"Sudah siap? Ayo berangkaaat!"
"Sudah cepat jalan saja, zoto!"
.
.
Hug and Kiss
"It's show time!"
Chapter 13: BUZZ
.
.
=xoxo=
"Gah! Dammit!"
-Reno, FFVII: AC-
"Mau ke mana kita?"
"… Nibelheim?"
"HEY! Mau ke mana kita?"
"Nibelheim."
"Ohoy! Mau ke mana kita?"
"Nibelheim!"
"Yeah baby, mau ke mana kita?"
"Nibelheeeim!"
"OI! Diamlah dan jalan saja, zoto! Nggak usah sorak-sorak segala, dazoto!"
Seisi van segera hening akibat bentakan menggelegar Reno. Adududuh, sekarang suasananya jadi tak enak. Tetapi satu orang tidak tinggal diam.
"Kau yang diam, Banci! Jangan ngerusak liburan orang!" semprot Yuffie. Reno tidak terima dan… yah, tahulah, pertengkaran suami istri meletus lagi.
Pergi ke Nibelheim untuk berkemah. Meski diawali dengan kericuhan, toh, akhirnya rencana liburan musim panas Zack terlaksana juga. Hal-hal di luar rencananya terjadi, seperti pertengkaran ini misalnya. Tetapi Zack tidak pernah meragukan idenya sendiri. Kegiatan ini bukan ide yang buruk. Malah, kelihatannya akan menyenangkan. Sabar dulu, Zack. Masih ada sembilan jam perjalanan sebelum menjelajahi hutan di kaki Gunung Nibel.
"Bosan, dazoto." Baru dua jam, Reno sudah bersandar tak bersemangat ke pintu van.
"Aku kepingin muntah," timpal Yuffie.
"Ah, selalu merepotkan, dazoto. Makanya aku bilang apa, mendingan dia ditinggal saja tadi, zoto!"
"Hu-hueks!"
"O-oi oi oi! Jangan di bajuku—GYAAAH! GADIS SIALAAAN!"
Mendengar tingkah kedua manusia di kursi belakang tersebut, Zack, Kunsel dan Tifa kontan tertawa keras. Kalau ada dua orang itu, apapun jadi heboh. Tidak salah Zack mengajak mereka berdua.
"Sudahlah, Reno. Kita kan mau senang-senang. Nikmatilah momen ini," nasihat Tifa sabar.
"Nikmatin gimanaaa?!" raung Reno panik.
"Tifa benar. Lagipula, jujur saja, deh. Sebenarnya kau senang, kan, Yuffie ikut?" Kunsel menambahi dengan jahilnya dan sukses membuat Reno tambah mencak-mencak.
Duduk di kursi pengemudi, Zack terkekeh-kekeh sendiri. Liburan mereka kali ini bakalan beneran seru dan tak terlupakan.
.
.
=xoxo=
Berangkat jam delapan pagi, van tua sewaan Zack mencapai rumah Tifa lima belas menit sebelum jam makan malam asrama. Begitu van diparkir, seluruh isinya keluar, meregangkan tubuh yang tertekuk berjam-jam di dalam kaleng bermesin itu. Udara yang bersih dan sejuk menyambut mereka. Vokal mistis dari burung-burung hantu yang bersiap pergi berburu samar-samar kedengaran dan membangkitkan semangat petualangan lima anak muda ini. Langit yang magenta menghapus rasa lelah mereka. Keindahan Nibelheim memang tak pernah mengecewakan.
"Oh, kalian sudah sampai," seorang laki-laki paruh baya nan ramah menyambut mereka.
Tifa Lockhart menghampiri dan mencium pipinya. "Aku pulang, Pa," katanya.
Tuan Lockhart mengelus pipi anak perempuannya dan tersenyum lebar. Kemudian baru beliau mengajak masuk teman-teman Tifa. " Ayo masuk! Anggapl saja rumah sendiri!"
Sambil cengar-cengir, rombongan itupun masuk ke dalam rumah. Waktupun dihabiskan oleh kelimanya dengan membahas rencana mereka untuk esok hari, yaitu berkemah di hutan lebat di kaki Gunung Nibel yang katanya seram. Dan malampun menjelang.
.
.
.
Kaok kaok kaok…
Satu lagi keistimewaan Nibelheim adalah alarmnya di pagi hari. Yang membangunkanmu bukan kokok ayam jantan. Bukan pula sinar terik mentari. Yang membangunkan semua orang di Nibelheim itu kaok samar gagak gunung dari kejauhan, beberapa menit sebelum matahari muncul. Orang-orang akan bangun dengan hati menanti-nanti petualangan baru.
Kaok kaok…
Pagi masih gelap ketika Tifa Lockhart mendengar lagi kaokan itu setelah sekian lama. Tifa tersenyum rindu. Akhirnya ia benar-benar kembali ke kampung halamannya tercinta.
Tifa bangun dan berlajan berjingkat, berusaha tidak membangunkan Yuffie yang masih tertidur pulas. Sebelum membuka gorden jendela, Tifa mengamati Yuffie sekali lagi. Semalam mereka mengobrol ngalor ngidul sampai lewat tengah malam. Makanya Tifa dapat memaklumi jika wajah Yuffie kelihatan lelah karena sukar tidur. Dalam hati gadis bermata lebar itu bertanya-tanya, apa para cowok yang tidur di ruang tamu juga curhat dulu sampai subuh seperti mereka? Kalau iya, Zack, Kunsel dan Reno bakalan sulit sekali dibangunkan.
Tifa membuka jendela kamarnya, dan menghirup dalam-dalam udara berbau embun pagi. Sensasi dingin segera terasa di kulit wajahnya. Ah, ya. Dia merindukan hawa ini. Hawa dingin yang menusuk ini tak dapat ia temukan di manapun di Midgar.
"Aku benar-benar di rumah."
Sesaat Tifa memejamkan mata. Tak berapa lama kelopak matanya kembali terbuka, dan saat itu ia menangkap sinar redup lampu nafta dari bangunan seberang.
Bangunan seberang rumah Tifa adalah penginapan kecil milik seorang pria yang masih famili mendiang ibunya. Penginapan itu tidak pernah ramai. Rupanya sekarangpun hanya satu orang yang menyewa kamar di sana.
Bayangan penginap itu bergoyang-goyang terkena lampu yang redup.
"Laki-laki," desis Tifa memerhatikan bayangan itu. "Pemuda?" katanya lagi, kali ini heran.
Bayangan itu bergerak menuju pintu. Tak lama kemudian pintu yang menuju balkon terbuka, dan benar saja, seorang pemuda keluar dari ruangan.
"Selamat pagi," sapa Tifa tanpa sungkan. Biar bagaimanapun saling sapa adalah kebiasaan masyarakat desa.
"… Tifa?"
.
.
=xoxo=
"Oh yeah! We rock!"
-Yuffie, FFVII: AC-
"Hyeeh?!" seruan empat makhluk itu terdengar nyaring.
"Tidak perlu kaget begitu. Kalian, kan, memang jagoannya bangun siang," tandas Tifa.
"Tapi kan…"
"Kita tidak bisa berangkat, Yuffie. Berangkat sekarangpun, sampai di tempan sudah sore. Kalau sudah sore, tidak ada cukup waktu untuk mendirikan tenda. Kalau tendanya nggak berdiri, kita nggak bisa tidur di dalam tenda. Nggak tidur di dalam tenda itu sangat berbahaya. Jadi besok saja, ya, kemahnya."
Tak hanya Yuffie yang cemberut. Zack dan Kunselpun tampak kecewa. Tifa jadi kasihan. "Hari ini kalian kuajak ke kandang kuda saja. Bagaimana?" bujuknya.
"Eeeeh?! Sungguh?" tanya Yuffie heboh. Tifa tertawa kecil dan mengangguk.
"Yaaaay! Sugoi sugoooi!" seru gadis berambut cepak itu kegirangan.
"Okee! Kalau itu aku setuju!" sahut Zack.
Zack dan Yuffie yang sejak kecil sudah sering berkunjung tahu pergi ke kandang kuda Tifa berarti kesenangan menanti.
"Sebelumnya, aku ingin mengajak seseorang dulu. Zack, Yuffie, tolong antarkan Reno dan Kunsel ke kandang, ya?"
"Siap, Bos!"
.
.
.
Kesibukan di kandang kuda keluarga Lockhart telah dimulai sebelum Zack, Yuffie, Reno dan Kunsel tiba di sana. Berhubung ayah Tifa adalah peternak kuda pacuan, inilah rutinitas yang selalu dimulai pagi-pagi sekali, tujuh hari seminggu.
Tuan John memiliki kuda-kuda pacuan terbaik. Beliau sendiri yang memastikan kuda-kuda itu dirawat dengan baik oleh para jokinya. Salah satunya adalah yang didekati Nona Kisaragi, seekor kuda berwarna kuning jahe. Gadis itu berteriak-teriak senang lalu memeluk kuda itu.
Reno melempar padangan bertanya pada Zack.
"Itu Shouga, kuda favorit Yuffie." Reno tambah mengrenyit mendapat penjelasan dari Zack.
"Cewek itu berteman dengan kuda? Benar-benar aneh."
"Haha, kenapa? Kuda adalah hewan berperasaan lembut. Mereka dan manusia dapat saling memahami," jelas teman Reno berambut hitam itu.
Zack menatap sendu ke arah sang kuda betina tua. Gumamnya samar, "kuda itu yang menyebabkan Bibi Lena pergi. Mungkin sekarang Tifa membencinya."
"Oh, itu Tifa," Kunsel memotong perenungan Zack.
Dan benar saja, dari jauh tampaklah gadis itu. Rambutnya yang diikat di bagian ujung saja bergoyang seirama langkah kakinya. Sungguh aduhai penampakannya. Sangat cantik menawan. Dan di belakang gadis itu berjalan pula seorang pemuda. Pemuda yang mengenakan kaos tak berlengan, memperlihatkan dua tangan indah berkulit putih namun padat berotot. Pemuda dengan topi baseball hitam.
"R-Ru…" Saking terkesiapnya Zack tidak bisa menyebutkan namanya secara utuh.
Tifa dan Rufus mendekat. Berbeda dengan Kunsel dan Reno yang menatapnya heran tapi lalu menghampiri dan menyapanya, Zack tetap diam dan mengawasinya dari jauh.
Akhirnya Tifa mengajak semua orang ke kandang-kandang kuda dan menyuruh mereka berteman dengan para kuda. Hasilnya, bahkan Renopun sekarang membenarkan ucapan Zack tentang bagaimana kuda dan manusia bisa saling memahami tadi.
Hanya, sementara semua orang bermain dengan para makhluk cantik nan anggun tersebut, Rufus sama sekali tak menyentuh seekor kudapun. Hal ini mengundang perhatian Tifa. Ia diam-diam mendekati cowok yang terduduk di padang rumput itu.
Laki-laki itu masih memandang jauh entah ke mana tatkala si gadis desa duduk di sebelahnya.
"Hei," sapaan Tifa membuatnya langsung menoleh. "Tidak mencoba bersenang-senang?"
Orang itu menurunkan cap topinya dengan buru-buru dan menunduk.
Tifa terkikik lirih. Apa orang ini termasuk pemuda yang grogi di dekat wanita?
"Tidak suka kuda?" pancing Tifa lagi. Pemuda senama kapas di langit itu hanya menggumam tak jelas. Tifa kembali tersenyum. Jelas sekali orang ini grogi di dekatnya.
Gadis itu mengarahkan matanya yang bulat ke kaki langit, tempat matahari sebentar lagi tenggelam.
"Waktu itu juga kira-kira seperti ini, kan?"
Rufus melengak.
"Waktu itu matahari hampir tenggelam, ingat? Itulah pertama kali aku merasa akan mati," aku Nona Lockhart sambil terkikik. "Soalnya waktu memboncengkanku kau ngebut tidak kira-kira, sih."
Orang itu kembali menunduk. Sementara itu Tifa tak mengatakan apa-apa lagi, menunggui matahari tenggelam sepenuhnya di balik hamparan hijau perbukitan. Sebentar suasana gelap nan sepi bertahan, sebelum lampu-lampu di sekitar padang rumput mulai menyala.
Tifa memulai lagi, "Terima kasih, ya."
Kali ini Rufus hanya meliriknya.
"Terima kasih. Kalau tidak ada kau aku tidak tahu apa aku bisa ada di tempat ini sekarang atau tidak."
Tifa pun memutar badannya, tepat menghadap pemuda yang ternyata berkulit seputih porselen.
"Kunsel cerita kaulah yang mengantarku pulang. Kau telah menjagaku. Untuk itu aku sangat berterima kasih."
Orang itu mengangguk sedikit. "Hn," gumamnya.
Keheningan pun berlanjut. Angin mulai bertiup sedikit lebih kencang. Gema tawa Zack dan kawan-kawan yang masih bermain dengan kuda-kuda mereka terbawa arus tiada berwujud itu sampai ke telinga Tifa. Senyum lagi-lagi mengembang di bibirnya.
"Bagaimana kau tahu namaku?"
"Hn?"
"Waktu itu kau memanggilku, kan? 'Tifa!' Aku dengar. Bagaimana kau tahu namaku? Kita belum pernah kenalan sebelumnya."
"Zack pernah cerita tentangmu," begitu jawabnya.
"Begitu, ya?" kata Tifa sembari menatapnya.
Di saat yang sama pemuda itu memalingkan wajah pada Tifa.
Pandangan mereka bertemu.
.
.
Sesaat, waktu berhenti.
.
.
"Eh… Aku baru tahu matamu biru."
.
.
Dia mengatakan sesuatu, dan matanya bersinar. Ganjil. Seperti mata Zack.
"Ah, begitu, ya. Jadi bukan cuma tiga orang di sana yang memakai lensa kontakaneh itu." Tifa mengangguk-anggukkan kepalanya paham, lalu kembali diam. Andaikan Tifa tahu bahwa warna mata asli orang itu benar-benar biru.
Dan anginpun kembali berhembus. Berhembus dengan kencang. Seketika angin itu mengaburkan sesuatu. Topi yang selalu menutupi ekspresi Rufus terbang ke angkasa dan jatuh di tempat yang jauh.
Seakan telah mencapai tujuannya, angin yang sama melembut, menyisakan dua orang yang saling berpandangan, dengan rambut sama-sama bergoyang mengikuti irama mereka.
"Oh!" seru si gadis begitu melihat rambut pirang terang berdiri menentang gravitasi. Rambut asli Rufus Shinra. Rambut yang kaku dan jabrik, tetapi kelihatan lembut karena masih bisa bermain-main dengan angin malam. Sekarang Rufus tak punya apa-apa untuk menyembunyikan rambutnya yang nyentrik itu. Itu membuatnya sedikit banyak merasa… terekspos.
"Hihihi. Kayaknya aku kok pernah melihat rambut itu, ya? Oh aku tahu. Yuffie punya poster rocker dengan rambut seperti itu."
Lelaki itu melengos agak dongkol.
Tifa nyengir. Biar nyentrikpun, tak bisa dipungkiri rambut Rufus kelihatan keren.
"Yoooo! Tifaaa!" seru Yuffie dari jauh. "Jangan lama-lama! Kanseru panas, nih!"
"Jangan seenaknya ngomong!" hardik Kunsel buru-buru. Tapi toh laki-laki itu tak menyangkal pendapat Yuffie.
"Kalau bisa aku ingin diajari menunggang kuda yang benar. Teman perempuanmu ini benar-benar nggak bisa dipercaya," seru Kunsel pada Tifa, "kalau kau tidak sibuk."
Mendengar itu Tifa tertawa. Dan segeralah perempuan dengan senyum manis itu meninggalkan tempat duduknya.
"Ikut, Rufus?"
"Aku di sini saja."
"Baiklah kalau begitu. Sampai nanti."
Tifa pergi, dan si Pirang yang sendirian berniat menghampiri topinya. Sialnya orang lain datang menggantikan Tifa bahkan sebelum dia berhasil beranjak sedikit. Rambutnya masih terekspos.
"Whoa! Siapa sangka di Gaia ada lagi Si Jabrik! Heheheh!" Zack Fair datang sambil terkekeh-kekeh, membuatnya mendengus kesal.
Zack mengambil tempat dan duduk di sebelah orang itu.
"Nggak suka kuda?" tanyanya basa-basi.
"Hn." Jawabannya singkat seperti biasanya. Kalau dekat dengan orang ini, ia selalu ingin cepat-cepat pergi. Ada perasaan tak nyaman berada di dekat Zack. Si berisik itu…
"Hey, Ruffie, kamu percaya hantu?"
Satu lagi yang membuatnya tak suka. Menciptakan panggilan seenak hidungnya. Sok akrab. Menyebalkan.
Tangan Rambut Landak merogoh saku jaket yang dikenakannya. Ia mengeluarkan sepotong telepon genggam.
"Katakan…"
Cowok itu membuka sebuah file, lalu memerlihatkan layar ponsel kepada si jabrik yang lain.
"Apa yang muncul di kepalamu kalau kamu melihat orang yang seharusnya sudah mati?
.
Requiescat In Pace
Rufus Shinra
.
.
Selama orang yang setahunya bernama Rufus Shinra itu menelusurigambar pada layar dengan mata Makonya, Zack tak melepaskan matanya dari orang itu. Perubahan sekecil apapun akan menjelaskan banyak hal. Tapi ekspresinya tak berubah. Ekspresi Rufus sama saja. Dingin, datar, tampak tidak tertarik.
"Kau berpikir hanya ada satu Rufus Shinra di Gaia?" tanggap orang itu dingin.
"Let's see… Di Gaia, mungkin tidak. Di Midgar, well, jujur saja besar sekali kemungkinannya."
Orang itu diam. Sementara Zack mengunci mulutnya, menahan tudingan-tudingan tak terelakkan yang sudah ada di kerongkongannya. Lama kedua lelaki itu duduk di dalam relung keheningan tanpa suara. Terkadang saling lirik dengan perasaan muak, namun tak ada satupun beranjak dari tempatnya.
"Ehem!" dehem Zack. Sudah cukup diamnya. Bicaralah! Kita berdua sama-sama tahu kau sudah tertangkap basah, batinnya.
Enggan tapi akhirnya Rufus muncul dengan pertanyaan, "Apa yang kaucari?"
Orang itu menyeringai. Ho, jadi benar kamu menyembunyikan sesuatu!
"The Black Knights, kamu salah satu dari mereka. Kaki tangan kegelapan yang menghancurkan setengah sektor hanya karena sebuah kuburan. Dan dilihat dari nama yang terpahat di kuburan itu—namamu sendiri—dan bagaimana mereka langsung kocar-kacir kabur dari Midgar karenanya, kusimpulkan kamu orang penting, ya? Apa? Bendahara? Penyimpan dokumen-dokumen berbahaya? Atau kau seorang pemberontak yang mengancam keberadaan sindikat busuk itu?"
Rufus menerima tatapan nanar Zack dengan serius.
"Tidak bisa mengelak? Kalau begitu mengakulah!" gertak Zack tanpa menahan suaranya lagi. Tifa dan yang lain sampai menoleh.
"Heh heh heh…" Ia tertawa. "Mengakulah? Atau apa? Kau akan memaksaku benar-benar masuk ke dalam kuburan itu?"
Tiba-tiba saja suara orang itu terdengar berbeda. Suaranya menjadi berat. Berat karena kebencian tak terperi bercampur kegelian yang mencabik harga diri seorang Zack Fair dan membuatnya terhenyak.
Tapi ia takkan menyerah!
"Asal kau tahu, geng gilamu itu melukai murid-murid ShinRa."
Tangannya terkepal dan Zack mendesis, "Aku tidak akan membiarkan orang yang telah membahayakan teman-temanku berkeliaran dengan bebas begitu saja."
"'Bahkan jika aku harus mempertaruhkan nyawaku.'"
"Huh?"
"Heh heh heh… Itu, kan, lanjutannya? Oh, ya. Aku terlalu mengenal orang sok pahlawan sepertimu. Orang-orang bodoh yang pada akhirnya hanya mati konyol. Kasihan sekali."
Alis si Jabrik Hitam menukik penuh amarah. "Orang yang melindungi sahabatnya bukanlah orang bodoh! Nggak ada manusia yang bisa hidup tanpa teman!"
Entah bagaimana pembicaraan mereka bisa sampai sana, tetapi itu sudah tidak penting lagi. Zack menyadari, dia telah berhasil mengintip sedikit hati orang itu karena sekali lagi si kepala kuning tidak menjawab perkataannya. Ia hanya berdiri, menatap awan di langit sejenak, kemudian bergerak pergi. Entah apa yang ada di kepala orang itu sekarang.
.
.
=xoxo=
"...Hmm. That's how you'll fool them."
-Rufus, FFVII-
Pagi kedua menjelang, lebih hangat dari kemarin. Cuaca yang baik untuk pergi menjelajah Nibelheim.
Hari ini dengan keajaiban kecil yang disebut jam weker, para lelaki bisa bangun pagi. Sesuai janji Tifa kemarin, mereka akan pergi berkemah.
"Oke. Ayo berangkat. Tifa, Yuffie, Reno… lho. Di mana Zack?"
"Aku di sini!"
Peralatan berkemah Zack sudah lengkap. Tapi bukan hanya perlengkapan yang akan dibawanya. Satu sosok manusia yang diamit di bawah ketiaknya tampaknya akan ikut.
"Wehehehe. Kata Rufus dia pengen ikutan. Ayo berangkaaat!"
.
.
=xoxo=
Satu hal yang saling dipelajari Rufus dan Zack selama perjalanan menuju spot kemping: mereka berdua sama-sama aktor hebat. Zack mampu bersikap sangat akrab pada Rufus setelah pertikaian mereka kemarin, sementara Rufus dapat menyembunyikan nafsu membunuhnya dengan baik. Rufus tidak pernah setuju pada ide berkemah konyol itu, sementara Zack belum bisa memaafkan penghinaan Rufus lalu hari. Wajah mereka sama sekali tak menyiratkan hal itu. Benar-benar para aktor hebat, bukan?
SRAK!
Sesemakan tak jauh dari rombongan bergemeresak keras. Anggota rombongan itu menahan nafas. Ini dia yang dibicarakan Tifa selama perjalanan, alasan yang membuat enam-enamnya berjalan sangat rapat. Beruang.
SRAK SRAK!
"BOO!"
"GYAAAAA!" Reno dan Zack menjerit paling keras begitu wujud mengerikan muncul dari balik semak.
"Hantuuu!"
Kepala Zack kena getok. "Tidak sopan!" gertak Tifa.
"Paman," sapa gadis itu.
"Pa-paman? Ha-hantu itu ma-masih paman-paman?" ucap Zack yang otaknya sudah konslet.
"Sembarangan!" Tifa menegur lagi. "Ini paman yang berjasa bagi desa. Beliau mencari kayu bakar untuk orang-orang desa."
Tifapun meminta maaf pada paman pencari kayu bakar. Tifa berinisiatif menjelaskan lebih lanjut tentang hutan itu pada mereka ketika ia menyadari seseorang telah menghilang dari kelompok. Jantung Tifa seakan mau copot.
"Si Yuffie itu… Memang mustahil semuanya lancar kalau ada dia!" gerutu Reno dengan suara bergetar memendam kekhawatiran.
"Kita harus mencarinya," kata gadis itu. Ia memandang langit yang kelabu tua. Mendung.
"Kita harus cepat," ujar Kunsel memahami kekhawatiran Tifa.
"Kalau berpencar akan lebih cepat," usul Zack.
"Tapi kalau tersesat—"
"Yah, sudah pasti itu risikonya."
Tifa berpikir sebentar. Sebagai guide, keputusan berada di tangannya.
"Kebetulan aku punya GPS. Bisa kupakai untuk menandai jalan. Aku tidak ada masalah dengan berpencar," ujar Kunsel. "Selama ada sinyal," tambahnya lirih.
"Bagus. Reno pergi dengan Kunsel," putus Zack setelah mendapat persetujuan dari Tifa.
"Tifa tahu hutan ini, jadi dia juga bisa pergi sendiri, zoto—"
"Nggak—"
"Hm? Bagaimana, Zack? Kalian bertiga mau pergi bersama-sama?" tanya Kunsel.
"Nggak. Tifa perempuan. Dia harus pergi berdua," tandas Zack dengan intonasi selesai. Kunsel dan Reno memandang Rufus. Zack menyuruh Rufus pergi sendiri, begitu? Orang itu pasti gantian kesasar! batin Kunsel dan Reno.
"Rufus, kamu pergi bersamanya," lanjut Zack agak tidak rela.
"Heeh?!" Kunsel dan Reno lagi-lagi kompak.
"Aku sedikit-sedikit tahu, kok, hutan ini. Waktu kecil aku dan Tifa sering kemari," jelas Zack. "Sudah. Nggak perlu banyak cingcong lagi. Misi pencarian Yuffie dimulai!"
.
.
=xoxo=
Orang itu… seenaknya menyeretku ke hutan terkutuk ini… sekarang seenaknya mengatakan apa yang harus kulakukan. Tidak bisa dimaafkan!
Wajah orang itu tidak lagi datar ketika ia berjalan cepat di belakang Tifa. Sambil mengamati sekeliling, dengan ogah-ogahan ia ikut mencari. Tapi tak ada apapun di sekitar mereka yang bergerak kecuali gadis berambut hitam panjang itu, dirinya sendiri, dan dedaunan yang ditiup angin.
Menyebalkan sekali terjebak di antara orang-orang tidak penting itu. Sekarang aku harus ikut melakukan hal-hal tak penting ini. Sudah berjam-jam aku berputar-putar di dalam hutan! Membuang waktu saja!
"Yuffie! Zack! Kunsel! Reno!" panggil gadis itu nyaring.
Lihat, gara-gara orang-orang bodoh itu tidak bisa kembali ke tempat awal, perempuan ini dan aku sekarang harus mencari mereka semua. Mana ini sudah malam, lagi! Tenda belum berdiri! Mau istirahat di mana malam ini?
Sementara benak Rufus terus berbicara sendiri, Tifa tiba-tiba berhenti mendadak, menyebabkan sebuah tabrakan yang membuat keduanya jatuh.
Apa-apaan gadis ini! Berhenti mendadak seenaknya! Tidak tahu apa, aku berjalan tepat di belakangnya? lagi-lagi Rufus bersungut-sungut.
"Ada apa?" tanya Rufus.
Tifa tidak berusaha bangkit. Gadis itu diam saja. Ada yang tidak beres dengannya dan karena itu Rufus berniat membantunya berdiri.
Ketika disentuh pundak Tifa bergetar. Ketika tubuhnya dibalik, wajahnya kelihatan menakutkan, membuat Rufus terkejut. Otot-otot wajah gadis itu tertarik sehingga ketakutan yang tak terbayangkanlah yang tergambar pada mimik gadis itu. Ahli bela diri ini sedang tertekan luar biasa.
"Teef…"
Rufus Strife mendudukkan Tifa di bawah sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi. Hujan baru saja mulai mengguyur, dan ia membawa serta petir. Terpencil di dalam hutan belantara, kehilangan teman sambil diguyur hujan berpetir. Kondisi yang tepat kalau kau sedang berusaha ketakutan sampai mati.
"Tifa!" Rufus mengguncang pelan bahu Tifa. Ia menepuk-nepuk pipinya berulang kali. Ia menggenggam tangan Tifa dan mengusapnya agak kasar. Ia berusaha mengusir alasan apapun yang membuat gadis itu ketakutan setengah mati. Rufus bahkan dengan sia-sia mengajaknya bicara.
Semua usaha kelihatannya gagal. Keadaan Tifa yang tidak dimengertinya semakin parah dengan sengalan-sengalan nafas yang mulai keluar, membuat gadis itu semakin menderita.
"Tifa Lockhart, apa yang terjadi padamu?" ia bergumam putus asa.
Secara ajaib sengalan Tifa mulai berhenti. Mengetahui ini Rufus melanjutkan berbisik. Ia yang tak pernah berbicara seperti ini pada lawan jenisnya memutar otak, mencari topik yang dapat menenangkan batin.
"Jangan khawatir. Teman-temanmu—setidaknya si Zack Fair—akan baik-baik saja."
Bisa-bisanya aku memuji si berisik itu, batin Rufus agak tak terima.
"Orang tidak bisa hidup tanpa teman… Apa kau percaya?"
Gadis itu memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.
"Mungkin itu ada benarnya… setelah melihatmu begini. Apa kau takut teman-temanmu dalam bahaya?"
Tifa mengangguk dan mulai tersedu. Rufus kasihan melihatnya. Gadis itu basah dan menggigil oleh tetes-tetes hujan yang berhasil melewati atap daun, tapi sudah agak tenang sekarang.
"Teman-temanmu baik-baik saja. Aku yakin, kalau ada si bodo—Zack… mereka tidak akan dibiarkan terluka."
Bicara apa aku ini?
Menganggap dirinya mulai aneh, si Pirang merasa harus melakukan sesuatu. Berdiam diri dalam waktu lama bisa bahaya. Bisa-bisa paham-paham sesat yang dikatakan Zack kemarin menggerogotinya sampai habis. Oleh karena itu dia meninggalkan Tifa yang sudah mulai tenang, mencari apapun yang berguna, dan mulai mendirikan shelter.
Shelter berdiri sebelum tengah malam, dan cukup untuk dua orang—dia sendiri dan Tifa tentu saja. Tidak bisa membuat api unggun, karena semua kayu jadi terlalu basah untuk dibakar, tapi masih untung karena dapat menemukan beberapa pakaian kering di dalam tas parasutnya. Ia menyelimuti Tifa dengan pakaiannya, lalu pergi tidur di bawah naungan yang sama dengan gadis itu.
Dan sekarang, tidur dengan seorang gadis bukan karena kemauanku sendiri. Di tempat yang tidak nyaman pula! Gaia pasti benar-benar membenciku.
Masih untung kau bisa tidur tanpa kehujanan, Bung.
Mata laki-laki itu terpejam. Ia berniat melupakan sejenak semua kedongkolan dalam hatinya untuk mengistirahatkan diri. Tapi tak semudah itu. Waktu nyaris ia terlelap, Tifa memanggilnya.
"Rufus…"
Ugh… Padahal hampir saja… Aku mau tidur, tahu! Jangan memintaku menemani pergi buang air kecil!
"Rufus…"
Selamat malam! batin si Kepala Kuning tak mau tahu lagi.
Ia jatuh tertidur di bawah gelapnya malam dengan seorang gadis di sebelahnya menggigil kedinginan nyaris mati tanpa ia mengetahuinya.
.
.
=xoxo=
"BRENGSEK! BUKANNYA SUDAH KUSURUH KAMU MENJAGA DIA?!" bentak Zack tanpa ampun. Akibat makiannya banyak burung menghambur ketakutan ke langit siang.
Yang dibentaknya adalah seorang pemuda dengan topi baseball yang hanya tertunduk mengatakan apapun.
"Sekali lagi kamu melukai Tifa!"
"Kayak bisa kucegah aja," orang itu membela diri. "Aku nggak tahu dia demam."
"Makanya kubilang kau itu brengsek! Seorang laki-laki sudah seharusnya melindungi perempuan, bukannya mengacuhkannya!"
"Menurutmu aku bisa mencegahnya jatuh sakit?!" kali ini suara Rufus lantang. "Apa maumu? Memeluknya semalaman?!"
"MENURUTMU AKU MAIN-MAIN WAKTU MENYURUHMU MELINDUNGI TIFA?!" teriak Zack lebih keras lagi.
Kunsel tak bisa menerimanya lagi.
"Sudah, Zack! Teriakanmu malah bisa mengganggu istirahat Tifa," ungkapnya. "Dan, Rufus, akupun tidak bisa menerima begitu saja apa yang menimpa Tifa. Zack benar, kalau kau cukup memerhatikannya semalam, keadaan Tifa tidak akan separah ini.
Sialan mereka semua. Sekarang aku jadi kambing hitam, si Topi Baseball menyumpah.
Memang benar, akibat ketidakpeduliannya semalam, saat ia bangun demam Tifa benar-benar parah. Gadis itu sampai pingsan. Sungguh mujur Zack bersama Kunsel, Reno, dan Yuffei dapat menemukannya yang berlarian di tengah hutan sambil menggendong Tifa dipunggungnya. Tapi kenapa mereka semua sekarang membencinya? Bukankah dia juga telah berusaha menolong? Siapa yang berusaha menenangkan Tifa malam itu? Bukankah dia?
Ia hanya diam dan mengunci mulutnya rapat-rapat. Orang-orang tak berguna, pikirnya.
.
.
=xoxo=
(bersambung ke part 2)
