Wajah hangat Tuan Higgins jelas menunjukkan kepanikan dan kermasan yang besar. Rokok yang kini panjangnya tinggal setengah dari bentuk asalnya terjatuh begitu saja dari himpitin bibir Tuan Higgins, mendarat di atas karpet merah temaram yang dipijakinya. Ia menghambur dengan secepat kilat menuju bibir pintu dimana lelaki muda tampan berseragam itu memangku Hildegard yang terkulai tak sadarkan diri. Sementara Ciel hanya mematung, Sebastian segera mengejar Tuan Higgins.
"Ya, Tuhan! Max, Apa yang terjadi?" Tanya Tuan Higgins panik.
Tubuh tegap pemuda berseragam bernama Max itu menerobos Tuan Higgins dan Sebastian yang berdiri di hadapanniya. Kakinya yang kokoh dan kuat bergerak secepat mungkin, menapaki setiap anak tangga dengan langkah yang lebar. "Akan kuceritakan nanti." Seru pemuda itu terburu-buru.
Tanpa berpikir panjang, Tuan Higgins berjalan cepat menyusul Max dengan tergesa-gesa. Sebastian pun segera membalikkan tubuhnya, berjalan mengekor Tuan Higgins tanpa sedikit pun menghiraukan Ciel yang masih berdiri mematung, tidak tahu harus berkata atau berbuat apa.
Sebastian berhenti saat menjajaki anak tangga kelima. Ia memandang tuan mudanya. "Apa kau yakin tidak akan bergerak satu incipun dari tempatmu itu, tuan muda?".
"Diamlah!" Seru Ciel. Ia pun akhirnya bergerak menyusul Sebastian di tangga berbahan kayu pohon ek tua itu.
Pintu mahoni berwarna gelap itu berderit saat Sebastian menggenggam gagangnya yang berwarna emas dan mendorongnya perlahan. Hildegard yang tak berdaya berbaring di atas ranjang dengan sprei berwarna aqua yang menutupi kasurnya. Max berdiri membelakangi jendela yang memendarkan cahaya mentari siang yang begitu terik.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Ciel, mengambil tempat di samping Tuan Higgins yang duduk di sisi lain yang langsung berhadapan dengan Max.
"Apa menurutmu ini terlihat baik-baik saja?" Pemuda bernama Max itu tersulut. "Hildie tiba-tiba tak sadarkan diri dan menurutmu ini baik-baik saja?"
"Tenanglah, Maxine!" Tuan Higgins menyela. Ia menoleh ke arah Ciel. "Maafkanlah putraku ini. Setelah apa yang terjadi, ia menjadi lebih... protektif... dan... berlebihan."
Ciel tidak mengatakan sepatah katapun lagi. Ia hanya mengamati pemuda berambut pirang itu. Buruk sekali, Edward! Orang ini mengingatkanku padamu.
"Jadi, Tuan Maxine, jika tidak keberatan, bisakah anda menjelaskan apa yang terjadi?" Ujar Sebastian.
"Tuan pelayan ini benar. Kau masih belum menjelaskan kenapa kau membawa Hildie pulang bersamamu dalam keadaan tak sadarkan diri." Sambung Tuan Higgins.
Max mengela napas. Ia membetulkan kerah bajunya yang berantakan. Dengan sisa keringat yang masih mengucur, ia pun mulai berbicara.
"Aku bermaksud pulang ke rumah saat melihat Hildie sedang berdiri di jalanan Covent Garden. Ia hanya berdiri, tak melakukan apapun, seperti patung dengan sebuah keranjang di tangannya. Saat aku hendak menghampirinya, ia tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri." Terang Max.
"Covent Garden? Sedang apa dia di sana?" Tanya Tuan Higgins dengan suara yang sedikit ditinggikan. Max hanya mengangkat bahu lebarnya.
"Nona Hildegard bilang ia harus pergi untuk mengambil beberapa barang." Jawab Sebastian.
"Seingatku hari ini ia harus mengambil bahan-bahan kerajinan ke toko milik temanku di Burlington Arcade, bukan ke Covent Garden, mengingat tempat itu cukup 'sensitif' bagi seorang gadis seperti dirinya." Ujar Tuan Higgins, setelah mengingat peristiwa perampokan mengerikan yang pernah terjadi pada seorang gadis bangsawan muda di tempat itu beberapa bulan silam. Selain itu, Covent Garden adalah tempat yang menyenangkan bagi para pencoleng.
"Sudahlah, ayah! Apakah penting bagi kita untuk mempermasalahkan kemana Hildie pergi pagi ini?" Ucap Max gusar.
"Tentu saja!" Jawab Tuan Higgins, "Apa kau lupa kalau ada sekumpulan perampok yang telah menghabisi keluarganya? Jangan lupakan kemungkinan Hildie masih menjadi incaran para penjahat busuk itu."
Seketika Max terdiam. Ia tertunduk sambil menggingit bibirnya untuk menahan semua emosi itu meledak dari dalam dirinya. Ia terlihat mengepalkan tangannya dengan sekuat tenaga, mengutuk pelaku kejahatan yang telah tega menjadi bencana bagi keluarga adik sepupunya itu.
Ciel tersenyum kecil, sinis. Perampok? Ha! Pria ini terlalu naif.
Sebastian memandangi sosok Hildegard yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya untuk beberapa saat. Wajah gadis cantik yang, kini, terlihat seputih lilin, membuat Sebastian cemas. Ah, lagi-lagi perasaan aneh itu muncul.
"Tuan Higgins," ujar Sebastian sendu. "jika berkenan, izinkan saya memeriksa keadaan Nona Hildegard."
Tuan Higgins memutar kepalanya ke belakang, memandang Sebastian dengan penuh harapan. "Ah, silakan Tuan."
Sebastian melangkahkan kakinya, mengitari tempat tidur Hildegard dan mengambil tempat di samping kanan Max. Ia menatap wajah pucat Hildegard sejenak, lalu menekukkan lututnya, berjongkok dengan lutut kiri tertempel di lantai kayu keras berwarna gelap. Ia mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan berwarna putih, mulai menyentuh dahi Hildegard, lalu kemudian pipi, dan lehernya.
Sebastian mengernyitkan dahinya. Sesuatu yang aneh dirasakan oleh dirinya. Ia menyibakkan poni di dahinya, lalu kembali menyentuh dahinya.
"Sebastian, ada apa?" Tanya Ciel.
"Katakan! Apa sesuatu yang buruk terjadi?" Tanya Max tidak sabar.
Sebastian menghela napas. Ia mendongakkan kepalanya, dan menatap Max dengan penuh rasa syukur. Ia tersenyum manis seolah semuanya baik-baik saja. Dan, ia sendiri berharap semuanya baik-baik saja.
"Nona Hildegard baik-baik saja. Ia mungkin hanya mengalami gejala anemia biasa." Jawab Sebastian.
Max mengeluarkan napas lega, sementara Tuan Higgins terlihat membuat sebuah tanda salib. Kata-kata syukur dan rasa terima kasihnya pada Tuhan terus mengalir dari mulutnya yang kering. Anemia mungkin agak merisaukan, namun itu jauh lebih baik dari kemungkinan terburuk yang Tuan Higgins cemaskan.
"Lebih baik kita keluar dan biarkan Nona Hildegard beristirahat." Ujar Sebastian.
Max dan Tuan Higgins berjalan keluar, meninggalkan Sebastian dan Ciel yang masih berdiri di samping tempat tidur Hildegard. Dan, Ciel sepertinya tidak -setidaknya belum- ingin meninggalkan kamar bergaya klasik dengan cat berwarna krem yang manis. Ia menghampiri Sebastian di sisi lain tempat tidur Hildegard.
"Sebastian, kau yakin dia baik-baik saja?" Bisik Ciel, tidak ingin pembicaraannya dengan Sebastian terdengar oleh kedua lelaki Higgins yang -ternyata- masih berada di depan pintu kamar.
"Saya khawatir tidak demikian, tuan muda." Jawab Sebastian. "Sebenarnya, aku sendiri tidak memahaminya."
Sebastian kembali memandang Hildegard dengan tatapan sendu. Tangannya meraih rambut hitam indah Hildegard, membelai lembut setiap helainya yang sehalus sutra.
"Jadi," Ucap Ciel. "Diagnosa anemia-mu itu bohong?"
"Tidak." Jawab Sebastian, tanpa memerhatikan tuannya yang sudah mulai risih. "Secara fisik ia memang menampakkan gejala anemia. Tetapi... sudahlah. Lebih baik kita menyusul Tuan Higgins sekarang juga. Aku khawatir dia akan berpikir yang tidak-tidak jika kita tidak segera turun ke bawah."
Ciel mengangguk perlahan.
~ooo0ooo0ooo~
Tuan Higgins menyulut rokoknya. Ia kemudian menghisapnya, lalu membuang asap rokoknya percuma. Ciel duduk di atas sofa coklat yang sebelumnya ia duduki tak lama ini, berhadapan dengan Tuan Higgins dan Maxine yang duduk berdampingan. Sebastian berdiri di belakang Ciel, memperhatikan lelaki berseragam militer yang baru ini datang.
"Jadi" ucap Sebastian "Tuan Maxine ini adalah putramu?"
"Ya, begitulah." Jawab Tuan Higgins sambil menyemburkan asap rokok dari mulutnya. Maxine sesekali terbatuk.
"Ah, betapa lancangnya. Saya lupa memperkenalkan diri." Sergah Maxine. "Ya, saya Maxine Higgins. Saya adalah anggota kemiliteran kerajaan." Maxine tersenyum simpul, begitu menawan, terlihat tenang dan ramah -tak seperti beberapa saat yang lalu. "Jadi, Earl Phantomhive, apa yang membuatmu datang kemari dan ingin memecahkan kasus keluarga bibiku, ah... Earl Ainsworth. Ya. Kenapa?"
"Sudahlah, Max!" Tuan Higgins menyela. "Itu tidak penting. Yang terpenting, kenapa kau tiba-tiba pulang? Bukankah kau masih ada urusan di Tyburn?"
"Pekerjaanku sudah selesai di sana. Aku diperintahkan untuk kembali saat ini." Jawab Maxine.
Percakapan Maxine dan ayahnya tidak membuat Ciel tertarik, justru sebaliknya. Ciel berdeham, mengalihkan Tuan Higgins dan Maxine yang saling memberikan perhatian.
Ciel berdeham, membuat Tuan Higgins mengalihkan perhatiannya. Nampaknya ia tidak sadar karena telah mengabaikannya, namun pria sederhana yang berwibawa itu tidak berkata apa-apa. Hanya sebuah senyum kecil yang tersungging di bibirnya, mengangguk perlahan dan matanya lebarnya sedikit terpejam.
"Tuan Higgins," seru Ciel. "aku sangat senang bisa bertemu denganmu, karena ada yang ingin kutanyakan. Kudengar beberapa hari sebelum Earl Ainsworth menghilang, dia menemuimu terlebih dahulu. Apa yang kalian bicarakan, atau lebih tepatnya, apa yang dia bicarakan?"
"Apakah ini sebuah interogasi?" Sanggah Tuan Higgins. Ciel cemberut, tak senang. Tuan Higgins langsung berujar. "Tolong jangan tersinggung. Jujur aku masih belum memercayaimu. Tapi, percakapan itu tidak terlalu penting. Aku akan menceritakannya padamu."
Tuan Higgins menoleh ke arah Maxine yang duduk di sampingnya. "Sebaiknya kau temui ibumu di toko. Ia pasti sangat senang karena kau pulang."
Mata Maxine terbuka lebar. Sebuah kerutan di dahinya jelas terlihat, meskipun poninya yang sedikit bergelombang menutupi dahinya. "Apa pembicaraan kalian terlalu rahasia sehingga aku tak diperkenankan untuk turut mendengarkannya?"
Tuan Higgins tak menjawab. Ia hanya menatap tajam putra kebanggaannya itu, dan seketika urat Maxine yang tegang pun melonggar. Tanpa berkata apa-apa lagi, Maxine pamit kepada Ciel, dan ia pun berjalan menuju pintu. Ia tarik gagangnya yang berwarna emas kusam, lalu menghilang di balik pintu.
"Baiklah. Sekarang, ceritakan!" Kata Ciel.
Mata besar Tuan Higgins memandang Ciel dengan lekat, menyelidiki setiap titik di wajahnya, menelisik kebenaran di sebelah matanya yang masih terbuka. Barulah setelah itu ia menyimpan rokok di atas asbak porselen berwarna putih dengan corak daun maple merah, lalu berbicara. "Tidak banyak hal penting yang disampaikan adik iparku itu, selain sebuah permintaan yang ia tujukan padaku."
"Permintaan apa?" Tanya Ciel tak sabar
"Aku masih ingat seakan itu baru terjadi kemarin. Empat hari sebelum Earl Ainsworth menghilang, dia menemuiku dan berkata bahwa ia ada urusan di Derbyshire dan akan kembali sebelum perayaan ulang tahun Hildegard. Dia memintaku untuk menjaga keluarganya dan menemui Parson Bradley." Jawab Tuan Higgins.
"Bukankah Earl Ainsworth menghilang pada pagi hari setelah malam perayaan ulang tahun Nona Hidegard?" Tanya Sebastian.
"Ya. dan itu setelah dia kembali dari Derbyshire." Jawab Tuan Higgins.
Dahi Ciel kembali mengerut. "Siapa Parson Bradley?"
"Dia adalah Parson kerabat keluarga Ainsworth. Bisa dibilang ia dekat dengan keluarga adikku." Jawab Tuan Higgins, mengambil rokok yang terbaring di lekukan asbak, kembali mengisapnya.
Ciel dan Sebastian saling memandang. Sebastian menganggukkan kepalanya perlahan, dan Ciel pun kembali mendapatkan Tuan Higgins dalam pandangannya.
"Dimana kami bisa menemui Parson Bradley?" Tanya Ciel, sedikit antusias.
Tuan Higgins menyemburkan asap rokok dari mulut dan lubang hidungnya. Ia tidak segera menjawab. Ia kembali menatap bocah bermata satu itu. Ia mengernyitkan dahinya. "Aku bisa saja memberitahumu, tapi apa yang akan kau lakukan?"
Ciel tidak menjawab, membuat Tuan Higgins semakin tertarik dan merasa gatal ingin segera memberikan informasi yang mungkin sangat penting bagi Ciel. "Aku tidak peduli dengan apayang akan kau lakukan, selama itu tidak membahayakan dirimu dan kami. Mungkin dengan menemuinya bisa membantumu, Earl." Ujar Tuan Higgins, seolah tahu niat Ciel. "Parson Bradley tinggal di Bird Cage Walk, tetapi dia juga sering berada di St Paul's Church di Covent Garden."
Ciel mengangguk perlahan. Ia meminta izin untuk dapat berbicara empat mata dengan pelayannya.
Ciel dan Sebastian berjalan ke dapur. Ciel mengintip Tuan Higgins dari balik tirai dapur. Tuan Higgins tak sedikit pun mempedulikan mereka, jadi aman bagi mereka berdua untuk berbicara.
"Kita harus menemui Parson Bradley!" Seru Ciel.
"Bukan kita," Timpal Sebastian. "tetapi anda."
Ciel tersentak. Ia merasa tidak senang mendengar ucapan Sebastian. "Kenapa? Kau ingin membiarkanku pergi sendiri ke sana? Jadi sekarang kau ingin berpaling dariku?"
Hampir saja Sebastian tergelak, sebelum akhirnya ia bisa menahannya. Berpaling? Pemilihan kata itu terlalu menggelitik baginya.
"Bukan begitu, Tuan Muda." Jawab Sebastian tenang. "Jika anda tidak ingin sendiri, saya bisa meminta Tuan Higgins atau Tuan Maxine untuk mengantar anda. Saya harus memastikan sesuatu di sini."
Kekesalan Ciel beringsut mereda. Ia menghela napas, lalu menngangguk perlahan. Mereka berdua pun keluar dari dapur, dan kembali menghadap Tuan Higgins.
"Tuan Higgins," ujar Ciel "bisakah kau mengantarku ke kediaman Parson Kingsley?"
Tuan Higgins tersenyum dengan rokok masih terapit di antara kedua bibirnya. "Ha! Sudah kuduga kau ingin menemui Parson. Kebetulan aku pun ingin menanyakan sesuatu padanya."
Wajah Ciel berseri. Orang Tua ini dapat diandalkan juga, pikirnya. "Sebastian akan tinggal untuk menjaga Hildegard. Jadi, kau tidak perlu risau."
Tuan Higgins mengangguk, lalu beranjak dari sofa. Ia mengisyaratkan Ciel untuk mengikutinya, sebelum akhirnya mereka berdua meninggalkan Sebastian di dalam rumah sederhana bergaya klasik itu.
Sebastian melangkahkan kakinya, menaiki tangga menuju lantai dua. Derap kakinya terdengar lembut di atas lantai kayu yang terhampar seluas ruang di lantai atas. Ia berdiri di depan pintu kamar Hildegard, membukanya perlahan, selembut ia memperlakukan gadis yang membuat perasaannya kacau itu. Hildegard masih terbaring lemah, belum sadarkan diri.
Sebastian berjalan mendekati tempat dimana gadis itu terkulai lemah seperti putri tidur yang menunggu seorang pangeran membangunkannya dengan ciuman cinta sejatinya. Ia memandang Hildegard dengan mata sayu.
"Anda benar-benar mengerikan, Milady!" Gumam Sebastian.
Ia pun merogoh saku celananya, meraih sebuah kalung kristal yang terpendam di dalam sakunya. Dengan tenang, Sebastian mengalungkannya di leher Hildegard. Kalung Kristal itu terlihat bersinar.
"Sudah kuduga hal ini akan terjadi." Gumam Sebastian tanpa merasa terkejut saat melihat keanehan itu terjadi.
Cahaya kristal itu meredup. Bersamaan dengan redupnya cahaya dalam kristal itu, kulit putih Hildegard mulai menampakkan rona kemerahan yang sempat menghilang saat ia tak sadarkan diri. Bulu matanya yang lentik tampak bergetar, dan perlahan, matanya pun terbuka.
Sebastian tersenyum lembut saat Hildegard membuka matanya. "Syukurlah anda baik-baik saja, Nona Hildegard."
"Tuan Sebastian?" Gumam Hildegard dengan suara lembutnya yang parau. "Kau... menangis?"
To be Continued...
