Dear my boy...

Apa kabar? Semoga kau baik-baik saja.

Aku sangat senang mendengar dirimu sudah bertemu dengan Hildegard Ainsworth. Dan syukurlah, dia baik-baik saja. Bukankah dia cantik dan manis? Aku ingin sekali minum teh bersama kalian berdua. Tetapi, sayangnya kau sedang sibuk. Mungkin lain kali saja, ya.

My boy, ini mungkin berat bagimu. Tapi, mendengar bahwa kejadian buruk menimpa keluarga dari sahabat masa kecilku itu membuatku sangat sedih. Kau tahu, betapa senangnya diriku saat mendengar Hildegard selamat. Aku punya satu permintaan lagi. Maukah kau menjaga Hildegard untukku? Bukannya aku tidak mempercayai keluarga ibunya. Tetapi, keluarga Ainsworth adalah keluarga bangsawan yang sangat berpengaruh, dan mereka hanyalah orang-orang baik. Aku khawatir akan terjadi hal yang buruk jika penjahat kejam itu mendapatkan Hildie.

Aku tidak ingin terlalu merepotkanmu. Jadi, santai saja. Dan, asal kau tahu. Hildegard adalah gadis yang baik dan lembut. Kuharap kalian bisa berteman baik. Aku akan sangat menantikan saat-saat dimana kita bisa menikmati teh bersama di White Island.

Tertanda,

Victoria

"Sebastian, cepat sedikit!"

Sepasang kaki kecil berjalan menyusuri lorong-lorong rak yang menjulang tinggi, diikuti sepasang kaki yang lebih kuat dan kokoh bak tiang-tiang penyangga Buckingham Palace yang menjaga bangunan tetap kuat. Dengan membawa setumpukan perkamen dan buku, mereka berdua keluar dari himpitan rak-rak berdebu yang mengeluarkan aroma kertas tua di beberapa sudut.

Sebastian menyimpan bawaannya di atas sebuah meja tua tak jauh dari jajaran rak arsip yang baru saja mereka susuri. Ia mempersilakan tuan mudanya untuk duduk. Ia pun kemudian duduk berhadapan dengan tuannya yang telah mendahuliunya membuka beberapa lembar dokumen yang 'tersaji' di atas meja.

"Sebelum kita mengetahui siapa pelaku kejahatan di mansion Ainswoth, kita harus mengetahui terlebih dahulu siapa bangsawan Ainsworth." Gumam Ciel. Matanya terus menjelajahi isi setiap lembar kertas yang ia pegang. "Sebastian, kau periksa dokumen yang lainnya!"

Gedung balai pengarsipan sepi kala itu. Tidak ada siapapun di sana, kecuali Ciel, Sebastian, dan seorang penjaga tua yang tengah duduk sambil asyik membaca buku di mejanya, itu pun terletak di lobi.

"Tuan muda," Ujar Sebastian, "Saya kira anda tahu keluarga Ainsworth, mengingat bahwa keluarga Ainsworth mempunyai hubungan yang dekat dengan keluarga kerajaan."

"Keluarga Ainsworth adalah salah satu bangsawan penting. Mereka punya kedudukan penting di pemerintahan. Hanya itu yang kutahu." Terang Ciel tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari dokumen-dokumen itu.

Pasangan Majikan-pelayan itu terlihat serius memeriksa lembar demi lembar dokumen yang ada. Dari satu dokumen ke dokumen lain, mereka tak sedikit pun melewatkan kata yang tertulis di dalam kertas-kertas tua itu.

"Ah, sudahlah." Dengus Ciel sambil meletakkan sebuah perkamen dengan kesal. "Tidak ada hal penting yang bisa menjadi petunjuk. Kau menemukan sesuatu?"

"Sabar sedikit, tuan muda. Anda hanya belum mendapatkannya." Ucap Sebastian masih fokus dengan dokumen yang ia pegang.

Ciel meregangkan tubuhnya. Tak sedikit pun iya menyentuh dokumen-dokumen itu lagi. Ia hanya memperhatikan Sebastian yang dengan tekun memeriksa setiap dokumen. Sesekali ia pejamkan matanya untuk sekedar berileksasi.

"Tuan muda." Ucap Sebastian setelah beberapa lama ia terdiam.

"Hmmm?"

"Apa jabatan keluarga Ainsworth di pemerintahan?" Tanya Sebastian.

"Entahlah. Aku tidak begitu mengenal keluarga Ainsworth." Jawab Ciel ringan.

Sebastian membolak-balik dokumen yang baru saja ia baca. Ia menyodorkan beberapa lembar kertas kepada Ciel.

"Tuan muda, di sini dikatakan bahwa keluarga Ainsworth memiliki perusahaan besar bernama Ainsworth Enterprise yang bergerak di berbagai bidang, salah satunya adalah perusahaan pengembang persenjataan yang berada di bawah naungan persemakmuran." Ucap Sebastian.

"Aku belum pernah mendengarnya. Hanya saja aku pernah mendengar bahwa perusahaan milik keluarga Ainsworth pernah mengembangkan senjata yang berhasil membawa Inggris menjadi pemenang di kancah peperangan dulu." Ungkap Ciel.

"Selain itu, di sini dikatakan bahwa bangsawan Ainsworth adalah pejabat penting di Departemen Pertahanan Britania Raya."

Ciel termenung. Ia tak sedikit pun menimpali apa yang Sebastian katakan.

"Tuan muda?"

"Bukankah ini aneh? Ainsworth adalah keluarga bangsawan besar. Mereka juga merupakan pejabat penting di Departemen Pertahanan. Seharusnya mereka memiliki gelar kebangsawaan yang lebih tinggi." Ucap Ciel, lebih pada berbicara dengan dirinya Sendiri.

"Apa si pelaku kejahatan ingin menjatuhkan keluarga Ainsworth?" Tanya Sebastian penasaran.

"Jika dilihat dari status dan kedudukan keluarga Ainsworth sendiri, mungkin ya. Tetapi, yang menjadi masalah, pelaku menggunakan okultisme dan semacam sihir. Bukankah ini terlalu berlebihan?" Ciel kembali termenung. "Tapi, lupakan itu. Keluarga Ainsworth memiliki perusahaan yang maju dan status yang tinggi. Yang jelas, si pelaku ingin keluarga Ainsworth jatuh. Dendam dari saingan atau mafia yang merasa terusik dengan keberadaan keluarga Ainsworth. Itu adalah kemungkinan yang masuk akal saat ini." Ucap Ciel. Ia berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. "Ayo, Sebastian!"

Sebastian tidak langsung mengikuti Ciel. Dengan ragu, ia menghentikan langkah Ciel yang hampir menggapai pintu. Dengan wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam, ia menatap wajah dingin sang bocchan yang juga menatapnya sebal karena tidak segera mengikutinya, dan justru malah menghentikannya.

"Kenapa kau berdiri saja?" Tanya Ciel sebal.

"Tuan muda? Apa anda takut?"

Ciel terkejut. Dari ribuan kata yang ada, ia tak menyangka Sebastian akan mengeluarkan kata-kata kejam dengan ekspresi yang datar seperti itu.

"Apa yang kau..."

"Lagi-lagi.." Sela Sebastian, "Anda menjadi lemah."

Ciel menjadi geram. Ia pun melayangkan tangannya, namun Sebastian segera menangkapnya.

"Sejak awal anda ragu." Ucap Sebastian dengan nada dingin. Tatapannya kian tajam. "Anda tidak bisa menyelesaikan kasus yang sebelumnya. Dan sekarang, anda menjadi goyah hanya karena kasus kali ini mirip dengan apa yang menimpamu dulu. Bagaimana jika kasus kali ini benar-benar berkaitan dengan kejadian yang menimpamu dulu?"

Ciel tersentak. Tubuh kecilnya gemetaran. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Perasaan kesal, marah, dan takut bergejolak di benaknya. Sementara Sebastian terus menatapnya nanar dengan bola matanya yang berwarna merah yang tajam.

"Ha... hahaha..." Tawa kecil keluar dari bibir Ciel yang masih sedikit gemetaran. Sebastian heran dengan sikap Ciel itu.

"Memangnya kenapa kalau semua ini berkaitan dengan kejadian menyedihkan itu? Bukankah dengan ini kita bisa tahu siapa yang membunuh orang tuaku dan membakar rumahku? Bukankah dengan itu kau akan segera mendapatkan jiwa yang selama ini kau inginkan?"

Sebastian melepaskan genggamannya. Ciel langsung memegangi pergelangan tangan kanannya. Ia menatap Sebastian balik dengan tatapan yang tajam.

"Tetapi, sayangnya kasus ini berbeda. Setelah aku membaca dokumen itu, ini hanya kasus biasa. Konyolnya, aku merasa gentar bahkan sebelum aku menghadapinya." Ucap Ciel dengan senyuman menyedihkan tersungging di bibirnya. "Sudahlah! Ayo, kita pergi!"

Sebastian menghela nafas. Ia tidak menyangka Ciel berkelakuan seperti itu. Benar-benar seperti bocah. *sweatdrop*

"Yare yare. Tuan muda memang tidak sabaran. Anda bahkan tidak membaca semua dokumennya."

Sebastian memasukkan beberapa lembar kertas ke dalam saku celananya. Ia pun berjalan meninggalkan ruang arsip, mengikuti Ciel yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya.

~ooo0ooo0ooo~

"Aku lupa kalau kita sedang dikurung di rumah itu." Oceh Ciel. Ia berjalan dengan cepat, menyusuri lorong-lorong kecil menuju rumah keluarga Higgins yang tadi ia tinggalkan.

"Ini salah anda jika Nona Hildegard panik karena kita tidak ada di rumah." Timpal Sebastian dengan sedikit kekeh kecil terdengar dari bibirnya, menggoda Ciel yang terburu-buru.

"Diam, kau! Wanita tua itu, walaupun dia baik dan agak udik, tetap saja dia seorang ibu-ibu yang menyeramkan."

Ciel dan Sebastian mempercepat langkah mereka, dan akhirnya mereka sampai di depan pintu rumah. Namun, sebelum Sebastian membuka pintu, langkah mereka terhenti saat mendengar Nyonya Higgins sedang mengobrol bersama seorang pria. Lebih tepatnya bersitegang.

"Bagaimana bisa kau berbuat sesukamu begini?" Ucap sang pria geram. Sepertinya ia merasa kecewa dengan apa yang telah dilakukan Nyonya Higgins.

"Baiklah, baiklah. Maafkan aku. Tapi mereka bilang mereka bisa membantu." Timpal Nyonya Higgins dengan suara yang agak rendah.

"Aku menghargai siapapun yang ingin membantu kita. Tapi, apa yang bisa dilakukan seorang bocah pemilik pabrik mainan?"

Kedua orang di dalam rumah itu sepertinya sedang membicarakan Ciel. Ciel dan Sebastian yang menguping dari luar pun masuk. Kedua orang di dalam rumah nampak terkejut dengan kedatangan Ciel dan Sebastian yang tiba-tiba.

"Maaf karena aku masuk tanpa ketuk pintu terlebih dahulu." Ucap Ciel dengan nada datar.

"Ya, Tuhan. Dari mana saja kau? Kukira ada penjahat yang datang dan menculik kalian berdua." Omel Nyonya Higgins.

"Ng, itu tidak mungkin." Gumam Ciel dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Ciel dan pria itu saling memandang. Pandangan si pria beralih ke Sebastian. Mereka berdua pun adu pandang.

"Ah, jadi kau bocah bangsawan dan pelayannya?" Tanya si pria

"Maaf, tuan. Tapi sepertinya perkataan anda barusan itu kurang sopan. Tuan muda saya sepertinya tersinggung." Ucap Sebastian dengan manis, dan tentu saja dengan senyuman yang manis pula. Sementara Ciel terlihat cemberut.

Nyonya Higgins memepersilakan Sebastian dan Ciel duduk. Ia lalu pergi ke dapur, meninggalkan Ciel dan Sebastian bertiga dengan pria asing yang tidak mereka kenal.

"Ah, kalian mengobrollah dulu dengan suamiku. Aku akan membawa beberapa makanan di belakang." Ujar Nyonya Higgins, lalu pergi.

Ciel dan Sebastian saling memandang. Mereka kemudian mengalihkan pandangannya pada lelaki dengan wajah yang ramah yang duduk di sofa di hadapan mereka.

"Jadi, anda Tuan Higgins?" Tanya Sebastian.

"Mmm... begitulah." Jawab lelaki itu dengan rokok di mulutnya. "Maaf jika aku lancang. Tetapi, kenapa kalian begitu tertarik dengan kejadian yang menimpa keluarga kami sampai kalian ingin membantu menuntaskannya?"

Ciel terdiam. Tidak mungkin jika ia harus menjawab bahwa ini semua perintah Ratu dan mengatakan bahwa ia adalah anjing penjaga ratu. Tidak boleh ada yang mengetahuinya. Ia sendiri merasa aneh saat ia mengatakan akan menyelesaikan kasus berat ini, padahal ia sendiri bukan detektif ataupun polisi. Tetapi, nyonya Higgins terlalu 'polos' untuk mempertanyakan kehadiran Ciel di tengah kasus yang menimpa salah satu keluarganya.

"Saya lupa belum memperkenalkan tuan saya pada anda." Ucap Sebastian. "Ia adalah Ciel Phantomhive, kepala keluarga Phantomhive."

"Aku tahu itu. Dia juga pemilik perusahaan permen itu, kan?" Timpal Tuan Higgins. Sebastian tersenyum. Sementara Ciel terkejut dengan ekspresi Tuan Higgins yang tidak terlalu peduli dengan statusnya.

"Keluarga Phantomhive memiliki hubungan yang cukup dekat dengan keluarga Ainsworth sejak dulu. Saat kami mendengar peristiwa malang itu menimpa keluarga Ainsworth, kami cukup terpukul dan kami pun terdorong untuk melakukan sesuatu." Jawab Sebastian.

Ciel melongo. Ia lebih terkejut saat mendengar Sebastian mengeluarkan alasan yang bahkan tak terpikirkan sama sekali oleh dirinya. Ia menyikut Sebastian perlahan.

"Kenapa kau berkata seperti itu?" Bisik Ciel.

"Anda tenang saja. Serahkan semua ini pada saya." Jawab Sebastian.

Tuan Higgins mengisap rokoknya, lalu membuang asapnya. Ia menghela nafas.

"Aku menghargai usaha kalian. Kalian memang terlihat agak mencurigakan, tetapi aku yakin kalian adalah orang-orang yang baik." Ucap Tuan Higgins. "Kalau kalian benar-benar ingin membantu, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menyerahkan hal ini pada kalian."

Sebastian tersenyum. Ia senang akhirnya Tuan Higgins menerima mereka. Namun, Tuan Higgins justru terlihat sebaliknya. Ia mengisap tokoknya untuk mendapat sedikit ketenangan. Tetapi, ia justru terlihat resah.

Nyonya Higgins datang dengan membawa sepiring kue kering dan tiga gelas jus jeruk.

"Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Nyonya Higgins setelah melihat wajah suaminya yang kusut.

"Ah, ya. Sebaiknya kau kembali ke toko." Ujar Tuan Higgins.

Nyonya Higgins pun pergi meninggalkan ketiga orang itu di rumahnya.

"Ah, santai saja. Aku bukan tipe orang galak koq. Hahaha." Tuan Higgins tertawa ringan. Kontras dengan sikapnya sebelumnya, ia kini tampak lebih ramah. "Tetapi... masalah keluarga Ainsworth... aku rasa sebaiknya kita menyerah saja."

Ciel tercengang mendengar pernyataan dari tuan Higgins. Tentu saja ia tidak bisa menyerah begitu saja. Nama besarnya dipertaruhkan dalam kasus ini.

Ciel menggebrak meja dengan tangannya yang mungil dan rapuh, namun cukup untuk membuat jus jeruk dalam gelas meriak. Ia menatap Tuan Higgins tak senang. "Apa maksudmu?"

Tuan Higgins kembali mengisap rokoknya. Dengan wajah yang lesu ia mengeluarkan semua asap rokok dari mulutnya. Ia ingat bahwa ia sudah berjanji tidak akan merokok lagi, tetapi hanya itu satu-satunya hal yang bisa membuatnya tenang dalam kondisi seperti ini.

"Sejak awal kami memang tidak berniat untuk menyelidiki kasus yang menimpa keluarga adikku. Semua sudah berlalu. Lagi pula, apa yang sudah hilang tidak akan bisa kembali lagi." Tuan Higgins menghela nafas. "Lagi pula kami hanyalah orang kecil tidak banyak yang bisa kami perbuat. Hildegard selamat pun itu sudah cukup bagi kami. Yang harus kami lakukan selanjutnya hanyalah menjaganya agar ia bisa melanjutkan hidupnya."

"Tapi Tuan Higgins..."

Seorang pemuda berseragam militer datang dengan wajah panik. Ia membawa Hildegard yang terbujur kaku di pangkuannya.

"HILDEGARD!"

To be continued...