Setelah dipikir2 ternyata saiapun menapaki jejak Suwandi yang ngebikin fiction multichap di saat-saat menjelang UN. Gyaaah! Sangat menyetreskan (?) Oleh sebab itu saia izin hiatus dulu sampai UN selesai. Ini chapter terakhir (sebelum dilanjutkan lagi nanti (?)).


Hug and Kiss

"It's show time!"

.

Chapter 14: MASTAA

(Master)

.

.

=xoxo=


Berada di antara orang-orang tak berguna ini benar-benar suatu kesalahan. Aku tak tahu apa yang akan dikatakannya jika melihatku.

Batin pemuda itu terus bermonolog. Sudah satu jam ia mengutuki nasib sialnya. Terkurung di sebuah labirin hutan lebat bersama gerombolan makhluk yang berisiknya bukan main. Terlebih lagi makhluk-makhluk itu sekarang marah padanya.

What a nuisance, begitu pikirnya tatkala kupingnya berkedut. Oh! Ia mendengar sesuatu!

Menajamkan indera pendengarannya, hanya butuh sedikit waktu sampai pemuda pirang itu dapat memastikan dari mana suara berasal. Gemeresak itu dari sesemakan di arah jam dua. Dan iapun mengendap-endap.

"Sedang apa aku?" desisnya sebal. Ya, itu pertanyaan tepat. Lagi ngapain, sih, kau?

Lelaki itu mengeluarkan sebilah pisau. Bukan pisau besar, tapi juga bukan pisau lipat, perlengkapan standar pramuka. Ini adalah pisau yang akan dipakainya untuk membunuh binatang buruannya. Berburu? Ya. Itu jawabannya.

Sekarang si Pirang sudah teramat dekat dengan "mangsanya". Tapi raungan itu membuat kelinci di sesemakan terkejut dan kabur.

"YEEEEOOOOOOWW!"

Grrr…

Rasanya ini sudah yang keseratus kalinya buruan lari gara-gara orang itu.

"APA SIH MAUMU?!" Rufus meledak. Kesabarannya untuk si Berisik itu telah habis tiada bersisa.

Orang yang dimaksud si Berisik mendongak. Dari posisinya yang nungging di tanah bisa diketahui kalau sesuatu telah melukai bokongnya.

"Yang begini ini mana bisa dibilang maukuuu?!" Zack Fair mengaum seolah akan menangis.

"Terjadi lagi dan lagi… KALAU TIDAK SENGAJA, LALU APA?!"

"Meneketehe! Lebah-lebah itu terus-terusan menyerangku, sih!" Zack beralasan lagi.

Orang itu menggeram lagi. Dilihatnya sarang lebah yang telah dirusak kedamaiannya oleh Zack.

"Idiot. Sudah berapa kali kukatakan, caranya bukan begitu!" Gimana, sih, cara supaya nggak sebal menghadapi kebebalan Zack?

Balas Zack, "Kalau kamu lebih pro dari aku kenapa nggak kamu aja yang ambil?"

Pemuda pirang itu membuang mukanya.

"Baiklah."

Zack cengo. Baru kali ini si pirang itu melaksanakan perintahnya.

"Begini caranya," kata Rufus yang tengah menjulurkan tangannya. Zack memerhatikannya sambil mencibir. Kayaknya nggak beda jauh dari tekniknya, tuh.

Dengan gerakan supercepat Rufus meraup sarang bermadu itu. Zack terkesima, dan…

PLOK!

"Cuma perasaanku atau ada sarang lebah di rambutku…?"

Si pirang menyeringai puas.

"GROOOOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARHHH! RUFUUUUUS! YEEEEEEEOOOOOOOOOOWW!"

.

.

=xoxo=

Sudah hampir malam lagi. Ternyata Zack, Kunsel, Yuffie, Reno dan Rufus sudah hampir tiga hari bertahan dalam hutan. Seandainya mereka membawa makanan lebih banyak, tentu tidak harus mencari makanan sendiri seperti tadi pagi.

"Haah… Survive di alam liar memang sulit," gumam Yuffie. Semangatnya telah padam sejak kemarin.

Kunsel tersenyum kecut. Ia menimpali, "baguslah kalau kau belajar sesuatu di sini."

"Makanya, jangan shopping melulu, Cebol," celetuk Reno.

Kunsel terkekeh. Usahanya untuk mencairkan suasana berhasil juga. Sejak mereka berkumpul kembali, atmosfirnya jadi dingin. Dipicu kemarahan luar biasa Zack pada Rufus Shinra, semua orang mulai saling menyalahkan. Bahkan Reno menuding Yuffie sebagai penyebab semua kekacauan, menyebabkan dua orang yang selalu bertengkar itu tak saling bicara seharian.

Syukurlah, perang dingin telah usai berkat dirinya.

"… nyebal… tak berperasa… ntang-men… HUH!"

Suara yang timbul tenggelam itu familiar. Lalu tiba-tiba suara itu menjelma menjadi sosok yang tak pernah dilihat sebelumnya. Makhluk yang berjalan dengan dua kaki, namun tubuhnya berlendir. Air menetes-netes setiap kali ia bergerak. Kulitnya bagaikan sisik berlumpur. Baunya… sungguh tak sedap.

"Apaan tuh, zoto?" Reno memicingkan mata. "Setan rawa?"

"Gyaaaa! Tatsuketeeee*!" jerit Yuffie sembari bersembunyi di balik punggung Kunsel.

Memakan paling tidak sepuluh detik bagi Kunsel untuk menyadari apa si makhluk. Zack Fair, sobat karibnya. Siapa lagi?

"Dari mana saja kau, Zack?" interogasinya.

"HUEEH?! Za-Zaaakkusu?! Zakkusu mana mungkin sejelek itu?!" Yuffie berteriak parau.

Reno hanya berdecak. "Emangnya seganteng itu, ya? Nggak juga, zoto."

Si monster lendir tersaruk-saruk mendekat.

"Za..ck? Itu kau, kan?" Kunsel melangkah mundur. Habisnya cara berjalannya mengerikan… Mirip zombie yang baru bangkit.

"O-oi Zack! Jangan bercanda, dazoto!"

"Rufus… Akan kubunuh dia…."

.

.

.

"Mana orang itu?"

"Oh, Zack," sapa Kunsel. Akhirnya ia bisa mengenalinya kembali setelah orang itu mengenyahkan 'sisiknya'. Ketika Zack mendekat Kunsel menjepit hidung. Wih… Masih bau. Mandi tahi atau apa, sih, orang ini?

"Oi! Jangan pasang tampang jijik begitu! Aku tambah marah, nih!" ancam si Jabrik.

"Iya iya. Rufus ada di tenda," kata Kunsel tanpa melepaskan tangan dari hidungnya.

"RUFUUUS!"

.

.

.

"RUFUS!"

Sekasar mungkin Zack membuka pintu tenda. Yap. Ia langsung menemukan apa yang dicarinya. Orang itu di sana, berbaring saja, tak melakukan apa-apa lagi.

Tanpa sungkan ditariknya lengan si mata biru, membuat pemuda itu tersentak kaget dari tidur dan secara refleks menggunakan kakinya untuk mengunci gerakan Zack.

Tidak lama kemudian Zack sudah tengkurap, tangan tertekuk ke belakang, tertindih dan tak berdaya. Meringis kesakitan, lagi. Sungguh tak elit.

"O-uch…" hanya itu komentar Zack.

Si Pirang mulai sadar sepenuhnya.

"Oi… Tahu nggak, sih? Kamu… lumayan berat…" komentar Zack lagi. Sungguh tidak penting.

Belum turun dari punggung Zack, "apa-apaan kau?" balas Rufus.

"Itu kalimatku, tahu! Turun!" geram Zack. "Emangnya aku truk pengangkut ternak, apa?"

Akhirnya si pirang melepaskan orang itu. Sebenarnya bukan karena disuruh, tapi karena tak tahan dengan bau ikan amis Zack. Hu-huek…

"Thankies…" ujar Zack sembari merapikan baju. Melihat lawan bicaranya, ia jadi penasaran, memangnya sebau apa, sih?

"Ah, tidak penting. Ikut aku!" potongnya sendiri, lalu menarik lengan baju si pirang.

Meski diprotes keras, Zack tetap menariknya sampai kemah sebelah, tempat Tifa Lockhart berisirahat.

"Tifa, Rufus sudah datang," sambil membenarkan kompres Tifa, Zack setengah berbisik. Kemudian ia berpaling pada korban seretannya. "Jangan lupa minta maaf!"

Pemuda itu membuang muka. Harusnya Zack tak menyuruhnya. Rufus kan tak pernah mau menuruti permintaannya.

Sedikit demi sedikit Tifa membuka mata dan menggumamkan sesuatu. Waduh… Tifa kelihatan menderita. Pasti ia juga kebauan.

Zack mengelap mukanya sambil meratap, beginilah rasanya jadi orang terbuang.

"Yasudah, aku keluar saja," katanya pasrah.

Tiba-tiba tangan Rufus menahan lengan bajunya. EEEEK! Zack nyaris tercekik. Orang ini balas dendamnya menakutkan juga.

"Rufus?"

Zack berhenti bergerak. Berbalik, ia memberi isyarat agar Rufus mendekati Tifa.

"Apa dia mengigau?" bisik Zack dari balik punggung Rufus. Pemuda itu tak tahu harus menjawab apa.

"Rufus?"

Kerutan di kening pemuda itu semakin dalam saja. "Ya, Tifa, ini Rufus," katanya sembari mendorong si pirang kuat-kuat sampai Rufus hampir jatuh menindih gadis itu. Hanya tangan sigapnya yang membatalkan persentuhan bibirnya dengan bibir gadis itu.

Waktu mengkristal.

Keanehan baru terasa beberapa saat berikutnya, yaitu bahwa pemuda itu masih belum menarik dirinya menjauh.

"OI! MINGGIR!" Zack mengaum. Ia berusaha menarik Rufus dari Tifa dengan sebrutal mungkin.

Rufuspun membatu. Hati Zack dag dig dug.

"Kamu… Nggak menciumnya, kan? Kamu nggak mencium Tifa, kan?!"

Masih dengan ekspresi kosong, perlahan tangan Rufus menyentuh bibirnya sendiri.

"Hoo boy…" Zack mendesah super shock. Kemudian ia meraung-raung.

"KEMBALIKAN CIUMAN PERTAMA TIFAAAAA!"

Suara keras Zack ikut membuat shock mereka yang ada di luar. Berbondong-bondong tiga orang itu menjejali tenda Tifa. Yuffie dengan mata membeliak superlebar, Reno dengan alis menukik superkaget, dan Kunsel... dengan hati hancur.

"Apa-apaan kau ini?!" sembur Rufus.

Zack tak peduli. Ia masih mencengkram kerah bajunya, mengguncang-guncang tubuhnya, pokoknya melakukan hal yang kekanak-kanakan dan konyol. Sebenarnya dia itu siapanya Tifa, sih? Emaknya?

"Benarkah… Ciuman pertama Tifa…" ratap Kunsel nyaris tanpa jiwa.

"Ciuman apa?!" Rufus membentak lagi. Dan seketika Zack berhenti mengocok-ngocok badannya. Yuffie menyipit. Reno memutar bola matanya. Tiba-tiba wajah Kunsel kembali berseri.

Zack masih tak percaya. "Te-terus, ngapain kamu pakai pegang bibir segala?"

"Aku cuman lagi berpikir!" jawab Rufus ketus.

Zack hanya melongo. Sementara Rufus melenggang pergi, masuk ke tendanya sendiri dan menutupnya rapat-rapat.

"Kenapa dengan orang itu?" tanya Reno.

"Rufusu… berpotensi jadi saingan Kanseru. Ehheheheh… Seru, nih!"

.

.

=xoxo=


"What does that have to do with me?"

-Rufus, FFVII: AC-


"Oi, aku mau masuk…"

Dari luar dia menusuk-nusuk pintu tenda dengan jari.

"Cepatlah, nyamuknya banyak di sini."

Zack Fair diusir dari tendanya sendiri. Berhubung Rufus menutup rapat pintu tenda dari dalam, Reno jadi tidak bisa masuk. Karena Zacklah si biang keroknya, Reno mengambil alih tempatnya dan tak peduli pemain baseball itu harus tidur di luar. Sekarang Reno dan Kunsel sudah mendengkur, sementara Zack harus berjuang mengatasi dinginnya malam dan serangan nyamuk-nyamuk haus darah yang getol menghisap darahnya.

Tak ada respon dari dalam tenda.

"Ruffie~" rengek Zack. "Apa kamu nggak kasihan padaku?"

Tetap tak ada respon.

"Oke, deh. Aku janji nggak akan memanggilmu Mister Stoic lagi. Atau Si Bokong Chocobo. Atau Wajah Papan. Hm… Apa lagi, ya?"

Masih tak ada.

"Yuhuu~ Ruffie~ Aku tahu kamu belum tidur."

Auuuuuuu….

Dan sebuah lolongan sendu nan merobek nyali terhempas di udara.

"OOOOI! BUKAIN TENDANYAAA! GYAAAAAA! BUKAAAA!"

Swig!

Usaha terakhirnya berhasil!

"Apa-apaan—"

Zack menyerbu masuk dan segera menutup tenda.

"Apa-apaan—"

"Rufus! Kata orang kalau ada lolongan serigala… Jiwa-jiwa yang tersesat di gunung ini akan bangkit…" cerita Zack yang berusaha mati-matian menunjukkan ketakutannya. Nafasnya jadi tersengal. Ia mengelapkan telapak tangannya yang tiba-tiba berkeringat ke kaosnya.

"Tapi untung aku sudah masuk tenda. Arwah kan cuma tembus dinding, nggak tembus tenda. Heheh," omongnya sambil memasang mimik yang kocak.

Ekspresi lawan biasanya bosan seperti biasa.

"Ehem!" Zack berdehem demi menetralkan suasana. Sudahlah. Biarpun candaannya garing, yang penting ia berhasil masuk ke dalam tenda. Tenda yang tentu saja gelap, namun dengan night vision semuanya menjadi jelas.

Termasuk secarik kertas yang mungkin secara tak sengaja sedang diduduki Rufus.

"Hei, foto siapa, tuh?"

Rufus, sadar Zack bisa melihat dalam gelap, memungut benda yang dimaksud dan memasukkannya ke dalam tas.

"Wah, wah… Jadi gugup begitu. Apa dia… pacarmu?" tanyanya merendahkan suaranya, tahu bahwa yang di dalam foto berjenis kelamin laki-laki.

Rufus tampak tersinggung.

"Heheh. Bukan, ya? Mungkin dia… saudaramu?"

"Urus urusanmu sendiri!" jawabnya setengah menghardik.

"Huh. Galak banget… Mirip cewek!"

Lelaki bermata biru itu tertegun mendengarnya. Benarkah…? Benarkah ia galak? Tidak. Iatidak pernah seperti ini. Ia selalu tenang.

Benarkah aku bersikap berbeda di dekat orang ini? selidiknya pada diri sendiri.

"Ah sudah. Daripada itu… aku harus memastikan sesuatu."

Wajah Zack Fair mulai kaku. Jika beberapa detik yang lalu ia penuh keceriaan, sekarang ia benar-benar serius.

"Pertama. Gerakan refleksmu yang tadi sore itu… Jelas kamu bukan orang biasa. Kamu terlatih. Apa kamu…"

Zack kelihatan ragu meneruskan ucapannya. Sesekali ia menggeleng, seakan-akan ia sudah tahu jawabannya. Rufuspun terpengaruh. Ia menjadi sedikit grogi. Jangan-jangan orang di hadapannya ini tahu lebih banyak dari yang ia kira.

"Apa kamu… Jawab yang jujur, atau aku akan menobatkanmu sebagai pencuri ciuman pertama!"

Rufus nyaris terjengkang. Nih orang…

"Apa kamu…"

Hening.

"Apa kamu…"

Sesaat Rufus berpikir orang ini seperti kaset rusak nyangkut di tape recorder.

"Apa kamu… FIRST CLASS SOLDIER?!"

?

"Apa kamu juga main SOLDIER?! Apa kamu berhasil jadi First Class? Ya ampun! Sepanjang hanya ada tiga First Class yang masih hidup sekarang! Satu, pemilik arcade itu sendiri, dan dua orang lainnya tak diketahui, tapi yang jelas mereka sudah berkeluarga! Apa kamu berhasil jadi First Class keempat?!"

Berhubung menepuk jidat bukan style-nya, Rufus tidak melakukannya.

"Sudah kuduga aku jadi kelihatan bodoh. Tapi… JAWAB! You're really something and I know it! Nggak mungkin kamu orang biasa!"

"Bukan," jawab pemuda itu singkat. Namun,

Tidak semua orang berefleks bagus main game menggelikan itu, Idiot! batinnyakesal.

Lawan bicaranya belum puas. Ia menyipitkan mata penuh kecurigaan. Rufus balas menyipitkan matanya seakan berkata 'nggak ada untungnya membohongimu'.

Sementara Zack harus menelan jawaban itu bulat-bulat. Ia menghembuskan nafas untuk menunjukkannya.

"Oke. Lanjut. Pertanyaan kedua. Jawab dengan jujur atau aku akan membocorkan tentang pacarmu yang di foto."

Lehernya tiba-tiba tegang. Si tengil ini…

"Apa kamu…"

Grr… mulai lagi "apa kamu"-nya yang membosankan.

"Apa kamu… jatuh cinta pada Tifa?"

UAPA-APAAN LAGI PERTANYAAN INIIIII?!

Orang itu setengah mati ingin menjejak Zack di wajah. Keinginan itu ia tahan-tahan demi imej cool-nya. Karena itu dengan tenang ia mengelak.

"Aku tidak jatuh cinta pada Tifa Lockhart. Apa itu jawaban yang kauinginkan?"

Zack malah menaikkan sebelah alis. "Kau yakin?"

"Hn."

"Hn? Iya? Tidak?" goda Zack. Orang ini memang nggak mengenal kata menyerah.

"Kau dengar jawabanku."

"Tidakkah Tifa cantik?"

Rufus diam karena tak merasa perlu menjawab.

"Tidakkah dia menarik? Jawab atau pacarmu… Kau tahulah."

Sekarang bukan lagi menjejak. Rufus ingin sekali membejek-bejek wajahnya yang menyebalkan itu.

"Hnnn," gumamnya malas.

"Kau jatuh cinta?"

"Tidak."

"Suka?"

"Tidak."

"Tertarik?"

"Tidak."

Akhirnya Zack berhenti.

"Bagus, deh. Dengan begini saingan Kunsel nggak bertambah. Asal kamu tahu saja, Kunsel suka sama Tifa saat pandangan pertama. Aku percaya cinta pada pandangan pertama adalah cinta yang murni."

Siapa yang tanya? pikirnya sengit. Itu karena Rufus merasakan sesuatu tiba-tiba mengganjal. Cinta. Apa cinta benar-benar ada?

"Eh, apa kamu pernah jatuh cinta?"

"Apa ini termasuk 'jawab atau aku akan memberi tahu dunia bahwa kau adalah seorang gay'?" semburnya tanpa sadar.

Zack tengok kanan-kiri, seakan memastikan tak ada orang lain yang mendengar itu selain dirinya.

"Apa itu sebuah pengakuan? JADI KAMU PERNAH JATUH CINTA PADA SEORANG PRI—"

Kata-kata cowok itu terputus lantaran wajahnya dibekap sekuat tenaga.

Tubuh mereka bertindihan.

Wajah Zack memerah.

"BRRNG! BWEBMM RMM DEPRKKZ!" jeritnya yang kira-kira artinya "TOLONG! AKU MAU DIPERKOSA!"

SI EDAN SATU INI!

"Baiklah akan kujawab!" sentak si pirang itu penuh emosi. "Aku bahkan nggak percaya!"

"Nggak percaya…?"

"Kalau cinta benar-benar ada di dunia ini. Dan kalaupun ada… Aku nggak pernah dilatih untuk mengenalinya. Jadi, apakah aku pernah jatuh cinta atau tidak, itu sama sekali tidak penting."

Zack berhenti meronta. Seketika saja tenanglah ia. Matanya menyorot lurus ke mata Rufus, menunjukkan ketidakmengertian.

"Tapi," kata Zack saat Rufus mulai kembali ke posisi dukuk, "tapi kamu tidak berlatih mecintai."

Mereka berdua sudah duduk berhadap-hadapan lagi ketika pemuda berbadan besar itu mengatakan:

"kamu sudah menguasainya, kok. Semua orang menguasainya. Tinggal menunggu orang yang tepat berjalan ke dalam hidupmu, dan kamu akan melihatnya, betapa kamu telah menguasainya. Mencintai."

.

.

.

Sayup-sayup gagak gunung berkaok-kaok. Aroma tanah basah, angin musim panas, dan wangi bunga-bunga liar masuk tanpa permisi ke lubang hidung. Di antara bau-bauan yang menyenangkan itu, tercium pula sebuah bau yang lain. Bau yang lezat.

Tifa keluar dari tendanya. Pakaian berlapis-lapis masih membalut kulit putihnya. Sebuah syal rajutan melingkari lehernya. Ia seperti boneka salju berbalut kain yang tersesat di musim panas.

"Selamat pagi," sapanya.

Semua orang memekik. Ada yang khawatir, ada yang senang.

"Kau sudah sembuh, Tifa?" Kunsel termasuk yang khawatir. Mungkin ia bakalan langsung membopongnya dan menidurkannya kembali kalau tidak melihat senyum gadis itu yang secerah mentari.

"Terima kasih, Kunsel. Kau merawatku dengan baik."

Tak perlu ditanya lagi apa warna wajah Kunsel begitu mendengar pujian itu. Zacklah yang mencegahnya melayang ke awan.

"Telurnya gosong nanti! Jangan menyia-nyiakan upayaku nyolong telur ayam hutan, dong!"

Ah ya, tentu saja. Tifa membatin. Ini bau scrambled egg spesial Kunsel.

Tifapun, setelah melepaskan 'atribut musim dingin'nya, berkeliling. Ia melihat ada daging sedang dipanggang langsung di atas api unggun. Pasti daging kelinci dari baunya. Ia juga melihat ada api yang lain, yang dibuat untuk menjerang air.

"Air apa yang kalian masak?" tanya Tifa pada Kunsel.

"Air hujan. Ums… Kami tidak menemukan sumber air lain selama kau sakit."

"Hee? Padahal dekat dari sini ada sungai yang jernih."

Yuffie langsung nongol. "Araaaa? Ada sungai? Yokata! Tifa, ayo kita mandi! Aku sudah tiga hari nggak mandi, lho!" ujarnya. Kayaknya kok dia bangga amat, ya?

Tifa tertawa. Tawa pertamanya sejak malam itu. Tawa yang mengundang senyuman bahagia Kunsel, cengiran ceria Zack, dan tatapan menerawang Rufus.

Kamu sudah menguasainya, kok. Semua orang menguasainya. Mencintai.

.

.

=xoxo=


"Oh... look! Love has... triumphed!"

-The King in the Drama, FFVII-


"Oh iya. Satu lagi pertanyaan. Waktu itu, waktu kau menyentuh bibirmu... Apa yang kaupikirkan? Jawab atau akan kubeberkan aksi tak senonohmu kemarin malam."

GRRR!

.

.

=toBcontinued=


*Gyaaa! Tatsuketeeee! Selamatkanlah saia!

Selamatkan saia yang sebentar lagi harus menghadapi neraka ujiaaan! TT_TT

*Yokatta: good!

Semoga chapter ini menghibur yah. Chapter depan mungkin chapter terakhir sebelum UN. Sampai jumpa T_T