When the Darkness Falling in Love
part 5
Di tengah ruang tamu rumah keluarga Higgins, Ciel, Sebastian dan Hildegard duduk di atas sebuah sofa tua dengan teh dan kue kering tersaji di atas meja. Ciel terus memandang Hildegard yang terlihat kebingungan.
"Kenapa seorang gadis bangsawan sepertimu berada di rumah kecil seperti ini?" Tanya Sebastian, memecah kesunyian yang tak lama ini terjadi.
"Ma... mau bagaimana lagi? Hanya ini sekarang yang kupunya. Dan, kenapa kalian bisa tahu kalau aku bukan gadis biasa?" Timpal Hildegard.
"Kau tidak perlu tahu hal itu. Sekarang jawab, kenapa kau bisa berada di sini?" Tukas Ciel dingin.
"Sudah kubilang, hanya ini sekarang yang kupunya. Keluargaku yang masih tersisa." Jawab Hildegard dengan wajah yang lesu.
Sebastian yang duduk di samping Ciel beranjak. Ia kemudian menghampiri Hildegard yang duduk di seberangnya. Sebastian pun mengambil tempat duduk di samping Hildegard yang nampak murung.
"Tuan muda, bukan begitu caranya memperlakukan gadis yang sedang bersedih. Seharusnya anda lebih lembut lagi " Ucap Sebastian sambil melirik Hildegard. Rona merah di wajah Hildegard yang timbul setelah ia mendengar ucapan Sebastian membuatnya terlihat manis. "Tolong jangan tegang seperti itu, nona. Kami bukanlah penjahat. Kau aman bersama kami. Dan sekarang, bisakah anda menceritakan semuanya?" Ucap Sebastian pada Hildegard dengan menyunggingkan senyum manisnya.
"Pemilik toko roti ini, pamanku, adalah kakak dari ibuku. Ibuku berasal dari keluarga penjual roti." Ucap Hildegard.
Terdengar suara seseorang merintih kesakitan. Seluruh mata yang ada di ruangan itu tertuju pada tempat asal rintihan itu datang. Nyonya Higgins, bibi Hildegard tersenyum malu. Ia terjatuh saat menguping pembicaraan mereka.
"Apa yang bibi lakukan?" Tanya Hildegard.
"A... aku hanya mengawasi, aku takut mereka melakukan hal yang buruk padamu." Kata wanita paruh baya itu.
"Maafkan saya, nyonya. Tetapi jika anda ingin ikut dalam pembicaraan, anda boleh bergabung. Menguping pembicaraan orang lain itu tidak baik." Ujar Sebastian
Nyonya Higgins pun duduk di samping Hildegard. Sebastian berdiri dan kembali ke tempat duduknya semula.
"Kalian belum memberitahuku siapa kalian." Gumam nyonya Higgins.
Ciel menghela nafas. Sebelum hendak bersuara, Sebastian menyelanya terlebih dahulu. "Tuan muda saya ini adalah Ciel Phantomhive, kepala keluarga Phantomhive."
Hildegard dan bibinya terkejut.
"Oh, astaga! Phantomhive pemilik perusahaan mainan no. 1 itu?" Ujar bini Hildegard masih tak percaya. "Ma... maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu."
Ciel kembali menghela nafas. Sementara Sebastian hanya tersenyum.
"Sudahlah. Jadi, nyonya Higgins, kau adalah kakak dari nyonya Ainsworth?" Tanya Ciel.
"Helena adalah adik iparku. Dia adik suamiku, Simon." jawab nyonya Higgins
"Pernikahan antara si miskin dan si kaya tidak hanya terjadi di negeri dongeng saja, nak. Hal itu bisa saja terjadi di dunia nyata. Helena adalah perempuan yang beruntung karena mendapatkan seorang pangeran. Ia telah mewujudkan sebuah dongeng." Ujar nyonya Higgins, setengah mengoceh. Mendengar kata "nak" dari mulut nyonya Higgins membuatnya sedikit... risih.
"Earl Ainsworth menikahi Helena yang ia temui saat ia menghadiri acara amal di taman kota. Saat itu Helena yang sedang berjalan melewati taman untuk mengantar roti dihadang para penjahat dan dibawa ke tempat sepi. Saat itu pula, Earl Ainsworth tiba-tiba datang menolong. Helena sendiri yang menceritakannya padaku. Sejak saat itu, Earl Ainsworth sering datang ke toko dan akhirnya menikahi Helena." Tutur nyonya Higgins.
Ciel kembali termenung. Ia tidak mengeluarkan kata sedikitpun.
"Um, nyonya Higgins, saat ini anda bisa dikatakan sebagai wali dari nona Hildegard. Kami ingin minta izin untuk menetap sementara di sini untuk mencari tahu jawaban dari serangkaian misteri yang telah terjadi." Ujar Sebastian. Ciel tertohok. Bisa-bisanya ia memutuskan sesuatu tanpa persetujuan tuan mudanya.
"Sebastian! Apa yang kau..."
"Saat ini bahaya jika kita secara terang-terangan menunjukkan bahwa kita sedang menyelidiki kasus ini. Dan, kita tidak boleh membiarkan nona Hildegard keluar terlalu jauh. Itu bisa membahayakan dirinya, mengingat dirinya mungkin masih diincar para penjahat itu. Lagi pula, kita sudah menemukan kunci dari kasus ini." Tutur Sebastian. Ia kemudian melirik nyonya Higgins. "Saya harap anda mengizinkan kami untuk tinggal sementara."
untuk beberapa saat, nyonya Higgins terdiam. Ia pun menganggukan kepalanya tak lama kemudian. "Kami akan sangat senang menerima kalian. Tapi, rumah ini terlalu kecil dan sederhana untuk bangsawan seperti Earl. Apa tidak apa-apa?"
"Tidak masalah." Jawab Ciel agak dipaksakan. Mungkin ia masih kesal dengan keputusan Sebastian.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan tempat untuk kalian." Nyonya Higgins meninggalkan kedua tamu dan keponakannya.
Ciel memandangi Hildegard yang tertunduk. "Baiklah, sebenarnya, apa yang terjadi pada malam itu?" Tanya Ciel.
Hildegard menarik nafas panjang. "Aku... tidak ingat persisnya seperti apa. Kejadian itu begitu tiba-tiba dan..." Hildegard menitikan air mata tanpa disadarinya. "Yang kulihat waktu itu..." Hildegard kembali menghentikan ucapannya dan kembali meneteskan air mata.
Ciel terlihat bosan. Ia sudah tidak sabar mendengar semua petunjuk dari Hildegard. "Lalu, apa lagi?" Tanyanya.
"Kumohon, berikan waktu untukku sebentar saja untuk mengingat semuanya. Jika kalian benar-benar ingin membantu untuk mrnyelesaikan semua ini, aku pun tak kan segan untuk membantu kalian." Ucap Hildegard dengan semangat di balik wajah sedihnya.
Ciel memalingkan wajahnya. Membantu menyelesaikan kasus ini? Sepertinya itu bukan kalimat yang tepat untuknya.
"Tolong jangan memaksa Hildie untuk mengingat kejadian itu terlalu jauh. Saya khawatir itu hanya menambah beban psikisnya. Selain itu Hildie memang agak pelupa." Timpal Nyonya Higgins yang datang membawa makanan tambahan.
"Tidak, bibi! Aku ingin membantu mereka. Kalau ingatanku itu bisa membantu mereka, maka aku akan berusaha keras." Tukas Hildegard.
"Kalau begitu aku akan menanyaimu. Kenapa Hildegard yang dinyatakan hilang bisa berada di sini, di rumah keluarga ibunya?" Tanya Ciel.
"Saat itu malam pukul 11, suamiku terbangun. Ia lupa menyimpan sepedanya ke dalam rumah. Saat keluar, ia melihat Hildie terbaring di depan pintu dengan keadaan yang tidak beres. Itu terjadi sekitar 3 hari setelah kejadian buruk itu menimpa keluarga adik iparku." Tutur Nyonya Higgins dengan wajah yang pilu. "Kami sangat bersyukur, walaupun hanya Hildie yang selamat." Sambungnya.
Ciel tertegun. apa yang dikatakan nyknya Higgins sama dengan apa yang dikatakan Madame Red padanya setelah ia kembali dalam keadaan masih hidup. Ingatan tentang masa lalu Ciel kembali memutari otaknya. Rasa syukur yang terdalam dari keluarga yang dicintai membuat kita serasa pulang ke rumah setelah perjalanan yang sangat jauh. Kalimat yang keluar dari mulut seorang bibi yang menemukan keponakan tercintanya... Saat itu Ciel sangat ingin menutup telinganya dan berteriak sekencang-kencangnya.
"Kami memutuskan untuk 'menyembunyikan' Hildie, karena kami takut ia masih menjadi incaran para penjahat itu." Sambung nyonya Higgins.
"Lalu, apa kau tahu sesuatu mengenai kasus hilangnya Earl Ainsworth?" Tanya Ciel drngan nada yang tidak seperti yang biasa ia keluarkan. Tidak ada gairah. Mungkin karena flashback selama beberapa saat yang baru saja ia alami.
"Aku tidak tahu. Aku sendiri terus bertanya-tanya kemana perginya Eddie." Kata nyonya Higgins.
"Eddie?"
"Ah, maksudku Edgar. Earl Edgar Ainsworth."
Ciel termenung, seperti mencurigai sesuatu. "Kalian sepertinya sudah sangat dekat."
"Tentu saja. Dia adik iparku." Timpal nyonya Higgins. "Ah, tapi..." ucap nyonya Higgins. Perhatian Ciel, Sebastian, dan Hildegard kini tertuju pada wanita dengan wajah yang ramah itu.
"Ada apa, nyonya?" Tanya Sebastian.
"Beberapa hari sebelum ia menghilang, ia sempat datang ke toko dan mengobrol dengan suamiku." tutur nyonya Higgins.
"Apa yang mereka bicarakan?" Tanya Ciel penasaran.
"Aku tidak tahu." Jawab nyonya Higgins. "Kalaupun tahu, mungkin aku sudah lupa. Itu sudah satu tahun yang lalu." Sambungnya
"Lalu, sekarang dimana tuan Higgins." Kini Sebastian yang bertanya.
"Dia sedang pergi ke Cambridge. Dia baru akan pulang besok." Jawab nyonya Higgins. "Ah, maafkan aku. Tapi aku harus pergi ke toko. Jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa meminta Hildie." Ucap nyonya Higgins yang kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga.
Suasana sunyi seketika. Ciel tidak menanyai Hildegard lagi, dan Sebastian hanya memandangi Hildegard. Tak sedikit pun pandangannya teralihkan.
Ciel beranjak dari tempat duduknya. Ia menghampiri sebuah meja kecil di sudut ruangan. Sebuah bingkai foto menarik perhatiannya.
Terlihat tujuh orang terlukis di dalam foto tersebut. Helena Ainsworth dan nyonya Higgins duduk berdua di atas sebuah sofa. Lalu di belakang Helena, seorang pria gagah dengan tubuh yang tinggi tegap dan wajah yang dingin dan tampan berdiri, berdampingan dengan pria berjanggut tipis yang juga terlihat gagah, namun sedikit lebih tua, yang berdiri tepat di belakang nyonya higgins. Jadi ini Earl Ainsworth dan tuan Simon Higgins, Ciel berpikir seperti itu. Lalu di samping Countess Ainsworth, seorang pemuda gagah dan tampan berdiri dengan wajah yang baru-baru ini ia kenali, Cedric Ainsworth, berdampingan dengan Hildegard. Dan seorang pemuda sebaya dengan Cedric dengan seragam angkatan darat berdiri di samping nyonya Higgins di sebelah kanan.
"Foto keluarga ya?" Gumam Ciel. "Siapa lelaki berseragam militer ini?" Tanya Ciel.
"Oh, itu kak Maxine, putra paman dan bibi, kakak sepupuku." Jawab Hildegard.
Ciel termenung. "Kapan foto ini diambil?" Tanyanya lagi.
"Dua tahun yang lalu, saat kak Max diterima di angkatan darat." Jelas Hildegard. "Ini adalah foto keluarga besar pertama ibu setelah ia menikah. Ibu bilang padaku, walaupun sekarang ini ia adalah seorang bangsawan, tetapi ia tidak ingin melupakan dari mana dia berasal." Sambungnya dengan sedikit senyum ia sunggingkan
Ciel dan terdiam. Sebastian menghampiri Hildegard yang tersenyum, namun dengan air mata mengalir di pipinya.
"Anda pasti teringat sosok mendiang ibu anda." Ucap Sebastian.
Hildegard mengangguk. "Ia. Aku sangat merindukannya." Isaknya.
Sebastian menyeka air mata Hildegard. Ia pun tersenyum. Bukan senyuman 'mesum' yang biasa ia keluarkan untuk membuat para wanita menjerit, melainkan sebuah senyuman hangat yang menenangkan hati.
"Nona tidak boleh terus bersedih. Jika kau terus bersedih seperti itu, ibu, kakak, dan bahkan ayah nona akan sedih melihat nona. Nona pasti tidak mau membuat mereka sedih, kan?" Ucap Sebastian pelan. "Berjanjilah anda tidak akan bersedih lagi."
Hildegard tersenyum, walau sedikit agak dipaksakan. Walaupun begitu, ia terlihat manis. "Terima kasih, Tuan Sebastian." Ucapnya lembut dengan senyuman yang lebih tulus.
Sebastian tertegun. Perasaan aneh itu kembali ia rasakan. Seperti sesuatu telah menusuk hatinya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia pun terdiam, sambil terus bertanya-tanya dalam hatinya "apa yang terjadi padaku?". Ini sama sekali tidak sama seperti ketika ia merayu dan menggoda para wanita. Kesannya tidak pernah sampai pada gadis bangsawan Ainsworth itu. Namun, seolah Hildegard mengembalikan apa yang ia sampaikan dengan sesuatu yang 'hangat'.
"Ah, panggil saja saya Sebastian." Ucapnya agak gagap.
Ciel terlihat murung. Ia tahu ada yang aneh dari Sebastian. Bibir kecilnya menekuk ke bawah. Ia pun beranjak dari tempat duduknya, dan mulai berjalan meninggalkan ruangan.
"Ciel, kau mau kemana?" Tanya Hildegard.
"Aku lelah. Aku ingin beristirahat. Beritahu aku kalau kau sudah mengingat semuanya." Jawab Ciel dengan nada dingin. Ia pun meninggalkan Hildegard dan Sebastian yang kebingungan.
~ooo0ooo0ooo~
Malam itu langit tampak cerah. Bulan dan bintang tampak jelas menghiasi langit malam kota London yang sibuk. Hujan tak turun hari ini. Namun, segumpal awan hitam mulai menyelimuti, sedikit demi sedikit.
Makan malam di kediaman Higgins yang sederhana telah usai. Menu makanan yang tadi terhidang mrmang bukanlah makanan kelas atas seperti yang biasa Ciel santap di mansionnya, dan Hildegard juga, mungkin. Namun, sang koki telah menghidangkan makanan sederhana bercita rasa kelas tinggi. Tak ada campur tangan dari Sebastian. Nyonya Higgins tidak mau tamunya bekerja. Dan masakannya benar-benar memuaskan.
Nyonya Higgins dibantu Hildegard dan Sebastian membereskan meja makan, sementara Ciel langsung pergi ke kamarnya. Setelah selesai di ruang makan dan dapur, Sebastian menunggu nyonya Higgins dan Hildegard masuk kamar, lalu menyusul Ciel ke kamarnya.
"Tuan Muda?" Sahut Sebastian setelah mengetuk pintu kamar Ciel. Ia pun kemudian masuk ke dalam kamar Ciel.
Ciel tengah terduduk di atas ranjangnya yang kecil. Sebastian membuka lemari dan menyiapkan piyama untuk tuannya. Ia pun kemudian menghampiri Ciel dan memakaikan piyama itu padanya.
Ciel menatap Sebastian sebal. Sebastian yang sedang mengancingkan baju tuannya itu kini nampak kebingungan.
"Ada apa, Tuan muda?" Tanya Sebastian.
"Kau yang ada apa?" Ketus Ciel. Sebastian terlihat semakin kebingungan.
"Apa maksud anda?"
"Kenapa kau bertindak semaumu? Kau memutuskan untuk tinggal sementara di sini tanpa meminta persetujuan dariku terlebih dahulu." Ciel mulai ngambek.
"Maafkan saya, Tuan muda. Tapi ini demi kepentingan investigasi. Saya telah mempertimbangkan ini dengan sangat matang."
Ciel memalingkan wajahnya. Ia benar-benar marah. Sebastian yang melihat tingkah tuannya itu hanya menahan tawa. Ciel benar-benar terlihat tsundere
"Selain itu, hari ini anda terlihat lebih pendiam." Ucap Sebastian yang telah selesai memakaikan piyama pada Ciel.
Ciel menarik nafas panjang. Ia terlihat lebih rileks, tidak seperti sesaat yang lalu saat ia sedang marah.
"Tadinya kupikir aku akan mendapatkan banyak informasi setelah bertemu dengan Hildegard Ainsworth. Namun ternyata..." Ciel melirik Sebastian tajam. Sebastian hanya terdiam. "Dari tadi aku terus mencari petunjuk dari semua cerita Hildegard maupun nyonya Higgins." Sambungnya sambil membuang nafas. "Aku merasa sedikit risih saat tahu bahwa Countess Ainsworth berasal dari keluarga pembuat roti. ditambah lagi dengan kedekatan keluarga Ainsworth itu sendiri dengan keluarga pihak perempuan."
"Kenapa anda berpikir seperti itu?" Tanya Sebastian.
"Sebenarnya sah-sah saja jika seorang bangsawan laki-laki menikahi gadis biasa. Namun, peraturan masyarakat kalangan atas menyebutkan bahwa seorang bangsawan harus menikah dengan bangsawan lagi. Hal seperti itu memang sudah kuno. Selain itu, etika pergaulan masyarakat kelas atas dengan masyarakat kalangan menengah ke bawah pun dibatasi. Dan sepertinya Earl Ainsworth telah menghancurkan batasan-batasan itu." tutur Ciel. "Yah, perkataanku barusan itu hanyalah omong kosong. Lagi pula, hal itu hanyalah sebuah pemikiran kuno."
Sebastian menghela nafas. Ia tahu bahwa Ciel masih kesal untuk sesuatu yang ia sendiri tidak pahami. Ia pun menghampiri Ciel yang sudah naik ke atas tempat tidur, lalu memakaikan selimut untuk Ciel.
"Sebastian." Seru Ciel.
"Iya, tuan muda?"
"Apakah iblis bisa jatuh cinta?" Tanya Ciel. Sebastian tertegun mendengar kalimat sederhana yang keluar dari mulut tuan mudanya itu.
"Kenapa anda bicara seperti itu?" Tanya balik Sebastian.
"Tidak. Tidak apa-apa." Gumam Ciel. "Sebastian, kau sudah terlihat dekat dengan Hildegard. Walaupun aku tak suka, gunakan pendekatan yang biasa kau lakukan pada setiap perempuan untuk menggali informasi darinya." Ujar Ciel.
"Maaf, tuan muda. Saya tidak bisa." Gumam Sebastian. Ciel yang sudah dalam posisi untuk tidur terperanjat.
"Apa maksudmu tidak bisa?" Tanya Ciel dengan nada membentak.
"Saya sudah mencobanya. Sejak pertama kali datang ke sini, saya sudah mencobanya. Namun entah kenapa, sepertinya saya gagal. Ia terlihat seperti sudah menangkap kesan saya, tapi, seolah kesan itu ia kembalikan." Tutur Sebastian.
"Cih!" Desah Ciel.
"Saya bahkan telah mengeluarkan daya pikat iblis untuknya. Tetapi , anehnya itu tidak berhasil." Ucap Sebastian. Ia pun tiba-tiba tersenyum. "Dia benar-benar gadis yang menarik." Sebastian tersenyum.
Saat ia melirik Ciel, ia sudah tertidur. Atau mungkin lebih tepatnya pura-pura tidur.
"Ah, baiklah. Selamat malam, Tuan muda." Ucap Sebastian seraya meninggalkan kamar Ciel dengan senyuman, atau mungkin menahan tawa.
Saat sebastian keluar dari kamar Ciel, ia mendengar isakan seorang gadis di sebuah ruangan tak jauh dari kamar Ciel. Ia ikuti suara itu. Awan hitam yang berjalan kini berkumpul di atas langit London dan mulai menurunkan setetes air, dua tetes, hingga banyak tetesan air turun dengan deras. Hujan yang lebat. Sayup-sayup suara isakan gadis itu mulai tak terdengar, terkalahkan oleh suara air yang turun dengan deras dari atas langit. Sebastian berjalan semakin mendekat ke ruangan itu. Ia buka pintu ruangan itu. Tak terkunci. Tak ada cahaya yang menerangi ruangan itu. Ia pun masuk secara perlahan. Kini isakan itu kembali terdengar. Ia mencari di mana sumber suara itu. Ia melihat seseorang duduk di sudut ruangan. Saat ia mendekat...
"Ah, siapa itu?" Tanya orang itu dengan setengah berteriak. Suaranya sudah tidak asing lagi bagi Sebastian. Ia semakin mendekat untuk memastikan.
"Nona Hildegard?" Sebastian melihat Hildegard yang terduduk di sudut ruangan dengan mata yang sembap.
"Sebastian? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Hildegard kembali sambil mengusap air matanya.
"Maafkan saya yang lancang masuk ke kamar anda. Saya mendengar suara tangisan dari kamar anda. Saya khawatir terjadi sesuatu." Jawab Sebastian. Ia lalu membungkuk, mencoba untuk lebih dekat dengan Hildegard.
"Ah, maafkan aku. Aku sudah mengganggu tidur kalian." Ucap Hildegard merasa bersalah.
Sebastian tersenyum. Ia kemudian duduk di samping Hildegard. "Tidak. Saya kemari karena saya mengkhawatirkan anda." Ucapnya. "Kenapa anda menangis?"
Untuk sejenak, Hildegard terdiam.
"Ah, tidak apa-apa jika anda tidak ingin mengatakannya. Tetapi, saya mohon, jika ada sesuatu yang ingin anda ceritakan, saya bersedia untuk mendengarkan anda." Ucap Sebastian lembut.
Hildegard menarik nafas panjang. Nampak wajahnya penuh dengan keluh kesah. Sebastian terus memandanginya. Ia tidak terlihat seperti seorang gadis ceria yang ia temui pertama kali di jalanan East End. Tidak ada keceriaan yang terlukis di wajahnya. Hanya ada awan kesedihan yang kini menyelimutinya.
"Sebastian... aku takut.." Gumam Hildegard.
Sebastian tersenyum. "Anda tidak usah takut. Saya akan menemani anda jika anda mau." Ucapnya manis.
Cahaya putih bersinar dari langit London. Kilatan petir menyambar bumi Britania. Suaranya yang menggelegar terdengar sangat keras bagaikan bom yang meledak.
"KYAAA!" Hildegard berteriak ketakutan. Dengan refleks ia memeluk Sebastian yang berada di sampingnya. Ia menyelinap masuk ke dalam dekapan Sebastian. Dalam beberapa saat, Hildie tertahan dalam rangkulan Sebastian, hingga beberapa saat kemudian Hildegard pun menatap wajah Sebastian, begitu pun sebaliknya. Mereka pun saling memandang dengan rona merah di pipi mereka masing-masing.
"Ah... Anu..."
To be continued
