Jihoon melamun, dia memikirkan tentang bersentuhan dengan Soonyoung. Bukan apa-apa, hanya penasaran saja. Bagaimana rasanya bersentuhan dengan hantu? Dingin? Hampa? Yang jelas dia penasaran.

Jadi dia memperhatikan Soonyoung yang kini bermain-main dengan setiap orang di sekitar taman. Beberapa orang terlihat kaget dengan benda-benda yang terlempar sendiri, atau bergeser sendiri. Tak jarang mereka terlempar benda yang tidak diketahui pelemparnya. Tentu saja semua itu ulah Soonyoung yang kini terkikik gembira sampai mata sipitnya menghilang.

Jihoon tidak bisa melarang karena Soonyoung pernah berkata, "Insting alamiku adalah berbuat jahil, mungkin itu bawaan seorang hantu?" maka dari itu dia hanya 'sedikit' membatasi kejahilan Soonyoung tentang sikon dan intensitas kejahilannya.

Dan hasil analisisnya hari ini adalah Soonyoung yang hanya menyentuh benda mati, tidak benda hidup.

Dia mendengus, merasa waktunya terbuang percuma di taman. Jihoon pun beranjak pergi, dan Soonyoung akan otomatis menoleh—bahkan sejak Jihoon bergerak—lalu mengekor di belakangnya.

"Sudah puas menjahili orang?" sindir Jihoon, dengan suara pelan tentunya.

"Hehe," Soonyoung membenarkan melalui tawanya. Hantu itu menari-nari mengelili Jihoon sampai Jihoon pun tahu kalau dia sedang 'senang'.

Jihoon hanya menghela napas, dia kesal tapi tak bisa apa-apa. Berhubung hanya dia yang bisa melihat Soonyoung, maka dia harus berhati-hati bertindak di tempat umum jika tidak ingin dianggap 'gila'.

"Ji?"

Jihoon melirik, dan Soonyoung sedang terdiam. Soonyoung pernah seperti ini sebelumnya, tiba-tiba terdiam dan pasti akan meminta—

"Ji? Bisakah kita lewat jalan lainnya?"

Jihoon selalu penasaran tentang ini, tapi jika ditanya hantu itu hanya akan merengek agar permintaannya dituruti.

Maka Jihoon memutuskan untuk mengatakan, "Tidak."

Soonyoung memelas, "Oh ayolah, Ji. Kumohon. Aku tidak mau lewat sini. Putar balik ya? Ya? Ya? Yaaaaa?"

"Tidak, Soon. Putar balik cuma akan memakan waktu lebih lama." Jihoon tidak bohong kok, jalan ini satu-satunya jalan tercepat, dan Jihoon mau sampai rumah cepat-cepat.

"Please~? Aku benar-benar tidak bisa lewat sini, harus lewat jalan lain," Soonyoung masih merengek, dia menarik tas Jihoon ketika pemuda itu memaksa berjalan.

"Lepas, Soon. Aku tidak mau disangka gila. Cepat! Aku mau pulang!"

"Aku juga mau pulang! Tapi tidak lewat sini, tidak, tidak. Ayolah Jihoon. Sayangku. Aku akan lakukan apapun untuk putar balik, ya?"

"Sayang, sayang, palamu peyang!" umpatnya, kemudian Jihoon tersenyum miring, "Memangnya apa yang bisa dilakukan seorang hantu untukku?"

Karena Soonyoung tidak menjawab, Jihoon mendengus, kemudian memikirkan tawaran Soonyoung.

Mungkin dia bisa membuat Soonyoung menjawab seribu pertanyaan di otaknya?

"Jangan ingkari janjimu, Kwon Soonyoung. Atau aku akan panggil pendeta atau biksu atau apalah untuk mengusirmu."

Soonyoung hanya bisa mengangguk takut-takut karena Jihoon tidak pernah bermain dengan ancamannya.

Sesampainya di rumah, Jihoon langsung menagih janjinya. Dia duduk di sofa dan seperti biasa Soonyoung mengikuti.

"Kamu mau minta apa? Jangan minta yang tidak mungkin ya, Ji? Seperti memintaku untuk meninggalkan—"

"Ya aku tahu, bodoh," potong Jihoon cepat. Meskipun meminta itu, Jihoon tahu Soonyoung tidak akan mengabulkannya. "Kamu hanya perlu—mm, harus! Kamu harus menjawab semua pertanyaanku."

Soonyoung menyerit bingung, "Pertanyaan ap—"

"Tidak pakai bohong! Tidak boleh bohong atau hukumannya berlaku," ucapnya tegas. "Bohong saja atau aku akan mengusirmu."

Soonyoung menyerah, tangannya diangkat ala ala pelaku kejahatan yang tertangkap polisi. "Baik, baik. Aku mengerti. Saat hidup pun aku selalu menjadi model terkenal yang jujur dan baik hati."

"Taik kucing dengan kehidupan modelmu itu, Kwon Soonyoung. Aku hanya butuh jawabanmu," dengus Jihoon jengah.

"Oke, oke. Ya ampun sayangku ini galak sekali. "

"Baik, langsung saja ke pertanyaan pertama—" Jihoon mengacuhkannya.

"Langsung? Ya ampun, apa aku tidak diberi suguhan dulu? Minum misalnya? Aku yakin wawancara ini akan lama," keluh Soonyoung sambil menggelengkan kepalanya, heran dengan perlakuan orang yang akan mewawancarainya.

Jihoon facepalm, dia menggeram karena kesal dengan hantu idiot—baginya—yang sangat-sangat menyebalkan. "Kwon Soonyoung, kupikir hantu tidak butuh makan dan minum? Dan aku bukan ingin mewawancaraimu, aku akan menginterogasimu! Interogasi tidak ada suguhan! Dan hantu sepertimu tidak perlu suguhan! JADI JANGAN BICARA KECUALI JAWAB PERTANYAANKU! PAHAM?!"

"Y-yes, sir."

"BAGUS!"

Jihoon mengatur emosinya, jangan sampai tetangga sebelah mendengar teriakannya, karena tentu mereka tidak akan mendengar Soonyoung yang sebenarnya bersahut-sahutan dengan suaranya.

"Pertama, Soon. Kenapa tadi kamu minta aku untuk putar balik? Seingatku tidak ada apapun di sana selain pohon rindang dan komplek sepi?"

Soonyoung tiba-tiba beku. Tentu hal itu tidak luput dari mata tajam Jihoon. "Emm... Itu..." Soonyoung gelisah, pandangannya kabur-kaburan. Entah untuk mencari alasan lain atau untuk mencari kata yang tepat.

"Asal kau tahu saja, aku tidak suka menunggu." Jihoon menyilangkan tangannya. Tatapannya dibuat tajam menusuk ke bagian terdalam. Kalau bisa menusuk kepala si surai merah dan membuatnya menghilang.

"I-itu... Karena aku t-takut," cicitnya.

Jihoon bingung. Kalau orang-orang pada umumnya takut pada hantu, lalu hantu takutnya pada apa?

"Kamu? Takut? Sama apa? Cahaya ilahi? Atau malaikat penjemput jiwa?"

Soonyoung mempoutkan bibirnya, ya gini lah seme rasa uke mah. Tapi tenang, kalau aura semenya keluar, dijamin si Jihoon aja bisa klepek-klepek. *ehe:9*

Soonyoung meragu, jemarinya saling bertautan gugup, senyumnya dipaksakan. Kalau bukan karena dia melayang, mungkin Jihoon lebih percaya kalau Soonyoung itu manusia.

"Takut apa, huh?" tuntut Jihoon.

"S-sama hantu lain."

Jihoon berani bersumpah kalau untuk kata terakhir dia harus menajamkan pendengarannya.

"HAAHH??"

See you ini next chapter~

Halo, hehe. Singkat aja, kayaknya aku bakal bikin pendek perchapternya.

Soalnya kalau panjang-panjang aku jadi cepat buntu:(Dari pada buntu mending begini aja ya? ya? /sodorin aegyo hoshi/

Sejujurnya aku gak tau mau dibawa kemana cerita ini wkwk, aku sih ngikutin maunya si Jihoon sama Soonyoung aja:( mereka kalo syuting suka nakal, improv gitu dan bikin alur yang aku buat jadi kacau. hmm.

Oke sekian, apa kalian punya masukan? Tanggapan? Tolong isi kotak review;)

Bisa juga diisi untuk minta lanjut, karena dengan begitu aku tau kalau ada yg suka sama ff ini:")Terima kasih~