"Aaahh... maafkan saya!" Hildegard berusaha melepaskan diri dari dekapan Sebastian.

"Tidak apa-apa. Petir tadi pasti sudah sangat mengagetkan anda." Timpal Sebastian, kembali dengan senyumannya yang manis.

Hildegard kembali tertunduk. Di tengah kegelapan malam yang menyelimuti seluruh ruangan, seorang gadis muda yang cantik kembali menumpahkan kristal bening dari matanya. Sebastian yang kebingungan pun hanya bisa menenangkan Hildegard yang kini terlihat tidak baik.

"Nona, saya mohon, saya tidak ingin melihat anda terus berada dalam kondisi seperti ini." Ucap Sebastian setengah berbisik.

Hildegard tidak menjawab. Ia hanya memegangi lengan baju Sebastian dengan erat sambil terus terisak.

"Menakutkan" Gumam Hildegard pada akhirnya, membuat Sebastian menjadi sedikit lebih lega. "Tuan Sebastian, tolong aku! Aku takut!"

Sebastian kembali tersenyum. Tak cukup dekat dengan Hildegard, ia pun terus mendekati Hildegard, dan akhirnya membawa Hildegard ke dalam dekapannya yang hangat di tengah ruangan yang tak sedikit pun cahaya yang menyinari mereka berdua.

"Tenang saja, Nona. Saya akan selalu ada di sisimu." Gumam Sebastian dengan penuh kelembutan.

Sepasang mata kecil mengintip di balik pintu ruangan, tampak tak senang dengan apa yang ia lihat di tengah kegelapan ruangan yang sesekali diterangi oleh kilatan cahaya dari langit yang menyambar.

~ooo0ooo0ooo~

Pagi yang cerah menyambut hari baru di kota London yang tak pernah lepas dari keramaian. Selain genangan air dan tanaman yang basah, tidak nampak sedikit pun jejak bahwa semalam London diguyur hujan yang amat deras disertai petir yang saling bersahutan.

Sebastian yang masuk ke kamar Ciel merasa terkejut mendapati bocchannya tidak berada di tempatnya.

"Tuan muda?" Sebastian mencari Ciel. Setelah Sebastian mulai panik, Ciel pun muncul di belakang Sebastian.

"Ada apa? Kau mencariku?" Tanya Ciel.

"Tuan muda." Sebastian berbalik. "Anda membuat saya kaget. Tuan muda dari mana? Pagi-pagi begini sudah keluyuran."

Ciel tidak menjawab. Ia masuk ke dalam kamar, lalu duduk di atas kasurnya.

"Semalam aku tidak bisa tidur. Tapi syukurlah, akhirnya aku bisa tidur juga." Ucap Ciel dengan nada yang datar.

Sebastian tersenyum. Ia menghampiri tuan mudanya, lalu menghidangkan teh pagi ala kadarnya.

"Jadi anda benar-benar cemburu?" Tanya Sebastian usil. Mendengar hal itu, Ciel langsung menyemburkan teh hangat yang baru ia minum.

"Bicara apa kau ini?" Tukas Ciel.

Sebastian tersenyum. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia kemudian menyiapkan baju dan lainnya untuk sang bocchan seperti biasanya.

"Sebastian..." gumam Ciel

"Iya, Tuan muda?"

"Aku mulai resah. Aku harap kau sudah mendapatkan sesuatu yang berguna."

Sebastian memasang raut wajah serius. Bagaikan hujan di musim panas, raut wajahnya berubah seketika menjadi lebih muram.

"Saya mendapatkan sesuatu. Sayangnya, hal ini sangatlah buruk."

~ooo0ooo0ooo~

Ciel dan Sebastian turun untuk sarapan. Sebelumnya Nyonya Higgins dengan cerewet meminta Ciel dan Sebastian turun untuk sarapan tepat pukul 07.30. Hildegard dan bibinya itu sudah standby di sana bahkan sebelum kedua tamunya turun. Dengan menu telur mata sapi, bacon dan hidangan yang sederhana, mereka bersantap dengan nikmat.

Selesai dengan sarapan, Tanpa Hildegard yang biasa membantunya, Nyonya Higgins langsung pamit untuk membuka toko. Sementara Hildegard yang ditugaskan menemani tamu mereka di rumah pergi untuk mengambil beberapa barang, Ciel dan Sebastian 'terkurung' di rumah keluarga Higgins.

"Tuan muda. Saya harap Tuan muda tidak terlalu memikirkan apa yang saya katakan tadi." Ujar Sebastian.

"Kenapa kau berkata seperti itu?"

"Dari tadi Tuan muda terlihat gelisah. Saya merasa khawatir."

"Kau meremehkanku?" Timpal Ciel. "Sebenarnya ada hal lain yang kupikirkan."

Ciel mengingat kembali apa yang dikatakan Sebastian tadi pagi.

-flashback-

"Saya mendapatkan sesuatu. Sayangnya, hal ini sangatlah buruk."

Ciel termenung, mencoba mencerna apa yang dikatakan Sebastian. Raut wajah Sebastian yang tidak biasa membuat Ciel semakin penasaran apa yang ditemukan oleh Sebastian.

"Sebastian, aku tidak peduli itu baik atau buruk. Yang ingin kudengar adalah temuanmu." Ujar Ciel.

Sebastian mengambil nafas panjang. Ia tidak segera menceritakan apa yang ia ketahui. Ia merogoh saku celananya dan membawa sesuatu, sebuah kalung dengan kristal berwarna ungu yang mirip dengan hope diamond milik Ciel, namun dengan bentuk yang berbeda.

"I... ini..." Ciel tertegun.

"Ini adalah kalung milik Nona Hildegard. Ini bukan seperti yang anda pikirkan. Saya tidak tahu kristal apa ini. Sepertinya hanya kristal biasa. Tapi..."

"Lupakan kalungnya. Aku harap semalam kau tidak hanya bersenang-senang." Potong Ciel dengan nada kesal.

Sebastian mendesis. "Tuan muda, tolong jangan cemburu. Lagi pula ini bukan situasi yang tepat."

"Aku tidak cemburu! Untuk apa aku merasa cemburu? Aku hanya tidak ingin kau menghabiskan waktumu dengan sia-sia. Ingat! Kasus ini tergolong kasus yang sangat sulit!" Tukas Ciel, dengan nada bicara yang lebih ditinggikan. Entah kenapa akhir-akhir ini Ciel sangat sentimen. Namun, hal itu hanya membuat Sebastian terkekeh kecil.

Sebastian kembali serius. "Tadi sampai mana saya bicara?"

"Entahlah." Timpal Ciel.

Sebastian tidak berbicara lagi, namun raut wajahnya menyiratkan bahwa ia seharusnya melakukan sesuatu. Ia kemudian membuka sarung tangan kirinya, lalu memegang kristal itu dengan tangan kosong. Ciel sangat terkejut ketika ia melihat tangan Sebastian seperti terbakar saat memegang kristal itu.

"Sebastian! kenapa tanganmu..."

"Yang saya ingin katakan, kristal ini memiliki kekuatan yang besar di dalamnya."

"Apa itu semacam jimat pelindung?"

"Entahlah. Tapi, ini bukanlah jimat anti iblis yang biasa saya temukan. Selain karena jimat ini sangat kuat, ada hal lain lagi."

Sebastian melepas sarung tangan sebelah kanannya menggunakan giginya. Ia kemudian memindahkan kristal yang ia genggam dengan tangan kirinya ke tangan kanannya. Tidak ada yang terjadi setelah Sebastian memindahkan kristal cantik itu. Ciel pun terlihat bingung.

"Seperti yang Tuan muda lihat. Kali ini tidak terjadi apa-apa." Ucap Sebastian.

"Tapi kenapa?" Tanya Ciel yang masih terlihat kebingungan, seperti seorang anak kecil yang melihat pertunjukan sulap di sirkus.

"Saat pertama saya memegangnya, saya mengeluarkan aura membunuh yang cukup kuat. Lalu kristal ini pun bereaksi. Tetapi saat saya memindahkan kristal ini ke tangan saya yang lain, saya tidak melepas ancaman apapun, dan kristal ini pun tidak bereaksi."

"berarti, kristal ini bereaksi hanya ketika ada ancaman yang datang mendekati si pemiliknya?"

Sebastian tersenyum, "Ya, tepat sekali."

Ciel terlihat sedang berpikir. Sebastian yang berdiri di sampingnya mencoba menerka apa yang Tuan mudanya pikirkan.

"Tuan muda," ujar Sebastian, "Lupakan dulu masalah kalung ini. Ada hal yang lebih penting lagi."

Ciel menengok ke arah Sebastian, menatapnya seperti seorang bocah yang memaksa ayahnya untuk membelikan permen yang ia lihat di toko yang baru saja ia lewati. Sebastian tidak berkutik sedikit pun. Wajahnya kini lebih serius.

"Kita hentikan saja penyelidikan kasus kali ini."

Ciel tertohok. Ia tidak menyangka pelayan setianya mengatakan hal yang baginya tidak masuk akal. Bibir mungil Ciel mulai gemetar. Tangannya yang kecil dengan refleks terangkat ke udara, lalu mendarat di pipi Sebastian dengan keras. Sebastian tak terusik sedikit pun. Sepertinya ia sudah menduga bahwa sebuah tamparan akan didaratkan tuannya.

"Apa yang baru saja kau katakan?" Tanya Ciel dengan nada pelan namun penuh amarah. "Kau sendiri yang sepertinya bersemangat ingin menuntaskan kasus ini. Kenapa kau berkata seperti itu seolah aku tidak mampu memecahkannya?" Sambungnya dengan nada yang lebih keras.

"Maafkan saya, tetapi..."

Terdengar ketukan pintu menyela Sebastian yang baru saja menarik nafas. Ciel yang sedang menunggu 'permen' dari Sebastian merasa terkejut. Dengan kompaknya, pelayan-majikan itu mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu coklat yang terbuat dari kayu pohon jati tua itu.

"Ciel, Tuan Sebastian, waktunya sarapan!" Seru seorang gadis muda dengan suara lembut yang kini sudah kian dikenali oleh Ciel, dan khususnya, Sebastian.

"Baiklah. Kami akan menyusul." Timpal Sebastian dengan suara yang tak kalah lembut, namun cukup keras.

"Ng, bibi tidak mau kalian terlambat, lho." Balas Hildegard.

Ciel dan Sebastian saling memandang dengan tatapan meh. Ciel yang sudah rapi berjalan menuju pintu, meninggalkan Sebastian yang masih berdiri di tempatnya.

"Kita bicarakan lagi setelah sarapan." Ucap Ciel, lalu keluar meninggalkan Sebastian yang akhirnya berjalan menyusul Ciel.

"Yes, my lord."

-back to present-

Ciel terduduk di sofa ruang tengah, memandangi foto keluarga Higgins dan Ainsworth. Sebastian hanya berdiri mematung di samping Ciel, memandang ke arah yang sama dengan tuannya. Mungkin lebih khususnya, ia memandangi wajah cantik Hildegard yang tersenyum manis di foto dengan tatapan sayu. Ia pun memutar sedikit bola matanya ke arah Earl Ainsworth di foto, seperti mengutuk sang Earl yang menghilang tanpa jejak.

"Sebastian." Gumam Ciel

"Ya, Tuan muda."

"Aku tidak peduli dengan apa yang kau cemaskan dan kenapa kau memintaku untuk menghentikan penyelidikan. Reputasiku di hadapan Ratu dipertaruhkan dalam kasus ini. Jika kau pelayanku, kau seharusnya mendukungku." Ujar Ciel tanpa sedikit pun menoleh ke arah Sebastian yang kini jauh lebih pendiam dari biasanya.

Sebastian tidak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya lalu mengangguk kecil.

Ciel beranjak dari tempatnya, berjalan menuju sebuah jendela di seberang sofa tempatnya duduk. Ia menatap jauh ke luar jendela, membayangkan apa yang dulu menimpanya. Ada sedikit perasaan khawatir di benaknya semenjak Sebastian memintanya untuk menghentikan penyelidikan.

"Sebastian." ucap Ciel, lebih tenang. "Kenapa kau memintaku untuk berhenti dari kasus ini?"

Sebastian menghela nafas. "Saya hanya mengkhawatirkan anda." Jawabnya perlahan.

"Jika kau mengkhawatirkanku, kau cukup berada di sisiku." Timpal Ciel enteng.

"Tapi, Tuan muda, yang saya khawatirkan lebih dari itu." Tukas Sebastian dengan nada yang sedikit lebih tinggi. "Saya juga mengkhawatirkan Nona Hildegard Ainsworth."

Ciel berbalik, menatap Sebastian yang kali ini kembali bersikap tidak masuk akal.

"Semalaman saya tinggal di kamar Nona Hildegard." Ucap Sebastian dengan nada serius. " Ia bercerita pada saya bahwa ia selalu dihantui oleh bayangan aneh, bahkan sebelum pembunuhan itu terjadi."

Ciel termenung. "Aku jadi kepikiran, Apa pembunuh itu mengincar Hildegard?" gumamnya.

"Tidak." Jawab Sebastian. "Dari apa yang terjadi, saya bisa menyimpulkan kalau pembunuh itu benar-benar mengincar keluarga Ainsworth. Tapi, kita belum tahu apa motif si pelaku. Selain itu, mungkin karena tinggal Nona Hildegard yang tersisa, si pelaku pun kemudian mengincarnya."

"Lalu, apa kalung kristal itu ada kaitannya dengan kasus ini?"

"Sepertinya tidak. Nona Hildegard berkata bahwa kalung ini adalah hadiah ulang tahunnya yang ketujuh dari ayahnya."

Ciel kembali memutar otak. Ia mondar-mandir sambil terus mencari jawaban dari semua pertanyaannya.

"Bukankah aneh jika ayahnya menghadiahkan benda berkekuatan supranatutal seperti kalung kristal itu pada putrinya, apalagi jika kekuatan pelindungnya sangat kuat? Mungkinkah ada sesuatu yang spesial dari Hildegard?"

Sebastian hanya terdiam. Ia sendiri tidak tahu harus berkata apa. Selama ini ia memang merasakan sesuatu dari Hildegard. Namun, Sebastian sendiri tidak tahu apa itu. Dan lagi, ia tidak tahu apa yang menarik dirinya pada Hildegard.

"Pembunuhan yang misterius, hilangnya jasad putra pertama Ainsworth, okultisme tingkat tinggi, kejadian supranatural, misteri Earl Ainsworth yang menghilang, aku jadi semakin penasaran." Gumam Ciel. Ia kemudian melangkah mendekati Sebastian yang tak sedikit pun bergeser dari tempatnya.

"Tuan muda..." ujar Sebastian, kini dengan wajah yang lebih cerah. Ia mengeluarkan sebuah amplop kecil berstempel kerajaan dari dalam sakunya.

"Itu..."

"Biar saya persingkat. Setelah kita menemukan Nona Hildegard, sesuai perintah, saya mengirmkan laporannya kepada Yang Mulia Ratu. Tak lama setelahnya, surat ini datang."

Ciel merebut surat itu dari tangan Sebastian. Ia langsung membaca isi surat itu dengan teliti. Setelahnya, ia pun mengembalikan surat itu ke tangan Sebastian.

"Sebastian... Kita selesaikan semua ini secepatnya sebelum si pelaku mendapatkan Hildegard Ainsworth!" Seru Ciel. "Dan, aku tidak akan memaafkanmu jika kau lalai dari tugasmu."

Sebastian tersenyum. Ia pun membungkuk di hadapan Tuan Mudanya.

"Yes, my lord."

Ciel berjalan ke luar rumah setelah Sebastian memakaikan mantel dan topi miliknya.

Sebastian tidak bergegas menyusul Ciel. Ia merogoh saku celananya tepat setelah Ciel membuka pintu rumah keluarga Higgins tanpa bantuan Sebastian. Sebuah foto berpotretkan Hildegard diraih Sebastian dari sakunya. Raut wajahnya seketika berubah saat ia melihat selembar foto yang keluar dari sakunya itu. Senyuman yang tadi ia tunjukkan memudar ketika ia membalikkan foto tersebut. Tatapan mata yang tajam dan ekspresi yang tidak biasa nampak di wajah Sebastian yang rupawan ketika ia membaca sebuah tulisan bertintakan darah yang tertuang di balik foto gadis muda yang cantik itu.

Jika kau iblis, maka pergilah!

Jika kau manusia, maka matilah!

To be continued...