fWhen the Darkness Falling in Love
Part 2
Sebastian dan gadis itu saling memandang dalam waktu yang cukup lama.
"Ehem!" Terdengar suara mendehem yang keluar dari mulut Ciel. Sebastian melepaskan gadis itu dari 'dekapannya'. Gadis itu terlihat malu dan serba salah.
"Ah, maafkan saya!" Ucap gadis itu.
"Kami yang seharusnya meminta maaf. Apakah benar tidak apa-apa? Mungkin anda terluka." Timpal Sebastian.
"Tidak usah khawatir. Saya tidak apa-apa."
"Justru karena itu saya khawatir." Gumam Sebastian setengah berbisik. Yah, mungkin Sebastian sudah 'yakin' siapapun yang tertabrak oleh Finny 'pasti' terluka. Finny gitu loh, tenaganya bagaikan monster.
"Sudahlah. Dia bilang dia tidak apa-apa. Ayo, kita pergi. Kita masih punya banyak pekerjaan." Kata Ciel, seraya masuk ke dalam kereta kuda. "Beri saja gadis itu uang untuk jaga-jaga kalau ternyata dia terluka." Sambungnya.
Sebastian pun pamit. Begitu juga ketiga pelayan lainnya, termasuk Finny yang sedari tadi terus meminta maaf.
Namun Sebastian terlihat terus memikirkan gadis itu. Setelah ia masuk ke dalam kereta kuda pun ia masih memandang keluar jendela, melihat gadis itu berdiri di pinggir jalan sambil terus tersenyum. Bahkan saat kereta kuda mulai bergerak dan gadis itu membungkuk dan melambaikan tangan, Sebastian masih terus memerhatikannya. Barulah ketika kereta sudah mulai menjauh ia pun mengalihkan perhatiannya pada Bocchannya.
Wajah Ciel terlihat masam. Bibir kecilnya menekuk ke bawah dan dahinya mengerut. Namun, sungguh, walaupun ia terlihat kesal, di mata Sebastian ekspresinya itu sangatlah lucu dan imut.
"Tuan Muda, kenapa anda cemberut begitu?" Tanya Bard yang duduk berhadapan dengan Ciel.
Sebastian tersenyum. "Apa anda cemburu karena gadis itu sepenuhnya menarik perhatianku dan terjatuh di pelukanku?" Godanya.
"Bicara apa kau? Sudah, diam!" Tukas Ciel, kesal. Melihat Tuan Mudanya yang tsundere seperti itu, Sebastian hanya tersenyum menahan tawa.
"Woy, Meyrin! Kenapa kau juga ikut-ikutan cemberut, hah?" Tanya Bard pada Meyrin yang duduk di sebelah Ciel yang menampakkan wajah kesal seperti Tuan Mudanya.
"Gadis itu dipeluk Sebastian-san. Bahkan mereka saling mengadu pandang sangat lama. Dia membuatku iri saja. Dan wajah Sebastian-san tadi… aahh…" Gumam Meyrin pelan.
Sebastian hanya terdiam. Sementara Bard terus mengomeli Meyrin.
"Oh, iya. Kau bilang gadis itu sepenuhnya menarik perhatianmu. Memang apa yang membuat orang (?) sepertimu tertarik dengan gadis biasa seperti tadi?" Tanya Ciel tiba-tiba.
Sebastian tertohok. Ia tidak menyangka kalau Tuan Mudanya menanyakan hal seperti itu. Apa benar kalau Ciel ternyata benar-benar cemburu? Ia pun tersenyum.
"Ada sesuatu yang menarik di dalam diri gadis itu, yang tidak didapatkan oleh manusia manapun, bahkan dirimu sendiri." Ucapnya.
"Cih! Dasar iblis mesum!" Dengus Ciel. Ia pun mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Pemandangan menarik nampak seketika setelah Ciel menatap ke luar jendela. Sebuah mansion megah di balik rimbunnya pohon berdiri di kejauhan. Itu adalah mansion Ainsworth, tempat terjadinya kasus pembunuhan salah satu keluarga bangsawan yang sedang dihadapi oleh Ciel. Saat itu juga ia tersadar bahwa kereta kuda yang membawanya telah berjalan keluar dari London.
"Aku rasa ini bukan jalan kita pulang ke town house." Gumam Ciel. Sebastian dan ketiga pelayan lainnya terdiam. Suasana hening sejenak.
"Bukannya Tuan Muda ingin berkunjung ke peternakan McCauley? Ini kan jalur yang tepat." Ucap Finny spontan.
"Tapi bukan berarti sekarang. Ini masalah bisnis. Aku tidak mau membicarakan bisnis di masa-masa liburanku." Jawab Ciel. "Yah, karena sudah terlanjur…" Ciel mengetuk-ngetuk langit-langit kereta kuda dengan tongkatnya. Kereta kuda pun berhenti. Ciel turun dari kereta, diikuti oleh Sebastian.
"Kalian pulanglah ke town house. Rapikan semua ini, lalu kirim kereta kuda untuk menjemputku nanti di mansion Ainsworth." Kata Ciel.
"Baik!" Jawab ketiga pelayan keluarga Phantomhive itu.
Kereta kuda pun kini sudah berjalan kembali ke arah kota. Tinggallah Ciel dan Sebastian berdiri di tengah jalanan menuju mansion Ainsworth.
Sebastian pun memangku Ciel dengan tiba-tiba. Ciel pun terkejut.
"A… Apa-apaan kau ini?" Tanya Ciel geram.
"Anda ingin pergi ke mansion Ainsworth, kan? Akan memakan waktu yang lumayan banyak jika berjalan kaki. Apalagi kaki anda yang lemah mungkin tidak akan kuat jika berjalan." Jawab Sebastian dengan senyuman. Ciel hanya menatap Sebastian sebal. Sebastian pun langsung 'meluncur', membawa Ciel menuju mansion Ainsworth.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan mansion Ainsworth yang terbakar. Nampak beberapa orang anggota Scotland Yard yang memadati area mansion. Ada juga inspektur Edward Aberline dan beberapa orang wartawan yang berusaha mengambil dokumentasi.
"Kelihatannya kau sibuk sekali, ng… Underline" Ujar Ciel.
"eh? Underline janai, Aberline da!" Kata Aberline agak kesal sambil menengok ke arah dimana suara itu muncul. (catatan: kata-kata Aberline sama seperti apa yang sering Katsura Kotarou (dalam anime Gintama) katakan untuk menjawab teman-temannya yang sering memanggilnya dengan nama "Zura". Mungkin karena Ciel terlalu sering memanggilnya begitu, Aberline jadi ketularan Katsura :p #lol).
"Eh, Ciel-kun!? Kukira siapa. Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu." Sambungnya. "Kenapa kau ada disini?"
"Untuk membereskan masalah." Jawab Ciel santai. Ia pun mengeluarkan surat dari Ratu dan mengacung-acungkannya.
"Sudahlah, biar Scotland Yard yang menanganinya." Ucap Aberline.
"Sombong sekali kau. Dengan yakinnya kau mengatakan kalau Yard akan menyelesaikan semua ini. Lagi pula aku mendapat perintah langsung dari Ratu. jadi jangan menghalangiku." Tukas Ciel.
"Kasus yang sebelumnya saja Tuan Mudaku tidak bisa menyelesaikannya. Saya ragu Scotland Yard bisa menyelesaikannya." Sambung Sebastian. Ciel melirik tajam Sebastian. Ia tak suka dengan apa yang Sebastian ucapkan.
Ciel menghampiri Aberline, lalu merebut skeumpulan kertas yang tengah dipegangnya.
Aberline hanya melongo ketika kertas-kertas yang merupakan dokumen tentang kasus kali ini direbut oleh seorang anak berusia 13 tahun itu. "E… eh?"
"Bekerja samalah, Aberline. Hasilnya bukan aku sendiri yang menikmatinya." Gumam Ciel sambil membuka lembar demi lembar dokumen kasus Ainsworth. "Lagi pula, Lord Randall tidak ada disini, kan? Kau tidak akan kena marah pak tua itu." Sambungnya.
Ciel pun memeriksa dokumen kasus kali ini. Ia terlihat serius untuk beberapa saat. Sesekali ia menampakkan wajah kebingungan, lalu hilang seketika.
"Kejadian ini terjadi pada Sabtu malam tanggal 7 Agustus waktu tengah malam. Terjadi kebakaran hebat yang membuat penghuni rumah terbunuh. 2 orang anggota keluarga Ainsworth, Countess Ainsworth, Helena Eleanor Ainsworth, putra sulung Ainsworth, Cedric Ainsworth, 7 orang pelayan terbunuh dan putri keluarga Ainsworth, Hildegard Ainsworth menghilang. Kejadian ini diduga sebagai pembunuhan terencana." Gumam Ciel, membaca isi dokumen itu. "Helena Ainsworth, dulu ia mengunjungi kita secara pribadi untuk mengucapkan terima kasih karena telah berusaha memecahkan kasus suaminya yang menghilang."
"Iya. Walaupun anda tidak berhasil memecahkannya, ia tetap berterima kasih. Bahkan ia memeluk anda dengan erat." Kata Sebastian.
"Sekali lagi kau membahas itu, kubunuh kau!" Ucap Ciel kesal pada Sebastian yang terus mengolok-olok kegagalannya itu.
Ciel termenung sejenak. "Dia bilang kalau aku mirip dengan putranya saat masih kecil. Ia pun meminta maaf setelah memelukku." Sekali lagi Ciel termenung. Matanya kini menjadi sayu. "Dia benar-benar mirip ibuku."
Sebastian menatap Ciel nanar. Ia tidak suka saat Ciel kembali mengingat masa lalunya yang membawanya pada keraguan. Ciel terlihat sangat lemah. Bukan seperti jiwa yang ia inginkan.
"Sialnya, dia mati dengan cara yang sama." Sambung Ciel setelah ia terdiam untuk beberapa saat. Ia terbawa kembali pada kejadian dulu, saat rumahnya diselimuti oleh api merah yang membara di bawah langit Desember, tepat pada hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi dirinya. Kejadian kali ini seperti dejavu, dimana putri Ainsworth menghilang, sedangkan yang lainnya terbunuh. Apakah ia diculik? Apakah ia akan menjadi mangsa kegelapan, sama seperti dirinya dulu? Ciel terus memutar pikirannya.
Ciel membuka lembaran yang selanjutnya. Di lembar itu, terdapat foto dan profil dari masing-masing korban.
"Helena Eleanor Ainsworth…. 40 tahun… dilahirkan di keluarga pembuat roti… ditemukan meninggal terbunuh dengan tusukan pisau di perut dan mengalami pendarahan hebat." Ucap Ciel, membacakan profil Countess Ainsworth yang berada di lembaran paling atas.
"Apakah ini yang dimaksud dengan kematian yang ganjil itu?" Gumam Ciel, bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa maksud anda?" Tanya Sebastian.
"Kediaman Ainsworth terbakar, dan sang Countess malah ditemukan meninggal tertusuk pisau." Jawab Ciel. "Ini konyol. Bisa jadi dia dibunuh oleh si pembunuh terlebih dahulu dengan pisau, lalu si pelau membakar rumahnya, kan?"
Sebastian hanya terdiam. Sementara Aberline terlihat sedikit kebingungan.
"Di samping itu, yang menurutku lebih ganjil adalah rumah ini." Gumam Ciel. Ia lalu menatap mansion Ainsworth yang terbakar beberapa hari lalu. "Disini ditulis, kejadian ini baru diketahui pihak kepolisian maupun pihak terdekat pada Minggu siang. Itu berarti, pada malam itu tidak ada satu orang pun yang mengetahui kejadian ini sebelumnya. Sementara penghuni lainnya terbunuh, kebakaran tidak ada yang memadamkan. Seharusnya, api yang besar itu sudah menghanguskan rumah ini sampai menjadi abu hanya dalam satu malam dan hanya menyisakan puing-puingnya saja. Tetapi, mansion ini masih berdiri kokoh. Hanya jejak-jejak api saja yang menempel di temboknya dan beberapa tiang penopang yang rubuh."
"Mungkin karena bahan bangunan yang digunakan sangat kuat, jadi tidak sampai menghanguskannya." Timpal Aberline.
"Itu tidak mungkin. Bahan bangunan yang digunakan sama seperti bahan bangunan rumahku. Lagi pula, belum ada teknologi yang bisa membuat bangunan menjadi lebih kuat." Tukas Ciel.
"Sudahlah." Ciel membuka lembaran yang selanjutnya.
"Cedric Ainsworth… 20 tahun…"
"Oh, iya. Saya mendengar bahwa setelah pemakamannya, jenazah Cedric menghilang." Potong Sebastian.
"Benarkah itu?" Tanya Ciel setengah terkejut.
"Yah, itu baru desas-desusnya saja. Kita belum bisa membuktikannya." Jawab Sebastian.
Ciel pun membuka lembaran yang selanjutnya. Setelah Ciel membukanya, ia nampak terkejut.
"Bukankah dia…" Sebastian terkejut begitu melihat foto yang terlampir di lembaran profil ketiga itu. Seorang gadis yang pernah bersinggungan dengannya di East End karena sebuah kecelakaan kecil. Gadis yang memakai gaun desa sederhana dengan rambut yang diikat menyamping dan wajah cantik alami yang tanpa riasan. Dalam foto ini ia menggunakan sebuah gaun kelas atas yang elegant dengan riasan tipis yang memperindah tampilan wajahnya. Gadis yang berhasil menarik perhatiannya.
"Dia kan gadis yang ditabrak oleh Finny di East End tadi!? Jadi dia Hildegard Ainsworth!?"
To be continued…
