Hug and Kiss
Chapter 17: GEOSTIGMA
.
.
=xoxo=
"No, you're wrong. It's my desire as a scientist."
-Hojo, FFVII-
Mata gelapnya mendelik nanar ke arah cairan hitam yang masih tersisa dalam jarum suntik di tangan Profesor Hojo. Darahnya mendidih. Ia berlari ke arah profesor itu, di belakangnya Kunsel mengikuti. Sebelum ia sempat melakukan tindakan nalar apapun, ia mendengar rintihan Cloud, yang kemudian berubah menjadi erangan. Matanya melebar. Pemuda itu seperti mau muntah, lalu tiba-tiba ia kejang-kejang. Otot perutnya berkontraksi kuat dan berkali-kali, tapi karena tangan kakinya diikat kuat, kepalanya mendarat ke ranjang dengan keras. Seketika ia memucat. Seakan tertular, wajah Tifa ikut memutih. Ia berusaha menenangkan Cloud: menekan dan mengelus pundaknya, mengelap keringat di dahinya, mengusap pipinya namun ketika ia melakukannya, buih putih keluar dari mulut Cloud, menempel di tangannya.
"Apa yang Anda lakukan padanya?!" sentak Tifa, tak tahan lagi.
Profesor Hojo membisu sesaat. "Kita akan tahu segera," jawabnya kemudian, masih kelihatan tenang, meski segurat kekhawatiran terjerat di antara alisnya.
Sementara itu Tifa masih berusaha menyelamatkan Cloud. Menyelamatkan! Mana ada yang bisa menyelamatkan Cloud! Bahkan kalau ambulans yang sedang berusaha dipanggil Kunsel datang secepatnya, beberapa menit akan berlalu dan Cloud masih harus berjuang sendiri. Ia hanya tahu, ini adalah pertarungan ia tak yakin Cloud bisa menang.
Tifa jadi menyadari betapa ia peduli dengan pemuda itu.
"Cloud…"
Ia mengangkat kepala pemuda itu, ia membungkuk di atas tempat tidur itu, dan memeluknya. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, dan entah ini hanya perasaannya atau bukan, tapi sentakan-sentakan Cloud memelan.
Tifa memeriksa keadaan Cloud, membiarkan Profesor Hojo mengintip dari belakang pundaknya. Wajah itu nyaris biru dan bulir-bulir keringat sebesar biji jagung terkucur dari dahinya. Profesor Hojo segera menekan leher bagian samping pemuda yang terkulai tak bergerak itu dengan dua jari. Dahinya kembali berkerut, memunculkan lipatan-lipatan bukti tahun-tahun penuh pemikiran kerasnya yang banyak.
Tifa menyaksikan dengan ngeri saat sang profesor menekankan kedua telapak tangannya di atas dada Cloud. Lelaki paruh baya itu menekannya berkali-kali dengan kasar—mungkin karena panik, seolah hanya dengan cara itu ia bisa mengumpulkan kembali nyawa si Pirang yang sudah terpecah ke mana-mana. Namun, dengan satu sentakan terakhir, napas pemuda itu kembali. Tak lama kemudian, Cloud sudah bernapas normal.
Profesor itu menghela napas panjang. Tifa ikut lega, meski itu tak mengurangi prasangkanya yang sudah jadi begitu buruk terhadap sang profesor. Tetiba, ia merasa sangat kepayahan. Ia tidak pernah setakut itu selama berbulan-bulan setelah kepergian ibunya. Ia terhuyung nyari jatuh tapi Kunsel menangkapnya.
Kunsel, yang telah memerhatikan semuanya dari awal, diam tak berkomentar meski ribuan pertanyaan bergelora dalam dadanya. Ia tak tahu Tifa dan Cloud –yang masih adalah Rufus dalam ingatannya, teman satu timnya—sudah sedekat itu, sampai-sampai gadis itu tampak sangat kacau sekarang. Dan melihat cara Tifa memeluk Cloud, bohong kalau dia bilang dia tak cemburu. Namun, ini bukan saat yang tepat untuk segala sentimennya itu. Ia harus memendamnya sampai saatnya tepat.
"Profesor, saya harap saya tak harus melaporkan Anda ke polisi setelah ini…" ujar pemuda itu, berhasil menekan emosinya. Profesor Hojo tertegun, namun ia tak menunjukkan ekspresi apa pun lagi.
"Kamu tidak bisa mengadukan kasus yang disepakati oleh dua pihak."
Orang itu mengangguk ke arah sebuah file di atas meja di dekat Kunsel. Kunsel menarik amplop coklat itu dan mengeluarkan isinya. Ia membacanya sekilas, lalu matanya membelalak.
"Jadi, tindakanmu ini bisa berakibat kematian atau cacat permanen?!"
"Risiko itu selalu ada, tapi kecil. Semua hal punya risiko, Kapten," kata Hojo, sedikit mengejek. Ia selalu berpikir olahragawan tidak punya otak. "Nona Lockhart mungkin saja terinfeksi akibat kontak dengan cairan tubuh pasien."
Kunsel membeliak.
"Tapi—" potong pria itu, "kemungkinannya sangat kecil. Mendekati nol. Proyek ini, selalu bisa saja berakhir fatal, tapi risikonya di bawah lima puluh persen."
"Lima puluh persen! Jadi, antara dia selamat, atau pergi selamanya?!"
"Yah, untuk proyek sebesar ini, lima puluh persen itu angka yang besar. Dan lihah, seperti dugaanku, dia selamat!"
"Bagaimana kita tahu? Dia masih belum sadar!"
"Itu sebabnya aku selalu benci orang yang tak pernah belajar tapi banyak komentar!"
Sementara keadaan memanas, warna mulai kembali ke wajah pucat Cloud.
.
.
=xoxo=
Mereka bertiga duduk di salah satu sudut ruangan besar itu. Dari posisi mereka, mereka dapat melihat tubuh Cloud yang ditutupi selembar selimut putih. Hojo menyajikan dua cangkir teh panas, meski ia tahu pengunjung yang tak diundang itu tak sedang berselera. Setidaknya ia menunjukkan kalau ia ingin berdamai.
"Kalian berdua adalah kemungkinan di luar kalkulasiku. Namun untunglah semuanya berjalan lancar. Baik, baik, sebelum kalian memrotes lagi, sebaiknya kujelaskan semuanya. Sebelumnya, aku meminta maaf atas perkataanku yang kurang pantas kepadamu Tuan Kunsel," ia menunduk canggung ke arah muridnya itu. Ia tahu, Kunsel punya minat terhadap pelajarannya, dan anak itu sebenarnya punya potensi. Ia hanya sebal karena Kunsel lebih memilih basket daripada pelajaran biologi yang jelas lebih punya sumbangsih terhadap keberlangsungan hidup manusia.
Akhirnya Profesor itu menceritakan apa yang sedang ia kerjakan: sebuah riset tentang sebuah penyakit langka yang menjadi endemik di daerah tempat sebuah meteor jatuh. Sebagian besar penderitanya sudah meninggal, bahkan sebenarnya tak banyak yang bisa bertahan lebih dari beberapa bulan setelah terjangkit. Segala laporan tentang fenomena ini tak banyak dipublikasikan, dan data-data tentangnya hanya terbatas di kalangan peneliti, karena memang penyakit ini sangat mengerikan dan bisa membangkitkan panik. Geostigma, itu namanya. Penyakit itu menular, tapi sepertinya tidak ke semua orang. Beberapa orang lebih mudah terjangkit daripada orang lain. Orang-orang seperti ini langsung terinfeksi jika terjadi kontak dengan penderita lainnya.
"Anak ini tampaknya sangat ingin mempelajari tentang penyakit ini, dia sendiri yang mengajukan proposal ini padaku. Awalnya, tentu saja aku menolak, namun ia berkata ini bisa memberikan sumbangsih besar terhadap kemajuan ilmu kedokteran. Dan, jujur saja, aku pun berpikir demikian. Kita tidak tahu, di belahan dunia yang lain, mungkin saja penyakit ini masih mewabah, dan siapa tahu suatu saat nanti Midgar juga akan harus menghadapi hal yang sama."
Hojo memerhatikan wajah murid-muridnya.
"Aku tahu, kalian akan sangat sulit memaafkanku, namun, aku juga ingin menolong banyak orang."
Hojo menarik secarik kertas yang sudah menguning dari dompetnya.
"Ini istriku. Dia meninggal karena penyakit yang sama. Geostigma. Penyakit mengerikan yang menghantuiku bertahun-tahun. Bocah itu," ia memberi isyarat ke arah Cloud lagi, "nampaknya juga kehilangan seseorang dengan cara yang sama. Aku yakin kalian tidak akan bisa memahami motifku menyetujui permintaannya sebelum kalian mengenakan kacamataku. Penyakit itu menggerogoti secara perlahan. Ketika gejalanya sudah parah, pasien akan memuntahkan lendir hitam, kehilangan kesadaran, berhalusinasi… berusaha bunuh diri… dan itu mengerikan."
Tifa berharap menemukan ekspresi apapun di wajah Hojo, tapi tak ada apa pun. Namun, ia tidak berpikir Hojo sedang berusaha membohongi mereka.
"Kalian tak perlu khawatir. Sebentar lagi anak ini akan dipindahkan ke ShinRa hospital. Yah, kurasa setelah pemergokan ini kalian tak akan semudah itu memercayaiku. Tapi aku bisa janji ini, beberapa hari ke depan kesadarannya akan kembali. Besok, kalau cepat. Kalian tak perlu khawatir. Kalian boleh ada di sini sampai ambulans membawanya pergi."
Kunsel akhirnya memecah kecanggungan, meneguk tehnya yang sudah setengah dingin.
.
.
=xoxo=
"It's true though that there's nothing normal about me at all. Aerith, you don't have a problem with that do you?"
-Zack, CC-
Temperatur menurun. Seperti biasa, Zack bersiap-siap bertemu dengan Aerith seusai latihan baseball-nya. Ketika ia sampai, toko kecil Aerith sudah tutup. Zack merasa sedikit kecewa. Ia baru saja hendak berbalik pulang waktu sosok mungil Aerith muncul dari baliknya. Ia menenteng sebuah tas plastik, kelihatannya berat.
"Hey, Aerith, kukira kau sudah…"
"Maaf, Zack, aku tutup cepat hari ini. Adikku sakit."
Alis hitamnya bertaut tanda simpati. Zack cepat-cepat membawakan barang-barang Aerith. "Kamu nggak mungkin nggak butuh bantuan untuk bawaan sebanyak ini. Dan mana tau aku bisa bantu-bantu sedikit di rumahmu."
Mata hijaunya berkilau, berterima kasih. "Zack, kamu yakin?" tanyanya dengan sopan.
"Tentu saja. Aku bakal senang bisa membantumu. Jadi, apa kau bakal mengenalkanku pada calon mertuaku?"
"Hentikan, Zack." Gadis itu tertawa.
.
Mereka berjalan cukup jauh, menuju sebuah daerah Midgar di antara kebisingan perkotaan dan kesunyian gurun di luar kota. Sebelumnya Zack benar-benar percaya tidak ada yang namanya Sector 5 di Midgar, karena tidak pernah ada yang menyebutnya. Sektor itu kumuh. Rumah Aerith ada di ujungnya, tempat ladang berundak diterpa percikan-percikan air terjun berwarna biru. Sebuah bintik cerah di ujung kemalangan.
Gadis itu membukakan pintu untuknya, berterima kasih, lalu memanggil ibunya. Wanita itu tergopoh keluar dari dapur. Rasanya Zack pernah melihatnya di suatu tempat….
"Aerith! Apakah pemuda tampan ini yang kau ceritakan waktu itu?" tanya nyonya itu, menarik seutas senyum di wajah cantik putrinya. Gadisnya mengangguk kecil. Wanita itu mengelap tangannya yang penuh tepung di celemeknya, lalu menjabat tangan Zack dengan hangat, seakan-akan sedang berterima kasih. Untuk apa, Zack tidak tahu.
"Ibu, ini Zack. Zack, ini ibuku, dia bekerja di dapur asrama putri sekolahmu."
"Ah! Pantas saja! Ternyata ini master chef di balik kelezatan santapan makan malam waktu itu. Kami sangat menikmatinya, Madam…"
Wanita itu tertawa renyah. "Tak usah panggil Madam. Panggil saja aku Elmyra. Sebuah kehormatan bagi saya bisa membantu sedikit di acara besar tersebut."
Setelah berbincang sejenak, mereka naik ke lantai dua. Dua kamar ada di sana. Aerith memintanya menunggu di depan salah satu kamar, sementara ia sendiri menyiapkan kompres dan plastik belanjaannya barusan.
Tanpa mengetuk pintu, si gadis bunga masuk ke dalam ruangan. Di sana seorang anak sedang tidur. Anak perempuan kecil berambut coklat kemerahan lurus. Anak itu cantik. Zack tersenyum kecil, namun sejenak kemudian ia merasa bersalah sudah tersenyum. Ia merasa kasihan padanya.
Tergerak oleh belas kasihan, Zack masuk ke dalam ruangan dan berjengit untuk membetulkan posisi selimutnya. Tiba-tiba Aerith melarangnya.
"Jangan!"
Terkejut, si Jabrik mematung.
"Maaf, Zack, penyakit adikku ini menular."
Zack melipat tangannya. Secara luwes gadis itu membasuh wajah si bocah langsung dengan tangannya.
"Kukira kau bilang penyakitnya menular. Kamu nggak takut tertular, Nona?"
Ia menggeleng. "Kalau aku bisa tertular, sudah dari dulu aku berhenti berjualan bunga," katanya, membuat perasaan Zack jadi murung.
"Penyakitnya… parah?" tanyanya. Seharusnya ia tak perlu bertanya. Aerith sepertinya sangat sedih mendengarnya. Ia berbalik, mendapati mata hijaunya sedikit merah.
"Penyakit ini… letal, Zack. Itu kata dokter. Aku tak tahu pasti apa arti kata letal, tapi sepertinya itu sangat, sangat buruk…"
Zack dan mulut bodohnya, batin Zack. "Aku turut sedih, Aerith. Adikmu masih kecil…"
"Ya… Sebenarnya dia bukan adik kandungku. Tapi aku sangat sayang padanya."
Hati pemuda itu terasa berat. Ia harus berusaha mengusir kemurungan ini.
"Siapa namanya?"
"… Marlene…"
"Aku yakin anak itu sangat berterima kasih padamu, Aerith. Kurasa dia pasti sangat bersyukur karena kamu merawat dan menyayanginya. Kalau aku ada di posisi anak itu, aku akan pergi dengan senyum."
Astaga! Kenapa pula kau bahas-bahas tentang kepergian?! rutuknya lagi. Namun, meski itu memang bukan penghiburan terbaik yang pernah ada, Aerith menangkap maksud baiknya.
"Kuharap begitu, tapi aku benar-benar tidak ingin kehilangannya."
Perhatian mereka teralihkan ketika Marlene mulai mengerang dan memegangi dahinya. Aerith meraih plastik belanjaannya, mengeluarkan beberapa butir kapsul, lalu meminumkannya dengan susah payah. Zack hanya ada di situ, tak bisa membantu apa-apa, karena Aerith bersikeras ia tak boleh menyentuh Marlene. Aerith memintanya keluar kamar saat anak itu bergetar semakin hebat. Lalu, sedetik saja, bagaikan sekelibat halusinasi, pemuda itu menangkap setitik cairan di dahi Marlene, dan tidak bening, namun hitam legam.
.
.
=to be continued=
Chapter ini no bacot banget gak ada a/n before chapter, tapi klo setelahnya gak ada a/n juga kok keknya tense n suram banget. Ijinkan saia nge chit chat dikit yak.
Setelah chapter lalu Zack ceramah2 tentang hidup itu berharga blablabla, sekarang ia dipertemukan dengan sebuah kenyataan pahit yg dibicarain Cloud kemarin. Ada orang2 yg harus pergi dari dunia ini meski masih terlalu muda. Di sini, Marlene jadi adiknya Aerith, yang notabene adalah gadis yang dipeduliin banget sama Zack, simply karena ku ingin Marlene keluar di fiction ini. Ide ini udh ada dari sejak sebelum saia nulis nih fic loh. Ebad yak, imajinasi bisa bertahan segitu lama di kepala. Dan tentu saja, Marlene sama Cloud pasti punya koneksi karena, well, this is fiction world. Mungkin pertemuan mereka akan muncul dua chapter ke depan. So, nantikan kelanjutan chapter ini!
Oiya, abis ini saia bakal ada 1 lagi ujian, dan abis itu, bakal libur. Mungkin update-an nya gak bisa secepet itu juga, karena pas libur saia juga sibuk /soksibuk /sibukmain
Edit. Ternyata saia lupa publish nih chapter sebelum ujian hahaha. Jadi, next chapter akan keluar dalam waktu dekat.
Makasih yang udah baca! RSVP! Review ya!
