Dan! 6 tahun setelah saya publish chapter pertama fiction ini, masih nggak selesai juga! SMA sudah berakhir… 4 taun lalu. Kuliah? Bentar lagi selesai juga. Yeah! Selama 6 tahun ini Zack dkk. terperangkap dalam cerita ini dan nggak gede2 haha. Dan gaya penulisan saia berubah juga! Setelah saia baca ulang, bener2 kanak2 banget cr saia nulis hahah. Cm, saia pingin selesaiin ini tanpa ngubah gaya penulisannya sebisa mungkin. Wkkw. Saia jadi harus membayangkan diri saia yang masih SMA.
Sebenernya saia cuman iseng aja sih lanjutin ke chapter 16. Rasanya nggak mantep aja klo Hug and Kiss nggak selesai. Terlalu banyak hal yg saia biarkan setengah jalan. Mana tau kan ntr lama2 saia jadi kebiasaan setengah2, trus proyek2 lain gak jadi2 juga: skirpsi gak kelar2 juga, pencarian pasangan hidup gak lanjut2 juga. Aw, hentikan semua ini, Mas! /massiapa?
Semoga aja, walaupun cuma sedikit, chapter ini memberi hiburan, syukur2 inspirasi, bagi pembaca sekalian.
Oh iya! Jadi saia ini planner yg sangat buruk wkwk! Saia pengen ngeluarin Cloud, tapi trus sy putuskan Cloud bakal muncul dengan nama Rufus Shinra. Dan di chapter 15 kemaren, Zack udah manggil Cloud dengan nama aslinya. Urutannya jadi berantakan, tp cerita di balik pengungkapan identitas asli Cloud itu akan ada di chapter ini.
Selamat menikmati!
Tifa Lockhart berlari-lari kecil. Gawat, pikirnya, jam dua belas sebentar lagi. Ia terus bergerak ke ruang guru. Di ShinRa, selain satu ruangan besar untuk tempat semua guru berkumpul, setiap guru punya ruangannya sendiri. Genesis Rhapsodos tidak ada di ruangannya—yang isinya merepresentasikan kenyentrikan dirinya—'jadi', simpul Tifa, 'dia mungkin ada di ruang guru.'
Angin bertiup mendadak. Kertas puisinya terbang tertiup angin. Ia mengejarnya, dan berhasil menangkapnya tepat di depan pintu ruang guru yang terbuka lebar.
Ketika gadis itu mendongak lagi, ia menyaksikan sebuah kejanggalan. 'Bukannya itu Profesor Hojo? pikirnya.'
Orang yang dimaksud membelakangi pintu, dan kelihatannya sedang berbicara dengan seorang siswa. Eh? Setahu Tifa Profesor Hojo tidak menerima pertanyaan di luar kelas. Namun ia memilih untuk menyimak lebih jauh, tapi tak lama kemudian siswa yang sedang bercakap-cakap dengan Hojo menyadari kehadiran perempuan berambut hitam itu. Dan Tifa pun semakin terkejut. Itu si cowok bernama Cloud, kan? Alis Tifa mengernyit sedih mengingat Cloud sebenarnya memperkenalkan diri sebagai Rufus Shinra.
.
.
Flashback
Orang-orang itu pulang ke desa dengan kondisi sedikit mengenaskan. Yah, tentu saja, Zack lah yang paling parah keadaannya, karena Rufus mengerjainya berkali-kali selama mereka tersesat di hutan. Tapi, mereka berdua, entahlah, jadi dekat secara instan. Zack menghabiskan banyak waktu sendiri dengan pemain basket Firaga itu. Mungkin, ia telah menemukan sahabat baru selain Kunsel dan Reno, meski harus diakui Rufus tak tampak seramah itu.
Malam itu, Tifa lagi-lagi menangkap sosok Rufus di kamar hotel yang berseberangan dengan rumahnya. Orang itu tampaknya punya ritual yang sangat dijaganya. Ia selalu membaca buku sebelum dia tidur. Buku itu tebal.
"Mungkin dia kutu buku. Walaupun penampilannya berkata sebaliknya."
Di sampingnya, Tifa merasakan kehadiran Yuffie yang sudah setengah terbang ke alam mimpi. "Kamu ngomongin siapa, Tifa?"
"Rufus. Kamarnya ada di seberang sana," ujar Nona Lockhart sembari mengacungkan jari telunjuknya. Yuffie tak tampak peduli.
"Yah, tentu saja, Rufus, pasti dia bakal menemukan pacar dalam waktu dekat. Mana tau, Kunsel memang ditakdirkan untukmu."
Tifa mengerutkan dahinya. "Sebaiknya kamu tidur, Yuffie-chan."
"Oh, tidak akan, Tifa Rokkuhaato. Putri Kerajaan Kuda Pacuan."
Tifa tertawa geli. "Coba kamu dengarkan dirimu sendiri, Putri Kisaragi."
"Nggak mau, kurasa ini waktu yang tepat untuk membicarakan ini. Kamu tahu, Tifa, aku sering banget mikirin, siapa ditakdirkan untuk siapa. Ya, sering banget."
Gadis berambut panjang itu masih menahan senyumnya memerhatikan temannya yang setengah sadar itu.
"Contohnya?"
Ia menjelaskan beberapa pairing Firan dan Blizard. Tifa mendengarkan dengan sabar. Ia hanya tak tahan menertawakan beberapa pairing.
"Jessie dengan Profesor Cid?" sentak Tifa. "Kukira profesor itu sudah menikah."
"Kurasa dia bakal cerai sebentar lagi," lanjut Yuffie, menghiraukan hush-an Tifa. "Dan lihat saja, sebentar lagi, Profesor Valentine akan meminang Fraulein Lucrecia. Lihat saja, Tifa."
Bagi Tifa, tujuan pembicaraan itu sudah sangat jelas. Tanpa menunda lagi, ditanyakannya,
"Bagaimana denganmu, Yuffie?"
Yuffie tersedak. Namun kemudian ia terdiam. Matanya yang sayu menerabas kegelapan luar jendela. Namun, mata itu kosong.
"Entahlah, Tifa. Aku selalu berpikir, aku dan Reno masih ditakdirkan bersama," katanya. Kesesakan mengambang di udara, dan Tifa menghirupnya. Ia hanya tak habis pikir, setelah semua yang dialami Yuffie—dituduh selingkuh, bahkan ia dan Zack tak bisa setuju tentang siapa yang salah, Reno atau Yuffie, perempuan bertubuh kecil itu masih saja memikirkan si Redhead.
Tak lama kemudian, Tifa mendengar Yuffie menggumam,
"Kalau Kunsel tak cepat bertindak, orang itu bakal memilikimu duluan…"
Tifa hanya mengulum senyum, menganggap prediksi Yuffie barusan mungkin ada benarnya. Lagipula, Tifa memang merasa, ia tertarik dengan pemuda itu. Dan tentang Kunsel yang mungkin menaruh rasa padanya, dia juga sudah merasakannya dari dulu. Hanya saja, Kunsel sudah seperti saudara bagi Zack, dan itu berarti, sama seperti Zack, Kunsel akan selalu menjadi sosok kakak baginya, tak mungkin lebih. Membenarkan posisi Yuffie yang kepalanya sudah menempel di pundaknya akibat kantuk. "Sebaiknya kita tidur, Yuff."
.
Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk memancing di danau yang tak terlalu jauh dari pinggir hutan, tempat sebuah sungai bermuara.
Zack membenamkan kakinya di lumpur di pinggiran danau, mencari cacing. Ia memaksa Rufus membantunya.
"Oke, Rufus. Kuharap kamu bisa membantuku memanen umpan."
Setelah diperhatikannya semua orang sibuk dengan urusan masing-masing—Tifa memasang kait pada ujung benang pancing, Kunsel menyerut ranting pohon untuk dijadikan pancing, Yuffie yang sudah selesai mengumpulkan ranting mengawasi Kunsel, sementara Reno mungkin sedang mencari kayu bakar untuk memanggang hasil tangkapan—Zack mulai melanjutkan percakapan yang ia bangun beberapa hari ke belakang.
Ia janji pada Rufus, sebelum semuanya aman, ia takkan membocorkan identitasnya pada siapapun. Ia berjanji selain Biggs, Wedge, dan Aerith, tidak akan ada yang tahu tentang nisan itu. Namun, ia merasa berhak mengetahui semua kebenaran tentang siapa Rufus sebenarnya, karena mungkin saja orang itu akan menyebabkan kekacauan lagi.
"Oke, jadi kau sedang lari dari The Black Knights, karena di masa lalu, mereka menjerat kau dan teman-temanmu. Geez, kamu masih muda banget, padahal. Kenapa, sih, kamu berurusan dengan orang-orang berbahaya?"
"Karena mereka menjual orang-orang muda untuk… melakukan banyak hal… yang tidak menyenangkan."
Pemuda itu mengalihkan pandangannya dari Zack. Namun, meski hanya sebersit, ia jelas terdengar kesakitan. Pemuda itu pura-pura tidak menghiraukan tatapan penuh pertanyaan Zack. Zack tahu, mungkin hal-hal itu… bukan untuk anak-anak muda seusia mereka, jadi dia menghentikan sikapnya itu di sana.
"Lalu," lanjutnya sembari berdehem, "siapa cowok dalam foto itu? Nggak mungkin dia kakakmu?"
Pemuda pirang itu mengernyit.
"Yah, ini hanya feeling saja. Aku juga tidak punya saudara, tapi kurasa… aku nggak akan menggenggam tangan adikku seperti itu di usia setua itu. Err, hanya opiniku."
Rufus tak menyangka Zack mengingat detil sekecil itu dalam waktu sesingkat itu. "Aku serius waktu mengancammu, bahwa kamu homo."
Wajah Zack serius, namun bukan berarti dia tidak sedang bercanda.
Si pirang menarik seekor cacing dari dalam lumpur dan memerhatikannya sejenak.
"Waktu masih muda, aku punya banyak pertanyaan. Kenapa, ada seorang manusia yang lahir dan dibuang ke tong sampah, tumbuh besar tanpa jati diri, kehilangan keinginan untuk hidup setiap hari, namun ia bisa hidup lebih lama dari cacing ini."
Ia menekan kepala cacing itu, membuatnya menggeliat-geliat kesakitan.
"Di sisi lain, aku bertanya-tanya, bagaimana bisa ada manusia yang punya segalanya, namun harus mati tanpa tahu kenapa dia tak boleh menghidupi mimpi-mimpinya yang banyak."
Cacing itu berhenti menggeliat ketika si penangkap meremas kuat kepalanya. Orang itu melemparkan si cacing ke dalam ember di tangan Zack.
Zack menatap orang itu setengah jijik, namun rasa iba tiba-tiba menyergapnya. Menurutnya, apa yang telah dialami orang itu mungkin tak bisa dibayangkan. Bagaimanapun, Zack lahir di keluarga normal, dengan ayah dan ibu yang baik. Ia punya mimpi, dan ia punya gairah hidup.
Ia memerhatikan tanpa berkata-kata lagi sementara Rufus mencabuti beberapa ekor cacing lagi. Seakan-akan meledak dalam amarah, tiba-tiba Rufus meremas cacing-cacing itu dan melemparnya ke dalam ember Zack. Beberapa masuk, sisanya tercebur ke air lagi. Zack membisu selama Rufus mencari cacing lain.
"Rufus, bagaimana kalau, kita mulai dengan ini: hidup itu berharga."
Zack menyentuh tangan pemuda itu. Pemuda itu tertegun sejenak. Zack mengangkat tangan Rufus. Di antara jari-jarinya, seekor cacing berbadan tebal bergerak-gerak. Zack mengambil cacing itu, kemudian ia berjalan ke tepian danau tempat sebuah sawah terbentang. Ia meletakkan cacing itu di tanah sawah.
"Beberapa, akan berguna buat kita," ujarnya sembari menepuk ember tempat cacing umpan mereka disimpan. "Beberapa," ungkapnya, "berguna untuk petani. Menggemburkan sawah. Dan akhirnya, kita makan dari hasil panen sawah."
Ia menyapukan tangannya ke arah sawah, di mana padi yang mulai menguning tertunduk-tunduk diterpa angin.
"All kinds of life, in it's end, will accomplish a purpose. For some, honorable ones. For others, the simple ones, yet just as important." katanya, berusaha menyampaikan ajaran ayahnya. Ia sedikit bersyukur dia selalu mendengarkan ceramah ayahnya dengan satu telinga tak terkover earphone.
.
.
=xoxo=
"If you're feeling sick why don't you take that mask off?"
-Zack, FFVII-
Mereka memancing di pinggiran danau sambil mengobrol tentang banyak hal dan berujung pada PR mereka. Ikan tak kunjut mereka dapatkan, dan pembicara tentang PR sungguh membuat kebosanan mereka mengambang seperti bau busuk di udara. Tak tahan, Zack melepas bajunya. Ia berpura-pura marah.
"Cukup! Kalau ikan-ikan itu nggak datang, aku yang akan mendatangi mereka!"
Ia melempar kaosnya, lalu melompat, membulatkan tubuhnya di udara, lalu sesaat kemudian sebuah ombak kecil berderai ke tepian danau. Teman-temannya terpancing juga. Ia pun diikuti oleh Reno dan Kunsel.
"Kamu nggak ikut, Rufus?" tanya Tifa. Orang itu hanya mengendikkan bahunya.
Yuffie sudah berlari ke arah teman-temannya yang lain, menyisakan Tifa dan Rufus berdua.
"Rufus…"
Dari suaranya, jelas sekali ada sesuatu yang ingin disampaikan Tifa padanya, namun gadis itu tak yakin. Rufus melanjutkan keheningan.
"… Kamu tahu bagaimana ibuku meninggal?"
Ia tahu. Entah kenapa, ia tahu saja. Namun, ia diam tak menanggapi.
"Ibuku, sama sepertiku, suka dengan kuda. Belakangan ini kondisi kesehatannya memburuk, tapi ia tidak menyerah dengan hobinya. Suatu hari, dia jatuh dari kuda, dan… lehernya patah. Ketika ia sampai ke rumah sakit, semuanya sudah terlambat… tidak lama kemudian, Ibuku meninggal…"
Rufus mendapati bulir-bulir air mata membanjiri pipi permpuan bermata cokelat tua itu. Bulu matanya yang hitam dan lebat ikut basah setelah ia mengejapkan mata untuk menjatuhkan bulir yang terakhir.
Gadis itu meminta maaf.
"Tapi, aku tahu, semua yang sudah dia ajarkan dan tunjukkan padaku, cintanya yang luar biasa untukku, sudah menghasilkan buah."
Ia menyapu bersih lajur air matanya.
"Hanya saja, kadang… Kadang aku me-rindukan-nya." Tifa nyaris tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena ia mulai tersedu dan sesenggukan.
Momen itu berhenti di situ. Pemuda itu, ia juga tak paham bagaimana, rasanya ikut sedih. Ia ikut merasakan kesedihan itu, rasa sepi itu, keinginan untuk bertemu itu.
"Aku ingin melihat ibuku lagi, walaupun hanya dalam mimpi," lanjut Tifa Lockhart. Kali ini ia menatap Rufus, seakan tidak merasa perlu menyembunyikan perasaan hancurnya. "Aku rindu padanya. Rindu sekali…"
Tifa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Teman-teman mereka terlalu sibuk di tengah danau. Tak ada gunanya mengharapkan mereka datang dan menghiburnya. Jika seseorang harus menghiburnya, maka Rufus lah orangnya. Meski demikian, dia tak tahu bagaimana.
Ia ragu untuk mengatakan apapun. Hanya saja, sesuatu mendesaknya. Ia teringat kebaikan yang pernah ditunjukkan seseorang pada dirinya, tepat ketika ia merasa begitu terbuang dan terlupakan, sama seperti Tifa sekarang, mungkin.
"Aku… mengerti perasaanmu."
Tifa mendongak, untuk mendapati orang itu, pemuda bermata biru dan berupa menawan itu, memandang lurus ke langit.
"Mengerti… kesendirian kadang bisa menakutkan."
Di langit, sebuah awan melayang tak pasti. Tak ada apa-apa lagi di langit. Awan itu sendirian. Kemudian, ia tersenyum pahit.
"Awan itu aku dulu. Sebelum seseorang menunjukkan kebaikan padaku."
Tifa mendongak lagi, memerhatikan secuil kapas yang tampak semakin menipis dari waktu ke waktu.
"Dan, mengetahui ada seseorang yang peduli padamu, rasanya… luar biasa."
Seiring terbenamnya matahari, awan itu mulai menampakkan larik-larik keperakan. Pendar cahaya muncul dari sana, dan tiba-tiba ia tampak cantik. Cantik dan tidak sendirian lagi. Di baliknya, bulan muncul. Ini adalah saat khusus dalam satu hari di mana kamu masih dapat melihat pendar terakhir cahaya mentari di sebelah barat, dan bulan di sebelah timur. Angkasa begitu memikat pada waktu-waktu seperti ini.
Tifa melihat secercah harapan di wajah Cloud. Dan melihatnya, dia tak tahan untuk tak memeluk Rufus. Entah bagaimana, ia dapat merasakan bertubi-tubi kesepian yang dipendam di balik wajah tanpa ekspresi itu.
Rufus membalas pelukan Tifa.
Mereka berdua sama-sama bingung kenapa mereka berpelukan. Mereka mengakhiri momen itu, lalu Rufus menghapus air mata Tifa. Itu pertama kalinya ia melakukan hal itu. Mungkin, ia teringat pada dirinya sendiri.
"Rufus…"
Orang itu menunduk. "Itu bukan namaku."
Sebelum sang gadis sempat bereaksi, sang pemuda menyebutkan nama aslinya. "Namaku Cloud. Cloud Strife."
End of flashback
.
.
Ia datang ke ShinRa sebagai "Rufus Shinra", sebuah nama yang mengundang banyak pertanyaan, namun sebelum ada satupun yang terjawab, ternyata identitasnya itu palsu, meski untuk sekarang, demi alasan keamanan, Tifa dan teman-temannya setuju untuk tetap memanggilnya Rufus. Masih banyak hal yang disembunyikannya dari semua orang. Memang, setidaknya sekarang jati dirinya telah terungkap, tapi belum sepenuhnya. Namun Tifa tahu kini, pemuda itu punya lebih banyak rahasia lagi.
Profesor Hojo berbalik, mendapatinya berdiri mematung membawa kertas puisinya. Buru-buru Tifa minta maaf.
"Saya mohon maaf sudah mengganggu Anda, Profesor."
"Ah, tidak, tidak. Kami sudah selesai," tandas profesor itu kaku. "Ada perlu apa?"
Dengan tak enak Tifa menjelaskan tujuannya, dan keluar ruangan membawa perasaan janggal. Syukurlah ia bertemu guru yang dicarinya dalam perjalanan kembali, sehingga setelah satu urusannya selesai, dengan mudah ia melupakan kejadian di ruang guru.
.
.
=xoxo=
"You wouldn't understand even if I told you."
-Cloud, FFVII-
Setelah pelajaran berakhir, Tifa memasukkan barang-barang bawaan ke dalam tasnya, bersiap untuk pulang ke asrama. Di tengah jalan, bayangan gelap menaungi langkahnya. Ia mendongak dan melihat segulung awan besar hitam menghalangi sisa cahaya mentari.
"Awan mendung…"
Entah kenapa ia teringat seseorang. Dia mirip awan itu, selalu mendung, dan apa yang di belakangnya terhalang sama sekali oleh kesuraman yang dimilikinya.
Tifa menghela napas. "Cloud…"
Tak bisa dipungkiri ia mulai khawatir. Professor Hojo tak terkenal ramah, atau cukup santai untuk mengurusi siswanya. Itu sebabnya, dia tidak pernah bisa ditemui di luar kelas. Di kelas, banyak ide-idenya dicap 'gila' oleh para siswa. Memang, ia pemikir yang hebat, pengetahuan patologinya setara, bahkan lebih tinggi dari profesor lain yang bekerja di universitas, bahkan di lembaga penelitian. Namun, ia jelas bukan guru yang penuh pengertian. Yang Tifa tahu, ShinRa adalah sebuah lembaga yang juga mengelola beberapa rumah sakit, dan Profesor Hojo dipekerjakan di sana dengan perjanjian mengajar di SMA nya untuk menarik minat murid di bidangnya. Tifa rasa, Profesor Hojo hanya tak punya pilihan lain.
Tak lama ia tiba di gerbang asramanya. Ia tak sadar seseorang sudah menunggunya di sana. Ia baru sadar ketika seseorang menudingkan jarinya.
"Hey, Tifa, seseorang menunggumu di gerbang," kata Yuffie, berlari berlawanan arah dengannya ke arah gerbang.
.
"Kunsel?"
Kunsel melambaikan tangannya dengan gugup. Ia menyapa Tifa, kemudian mengulurkan tangannya. Sebuah amplop disuguhkannya dengan malu-malu pada Tifa.
Tifa mengambil amplop merah itu dan membaca tulisan yang dicetak tinta emas.
"Ini undangan pernikahan Profesor Valentine dan Fraulein Lucrecia?!"
Kunsel mengangguk lagi.
Perempuan itu tak menyangka tebakan Yuffie menjadi kenyataan dalam waktu kurang dari dua bulan.
"Aku hanya ingin bertanya… apa kamu mau ikut denganku ke pesta itu," ajak Kunsel. "Aku tahu kamu sibuk, jadi, kalau tidak bisa tidak apa-apa," tambahnya, merasa ajakannya terlalu riskan.
Tifa hanya tersenyum. Akhirnya pemuda itu mengambil tindakan juga. "Tentu saja, kita akan pergi ke pesta itu bersama, kan? Aku, Kunsel, Zack, Yuffie, Reno dan mungkin Aerith Gainsborough," goda Tifa, berusaha menumpulkan keterusterangan ajakan Kunsel. Laki-laki itu menggaruk-garuk rambutnya, tak yakin harus membalas apa.
"Heheh. Aku hanya bercanda, Kunsel. Aku mau, kok, pergi denganmu."
Belum sempat Tifa menyelesaikan ujaranya, sebuah mobil putih mendekat. Kunsel dan Tifa minggir dari jalan. Itu mobil… ShinRa Hospital?
Tifa merasa mual. Ada urusan apa rumah sakit itu kali ini? Semoga saja tak ada yang lompat dari asrama lagi seperti beberapa tahun lalu menjelang masa ujian seperti ini.
"Kunsel, aku tiba-tiba penasaran sampai kurasa aku tak bisa makan sebelum kupecahkan misteri ini."
Mereka pun setuju untuk mengikuti—secara diam-diam, tentunya, mobil itu.
.
Mobil itu diparkir tak jauh dari gedung D, dan orang-orang mengangkut sesuatu keluar. Sebuah ranjang, pastinya. Diam-diam, Tifa membuntuti paket itu, sampai ke…
"Kantor Profesor Hojo?"
Tiba-tiba Tifa merasa mual.
.
Professor Hojo mengenakan cap hijau, masker, dan dua sarung tangan karet putih. Ranjang itu sudah siap. Sekarang ia tinggal menunggu siswanya datang.
Tak lama kemudian, Cloud tiba, hanya mengenakan celana pendek.
"Sempurna," kata Hojo.
Orang itu meminta Cloud membaringkan diri di tempat tidur khusus yang telah dibawakan orang-orang dari bagian gangguan jiwa: tempat tidur dengan sabuk-sabuk pengaman.
Cloud melirik orang itu ragu, tapi, tak ada ketakutan sedikit pun tersirat dari matanya. Hojo menyeringai puas. "Tenang, sabuk-sabuk itu hanya untuk alasan keamanan, karena tubuhmu akan bereaksi, sedikit banyak. Kita ingin ini berlangsung aman."
Cloud menurut, dan tanpa menunda-nunda lagi, membaringkan diri di atas ranjang putih itu sementara Hojo mengikat lengan, pergelangan tangan, paha, dan pergelangan kaki Cloud. Ia pun mengeluarkan sebuah suntikan berisi cairan bening.
"Ini anestesi. Mungkin akan mengurangi rasa sakitnya, tapi tidak banyak. Apa kamu siap, Rufus?"
Sang Rufus diam dan memejamkan mata. "Tidak pernah sesiap ini," gumamnya. Ia menegangkan rahangnya, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Setelah cairan itu mulai membuat tubuhnya kebas, Hojo mengeluarkan suntikan kedua. Kali ini, isinya cairan hitam legam. Baru ketika ia mulai menyuntikkan dan menekan isinya masuk tubuh Cloud,
BRAK!
"Profesor Hojo, apa yang Anda lakukan?!"
Seorang gadis menerabas masuk ke dalam kantornya.
Tifa Lockhart mengepalkan tinjunya. Matanya nanar, membekukan. Bahkan Hojo tak dapat berkutik lagi. Saat itu, isi jarum suntik sudah berkurang setengah.
"Professor... please give me a number. Please, Professor..."
-Cloud Strife, FFVII-
.
.
=xoxo=
Hug and Kiss
Chapter 16: KODOKU*
.
=to be continued=
*Kodoku (孤独): loneliness edaan saia udah bisa ngetik kanji wakakka.
Baca ulang chapter2 sebelumnya, dan menemukan kesalahan2 bahasa jepang masa lalu di mana saia sok2an pake, padahal nggak tau artinya apa. Wakakak. Malu, sih, tapi seenggaknya sekarang tau kalo itu salah. Dan… yah malu /lagi2, sih, tapi mau ngebenerin juga repot haha. Let it be lah. /malesajasebenernya
Gimana chapter ini? kaya perubahan gaya bahasanya gak bisa diapa2in sih. Tapi, saia 6 taun yang lalu itu idealis banget, dan saia pengen pertahanin itu di sini.
Hm. Rencananya fiction ini akan berakhir di chapter 20 an. Moga aja ini bukan janji palsu. Sudah cukup politikus saja yang ngasi janji palsu. Alah.
Anyway, RSVP! Review s'il vou pleit! 😊
