When the Darkness Falling in Love
Part 4
Langit London sore ini terlihat mendung. Tak sedikit pun cahaya matahari menyelinap dari balik awan hitam yang sedih itu. Hanya saja, London masih ramai seperti biasanya.
Ciel tengah termenung di atas kursinya yang hangat. Ia terus memandangi kota London yang mulai diguyur hujan dari dalam town house-nya. Secangkir teh yang terhidang di mejanya tak sedikit pun ia sentuh.
Tak lama kemudian Sebastian pun datang dengan tubuh yang basah kuyup.
"Kau lama sekali, Sebastian!" Tukas Ciel.
"Maafkan saya. Butuh waktu sedikit lama untuk mrngumpulkan datanya. Dan, saya mohon maaf karena saya belum mendapatkan informasi dimana Hildegard sekarang tinggal." Lapor Sebastian. Ciel pun mrngangguk perlahan. Sebastian melirik ke arah meja di samping Sebastian. Secangkir teh di atas meja itu menarik perhatian Sebas.
"Tuan muda, apa itu?" Tanya Sebastian sambil menunjuk cangkir tehnya.
"Tentu saja itu teh. Memangnya kau pikir itu apa?" Jawab Ciel kesal.
"Siapa yang membuatnya?"
"Karena kau lama, aku membuatnya sendiri." Ciel mulai geram. Sebastian menarik nafas panjang.
"Kenapa anda tidak menunggu saja? Ya ampun, tuan muda memang tidak sabaran, ya." Ujar Sebastian. "Lalu kenapa anda tidak meminumnya?"
Ciel tidak menjawab. Ia putar badannya menghadap jendela. Sebastian mengambil cangkir itu, lalu meneguk sedikit teh di dalamnya.
"Apa ini?" Tanya Sebastian, kini dengan suara yang lebih dingin dan dalam.
"Itu teh." Jawab Ciel.
Sebastian menyimpan cangkir itu kembali di atas meja. "Pantas saja ini dibiarkan sampai dingin. Itu adalah teh terburuk yang pernah ada. Ah, bukan. Itu tidak lain hanya jus daun kering yang pahit." Katanya.
"Semua teh memang berasal dari jus daun kering, kan?" Gumam Ciel, sangat kesal.
"Huuh... Akan saya buatkan teh herbal." Ucap Sebastian.
Ciel menggebrak meja yang ada di sampingnya, lalu berdiri dari kursinya.
"AGKH! MASA BODOH DENGAN JUS DAUN KERING ITU! LAPORKAN SAJA APA YANG KAU DAPAT DARI INVESTIGASIMU YANG LAMA ITU!" Seru Ciel dengan sangat kesal.
"Hmmm... Baiklah." Kata Sebastian sambil tersenyum. Sementara Ciel terus menepuk dahinya.
"Saya telah mengumpulkan semua data para ahli okultisme, peramal, dukun, exorcist, cenayang, dan mereka yang berkemampuan seperti itu." Sebastian mengeluarkan 3 buah gulungan berukuran besar. "Michael J Clington, salah satu spiritualis yang kutemui mengatakan kalau ritual itu tidak sembarang orang bisa melakukannya. Ada satu kasus dimana seorang okultis yang tidak diketahui namanya pernah melakukan percobaan ritual itu dua tahun yang lalu, namun ia gagal dan jiwanya terbakar. Padahal ia terkenal sebagai salah satu okultis yang sangat hebat." Jelasnya.
Ciel termenung. Ia terlihat berpikir keras. Kasus ini benar-benar merepotkan, pikirnya.
"Ternyata memang tidak bisa jika tanpa kunci dari kasus ini. Kita harus menemukan Hildegard terlebih dahulu." Ucap Ciel.
Sebastian tersenyum. "Jadi, apa perintah anda?"
Ciel berbalik. Kini ia berhadapan dengan Sebastian.
"Kita temukan Hildegard, lalu kita selesaikan semuanya."
Sebastian kembali tersenyum. Ia lalu membungkuk di hadapan Ciel.
"Yes, My Lord.."
~ooo0ooo0ooo~
Ciel dan Sebastian berjalan di tengah keramaian East End. Mereka kembali ke jalan dimana mereka bertemu Hildegard tadi pagi. Mereka pun terus mencari gadis cantik itu.
"Tuan Muda,," Tanya Sebastian sambil terus mengikuti Ciel dari belakang.
"Apa?"
"Seharusnya kita mencari tahu terlebih dahulu dimana ia sekarang tinggal. Dengan begitu akan lebih mudah."
"Ah, sudahlah! Ikuti saja aku.!" Timpal Ciel kesal.
"Tetapi, Tuan Muda, East End kan luas..."
"Berisik! Turuti saja aku!" Teriak Ciel makin kesal. Saking kerasnya suara Ciel, orang-orang di sekitar pun memberikan perhatiannya kepada Ciel.
"Baik." Ucap Sebastian. "Kenapa Tuan Muda jadi sensitif sekali?" Batinnya.
Tak lama kemudian, Ciel pun melihat Hildegard di sudut jalanan, masih dengan penampilan yang sama dengan keranjang yang sama yang ia bawa.
"Itu dia!" Ujar Ciel. "Kita ikuti dia."
Ciel dan Sebastian pun mengikuti Hildegard. Tak sedikit pun mereka melepaskan pandangan mereka pada gadis yang membuat Sebastian tersipu.
Penguntitan mereka pun akhirnya berujung di sebuah toko roti yang tidak terlalu besar bernama "Collin Bakery". Hildegard masuk ke dalam toko itu. Ciel dan Sebastian pun mengikuti Hildegard.
"Ah, selamat datang, Tuan!" Sambut seorang wanita paruh baya ketika Sebastian dan Ciel masuk.
Hildegard yang berdiri di depan wanita itu menoleh ke arah pintu. "Kalian?" Hildegard terkejut. Ia dipertemukan kembali dengan Ciel dan Sebastian yang ia jumpai lewat suatu insiden kecil.
"Ah, Hildie, rupanya kau kenal mereka. Apa mereka pelanggan yang selalu meminta antarkan rotinya pada kita?" Kata Wanita itu dengan nada girang.
"Kami datang bukan untuk membeli roti." Ucap Ciel. "Kami datang ingin berbicara denganmu, Hildegard Ainsworth." Kata Ciel sambil menunjuk Hildegard.
Hildegard dan Wanita yang bersamanya terkejut.
"Apa yang kau inginkan dari keponakanku?" Tanya wanita yang fernyata adalah bibi Hildegard dengan ketus dan setengah berteriak.
"Bibi, tenang dulu. Tadi aku bertemu mereka di jalan. Salah satu pelayannya menabrakku." Ucap Hildegard, mencoba menenangkan bibinya.
"Jadi, mereka ke sini untuk meminta maaf?"
"Tidak. Kami sudah cukup meminta maaf tadi. Kami hanya ingin berbicara." Timpal Ciel. "Ini tentang kasus pembunuhan keluarga Ainsworth."
Hildegard dan Bibinya nampak sangat terkejut. Mereka tak menyangka seorang bocah kecil yang tidak ada hubungannya baik dengan mereka maupun dengan kejadian itu tiba-tiba ingin membicarakan tentang kejadian mengerikan yang menimpa keluarha keponakannya.
"Bicara apa kau? Memangnya kau ini siapa? Anak kecil sepertimu tahu apa soal insiden itu? Sebaiknya kalian pergi saja!" Amuk bibi Hildegard.
"Justru itu, kami tidak tahu apa-apa. Kami bermaksud mencari tahu." Ucap Ciel.
Sebastian maju ke hadapan Hildegard dan bibinya.
"Permisi sebentar. Maafkan atas kelancangan kami. kami hanya ingin berbicara dengan keponakan anda." Kata Sebastian, sambil melirik ke arah Hildegard.
Hildegard dan bibinya saling memandang. Terlihat Hildegard mengangguk perlahan setelah beradu tatapan dengan Sebastian.
"Baiklah. Tapi kalian jangan macam-macam dengan Hildie." Ujar bibi Hildegard.
Sebastian tersenyum.
To be continued...
