Sebastian memeluk Hildegard dengan erat, mencoba menenangkan gadis cantik itu dengan kehangatannya. Namun, Hildegard tidak bisa menghentikan histerianya. Ciel, dengan metanya yang terbuka lebar, memeriksa setiap tempat, setiap sudut dan titik, namun ia harus menyerah, karena si pelaku penembakan sudah lenyap.

Tuan Higgins dan Pastor Seymour keluar dari rumah. Mereka menghampiri Hildegard yang masih bersembunyi di balik dekapan Sebastian.

"Apa yang terjadi?" Tanya Tuan Higgins panik.

"Aku pikir kau mendengar suara apa yang tadi mengejutkanmu." Jawab Ciel.

Pastor Seymor, Ia mencondongkan tubuhnya dan menyentuh pipi dingin Hildegard dengan tangannya yang selembut dan sehangat tangan Tuhan, memberikan ketenangan yang bahkan tidak bisa diberikan Sebastian yang masih tidak ingin melepaskannya.

"Tenanglah, Hildie. Sekarang kau baik-baik saja." Ujar Pastor Seymor.

Hildegard melongok dari balik lengan Sebastian yang kokoh. Air matanya masih berlinang, tapi jeritan histerisnya kini sudah berhenti. Ia sudah lebih tenang sekarang.

"Sebastian." ucap Ciel. "Bawa Hildegard ke kamarnya, dan temani dia."

"Yes, My Lord."

~ooo0ooo0ooo~

Tuan Higgins bolak-balik berjalan dengan dahi mengerut, gelisah. Begitu pun dengan Pastor Seymour yang, walaupun terlihat polos dan seperti tidak tahu apa-apa, tetapi -ternyata- dia memiliki peran yang cukup besar dalam kehidupan Nyonya Ainsworth dan keluarga sebelumnya.

"Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Sebelumnya belum pernah ada yang berhasil menemukan Hildie!" Gerutu Tuan Higgins.

"Nyatanya aku bisa menemukannya." Gumam Ciel.

Tuan Higgins menatap Ciel tajam. Sadar bahwa itu tidak akan mengembalikan situasi, ia pun menghela nafas. Ciel memang benar. Dia bisa menemukannya, itu berarti orang lain juga bisa, termasuk para penjahat itu.

"Aku akan naik ke atas." Ucap Ciel. Ia meninggalkan Tuan Higgins dan Pastor Seymour di ruang tamu, naik ke lantai dua menuju kamar Hildegard.

Lantai tempat Ciel berpijak berderit seiring langkah kaki Ciel yang ringan. Dengan tenang, ia berjalan menuju kamar Hildegard di sudut sebelah sana. Tiba di depan pintu, Ciel tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk memasuki kamar setelah ia mendengar suara-suara 'mencurigakan' dari dalam kamar.

"He... hentikan, tuan Sebastian! Sudahlah, aku tidak tahan lagi~"

"Ayolah, Nona Hildegard. Sebentar lagi saja. Sedikit lagi."

Ciel terbelalak. Dengan seluruh emosi yang ia rasakan, ia membuka pintu kamar itu dengan cukup kencang.

"SEDANG APA KALIAN?"

Sebastian -yang ternyata sedang mengurut kaki Hildegard yang sedikit bengkak karena terkilir- mengalihkan tatapannya pada Ciel. Begitu pun Hildegard, tiba-tiba mematung di tengah rasa sakit dan pengap yang dirasakannya.

"Ada apa, Tuan Muda?" Tanya Sebastian polos.

Wajah Ciel merah menyala. Kesal, juga malu. Dia sudah berpikir yang tidak-tidak. Ada apa dengan dirinya ini?

"Su... sudah! Jangan dipikirkan!" Tukas Ciel. Dengan langkah cepat dan perasaan malu yang besar, ia berjalan menuju kursi di depan meja rias Hildegard, dan duduk di sana seperti seorang bocah yang tidak ingin mengakui kesalahannya.

Sebastian tersenyum melihat tingkah tuannya yang begitu menggemaskan. Ia menatap Ciel usil. "Kenapa kau terlihat panik seperti itu, Tuan muda? Apakah ada yang salah?"

"Cepat selesaikan urusanmu! Aku ingin berbicara denganmu!"

Sebastian mengangguk perlahan, lalu terkekeh kecil. Hildegard yang tidak mengerti hanya terdiam, melihat kedua pasangan tuan dan majikan itu dengan penuh tanya -namun sepertinya ia tidak perlu mempermasalahkannya.

Sebastian selesai dengan pekerjaannya. Ia kemudian beralih pada Ciel yang duduk di seberangnya.

"Apa yang ingin anda bicarakan?" Tanyanya pada Ciel.

Ciel tidak segera menjawabnya. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya ke udara secara perlahan. Air muka Hildegard yang masih terlihat syok setelah kejadian tadi membuat mata Ciel terus memandanginya dengan tatapan sebal. Kenapa gadis ini?

"Satu-satunya petunjuk bagi kita telah muncul. Namun, secepat kilat, dia pun menghilang begitu saja. Aku harap kau bisa melihat dan mengingat ciri-ciri pelaku penembakan tadi."

Sebastian menggeleng perlahan. Kali ini ia benar-benar tidak mendapat apapun. Ya, ia sempat melihat sosok kelam pelaku penembakan itu dengan matanya yang setajam bilah pisau perak, properti milik keluarga Phantomhive. Namun, ia tidak dapat menangkap image 'iblis' yang begitu ditakuti Hildegard itu. "Aku khawatir aku akan mengecewakanmu, Tuan muda."

Bibir kecil Ciel mengerucut. Dahinya pun menekuk. Ia menatap sebal Sebastian. Akhir-akhir ini ia tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.

Perhatian Ciel kembali beralih pada Hildegard yang nampak kebingungan dengan percakapan Ciel dan Sebastian. "Kau, apa kau mengenal siapa pelaku penembakan itu? Apa dia adalah orang yang sama yang membantai semua penghuni mansionmu?"

Hildegard tertunduk. Wajah sendunya kembali muncul. Tatapannya sayu. Ia jelas tidak suka jika ia harus mengingat kejadian pahit, baik yang terjadi pada keluarganya, maupun yang baru saja ia alami.

"Aku tidak mengenalnya. Selain itu, aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi pada malam itu." Jawab Hildegard lesu.

"Lalu, apa yang kau maksud dengan 'iblis itu'?" Ciel mulai tidak sabar.

"Aku memang tidak mengenalnya. Tapi... tapi... aura pria itu... sama seperti aura yang menyelimuti rumahku saat kejadian itu."

Sebastian tertegun mendengar kata-kata Hildegard. Benar apa yang diduganya. Ada sesuatu dalam diri gadis itu. Di balik kepolosan dan kesuciannya, dia menyimpan sebuah kekuatan besar. Mana mungkin ada gadis biasa yang bisa merasakan aura supranatural? Dan ya, Sebastian sendiri merasakan aura kelam yang pekat dari pelaku penembakkan tadi. Tapi, dia bukan iblis.

Tunggu dulu...

"Nona Hildegard, kau bisa merasakan kekuatan supranatural?" Tanya Sebastian tiba-tiba.

"Um, ya... begitulah. Ayah pernah berkata bahwa aku gadis yang memiliki kelebihan seperti itu." Jawab Hildegard. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Benar dugaan Sebastian. Ia pun curiga, apakah Hildegard mengetahui bahwa dirinya adalah iblis?

"Aku merasakan sesuatu dari dalam dirimu sejak pertama kita bertemu, Tuan Sebastian." Sambung Hildegard.

Ciel dan Sebastian tertegun. Keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuh mereka. Ciel dan Sebastian saling beradu pandang. Apa yang harus mereka lakukan jika Hildegard mengetahui kebenarannya?

"Ano, Tuan Sebastian. Apa kau juga sama sepertiku? Maksudku, apa kau juga bisa merasakan... hal-hal... seperti itu?"

Sebastian salah. Hildegard tidak menyadarinya. Ia kembali saling beradu tatap dengan Ciel. Nampak perasaan lega menyelimuti kedua orang itu. Segera, Sebastian kembali mengalihkan perhatiannya pada Hildegard. Sebastian tersenyum, lalu menyimpan jari telunjuknya di depan bibirnya. "Ini rahasia kita."

Ciel memutar bola matanya.

"Ehem. Kita kembali ke pembahasan." Ujar Ciel, sedikit kesal. "Kita harus cepat mencari dan menangkap si pelaku penembakan itu. Dia adalah kunci bagi kita menuju pelaku insiden di mansion Ainsworth."

"Tapi apa anda yakin bahwa pelaku penembakan tadi adalah orang yang juga terlibat dalam insiden itu?" Sanggah Sebastian.

"Lalu untuk apa orang itu tiba-tiba datang dan menyerang Hildegard?" Ciel melangkah menuju jendela yang ada di belakang Sebastian. Tatapannya kian serius. "Tidak mungkin si penembak itu hanya seorang perampok biasa. Dia terlalu bodoh untuk merampok sebuah rumah kecil yang bahkan tidak ada apa-apanya."

"Kecuali Nona Hildegard." Bibir Sebastian mengerucut.

Derap langkah dua pasang kaki terdengar mendekati kamar Hildegard. Tuan Higgins dan Pastor Seymour muncul di ambang pintu dengan wajah serius dengan seribu maksud.

Tatapan Ciel tertuju langsung pada kedua orang itu. Matanya yang menatap kegelapan, mencoba menerka apa yang kedua orang itu inginkan. Pastor Seymour terlihat -masih- kikuk, sementara Tuan Higgins berdiri dan menatap balik Ciel dengan penuh keyakinan.

Apa lagi sekarang?

-To be Continued-