Hai teman2 se-fandom! Apa kabarnya? Gimana perkembangan cerita masing2? Semoga lancar semua yaah
Setelah UN selesai, saia jadi punya banyak banget waktu luang. Terus "O iya! Ada satu fiction yang belum tamat…" Hiks. Fiction yang harusnya ditulis semasa SMA nggak bisa diselesaiin tepat waktu karena nggak ada perencanaan matang OTL Tapi, pikir saia kenapa harus berhenti gara2 masa SMA saia sendiri udah selesai? Bukankah petualangan Tifa, Zack, Cloud, dkk masih panjang?
Walah kok saia malah curcol gini. Kalau gitu saia bikin ceritanya to the point aja. Selamat menikmati^^
"Nama saya Vincent Valentine. Selama tiga bulan ke depan saya akan mengajar di sini. Mohon kerja samanya."
Lady Shalua tersenyum penuh makna. Vincent Valentine akan menjadi guru pengganti sementara. Penampilannya mengisyaratkan ia pria serius yang tak pernah berbasa-basi, namun bisa dijamin, banyak wanita di ShinRa akan berusaha berbasa-basi demi menarik perhatiannya.
"Kami berharap banyak pada Anda, Doctor."
"Saya akan mengajar sebaik mungkin."
.
.
Hug and Kiss
When you know you are not alone
Chapter 15: VALENTINE
.
.
=xoxo=
Kunsel menekan-nekan tombol di kalkulatornya dengan putus asa.
"Ini tidak ada gunanya."
Vincent Valentine ternyata bukan guru Kalkulatoria biasa. Kunsel sampai sakit kepala dibuatnya.
"Nanti kalau kau sudah selesai, aku fotokopi, dazoto,"ujar Reno seenaknya.
"Soal pertama aja aku nggak bisa!" raung Kunsel jengkel. "Kesannya dia sengaja membuat kita menderita! Aku tidak percaya ada guru yang sengaja menyusahkan murid-murid—"
"Makan dulu sana," perintah Zack sembari menjejalkan kentang goreng ke mulut Kunsel. Jelas saja Kunsel tambah ngomel-ngomel.
"Memang si Valentine itu kekurangan cinta, zoto,"sambung Reno ngasal dilanjutkan sindiran "namanya nggak cocok bener."
Mendengar nama Valentine mata Zack membelo. Dalam bayangannya, muncullah sesosok wanita cantik nan seksi. GUBRAK!
"Bawel?" usut Zack. Sebenarnya dia mau tanya "bohay?" tapi nggak jadi.
"Ya gitu, deh, zoto. Pas aku telat masuk kelas tadi, orang itu ngomong 'dunia yang serba cepat ini tak punya tempat untuk orang yang terlambat', dazoto. Mana aksinya itu didukung para cewek, lagi. 'Aaa~ Gakkoiiii~'," Reno menirukan seseorangdengan sebalnya, menybabkan Kunsel terkikik.
"Oh. Laki-laki…" Dan Zack pun ingin garuk tembok.
Ketiganya kemudian membahas kembali soal tingkat tinggi memusingkan dari si pengajar, tapi percakapan kembali ke Vincent Valentine. Cowok-cowok itu kalau udah kumpul mirip ibu-ibu arisan juga, ya…
Sementara itu, pada waktu yang sama di ruang guru, Doctor Valentine duduk dan membolak-balik beberapa lembar kertas. Ia meneliti lagi silabus yang harus ia selesaikan dalam waktu tiga bulan. Ia harus mengejar ketinggalan yang disebabkan ketidakhadiran guru Kalkulatoria sebelumnya, sekaligus mengajarkan materinya sendiri. Dengan teliti doktor itu melingkari dan menambahkan catatan mengenai apa saja yang perlu dilaksanakan.
"Ternyata Anda orangnya penuh perencanaan, ya? Groß[1]…"
Seorang wanita di belakangnya berkomentar.
"Apa Anda selalu seperti ini?" tanya wanita itu lagi. Ia tersenyum ramah, membuat sedikit perubahan pada ekspresi sang doktor.
"Perkenalkan, nama saya Lucrecia Crescent. Saya mengajar pelajaran Meramu untuk para gadis, ruangan saya di sebelah ruangan Anda," ujarnya. "Biasanya saya dipanggil Fräulein[2] Lucrecia, tapi karena kita sesama guru mungkin lebih baik jika Anda memanggil saya Lucrecia. Hehe…"
Doctor Valentine tidak mengatakan apapun. Cuma, siapa tahu di balik kerah bajunya yang tinggi ia tersenyum? Ah, tidak, tidak mungkin. Alih-alih kelihatan senang, orang itu malah tampak terganggu. Melihat itu Fräulein Lucrecia jadi tak enak hati.
"Mungkin lebih baik saya pergi. Selamat bekerja, Doctor Valentine."
Lagi-lagi orang itu hanya diam saja. Ia mengikuti perginya guru cantik itu dengan matanya. Kemudian iapun kembali pada bundelan kertasnya, namun tidak mengerjakan apa-apa lagi.
.
.
=xoxo=
Salju sudah mulai cair di awal bulan Februari itu. Lucrecia Crescent, guru Meramu itu, memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Ia pergi ke taman buatan yang diberi nama Promised Land oleh Lady Shalua. Promised Land adalah tempat yang sangat indah—bahkan saat semuanya tertutup salju.
Jika sedang berusaha menghibur diri, ini tempat yang tepat, begitu pikir wanita bermata coklat tersebut. Ia sengaja datang ke situ untuk melupakan kejadian tadi pagi…
.
"Professor Hojo, ini laporan penelitian saya."
Diserahkannya satu ekstemplar buku.
"Aku sangat ingin membacanya sekarang," jawab seorang pria berambut hitam sembari menerima buku itu. "Tapi Shalua memanggil kita ke kantor guru pagi ini. Sebaiknya kita bergegas."
Hojo melempar begitu saja laporannya ke atas mejanya, lalu keluar dari laboratorium. Lucrecia terdiam sejenak, kemudian mengikuti sang profesor.
.
Wanita itu tiba-tiba sudah sampai di tengah-tengah labirin semak, dan mendapati seorang gadis sedang berlutut mengerjakan sesuatu.
"Selamat sore," sapanya. Wanita itu terlambat menyadari, ternyata diadalah gadis penjual bunga di depan sekolah, Aerith Gainsborough. Sudah sering Fräulein —Nona Lucrecia membeli bunga dari gadis muda tersebut.
Aerith tersenyum manis. "Selamat sore, Nona," salamnya dengan manis pula.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Nak?"
"Sebentar lagi Valentine's Day, Nona Crescent. Lady ingin ada satu mawar tumbuh di Promised Land sebelum tanggal empat belas. Untuk itu saya dimintai tolong. Dan kata beliau lagi, kalau saya berhasil, tahun depan saya akan bersekolah di sini," katanya dengan ceria.
Fräulein itu sedikit terkejut. Dipandanginya gadis muda itu. Mata Aerith menyorotkan harapan yang besar. Ia jadi merasa kasihan. Mawar, tak mungkin tumbuh secepat itu. Tapi ia tak tega mengatakannya.
"Wow. Selamat akan bergabung, Nona Aerith. Bisa lebih sering ketemu Zack, nih."
Gadis itupun tersipu malu.
Fräulein Lucrecia mendesah pelan. Andaikan ia bisa tersipu karena seorang pria. Satu-satunya pria yang sempat membuat jantungnya berdebar-debar menolaknya mentah-mentah, menggoreskan luka di hatinya. Fräulein Lucrecia merasa sedih jika mengingat ia memang pernah jatuh cinta, tapi pada orang yang salah.
"Kalau begitu," sambung Aerith, membuyarkan lamunan Lucrecia, "saya akan kembali bekerja."
Perempuan berambut ikal itu itu memadatkan tanah di sekitar tanaman muda yang barusaja ditanamnya. Meski masih heran, Lucrecia tak menyelanya sedikitpun. Ia memperhatikan Aerith menutup mata dan mengatupkan tangannya.
"Bunganya akan mekar apabila ada seorang wanita bertemu dengan cinta sejatinya di tempat ini," ujar Aerith ceria seusai doanya. "Itu yang saya minta kepada Gaia."
Kemudian kedua wanita berpisah, membiarkan matahari terbit dan terbenam sekali lagi sambil sama-sama mengharapkan mekarnya sekuntum mawar.
.
.
=xoxo=
BRUAKH!
Buku-buku di rak berjatuhan menimpanya. Tulang punggungnya! Tulang punggungnya bisa patah! Sudah begitu, Zack tak bisa berteriak sama sekali. Inilah sengsaranya dihukum di perpustakaan.
"Ouchies..."
Oh iya. Bagaimana Zack bisa dihukum? Tentu saja karena seperti biasa ia menerabas masuk dengan berisik untuk merecoki temannya, Cloud, yang pasti sedang sibuk membaca. Kali ini librarian tak memberinya ampun. Zack langsung didatangi olehnya dan dipelototi habis-habisan (karena bagaimanapun, dia bekerja di perpustakaan). Dihukumnya murid tersebut seberat-beratnya. Jelas berat, dong. Ketiban satu rak buku kurang berat apa lagi coba?
Aku benci buku, batin Zack dongkol. Ia berusaha menyingkirkan buku-buku itu tatkala Cloud berjalan ke arahnya.
"Cloooouud," erang Zack memelas.
Cloud melihatnya lalu berjongkok.
Zack tersenyum bahagia sembari mengulurkan tangan. "Terima kasih, Cloud. Kamu murah hati banget. Hiks."
Bukannya menolong, si Jabrik Pirang malah mengambil salah satu buku yang jatuh menimpanya dan berlalu dengan entengnya.
"Clooooooud! Kau tega!"
"Zack Fair! Sudah ibu bilang tak boleh ada suara sedikitpun! Hukumanmu diperpanjang satu bulan!"
'Augh! Apes banget sih aku ini!' Zack hanya bisa meraung dalam hati.
Cloud mendatangi ibu penjaga perpustakaan itu lalu menyerahkan buku yang barusan diambilnya dari kepala Zack.
"Untuk buku ini, saya mendapat izin meminjam satu semester dari Professor Hojo. Ini surat yang beliau tulis."
Ibu itu menerima surat dan bukunya, lalu berdecak kagum. "Tidak kusangka penelitianmu sudah sedalam ini, Cloud Strife. Kau benar-benar murid jenius."
Zack yang berhasil keluar dari timbunan buku menyusun mereka kembali (dengan asal-asalan) kemudian menyusul adik kelasnya itu. Rasa penasaran membuatnya mengintip judul buku yang sedang diurus oleh si librarian galak.
Cloud serta merta bergeser menghalanginya, membuat rasa penasarannya semakin besar.
Segera setelah buku di tangan, Cloud pergi tanpa pamit.
"Cloud… Apa dia kekurangan cinta juga?"
GUBRAK!
"Aaack!"
Uh-oh. Buku-buku yang tak dibereskannya dengan benar memakan korban lagi! Kali ini Zack Fair tidak perlu menerima pelototan mengerikan librarianuntuk bertanggung jawab. Sambil berdoa dalam hati supaya hukumannya tidak ditambahi, Zack Fair berderap ke sumber suara.
"What?" serunya melihat betapa banyaknya buku menimpa seorang guru ShinRa. Cepat-cepat ia menyingkirkan buku-buku itu, tapi lagi-lagi karena ceroboh Zack malah menyenggol rak buku, dan akhirnya ia sendiri terperangkap di dalamnya. Lagi.
"Aaaugh!"
Bisa gepeng kayak dendeng beneran dia dan guru itu!
"Help—" Zack cepat-cepat membekap mulutnya sendiri. Kalau berteriak, sudah pasti hukumannya nambah lagi. Untunglah ada seorang pria duduk tak jauh dari TKP.
"Tolong kami," pinta Zack, berusaha tidak kedengaran terlalu memelas. Orang itu segera menghampiri mereka, dan syukrulah orang ini benar-benar membantu mereka, tak seperti Cloud tadi.
Zack memerhatikan warna mata pria itu serta rambut panjangnya yang diurai. Kunsel pernah cerita tentang orang ini. Sang Valentine? Ternyata... Memang cowok, ya...
Lelaki itu menyingkirkan buku-buku. Ia juga mengulurkan tangannya pada Fräulein Lucrecia, membantu wanita itu berdiri.
"Anda tidak terluka?" tanya doktor itu tanpa basa-basi.
Mendapatkan pertanyaan plus tatapan mata yang to the point membuat Fräulein Lucrecia tidak bisa tidak menundukkan kepala. Ia menggeleng perlahan.
"Danke [3], Doctor."
"Lain kali hati-hati."
Keduanya berhadap-hadapan tanpa berkata-kata untuk beberapa waktu, melupakan seseorang. Sang Zack Fair yang Terlupakan mengusap-udap dagunya dan memicingkan matanya.
"Kalau begitu, permisi," sang Doctor mohon diri.
"Tunggu," Nona Crescent mencegahnya. "Apa yang sedang Anda baca? Eh… Saya mencari sebuah buku, tapi saya tak menemukannya…" ujarnya dengan merasa sedikit bodoh. Tentu saja tak seharusnya ia berpikir buku yang ia cari adalah buku yang sedang dipegang pria itu. Itu sangat sentimentil dan tidak rasional.
"Saya mengambil secara acak karena tidak bisa menemukan yang saya cari," jawab Doctor Valentine. Entah kenapa Lucrecia Crescent mengecap sindiran, seakan lanjutan kalimat itu: "Tapi saya tidak sembrono seperti Anda sampai tertimpa buku-buku."
"Kalau boleh saya tahu, buku apa?"
"Tentang suatu penyakit."
"Geostigma?" celetuk Zack dari belakang.
Kedua guru itu menoleh serentak. Sepertinya mereka benar-benar lupa padanya.
Pemuda berbadan tinggi itu menggaruk lehernya. "Tadi teman saya yang pinjam. Saya pikir nggak banyak orang pinjam buku tentang penyakit, jadi… Yah, kemungkinannya buku yang Doctor cari sama dengan buku yang dia pinjam. Heheh…"
Tuan Valentine bungkam. Fräulein Lucrecia pun sama saja. Zack yang jadi terkesan sok tahu merasa garing, Zack lalu pamit dengan sendirinya.
"Siapa namanya?" tiba-tiba pria bermata merah itu bertanya.
"Well, namanya Cloud Strife. Anak itu terkenal di kalangan guru, kok. Dia bisa ditemui tiap istirahat di tempat ini, di kursi yang tadi Doctor duduki."
Vincent Valentine mengangguk sekali.
"Sekarang saya permisi dulu."
Setelah pemuda itu menghilang, tentu saja Vincent Valentine dan Lucrecia Crescent hanya berduaan. Tapi sebenarnya Zack tidak jauh-jauh dari mereka berdua. Ia menguping di balik rak-rak buku. Oh yeah, ini memang kegemarannya. Zack sampai pernah berpikir untuk jadi mata-mata suatu hari nanti.
Pemuda bertubuh besar itu menyaksikan semuanya. Ia melihat kecanggungan Fräulein Lucrecia. Ia juga mendengar percakapan mereka, yang berakhir para kesepakatan untuk pergi ke perpustakaan kota. Berdua.
"Mereka akan… Ke-kencan?"
.
.
=xoxo=
"Hei, kurasa kamu harus cepetan ajak Tifa kencan. Kalau nggak keburu diajak cowok lain, lho. Antriannya banyak, tahu. Apalagi sebentar lagi kan empat belas Februari—"
Kunsel menarik Zack merapat ke tembok. Ada ribut-ribut di kantor guru seusai pulang sekolah hari Rabu itu, dan Kunsel tak mau disangka menguping atau apa.
Fräulein Lucrecia juga sedang menuju ke sana. Wanita itu menangkap sekelebat warna merah ketika ia hendak masuk ruang guru. Dengan bingung ia ikut mendekat ke kerumunan guru yang sudah mulai bubar.
Lady Shalua yang tampak letih menghampirinya, menghela nafas panjang, menyentuh pundaknya, dan mengeluarkan perintah, "Urus doktor itu baik-baik. Ia bermasalah dengan Reno."
Lucrecia yang masih bingung dengan sikap misterius sang kepala sekolah menarik kursinya mendekati tempat duduk Doctor Valentine. Diperhatikannya ekspresi orang itu dengan saksama. Tampaknya tak ada yang berbeda dari mimiknya siang ini. Sama saja emotionless-nya.
"Maaf. Apa yang terjadi, Doctor Valentine?"
"Tidak ada yang penting," jawab orang itu ringkas. Pria itu segera menata kertas-kertas di mejanya.
Fräulein Lucrecia berniat menarik kembali kursinya saja. Hal itu tak jadi dilakukannya lantaran ia menangkap sebersit kekecewaan di wajah Vincent Valentine. Wajah itu seharusnya tanpa emosi. Tidak. Rautnya masih tanpa emosi, tapi mata itu…
"Doctor Valentine..."
Tep.
Orang bertitel doktor tersebut langsung berhenti. Tanganya disentuh, dan ia disambut dengan sebuah tatapan lembut. Lucrecia kini sedang memandanginya. Pancaran mata hazel-nya begitu hangat, menembus jiwanya perlahan-lahan.
Vincent Valentine membatu. Bahkan melirik pun tak dilakukannya. Namun sekejap kemudian ia menarik tangannya, dan rasa canggung pun mengurung mereka berdua.
"Tolong ceritakan pada saya, Doctor Valentine. Saya janji akan mendengarkan dengan sepenuh hati," mulai Fräulein Lucrecia. Penyesalan menggerogotinya. Kenapa ia harus menyentuh tangan orang itu? Seperti wanita murahan saja.
"Mungkin akan lebih baik jika Anda memanggil saya Vincent," tiba-tiba pria itu berujar.
Lucrecia tertegun.
"Cara mengajar saya salah," Vincent melanjutkan tanpa membahas lagi perkataannya sebelumnya. Kemudian ia bicara lebih banyak, dan itu benar-benar membuat Fräulein Lucrecia merasa amat lega. Akhirnya orang itu bisa terbuka kepadanya.
Sepanjang cerita—walaupun ekspresinya sama saja datarnya—ia tak memalingkan matanya dari Lucrecia.
"Oh, love... Love has triumphed!" bisik Zack pada Kunsel yang dipaksanya ikut mengintip. "Kalau melihat mereka berdua kayak gitu, untuk sesaat aku bisa melupakan baseball. Oh! Kekuatan cinta!"
"Gila kau. Kita bisa mati kalau kepergok nguping!" Kunsel menarik Zack menjauh.
Zack terkekeh. "Hei, aku punya rencana."
.
.
xoxo=
Sore ini Fräulein Lucrecia kembali pergi ke Promised Land. Namun ia datang bukan untuk melihat perkembangan mawar itu. Ia datang dengan merintih dan memegangi dadanya. Jika kata-kata adalah pedang, maka kata-kata Professor Hojo barusan sudah mencincang halus hatinya.
Wanita itu terduduk di depan semak mawar Aerith. Ia tersedu sedan semakin keras meski tanaman itu hanya bergoyang sedikit ditiup angin. Lucrecia Crescent mencengkram sweater-nya kuat-kuat, memeluk dirinya sendiri.
Wanita cantik itu sungguh kelihatan menyedihkan dan berantakan. Tak bisa dipercaya seorang pria tua nan angkuhlah yang menyebabkannya seperti ini.
"Saya tidak mau," desahnya. Bisikannya itu begitu sendu sampai daun-daun terakhir pohon maple yang tumbuh di dekatnya gugur. Sinar matanya yang selalu hangat pun kini menjadi dingin.
Fräulein Lucrecia mengabaikan gemeresak tanaman pagar yang sudah rontok daunnya dan melanjutkan perenungan panjang nan menyedihkannya.
"Kau adalah orang paling tak berguna jika kalah pada perasaanmu! Kita berdua diciptakan untuk pengetahuan. Aku dan kau. Perasaan tak berguna, karena dalam ilmu pengetahuan, yang dibutuhkan adalah logika."
Terngiang kembali perkataan profesor itu. Perkataan yang menamparnya keras, karena dilontarkan justru ketika ia akan mengungkapkan perasaannya di depan seniornya tersebut.
"Kenapa Anda mengatakan itu, Professor Hojo? Saya tidak mau membuang perasaan saya…" ia terisak. Ia semakin menggigil seiring semakin kerasnya isakannya itu.
Sesemakan bergemerisik lagi. Kali ini wanita cantik itu memilih untuk memeriksanya.
"Doctor Valentine?!" Ia terkesiap. Ia cepat-cepat menghapus air matanya, walaupun Vincent pasti sudah memergokinya menangis.
Pria berambut panjang itu berdiri diam.
Momen yang canggung tercipta lantaran keduanya sama-sama tak berkutik menghadapi satu sama lain. Sampai akhirnya Fräulein Lucrecia menanyakan tujuan pria itu berada di tempat seperti itu.
Doctor Valentine enggan menjawab. Sebagai gantinya pria itu bergeser sedikit dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jika Anda tidak punya tujuan, kenapa masih di sini?" cecar Fräulein muda itu terbawa emosi.
.
"Karena Anda menangis."
.
Sesuatu melumer dalam rongga dada wanita cantik itu. Perasaan bersalah dan tak enak hati bercampur aduk. Secercah rasa bahagiapun sebenarnya memancar dari kalbunya, hanya saja wanita berambut panjang tersebut tidak menyadarinya.
"Maaf-kan saya," mohonnya sembari menghapus air mata yang kembali mengalir tanpa sebab.
"Itu kalimat saya."
Wanita itu dibuat tertegun ketika pria berwarna mata merah itu menyerahkan selembar saputangan.
Tak ada kata terucap. Hanya tangan yang terulur dan sebuah sarung tangan merah di atasnya. Sungguh mengherankan. Dua hal sederhana itu mampu membuat jantung Lucrecia Crescent berdegup lebih kencang.
"Doctor Valentine," Fräulein Lucrecia kembali bersuara sembari menerima katun dari sang lelaki. "Maukah Anda tinggal sebentar? Saya ingin ditemani."
"Saya akan tinggal jika Anda berhenti memanggil saya Doctor. Cukup Valentine, atau Vincent, jika tidak keberatan."
Lucreciapun tersenyum kembali.
Vincent berlutut di sebelahnya.
"Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada Anda sebelum saya pergi dai sini. Tolong datang ke tempat ini besok, di waktu yang sama," kata Doctor Valentine. Wanita cantik itu mengerutkan keningnya. Benar juga. Tiga bulan sudah hampir berakhir.
Orang itu tidak memperpanjang topik itu lagi. Yang ia lakukan hanya tidak beranjak dari tempatnya hingga hilangnya matahari menenggelamkan pula kesenduan hati Lucrecia Crescent.
.
.
=xoxo=
Angin berhembus menegakkan bulu-bulu di tubuhnya. Ia sudah seperti ini, menahan dingin dalam keadaan lapar, sejak tiga jam yang lalu. Bayangkan! Tiga jam kelaparan dan kedinginan, masih ditambah perasaan kesal pula! Ke mana perginya orang itu? Dari tadi tak ketahuan rimbanya.
"Vincent sungguh keterlaluan!" rutuk wanita itu. Ia melipat jari-jari tangannya dengan kesal sambil mengamati sekitar. Tak ada tanda-tanda kehidupan apapun, kecuali mawar merah itu, di mana matanya terpaku sekarang. Pipinya pun merona sewarna sang puspa, teringat kembali perkataan seorang gadis manis beberapa waktu silam.
"Ajaib. Mawar ini benar-benar mekar..."
Fräulein Lucrecia menggeleng. "Biar bagaimanapun ini salah! Aku tidak suka laki-laki yang membuat wanita menunggu selama ini, apalagi dalam keadaan kelaparan dan kedinginan!"
Fräulein Lucrecia kemudian mengangguk. "Masih banyak pria lain di luar sana!" tegasnya lantang. "Aku akan mendapatkan yang pantas untukku," ujarnya lagi, namun kali ini ketidakyakinan terbesit dalam suaranya yang lembut itu.
Lucrecia Crescent berdiri. Dengan kecewa ia memandangi si merah yang kontras dengan putihnya salju sekali lagi.
"Sudahlah."
Baru saja ia berbalik untuk pergi, ia melihat warna merah yang lain.
"Vincent…"
Ya, itulah Vincent Valentine yang mengenakan syal merah panjang serta sweater merah darah.
Fräulein Lucrecia sempat terpesona melihat betapa cocoknya orang yang ditunggunya itu dengan warna merah. Namun tak lama kemudian ia kembali pada kekecewaan dan kejengkelannya.
"Ini tiga jam dari janji semula, apa Anda tahu itu, Doctor?"sindir wanita cerdas itu.
"Ya. Saya harus memastikan sesuatu."
Wanita cerdas itu berkacak pinggang. "Apakah yang harus Anda pastikan itu lebih penting daripada janji ini?"
"Kurang lebih," jawab Vincent Valentine singkat.
Cukup sudah bagi Lucrecia. Wanita itu berjalan cepat melewatinya. Tapi kemudian sebuah tangan mengamit lengannya dengan kuat.
.
.
"Saya hanya ingin memastikan selama apa Anda bersedia menunggu saya."
.
.
Ucapan pria itu barusan bagaikan mantra yang mengacaukan sistem penghantaran rangsang dalam tubuh Lucrecia Crescent. Dan wanita cerdas itu seketika merasa sangat bodoh karena tak mampu melakukan reaksi yang tepat.
Sang 'perapal mantra' mengalungkan syal merahnya yang panjang ke leher Fräulein Lucrecia, dan kembali menjadi si diam.
Wanita yang dibesarkan sebagai ilmuwan itu menunduk, membenamkan wajahnya yang memerah ke dalam syal. Oh tidak. Syal Vincent Valentine memiliki aroma pria itu. Wajah wanita cantik itu semakin merona dibuatnya.
Wanita pertengahan duapuluhan itu tak berani mengangkat wajahnya, karena kalau ia melakukannya, ia takut mereka akan berciuman…
"An-da mau…" Fräulein Lucrecia memaksakan dirinya memulai, "An-da ma-u… makan apa?"
Makan? Eh? Kenapa…
"Ya. Anda mau makan apa, Profesor? Anda pasti lapar juga, kan?" ujarnya, kali ini lebih mantap.
"Saya suka makanan yang pedas," jawab lelaki itu datar.
Lucrecia pun terkikik. Dengan lembut ia bertutur, "Baiklah. Akan saya buatkan makanan yang pedas. Ayo kita kembali ke asrama!"
Tanpa sadar Fräulein itu menarik lengan si Profesor, seakan-akan mereka bukanlah orang dewasa, melainkan hanya siswa SMA. Siswa SMA yang sedang kasmaran.
Vincent yang tadinya menurut kemudian menahan gerakannya, membuat wanita manis itu berhenti dan memandanginya.
"Terima kasih sudah menungguku, Lucrecia."
Denyut jantungnya menjadi tak beraturan karena seorang Vincent Valentine memanggil namanya. Wanita itu tersenyum. Semburat merah mewarnai pipinya. Namun kali ini ia tak malu lagi.
"Dan karena ini hari ulang tahun saya... Bolehkah saya meminta sesuatu?"
Vincent menarik Lucrecia mendekat padanya.
"Saya ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Anda."
.
.
=ch15finish=
Extended Content
"Ah, mereka berdua membuat mawarku mekar," dengan puas Lady Shalua berbisik. Di lokasi persembunyiannya masih ada satu orang lain yang menyaksikan aksi Vincent Valentine barusan.
"Kekuatan cinta memang luar biasa, kan, Lady?" bisik Zack pada kepala sekolahnya.
Wanita itu mengangguk. "Mungkin kuperpanjang saja masa kerjanya, supaya mereka bisa bersama lebih lama. Ah... Sungguh hari Valentine yang indah..."
"Tunggu, ini hari Valentine?! Saya ada janji dengan Aerith! Saya harus pergi!"
Wanita itu tersenyum saja.
Tak disangka kepala sekolah ShinRa orangnya seperti ini, kan? Di hari Valentine ia memilih 'berkencan' dengan salah satu siswanya, menonton telenovela siaran langsung di balik sesemakan...
GUBRAK!
Chapter teraneh dan tercampur aduk yang pernah saia bikin.
Anyway, nyotoy (?) dikit nih:
[1] Groß: bahasa Jermannya "great"; hebat. Cara bacanya "gross" (s nya di overpronounce).
[2] Fräulein itu julukan untuk wanita yg belum menikah; Miss.
[3] Danke: terima kasih.
Wuohohoo. Maap ya ini chapter agak menipu. Yang dimaksud Valentine di judul itu pada dasarnya adalah sih Oom Vincent *whatdezig*, bukan hari Valentine-nya. Saia lagi bosen dan akhirnya bikin cerita sampingan macam begini. Sebenarnya inilah *coret*akibat kemalasan akut*coret* cara penceritaan di Hug and Kiss. Jalan ceritanya disampaikan dari berbagai sudut pandang dan kejadian.
Menurut pembaca, bagaimana cerita keseluruhan n chapter ini? Bila berkenan silakan memberikan review.
Sekian, terima kasih.
Oh iya, selamat liburan! ;)
