Kereta kecil dengan dua ekor kuda betina berewarna coklat berhenti di depan St. Paul's Church. Sepasang kaki kokoh yang telah berjalan di atas dunia yang keras terlihat turun dari kereta, disusul sepasang kaki mungil Ciel yang turun dengan bantuan Tuan Higgins yang, masih saja, menganggapnya seorang bocah kecil manja -dan itu membuatnya kesal.

Kereta itu pergi meninggalkan Ciel dan Tuan Higgins yang, kini, berdiri di tepian jalanan Covent Garden yang ramai dengan hiruk pikuk orang-orang tak karuan.

Seorang pemuda lusuh dengan plester di hidungnya menabrak tubuh mungil Ciel yang berdiri di jalurnya. Tanpa meminta maaf, pemuda itu lari sambil meludah ke selokan kecil di pinggiran trotoar.

"Covent Garden adalah tempat yang... bisa dibilang... liar. Kau harus secepatnya membiasakan diri dengan lingkungan ini." Ujar Tuan Higgins setelah melihat ekspresi Ciel yang kesal. Ia pun mulai berjalan menuju pintu depan St. Paul's Church. "Dan jaga dompetmu."

Sontak Ciel langsung meraba-raba saku celananya. Pundi uang koin miliknya masih ada di sakunya. Ia pun mulai berjalan menyusul Tuan Higgins.

Ciel, dengan teliti, memeriksa setiap hal di tempat yang, jarang sekali bangsawan sepertinya, berjalan dengan bebas. Tempat ini cukup buruk, pikirnya. Bau apak para gelandangan dan bau selokan menguar di setiap sudut jalanan. Saat ia berjalan, tatapan-tatapan tajam para pencoleng dan preman menusuknya. Dan, orang-orang di sini terlihat seperti tidak punya etika. Walaupun keadaan di sini sudah jauh lebih baik sejak masa pemerintahan Raja George, namun tetap saja, Covent Garden bukan tempat yang bagus untuk dikunjungi, apalagi oleh para bangsawan polos. Nuansa disini seolah mengatakan bahwa tempat ini tak jauh berbeda dengan East End, namun entah apa yang membuat kunjungan pertamanya ini ingin ia jadikan sebagai kunjungan terkahirnya. Dan, sebersit keinginan Ciel untuk tidak akan pernah datang ke tempat ini lagi muncul. Setidaknya, setelah semua urusannya dengan Parson Bradley selesai. Ia merasa sangat malas, bahkan untuk sekadar memikirkannya.

Tuan Higgins mengetuk pintu ganda berwarna putih di hadapannya dengan cukup keras. Setelah ketukan ketiga, seorang pemuda berpakaian putih dengan kalung salib di lehernya muncul dari balik pintu.

"Anda tidak perlu mengetuk pintu, pak! Apalagi sekencang itu. Tuhan akan menerima siapapun yang datang untuk menghadap kepada-Nya." Ujar pemuda berperawakan tinggi kurus itu.

"Maafkan aku. Tapi kurasa ini bukan waktunya misa." Timpal Tuan Higgins. "Apakah Parson Bradley ada di sini?"

Pemuda itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Saya khawatir akan berkata tidak, tuan..."

"Higgins. Simon Higgins."

"Tuan Higgins. Parson Bradley memang sering datang kemari. Tetapi, bukan berarti dia selalu ada di sini." Sambung pemuda itu. "

Tuan Higgins dan Ciel saling beradu pandang. Raut kekecewaan tampak di wajah kedua orang itu.

"Sepertinya ini bukan hari keberuntungan kita." Kata Tuan Higgins. "Keputusan ada padamu, ingin mencoba datang ke rumahnya di Bird Cage Walk atau kembali ke rumahku?"

"Atau kau bisa mencoba pergi ke Middle Harpenden." Sela si pemuda. Ciel dan Tuan Higgins langsung mengalihkan perhatiannya pada si pemuda. "Parson Bradley selalu pergi ke sana."

Ciel dan Tuan Higgins kembali saling menatap.

"Kalian tidak perlu pergi kemana-mana." Suara asing itu tiba-tiba muncul dari belakang Ciel dan Tuan Higgins.

"Ah, Parson!" Seru pemuda itu.

Ciel dan Tuan Higgins, secara refleks, menengok ke belakang, ke arah dimana suara itu muncul. Seorang pria berjas biru dengan rompi kuning berdiri di belakang mereka dengan memegang sebuah tongkat kayu eboni bergagang emas. Rambut perak panjang yang diikat dengan pita tafeta hitamnya melambai tertiup angin segar. Wajahnya terlihat angkuh di usianya yang, sepertinya, sebaya dengan Tuan Higgins atau lebih tua, pikir Ciel, namun ia terlihat seperti seorang pria terhormat pada umumnya. Jadi dia Parson Bradley?

"Ah, anda Tuan Higgins?" Tanya Parson Bradley, antusias ketika melihat wajah jelas seseorang yang mencarinya itu. Ia pun berjalan mendekati kedua tamunya. "Sudah cukup lama kita tidak bertemu."

Tuan Higgins tersenyum tipis, menimpali senyuman simpul Parson yang selama ini dekat dengan keluarga adiknya itu. Ia meraih tangan Parson Bradley yang diulurkannya, saling berjabat tangan.

"Tom, maukah kau membantuku? Tolong antar tamuku ke Chapter Coffee-House. Bilang saja kau mengantar tamuku." Ujar Parson Bradley pada pemuda bernama Tom itu. Ia lalu menoleh pada Tuan Higgins dan Ciel, lalu tersenyum. "Aku tidak bisa mengobrol dengan tamuku di kapel. Aku punya sedikit urusan. Aku akan segera menyusul."

Tom mengangguk perlahan, lalu Parson Bradley pun melangkah masuk ke dalam gereja.

~ooo0ooo0ooo~

Air mata keluar begitu saja dari mata Sebastian. Hildegard yang baru tersadar pun langsung merasa heran melihat orang asing yang baru dikenalnya menitikan air matanya, untuk dirinya, mungkin.

Sebastian segera menyeka kristal bening di matanya dengan punggung tangannya. Ia kembali melontarkan senyuman hangat, menyambut Hildegard yang baru saja bangun.

"Syukurlah anda baik-baik saja. Apakah anda membutuhkan sesuatu? Mungkin sedikit obat pereda sakit kepala bisa membuatmu merasa lebih tenang." Ujar Sebastian.

Hildegard menggeleng kecil. "Tidak, terima kasih." Hildegard mengangkat kepalanya, memandang Sebastian yang diam-diam terus tersenyum padanya. Pipi Hildegard merona, dan ia menjadi salah tingkah. "Tu... Tuan Sebastian? Ada apa?"

Seolah terbangun dari khayalan indah yang barusaja melintas di kepalanya, Sebastian tersentak. "Ti.. tidak." Jawabnya gugup. "Saya hanya merasa senang anda sudah sadar. Sebenarnya apa yang terjadidengan anda?" Tanyanya, mengalihkan pembicaraan.

Hildegard tertunduk. Rona di wajahnya perlahan memudar. Bibir merah mudanya menekuk. "Aku tidak tahu. Aku sedang berjalan, lalu aku tidak ingat apapun. Begitu sadar, aku sudah ada di sini."

"Tahukah anda bahwa Tuan Maxine membawamu ke rumah dalam keadaan pingsan?"

"Maxine? Max?" Tanya Hildegard, terkejut. "Dia sudah pulang? Dimana dia?"

"Tuan Maxine sedang pergi ke toko untuk menemui Nyonya Higgins. Sebaiknya anda tidak turun dari tempat tidur anda dulu. Keadaan anda belum pulih sepenuhnya."

Hildegard menggerutu, merasa kesal pada Sebastian yang seolah tahu bahwa ia berniat untuk berjalan ke luar sana dan menemui kakak sepupunya. Sebastian terkekeh kecil melihat wajah manis Hildegard yang kecewa pada dirinya.

Sebuah sengatan kecil terasa oleh Sebastian. Lagi-lagi, perasaan ini...

"Ngomong-ngomong," ucap Hildegard "kemana Ciel?"

"Tuan Muda sedang pergi bersama Tuan Higgins." Jawab Sebastian. "Saya akan mengambil air dan makanan untuk anda. Permisi."

Sebastian berjalan keluar kamar, meninggalkan Hildegard yang masih berada di atas tempat tidurnya.

Entah apa yang terjadi, yang jelas kepala Sebastian kini terasa berat. Air mata yang keluar secara tiba-tiba dari pelupuk matanya membuatnya sedikit tersentak. Apakah ini efek dari kekuatan kristal itu? Harus diakui, kekuatan kristal itu cukup kuat. Yang membuatnya aneh adalah cara kerjanya yang hanya bereaksi ketika kekuatan jahat mendekati dan menyerang Hildegard. Semua pikiran itu hanya membuat Sebastian semakin penasaran pada Earl Ainsworth.

Dan, ia masih tidak mengerti kenapa ia mengeluarkan air mata?

Sebastian menuruni anak tangga, dan berjalan menuju dapur, saat sekelebat bayangan terlihat di jendela ruang tengah. Sebastian segera membuka jendela kecil di sudut ruangan itu, memeriksa siapa -atau apakah- itu. Namun, tidak ada siapapun di sana. Merasa keadaan kembali baik, Sebastian kembali berjalan menuju dapur dan mengorek setiap tempat untuk menemukan bahan makanan yang bisa ia olah untuk Hildegard. Ia hanya bisa menemukan keranjang sayuran berisi wortel, tomat, dan seladah yang sudah mulai layu di dalam lemari kecil yang berada tepat di atasnya. Sebastian mengembuskan napas lesu. Ini tidak akan cukup, pikirnya.

Bayangan gelap itu kembali muncul beberapa detik, kini dari luar dapur. Secepat mungkin Sebastian membuka pintu belakang. Kali ini, dia tidak mau kehilangan mangsanya. Begitu ia membuka pintu yang berada sekitar tiga meter di belakangnya, ia langsung menghunuskan pisau dapur yang ia pegang dua milimeter dari leher dia yang berada di balik pintu.

Sosok di balik pintu itu terlihat sangat kaget dan ketakutan. tubuhnya pun mulai gemetaran. Lelaki berkacamata bundar itu terus komat-kamit membaca do'a sambil memegang rosario di dadanya. Ia menutup erat matanya terkejut karena mendapati dirinya berada dalam bahaya secara tiba-tiba.

Sebastian tertohok begitu melihat sosok bayangan di balik jendela itu yang ternyata hanya seorang pria kikuk berkerah pastor putih yang, bahkan, terlihat acak-acakan.

"Siapa kau?" Tanya Sebastian.

Hildegrard muncul dari balik tirai dapur, menghampiri Sebastian yang tengah menghadapi pria itu di bibir pintu belakang.

"Ah, Pastor Seymour!" Seru Hildegard.

Sebastian, dengan refleks, menoleh ke arah Hildegard muncul. "Nona Hildegard, sedang apa kau di sini? Bukankah saya sudah bilang untuk tidak turun dari tempattidur anda!?"

Hildegard melirik pisau yang dihunuskan Sebastian ke leher Pastor itu. "Tu... tuan Sebastian! Turunkan pisaumu! Dia bukan orang jahat!"

~ooo0ooo0ooo~

Tom menuntun Ciel dan Tuan Higgins menembus gang sempit nan sepi di sekitaran St. Paul's Church. Langkahnya yang terlalu santai membuat Ciel merasa kesal, tak sabar. Genangan-genangan air sisa hujan semalam membasahi sepatu Ciel, dan mengotorinya dengan lumpur yang tercampur dalam genangan.

Chapter Coffee-House yang terletak di Paul's Alley ini memang tidak sebagus tempat-tempat kelas atas yang sering dikunjungi Ciel. Namun, kedai kopi yang berdiri di sekeliling Bank of England dan Guildhall merupakan tempat terbaik untuk mendapatkan berita terkini dan bersosialisasi dengan baik. Kedai ini merupakan tempat bagi para pemikir, pedagang, penerbit buku, dan penulis berkumpul untuk sekedar minum kopi atau berdebat. Chapter Coffee-House, selain terkenal dengan kopinya yang sedap, tempat ini juga memiliki daya tarik sendiri sehingga para pria terhormat senang datang ke tempat ini untuk bersosialisasi dan mengetahui perkembangan dunia saat ini.

Tom membukakan pintu ganda tempat itu, lalu mempersilakan Ciel dan TuanHiggins masuk terlebih dahulu. Ciel langsung memeriksa setiap titik di dalam kedai kopi itu. Tidak buruk juga, pikirnya. Tempat ini lebih nyaman jika dibandingkan dengan keadaan di luar sana. Terlihat dua orang terhormat berpakaian bagus tengah asyik mengobrol bersama seorang pria sederhana di meja yang berada di sudut ruangan. Ciel memutar badannya ke arah meja barista. Tiga orang lelaki berusia prima sedang berdebat menanggapi perkembangan dunia setelah Revolusi Prancis. Agak serius, namun terlihat menyenangkan.

Tom melambaikan tangannya pada seorang pria bercelemek putih kusam yang berdiri di depan sebuah televisi kecil di sudut ruangan bersama segerombol lelaki yang terus mengoceh selama acara tv itu berlangsung. Segera pelayan itu menghampiri ketiga orang yang masih berdiri di depan pintu itu.

"Selamat datang, tuan-tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Pelayan itu dengan ramah.

"Um.. Mereka adalah tamu Parson Bradley. Parson menyuruhku untuk membawa tamunya kemari." Jawab Tom.

Sebuah senyuman lebar tersungging dari bibir si pelayan. "Ah, Parson Bradley, ya? Mari, tuan-tuan!"

Tom pamit kepada Ciel dan Tuan Higgins setelah ia merasa bahwa tugasnya sudah selesai. Ciel dan Tuan Higgins bergegas mengikuti pelayan, berjalan di antara jajaran meja yang hampir dipenuhi oleh para pengunjung dari berbagai profesi dan kalangan.

Sosok lelaki tiongkok tak sengaja tertangkap oleh pandangan Ciel, tengah duduk santai bersama seorang gadis berwajah polos di antara tiga orang pria berjas yang -sepertinya- mengabaikannya. Seketika Ciel terkejut, sekaligus sebal.

Lelaki cina itu menoleh ke arah Ciel, dan langsung melambaikan tangan ke arahnya. "Ah, Earl! Kemarilah!"

Ciel berjalan cepat ke arah meja pria itu. "Lau! Sedang apa kau di sini?"

"Yah, hanya ingin tahu perkembangan dunia." Jawabnya. Ia mengalihkan perhatiannya pada gadis manis yang duduk di pangkuannya. "Bukan begitu, Ran Mao?"

Ran Mao tidak menjawab.

"Aku penasaran, apa yang sedang kau lakukan di tempat seperti ini?" Tanya Lau.

Tuan Higgins memanggil Ciel, memintanya untuk kembali.

"Aku harus pergi." Ujarnya, lalu meninggalkan Lau. Namun, ketertarikan Lau pada Ciel membuatnya beranjak dan mengikuti Ciel.

"Siapa dia?" Tanya Tuan Higgins. Jari telunjuknya berdiri, menunjuk Lau yang berdiri di belakang Ciel.

Ciel menengok kebelakang dan menatap Lau sebal. "Jangan terlalu pikirkan dia."

Tuan Higgins yang perhatian menuruti perkataan Ciel dan tidak mempedulikan lelaki itu. Ia kembali berjalan menyusul si Pelayan yang kini sudah berdiri di sebuah pintu kayu ek berwarna gelap. Sang Pelayan membukakan pintu dan mempersilakan keempat orang itu masuk.

Ruangan berukuran kecil itu terlihat lebih nyaman dibanding dengan ruang utama. Dua buah sofa panjang yang terletak di salah satu sisi ruangan terlihat nyaman dan lebih mahal jika dibandingkan dengan kursi-kursi kayu dan sofa berkain keras yang ada di ruangan sebelumnya. Karpet merah yang terhampar di atas lantai pualam berwarna kelabu ini pun terlihat mahal dengan corak bunga dafodil berwarna emas di setiap sisinya. Beberapa pajangan dan hiasan dinding kalsik itu pun terlihat bernilai tinggi.

Ciel, Tuan Higgins, dan kedua tamu yang tak diharapkan itu duduk di atas sofa yang ternyata lebih lembut dan empuk dari yang mereka kira.

"Apakah ini ruangan pribadi Parson itu?" Gumam Ciel. Matanya berkeliling mengamati seisi ruangan.

"Kalau yang kau maksud adalah Parson Bradley," Ujar Lau, "dia menyewa tempat ini setiap tahunnya untuk melakukan pertemuan khusus dengan rekan-rekannya. Dan, ya, yang kutahu ini adalah ruangan yang bagus baginya untuk bersantai jika ia bosan beradu argumen dengan orang-orang di luar sana."

Ciel terkejut, sekaligus terkesan pada Lau. "Kau mengenal Parson Bradley?"

"Tidak." Jawab Lau enteng. Ia memainkan rambut Ran Mao yang halus. "Tapi, dia cukup terkenal di tempat ini."

"Yah, dia memang seorang pria terhormat yang baik. Dia selalu ada untuk membantu keluarga adikku." Timpal Tuan Higgins.

"Tapi, aku tidak menyukainya." Tukas Lau, membuat Ciel sekali lagi menoleh padanya.

Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok Parson Bradley yang mereka tunggu. Ia berjalan menuju sofa, lalu duduk di samping Tuan Higgins yang duduk sendiri di sofa yang berbeda dengan Ciel.

"Maaf membuat kalian menunggu." Ucap Parson Bradley ramah. Ia kemudian memandang Ciel dengan tatapan yang hangat. "Ah, jadi kau Earl Phantomhive yang dibicarakan itu? Saya merasa senang bisa bertemu dengan anda."

"Saya juga senang." Jawab Ciel.

Parson Bradley menepuk pundak Tuan Higgins yang duduk di sampingnya. "Jadi, ada perlu apa sehingga kalian repot-repot datang kemari untuk menemuiku?"

Tuan Higgins menatap Ciel, memberikan isyarat agar Ciel yang memulai pembicaraan.

"Saya ingin menanyakan sesuatu." Kata Ciel. "Saya dengar anda sangat dekat dengan keluarga Ainsworth. Dan, anda pasti tahu sendiri bahwa sesuatu yang buruk telah menimpa keluarga Ainsworth."

Air muka Parson Bradley menunjukkan sebuah kesedihan yang mendalam. Senyum hangat lelaki paruh baya itu memudar. "Waktu itu pelayan saya membawa kabar buruk itu, dan saya hampir pingsan. Saya sangat sedih, mengingat Earl Ainsworth sendiri sudah seperti adikku." Parson Bradley kembali menepuk pundak Tuan Higgins dengan lembut. "Kau pasti tahu perasaanku kan, Simon? Adikmu juga adalah adikku."

"Tentu, Parson." Jawab Tuan Higgins.

"Kalau begitu," Ujar Ciel "Apakah kau mengetahui sesuatu, informasi atau petunjuk mungkin, yang mungkin bisa membantu dalam penyelidikan? Karena polisi sampai saat ini belum menemukan apa-apa."

Tuan Higgins dan Parson Bradley saling memandang. "Jadi, apa yang sebenarnya anak manis sepertimu inginkan?" Tanya Parson Bradley.

Wajah Ciel merona, antara tersinggung dengan perkataan Parson atau kesal pada dirinya sendiri karena salah berucap.

"A... aku..." gugup Ciel. "Sebenarnya... Pamanku adalah inspektur yang menangani kasus ini. Aku merasa kasihan kepadanya karena terus bekerja siang malam tanpa menghasilkan apa-apa." Ujar Ciel asal-asalan. Ia mengutuk dirinya sendiri karena bersikap sekikuk itu.

Lau yang duduk di sampingnya menutup mulutnya dengan lengan baju cheongsamnya yang lebar, mencoba untuk menutupi kekehan kecil yang keluar dari mulutnya. Tuan Higgins mengernyitkan dahi. "Kau tidak menceritakan hal itu padaku sebelumnya."

"Karena aku malu!" Jawab Ciel gugup. Wajahnya semakin memerah seperti saus cabai mendidih yang dimasak Sebastian beberapa minggu yang lalu, yang membuatnya kepedasan dan membuang sisa makanannya. "Y... yah, aku juga sangat bersimpati karena ayahku berhubungan baik dengan Earl Ainsworth."

Giliran Parson Bradley yang mengernyitkan dahinya. "Um, maafkan aku. Kumohon jangan tersinggung. Tetapi, seingatku keluarga Ainsworth belum pernah bersinggungan dengan keluarga Phantomhive."

Sialan kau, Parson Bradley!

Parson Bradley menatap tajam Ciel dengan wajahnya yang merah padam. Kali ini Ciel benar-benar gugup. Namun, kecemasannya menghilang setelah Parson Bradley tertawa renyah.

"Sudahlah. Jangan dipikirkan. Aku mewakili keluarga Ainsworth sangat berterima kasih atas kepedulianmu." Ujar Parson Bradley. "Tapi Earl, menjawab pertanyaanmu tadi, aku tidak tahu apapun. Bahkan, menghilangnya Earl Ainsworth pun masih membekas di benakku, dan aku hanya bisa meratapi semua itu sendiri. Aku mengutuk diriku sendiri yang lemah dan tak berdaya ini."

Suasana di ruangan itu hening seketika. Ciel menatap Parson Bradley. Orang ini terlalu berlebihan sebagai seorang kerabat.

"Hanya kedatangan Simon yang mungkin benar-benar berkaitan dengan kejadian sebelum menghilangnya Earl Ainsworth." Parson Bradley melanjutkan. Ia menoleh pada Tuan Higgins, meminta konfirmasinya. Parson pun menyeringai kecil. "Dia pun saat itu hanya menyampaikan salam Earl Ainsworth padaku dan menanyakan kabarku. Sementara saat kejadian mengenaskan itu terjadi, aku sedang pergi ke Middle Harpenden."

Ciel termenung. Ia berusaha menggali informasi yang minim itu. Ia menatap Parson Bradley yang baik. Kesan angkuh di wajahnya kini lenyap. Ia tidak buruk juga, pikir Ciel.

"Apa menurutmu kedua peristiwa itu saling berkaitan?" Tanya Ciel.

"Entahlah. Aku tidak tahu." Jawab Parson Bradley. "Lebih tepatnya, aku tidak ingin tahu. Yang sudah terjadi biarlah terjadi." Ia menatap Ciel dengan matanya yang agak sipit, dengan tajam. "Bukankah sesuatu yang telah hilang tidak bisa kembali?"

Ciel tertegun. Ia mencoba menahan semua emosinya dan tetap bersikap tenang.

"Yah, yang kukhawatirkan sekarang adalah Hildegard. Entah kenapa, hatiku berkata bahwa Hildegard selamat dari peristiwa itu, dan aku sangat meyakininya. Tetapi, dia masih belum kembali. Aku tidak tahu dia sekarang ada dimana. Aku hanya berharap dia baik-baik saja." Ujar Parson Bradley.

"Sebenarnya, Parson..." Tuan Higgins menyela. "Hildegard ada di rumahku. Dia bersama kami, dan dia baik-baik saja."

Sontak Parson menatap Tuan Higgins tajam, lalu mencengkram dan menarik kerah bajunya dengan kuat. "Kenapa kau tidak bilang, Simon? Aku sangat mencemaskannya! Sialan!"

Ciel dan Lau melihat kedua orang itu dengan tatapan meh. Baiklah, kali ini dia memang terlali berlebihan.

Parson Bradley, kontras dengan amarahnya beberapa detik yang lalu, ia memeluk Tuan Higgins dengan erat. Ia menangis di pundak Tuan Higgins. "Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Oh Tuhan, terima kasih!"

Lau mendekatkan mulutnya ke telinga Ciel sedekat mungkin, lalu ia berbisik. "Itulah kenapa aku tidak menyukainya."

Ciel tidak menanggapi bisikan Lau.

~ooo0ooo0~

Parson berjalan menaiki kereta kuda yang menjemputnya. Ia melihat Ciel, Tuan Higgins, dan Lau dari jendela kereta, melontarkan, lagi-lagi, sebuah senyuman hangat, dan pamit. Sang kusir kereta mencengkeram tali kekang kuda, lalu memacunya meninggalkan keempat orang yang masih berdiri di depan Chapter-Coffee House.

"Bukankah orang itu sangat menyenangkan?" Cibir Tuan Higgins. "Yah, dia memang pria baik, dan aku sangat menghormatinya."

"Sayang sekali kita tidak mendapat informasi apapun yang berguna." Gumam Ciel.

Mereka mulai berjalan meninggalkan kedai kopi itu. Lau dan Ran Mao pergi ke arah lain yang berlawanan dengan Ciel, meninggalkannya begitu saja setelah, lagi-lagi, seenaknya ikut campur dengan urusannya.

Tuan Higgins menghentikan kereta umum yang berjalan di jalanan Covent Garden. Tuan Higgins membiarkan Ciel masuk terlebih dahulu.

"Tuan Higgins?" Ucap Ciel.

"Ya?"

"Ah, tidak."

Ciel memandang kota yang sibuk dari jendela kereta yang akan membawanya kembali ke kediaman Higgins. Langit London mulai diselimuti awan hitam yang berarak dari Timur. Ia menghela napasnya, lesu, lalu memejamkan mata. Ia ingin semua permasalahan -kasus- ini cepat berakhir.