs... Kita enggak seharusnya di sini, deh. Kita masih terlalu kecil untuk minum-minum."
"Kita nggak ke sini buat minum-minum, bodoh. Diamlah."
Bartender tua mendekati mereka. Tanpa segan-segan ia mengamati kedua bocah itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kami di sini untuk berbisnis," tegas Biggs tanpa tedeng aling-aling. Meletakkan sikunya di atas meja dan sambil mengawasi sekitar, Biggs merogoh kantong mantel dan menarik secarik kertas. Selembar foto itu ia serahkan foto itu pada sang pembuat minuman yang mengamati foto itu sambil memicingkan mata. Si bartender tua kemudian mengamati Biggs dengan pandangan meragukan.
"Apa orang itu meninggalkan sesuatu?" desak Biggs.
Biggs kelihatan sangat yakin sampai Wedge merinding sendiri melihatnya. Biggs selalu kelihatan yakin sebelum sebuah masalah terjadi.
Orang tua berjanggut keriting itu membungkuk di balik mejanya. Tadinya Wedge mengira orang itu akan mengeluarkan pistol begitu berdiri. Betapa leganya ia ketika bapak enam puluh tahunan itu menyodorkan benda lain yang tidak berbahaya. Setangkai bunga.
"Bu-bu-bunga—"
"Sst!" sentak Biggs berusaha mencegah Wedge membongkar penyamaran amatiran mereka. "Terima kasih," kata Biggs kepada lelaki tua itu sembari menyerahkan bunga di tangannya ke Wedge.
Lelaki itu bergumam, "aku tak habis pikir mereka akan mengirim anak muda sepertimu."
"Maaf?" mendadak remaja itu jadi tertarik. "Apa Anda mencoba mengatakan Anda tak percaya pada kemampuan saya?"
"Apa yang kamu katakan?" desis Wedge. Biggs tak menggubris.
"Saya rasa banyak orang muda direkrut hari-hari ini," lanjut Biggs. "Yang mengantarkan barang ini, contohnya?"
"Yeah?"
"Yeah," Biggs berkeras.
"Tapi dia itu berbeda."
"Berbeda?"
Ini dia yang kutunggu-tunggu, pikir Biggs bersemangat.
"Dia itu… spesial."
"Biggs… kita harus pergi. Sekarang."
Meskipun saatnya sangat tak tepat, Wedge benar. Percakapan lebih lanjut tak dapat dilakukan lagi lantaran beberapa orang berseragam hitam sekaligus masuk ke dalam bar. Orang-orang itu dikenali Biggs sebagai pembuat onar Midgar. Mereka ada di TV dan internet. Oh, ya. Itu mereka. Disebut The Dark Knights oleh media.
Oh, ya. Merekalah yang harusnya mengambil barang ini, simpul Biggs.
Jadi atas peringatan Wedge, si detective-wanna-be bergerak. Sementara si bartender berbicara dengan orang-orang itu, keduanya menyelinap dan berhasil mencapai pintu. Tapi,
"Hei!"
"Wedge, KABUUUR!"
.
.
.
Masih tak percaya dapat lolos, bagai orang gila kesurupan, Biggs dan sahabatnya berlarian di jalanan terbuka Midgar. Dari jauh mereka dapat melihat dua orang lain sedang berjalan di jalanan yang sama.
"Ah! Zaaack! Aeriiiith!" teriak Biggs sekuat tenaga. "Za-ack! A-e-rith!"
Sembah sujud pada Gaia dua sejoli itu akhirnya menoleh.
"Ooi!" sapa Zack sambil melambaikan tangan.
Begitu mencapai Zack dan Aerith Biggs berhenti berlari dan mengatur napas.
Zack mengamati Biggs dari ujung ke ujung. "Ngapain pakai topi itu lagi?" selidik Zack. "Keisengan macam apa lagi nih?"
Biggs menggeleng-geleng. "Sa-ma seka-li eng-gak iseng—uhuk-uhuk!"
Zack menepuk-nepuk punggungnya. "Ck ck ck…"
Wedge yang tertinggal akhirnya mencapai ketiga temannya.
"Zack! Bunga ini!" Wedgepun menyodorkan setangkai lili kuning compang-camping. Aerith sama terheran-herannya dengan Zack ketika melihat bunga itu.
"Kami peroleh dengan mempertaruhkan nyawa!" terang Biggs.
"Heh?"
Lanjut Biggs, "Rufus, Zack. Rufus Shinra. Dia ada hubungannya dengan—"
Tanpa peringatan sesuatu meledak di dekat mereka.
BLAR!
Ledakan itu tidak besar, namun cukup berbahaya. Benda-benda kecil nan tajam berhamburan ke udara. Refleks, Zack melindungi Aerith dan kedua temannya.
"Ugh!" erang Zack.
"Zack!" seru Aerith.
"Hwaaa! Tamatlah kita sekarang!"
"Kita nggak akan tamat asal... KABUUUR!"
.
.
.
Singkatnya empat orang tadi berhasil menemukan tempat aman. Di sebuah subway gelap yang sudah lama dilupakan. Di sanalah keempatnya bersembunyi. Dalam kesunyian, kedinginan, kengerian yang seakan tiada habisnya.
Suara lembut Aerith sedikit mengurangi rasa takut mereka. "Zack, kamu tidak apa-apa?" tanyanya. Ia memandangi dua manik-manik yang bersinar biru terang di dalam gelap.
Pemuda berambut hitam itu meraba daerah rahangnya. "Ouch!" Sesuatu berdenyut-denyut. Sangat perih.
"Zack!"
"Eh… Nggak papa, kok. Cuma luka kecil," kata Zack. Bohong. Darahnya menetes-netes sampai ke kaki.
"Oh, Zack, kau terluka karena melindungi kami."
Mata Zack melebar seakan bertanya 'masa, sih?'. Mata itu lalu menyipit seakan berkata 'wow, ternyata aku ini keren juga.'
"Kau sangat berani."
"Eh? Eh… Ehehehee…"
"EHEM! Permisiii~ Numpang lewat di dunia-milik-berdua kalian!" sela Biggs tak sabar. "Sori, Tuan Romeo dan Nona Juliet, kita ada masalah serius di sini sekarang."
Zack memicing pada Biggs seolah berkata 'nih anak bisanya merusak suasana.' Biggs tidak melihatnya—memang pura-pura tidak melihatnya.
"Bunga lili. Di mana di Midgar kita bisa mendapatkan bunga seperti ini?" pancing Biggs. "Mungkin Nona Aerith Gainsborough dapat menjawab?"
"Di kios bunga Aerith," potong Zack. Zack dapat melihat Biggs tidak senang karena dia yang menjawab. "Lanjut," sergahnya tak mau tahu.
"Mau tahu di mana kami menemukan bunga ini?"
"Di Bar Thunder Bird," rebut Wedge sambil mengeluarkan hamburger dari ransel.
"Yeah. Bar Thunder Bird. Dan tebak siapa-siapa saja orang yang bekerja di sana. Kaki tangan seorang oknum. Oknum yang jahat, pokoknya, kalau kalian tanya. Mereka bekerja untuk kejahatan. Dan kau tahu? Rufus Shinra juga bekerja di bar itu."
Yang paling jelas ketahuan ekspresi kagetnya adalah Zack yang matanya lagi-lagi membelalak. Kaget? Tentu saja. Walaupun Zack tahu Rufus bekerja di bar, dia tak pernah menyangka pekerjaan macam itu yang dilakoninya.
"Sudah kuduga sikap misteriusnya pasti ada ujung pangkalnya. Persis seperti di film-film, orang-orang seperti dia pasti budak kejahatan," tukas si remaja bermata coklat itu.
Kali ini Zack menanggapi. "Kamu nggak bisa langsung menyimpulkan seperti itu," ia menyuarakan suara hatinya.
"Ya, aku bisa karena aku punya bukti. Bunga ini aku dapat setelah menunjukkan fotonya pada bartender di bar itu. Wedge saksinya."
Bocah yang sedang makan itu mengangguk-angguk mantap.
"Jadi yang memborong bunga Aerith adalah…"
"Aku kira ini ada hubungannya dengan Aerith—dia penjual bunga ini, kan? Aku pikir sesuatu yang jahat direncanakan terhadap Aerith. Tapi ternyata dugaanku meleset."
Wedge ikut berpendapat, "Bukannya ledakan tadi itu berarti dugaanmu benar?"
"Justru kebalikannya. Kalau mereka benar mengincar nona ini, mereka bisa membunuhnya saat itu juga."
Aerith shock.
"Ledakan itu sengaja dibuat meleset supaya kita lari ke sini. Subway ini buntu, tahu nggak? Mereka akan meringkus kita di sini," lanjut Biggs tanpa berhenti.
Zack berpaling. "Jadi kenapa itu nggak terjadi?"
"Karena mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau," papar Biggs, tersenyum misterius. Matanya yang coklat telah menanti pertanyaan selanjutnya.
"Apa?"
"Lili itu," jawab Biggs pendek.
Hening lalu ada kasak-kusuk. Sepertinya Wedge sedang memeriksa sesuatu.
"Bunganya nggak ada!" serunya takjub.
"Sudah pasti," Biggs tergelak penuh kemenangan. "Kamu pasti menjatuhkannya. Untung saja kamu menjatuhkannya!"
Zack menggigit bibir bawahnya dengan tidak yakin. "Err… Oke. Jadi kamu menduga bunga itu jatuh dan dugaanmu benar. Terus memangnya kenapa kalau mereka dapat bunga itu?"
Biggs tertegun. "Kalian nggak punya imajinasi, ya?"
Sepertinya anak ini memang suka membuat orang lain kebingungan.
Keheningan menyapu wajah-wajah tegang itu. Tiga remaja membisu dalan teka-teki Biggs. Wedge mengrenyit. Zack garuk-garuk kepala. Aerith bersin.
"Argh! Cepat katakan. Malam hampir tiba, hawa semakin dingin, nih," desak Zack sembari menyampirkan jaketnya ke pundak Aerith.
"Huh! Jadi gini, lho. Di bunga itu ada pesannya. Diselipkan di dalam mahkotanya yang berbentuk corong." Biggspun berbisik lirih, "Masa gitu aja nggak tahu, sih?"
Zack benar-benar bernafsu menggencet anak itu sekarang. Lagaknya sudah seperti detektif jenius saja. Huh! Menyebalkaaan!
"Hm. Kau nggak akan tahu apa isi pesan itu kalau kau membunuhku sekarang," tegas Biggs, mengetahui niat Zack.
.
.
.
Dan di sanalah mereka berempat sekarang. Kepala-kepala mereka menyembul dari balik sebuah bukit di pinggir pemakaman umum Midgar. Langit
"Aku memang kepingin menghimpitmu sampai mati tadi, tapi nggak perlu ke sini juga, kali!" desis si Jabrik.
"Ini ada di pesannya," bisik Biggs.
"Argh... Why graveyard of all places?!"
Cowok bertubuh kekar itu mengusap lagi belakang lehernya. Angin dingin setelah hujan sukses bikin merinding lebih lagi. Angin itu bagaikan tangan-tangan kecil yang membelai lehernya. Atau jangan-jangan memang ada tangan-tangan kecil tak kasat mata yang sengaja membuatnya ketakutan.
Brrr...
"Seseorang datang," kata Wedge.
Seseorang memang datang ke sana. Tapi dia bukan satu-satunya. Orang-orang beratribut hitam datang semakin banyak. Mereka berpencar, memeriksa kuburan seakan-akan kuburan itu memiliki sudut-sudut tersembunyi.
Keempat remaja harus menyembunyikan diri di balik bukit. Kalau orang-orang bersenjata itu sampai melihat mereka… Zack bahkan tak mau membayangkan apa yang bakal terjadi.
Waktu berlalu sampai ada teriakan,
"Ketemu!"
Akhirnya. Tapi tak mungkin kepala mereka nongol di saat yang tidak tepat.
Jadi mereka menunggu lagi.
Untung bagi Wedge. Ia memiliki 'ransum' yang bisa dihabiskan sementara menunggu. Di sebelahnya Biggs terus menerus menyumpah. Sementara itu Zack mengamati sang gadis satu-satunya dalam kelompok. Ia sedikit khawatir. Tak pernah sebelumnya Zack menyaksikan Aerith Gainsborough segelisah sekarang.
Ia memanggil gadis itu tepat ketika si gadis menoleh padanya.
"Zack, lukamu…"
Aerith menjulurkan tangannya.
"Ah, nggak papa, kok." Sebisa mungkin Zack menampilkan sebuah cengiran. Tetapi luka itu membuat tersenyum jadi susah.
"Zack…"
Pemuda itu menangkap ketakutan dalam suara Aerith. Itu wajar, Zack bisa memahami itu. Hanya saja ia tak tega melihatnya ketakutan.
"Tenanglah. Nggak akan terjadi apapun yang buruk, kok. Everything's gonna be alright, baby. Oh yeah," kata Zack gaya. Sekali lagi dia berusaha nyengir. Dan Aerith pun kelihatan lebih tenang melihat cengiran itu.
"Wuah! Akhirnya mereka pergi!" tiba-tiba Biggs bersorak.
Argh... Lagi-lagi nih anak... gerutu Zack dalam hati. Huh! Jangan-jangan dia cuma mau merusak kesenanganku saja!
Ogah sekaligus ragu, Zack menaikkan kepalanya. Keraguan yang tersisa langsung hilang ketika pemuda itu melihat sendiri pemakaman yang sepi seperti seharusnya. Dan ia memicingkan mata.
"Ngomong-ngomong, apa yang ketemu?"
Zackpun, dengan tangan Aerith dalam gandengannya, mengikuti si perusak suasana yang semangatnya telah kembali. Disaksikannya Biggs mendekati sebuah nisan, di mana bunga lili diletakkan di depannya. Nisan yang membuat Biggs seketika membatu.
.
.
=xoxo=
Sama seperti kemunculannya yang mendadak, kekacauan dan kegilaan di Sektor Satu Midgar berakhir nyaris saat itu juga. Pagi berikutnya masyarakat Midgar terbangun, dan kedamaian sudah kembali. Tentu saja gedung-gedung yang rusak tetap rusak, dan warga yang terluka tetap harus menjalani perawatan medis, tetapi tak lagi ada The Dark Knights selain berita-beritanya di televisi.
Pemerintah Midgar mengklaim kericuhan ekstrem yang terjadi adalah ulah sekelompok penjahat lintas negara, namun tak ada keterangan lebih lanjut. Orang-orang yang tak puas lebih senang menyusun dugaan tersendiri, dan cerita-cerita dahsyat pun mulai menyebar di kalangan warga kota metropolitan tersebut
"Hm. Coba baca, Zack."
Hup! Koran yang dilempar Biggs ditangkapnya. Dibacanya headline-nya.
"Penjahat internasional hanya pamer kebolehan? Jangan bercanda."
Biggs mengangguk. "Amatir. Anak kecilpun akan tertawa membaca ini. Ha! Mereka bahkan nggak tahu apa yang dicari komplotan bau itu! Ya, tentu saja. Mana mungkin aparat yang kerjanya cuma tidur-tiduran itu bisa tahu bahwa yang dicari sindikat ini adalah dia. Dasar tak berguna..."
Biggs mulai mengolok ketidakbecusan pemerintah, namun Zack terdiam. Perlahan dia rogoh kantong celananya. Ditariknya keluar telepon genggamnya.
Pip.
Gambar. Gambar nisan yang diambil Zack kemarin. Zack merunut dengan teliti tiap detil dalam gambar itu.
Nisan itu masih baru, putih bersih dan tak bercacat. Dan dipahat di sana sebuah tulisan.
.
.
Requiescat In Pace
Rufus Shinra
.
.
.
=toBcontinued=
"... Wonder if he was killed?"
-Biggs, FFVII-
* Requiescat In Pace= Rest In Peace= Turuo Sing Alim *teplaak*'
Terima kasih banyak karena telah membaca. Special thanks to Swandie and CloudXLightning ^^
