When the Darkness Falling in Love

Part 3

"Jadi, gadis ini..."

Ciel dan Sebastian tidak habis pikir. Ternyata Hildegard Ainsworth yang merupakan putri keluarga Ainsworth adalah gadis desa yang mereka temui tempo hari.

"Jadi, gadis ini selamat. Ia tidak diculik." Gumam Ciel.

"fufufu... anda berbicara seperti itu seolah berharap bahwa nasib gadis ini sama dengan anda." Ucap Sebastian.

"Tapi, kenapa dia ada di East End? Bahkan melihat keadaannya saja sepertinya ia baik-baik saja."

Abberline menghampiri kedua pasangan butler-majikan yang tengah membicarakan sesuatu itu.

"Ciel-kun, ada apa? Kau menemukan sesuatu?"

"Memangnya kenapa kalau aku menemukan sesuatu? Sebastian ayo pergi." Ucap Ciel seraya berlalu dari hadapan Abberline.

"Hei, kau bilang mau kerja sama. Kerja sama macam apa ini? Tunggu dulu, Ciel-kun!" Teriak Abberlain kepada Ciel yang sudah berada jauh di depannya.

"Akan kuberitahu hasilnya nanti. Sekarang aku belum mendapat apa-apa. Jadi jangan cerewet!" Balas Ciel dengan teriakan pula.

Ciel pun kini menghilang di hadapan Abberline yang terlihat kebingungan.

"Tuan Muda, sekarang kita akan pergi ke mana?" Tanya Sebastian.

"Sebenarnya aku tidak mau pergi ke tempat itu. Hanya untuk memastikan saja." jawab Ciel.

"Baik."

-ooo0ooo0ooo-

Ciel dan Sebastian berdiri di depan pintu toko Undertaker, petugas pemakaman yang merupakan informan Ciel yang tahu segala hal tentang dunia bawah. Sebastian membukakan pintu, lalu Ciel pun masuk, disusul oleh Sebastian.

"Kau di sini, Undertaker?"

Suasana hening sejenak. Tak lama kemudian, terdengar suara cekikikan yang sudah tak asing lagi bagi Ciel.

"Hihihihi... Selamat datang, Earl." Terdengar suara sambutan di dalam ruangan itu. Sebuah peti mati terlihat sedikit begetar, lalu keluarlah Undertaker dari dalam peti itu. "Aku sudah lama menunggumu, semenjak terakhir kau datang ke sini. Hihihi..."

"Ada yang ingin kutanyakan padamu..." Ucap Ciel.

"Aku sudah tahu. Kau ke sini karena ada yang kau inginkan. Tapi, informasi dariku tidaklah gratis, kau tahu kan?" Timpal Undertaker.

Terlihat wajah Ciel mulai bete.

Undertaker menghampiri Ciel, lalu mencubit pipi Ciel dari belakang, memaksakan sebuah senyuman keluar dari bibir mungil ciel.

"Berikan aku sebuah tawa yang lebar." Ujar Undertaker sambil terus cekikikan.

"Ah, baiklah baiklah." Kata Ciel sambil menepis tangan Undertaker, kesal. "Sebastian!"

"Baik. Serahkan padaku." Sebastian menyingkilkan lengan bajunya, lalu mengambil ancang-ancang.

...

...

...

...

...

"HUAHAHAHAHAHAHAHA...!"

Sebastian tersenyum, melihat usahanya (kembali) membuahkan hasil. Sementara Ciel terus mengernyitkan dahinya.

"Pelayanmu memang luar biasa, Earl. Setiap hari kau pasti bahagia." Kata Undertaker. Nampaknya ia jadi lemas karena terus tertawa. "Baiklah. Sesuai janji, apa yang ingin kau tanyakan?"

"Ini tentang pembunuhan keluarga Ainsworth." Ujar Ciel.

"Ah, jadi berita itu sudah turun?" Gumam Undertaker.

"Apa penyebab keluarga Ainsworth terbunuh?" Tanya Ciel, mulai serius.

"Ya tentu saja dibunuh. Ini kan kasus pembunuhan." jawab Undertaker enteng.

Ciel dan Sebastian mematung. Mulut keduanya ternganga mendegar apa yang keluar dari mulut Undertaker.

"Aku serius! Kalau itu aku juga sudah tahu!" Geram Ciel.

"Yah, kau saja yang tidak terlalu spesifik dalam melontarkan pertanyaan." Timpal Undertaker enteng.

Ciel mulai kesal.

"Baiklah. Ceritakan saja apa yang kau tahu tentang insiden itu." Ujar Ciel.

"Hihihi... Kau memang tamak ya, Earl. Kau pasti berpikir bahwa kejadian ini sama seperti peristiwa yang dulu menimpamu."

Ciel tertegun. "Jadi, ini ada hubungannya dengan peristiwa yang kualami dulu?"

"Tidak. Sama sekali tidak." Jawab Undertaker.

Ciel : (sweatdrop)

"Yah, kejadiannya memang mirip. Tapi, sama sekali berbeda. Pembunuhan kali ini lebih menarik." Sambung Undertaker.

"Menarik? Apa maksudmu?" Ciel semakin kebingungan.

"Kau belum diberitahu Yard? Ya ampun, padahal mereka yang mengevakuasi para korban." Kata Undertaker. "Sebaiknya aku perlihattkan saja padamu." pun pergi ke belakang, lalu mengambil sebuah peti yang terbuat dari kayu pohon ek tua. "Untung aku menyimpan satu."

Ciel dan Sebastian saling memandang, mengira-ngira apa yang akan Undertaket tunjukkan padanya.

"Karena tidak ada keluarga yang membawa jasadnya, jadi kusimpan saja dulu." Gumam Undertaker. Ia pun kemudian membuka peti matinya.

"I... Ini...!?"

Alangkah terkejutnya Ciel dan Sebastian ketika melihat mayat laki-laki di dalam peti itu. Tibuhnya dipenuhi oleh pola kobaran api berwarna hitam yang merasuk sampai kelopak matanya. Undertaker sengaja membukakan mata mayat itu, untuk memperlihatkan lebih jauh lagi kepada Ciel.

"Dia adalah salah satu pelayan di mansion Ainsworth." Ungkap Undertaker.

Ciel benar-benar tertegun melihat mayat pelayan Ainsworth itu. Jasadnya terlihat mulus, tidak ada luka sedikit pun. Hanya ada pola api itu yang memenuhi sekujur tubuhnya.

"Ini, kalau tidak salah adalah racun kutukan Daresta di Duzel." Gumam Sebastian.

"Wah, rupanya kau tahu hal-hal seperti itu, tuan pelayan." Puji Undertaker.

" Daresta... apa itu?" Tanya Ciel.

"Daresta Di Duzel adalah racun kutukan yang didapat melalui sebuah ritual kegelapan. Rumor mengatakan bahwa ritual ini menggunakan manusia sebagai tumbal. Ritual kegelapan ini dilakukan untuk memuja kegelapan. Sebagai imbalannya, si pelaku ritual akan mendapatkan kekuatan ditandai dengan segel gaib yang tercetak di salah satu bagian tubuhnya. Kutukan ini dapat membakar jiwa orang yang dikenainya."

"Aku sangat tersanjung dengan pengetahuanmu itu, tuan pelayan. Kau memang bukanlah pelayan sembarangan." Puji Undertaker lagi, dan kali ini dengan sedikit menggoda.

"Tetapi, ritual ini tidaklah mudah. Ada beberapa tahapan yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang bersungguh-sungguh. Sedikit keraguan muncul, maka jiwamu akan terbakar. Menanggung kekuatan ini pun sangatlah sulit. Jika kau tidak bisa mengendalikan kekuatan ini, maka jiwamu akan terbakar." Kata Sebastian, menyambung penjelasannya.

"Itu berarti pelaku utamanya adalah pelaku ritual kegelapan itu?" Tanya Ciel, masih kurang yakin.

"Menurutmu?" Ucap Undertaker.

"Jadi tanda kutukan inilah yang sebenarnya membakar penghuni mansion Ainsworth..." Gumam Ciel sambil memandangi mayat pelayan keluarga Ainsworth. Ia lalu teringat sesuatu. "Tunggu! Kenapa di dalam dokumen kasus, hal ini tidak dilaporkan? kau bilang Yard yang mengevakuasi para korban. Tapi kenapa..."

"Karena itu perintah Ratu" Potong Undertaker.

Ciel tercengang.

"Ratu memerintahkan agar kasus ini ditutupi sebagian. Ini adalah kasus okultisme tingkat tinggi. Itu akan membangkitkan kepercayaan penduduk Britania Raya akan hal-hal gaib dan ketakutan akan hal tersebut akan tinggi pula. Ratumu tidak ingin London dilanda keresahan hebat akibat kasus ini. Jadi pihak atas membuat skenario yang lebih umum : mati akibat pembantaian orang jahat" Sambung Undertaker.

"Tetapi, kenapa Ratu tidak memberitahuku?" Tanya Ciel, lebih ditujukan pada dirinya sendiri.

"Ada dua kemungkinan. Namun, kedua kemungkinan memiliki alasan yang sama. Itu karena kau adalah Anjing Penjaga Ratu." Bisik Undertaker pada telinga Ciel.

Undertaker lalu berlalu dari hadapan Ciel. Ia pergi mengambil setoples kue berbentuk tulang di meja yang ada di belakangnya.

"Yah, kebakaran itu tidak membunuh siapapun. Itu hanya usaha si pelaku untuk melenyapkan bukti. Atau mungkin hanya sebagai pemanis. tinya seluruh penghuni mansion itu mati dalam keadaan yang sama..." ucap Undertaker.

"Lalu, bagaimana dengan Countess dan putranya?" Tanya Ciel tergugah.

"Aduuh, kau ini tidak sabaran ya. Tunggu dulu, aku belum selesai berbicara. Semuanya, kecuali anggota keluarga." Timpal Undertaker. Ciel dan Sebastian tediam.

"Putra tertuanya tertimpa reruntuhan bangunan saat hendak menyelamatkan ibu dan adik perempuannya. Sementara Sang Nyonya bunuh diri dengan menusukkan pisau ke rongga dadanya. Sementara putri bungsunya,, aku yakin kau tahu statusnya." Sambung Undertaker.

"Lalu bagaimana dengan Putra tertuanya? Apakah benar jasadnya menghilang setelah dimakamkan?" Tanya Sebastian.

"Sejak awal jenazahnya memang tak pernah ditemukan." Jawab Undertaker. Ciel dan Sebastian kembali terkejut.

"Apa maksudmu?" Tanya Ciel.

"Yang datang padaku hanya jenazah para pelayan dan Countess Ainsworth saja. Makam putra Ainsworth itu palsu. Ada seseorang yang memintaku untuk membuatkan upacara pemakaman untuk Cedric Ainsworth." Jawab Undertaker."

"Siapa orang yang memintamu itu?" Tanya Ciel.

"Mana aku tahu. Itu bukan urusanku. Lagi pula, ia menutupi seluruh tubuhnya dengan pakaian serba hitam. Dia sangat menarik. Benar-benar misterius. Hmmm…." Jawab Undertaker sambil tersenyum membayangkan pria yang ia maksud. Ciel kembali mengeluarkan sweatdrop.

"Apa dia memang sudah mati?" Tanya Ciel, lagi.

Undertaker hanya mengangkat bahu dan kedua tangannya sambil tersenyum.

"Berarti, ada kemungkinan dia masih hidup?" Tanya Sebastian.

"Entahlah. Belum tentu juga dia masih hidup." Jawab Undertaker.

Ciel termenung. Ia terus memutar otaknya "Lalu, kronologisnya bagaimana?"

" Mana aku tahu. Tanyakan saja pada putrinya sendiri. Dia yang lebih tahu." Ucap Undertaker, sambil memakan beberapa kue miliknya.

"Kau tahu dia ada dimana?" Tanya Ciel.

"Aku ini petugas pemakaman, bukan tukang pos atau polisi jalanan." Timpal Undertaker.

"Err... baiklah." Tukas Ciel, sambil berjalan menuju pintu keluar

"Kami pamit dulu." Ujar Sebastian.

"Earl..." Sahut Undertaker, menghentikan langkah Ciel. Ciel hanya melirik ke arah Undertaker yang sedang duduk sambil menyatap kuenya.

"Segera, cahaya matahari perlahan akan menghilang. Dan sekali lagi, malam akan datang." Ucap Undertaker. Ciel tidak menanggapi. Ia lansgsung pegi ke luar, di ikuti Sebastian di belakangnya.

"Hati-hati di jalan. hihihi..."

-ooo0ooo0ooo-

Ciel yang baru keluar dari toko Undertaker berjalan ke arah kereta kuda yang sudah menunggunya. Sebastian membukakan pintu kereta untuknya. Ciel menghentikan langkahnya saat hendak masuk ke dalam kereta kuda.

"Sebastian. Cari dimana Hildegard Ainsworth sekarang tinggal. Lalu, kumpulkan data orang-orang yang mendalami okultisme dan memiliki kemampuan spiritual di sekitaran London. Setelah itu, lekaslah pulang dan buatkan aku teh herbal dan obat sakit kepala."

"Yes, My Lord..."

To be Continued...