"Kalau begitu," ucap Krishna "kita berbincang lebih nyaman lagi di dalam istana."

Sangkuni tersenyum, dan secara perlahan menganggukan kepalanya.

Angin yang berhembus terasa lebih kencang menusuk belulang. Awan putih serupa gulungan kapas berarak di atas langit Dwaraka dari arah Selatan. Ridhima, yang tidak segera mengikuti langkah kaki ayah dan para tamunya berdiri mematung di tengah nuansa menyejukkan itu. Walaupun cuaca sedang bagus, tapi hatinya tak sebagus itu, setidaknya sejak ia melihat keempat orang asing itu di hadapannya. Tidak, mereka tidak asing. Ayahnya Krishna sudah berkata bahwa mereka adalah keluarganya juga. Tapi, entah kenapa, ia tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, dan itu karena mereka, keluarga yang sangat asing dari Hastinapura.

"Ridhima?" Seru Krishna. "Kenapa masih berdiri di sana? Ayo!"

Ridhima berlari kecil menyusul mereka yang sudah berada sekitar tujuh meter di depannya. Ia tidak mendekati Krishna yang berjalan di depan. Ada Duryodhana dan Sangkuni di sana, di samping ayahnya. Ia memperlambat laju langkahnya, dan bersanding bersama pria gagah yang terlihat baik dan ramah di belakang. Karna yang menyadari kehadiran putri berperawakan mungil itu langsung menengok padanya, dan melontarkan sebuah senyuman yang hangat.

"Salam, Tuan Putri Ridhima." Sapa Raja Angga Karna.

"Ah, salam." Jawab Ridhima ragu.

Dia berbeda, pikir Ridhima saat ia merasakan kehangatan dalam diri pria bertubuh jangkung itu. Senyumannya juga tulus dan... manis. Ridhima tersenyum sendiri, membayangkan hal yang tidak-tidak.

Setengah jalan sudah mereka lalui menuju istana. Ridhima tiba-tiba berhenti saat ia melihat sesosok lelaki muda tampan yang sedang berlatih memanah di balik sebatang pohon di sana. Saat ia melihat penampakan wajah pemuda itu dengan jelas, ia menghentikan langkahnya.

"Ayah, aku ke sini dulu sebentar." Ujar Ridhima antusias, dan mulai berlari meninggalkan Krishna dan yang lainnya menuju lapangan berpilarkan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi.

Ridhima tidak langsung menghampiri pemuda itu. Ia justru bersembunyi di sebalik pohon, memandang pemuda itu diam-diam sambil terkekeh kecil.

Sebuah anak panah yang dilepaskan pemuda itu melesat cepat kilat ke arah Ridhima, membuatnya terperanjat, terkejut. Ridhima berteriak saat anak panah itu, secara mendadak, tertancap di batang pohon tempatnya bersembunyi. Matanya terpejam, pasrah kepada takdir buruk yang menimpanya. Walaupun anak panah itu tidak mengenainya, tetap saja, rasanya seperti ribuan anak panah menghujam tubuhnya yang sedang iseng mengintip pemuda gagah itu.

Melihat ekspresi terkejut Ridhima yang terlihat... lucu, pemuda itu tertawa lepas, dan membuat Ridhima kesal.

"Itu tidak lucu, tahu!" Ujar Ridhima kesal. Wajahnya kini semerah shindoor yang tergaris di dahi ibu Rukmini dan bibi Subadra.

"Ahahahahahahaha! Lagi pula sedang apa kau di sana? Kau sedang mengintipku, ya?" Jawab pemuda itu tanpa berhenti tertawa.

Ridhima berjalan dengan cepat menuju pemuda itu, masih kesal. Tanpa berkata apapun lagi, ia memukuli pemuda itu dengan tangan kecilnya. "Dasar menyebalkan! Kak Abhimanyu menyebalkan! Aku benci! Aku benci!"

"Aduh! Hentikan, Ridhima! Aw! Sakit! Baik, baik. Maafkan aku!" Erang Abhimanyu.

Ridhima menghentikan serangannya. Ia menatap Abhimanyu dengan tatapan sinis. Ia masih kesal. Abhimanyu tersenyum, lalu menyentil dahi Ridhima dengan lembut. "Baiklah, mau apa kau ke sini?" Ucap Abhimanyu

"Aku hanya ingin melihatmu latihan. Itu saja. Tapi kau malah ingin membunuhku." Jawab Ridhima ketus.

Abhimanyu kembali terkekeh kecil. "Sudahlah, jangan marah lagi! Bukankah aku sudah minta maaf. Lagi pula, mana mungkin aku membunuhmu. Kalau aku membunuhmu.. tidak. Bahkan kalau aku melukaimu sedikit saja, bisa-bisa Paman Krishna menghancurkanku, bahkan mungkin dunia ini." Abhimanyu mengulurkan tangannya, lalu membelai kepala Ridhima dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. "Aku sendiri tak akan memaafkan diriku sendiri jika aku sampai menyakitimu."

Ridhima, yang hatinya mulai luluh, melontarkan sebuah senyum kecil. Sungguh, senyumannya sangat cantik. Ia sangat cantik, hingga membuat Abhimanyu hampir lupa kalau dia adalah adik sepupunya, adiknya. Jika ia sampai lupa, ia pasti akan terkena murka paman dan ibunya karena hendak menikahi adiknya sendiri.

"Nah, kalau kau tidak keberatan," ucap Abhimanyu. "aku akan melanjutkan latihanku."

Abhimanyu meraih busurnya yang tergeletak di bawah kakinya, dan Ridhima menepi, menjaga jarak dari Abhimanyu yang mulai menembakkan beberapa anak panah menuju sasarannya. Ia tak ingin jika kakak sepupu yang sangat ia sayangi itu kembali melesatkan anak panahnya ke arahnya, baik itu disengaja maupun tidak.

Ridhima, tanpa merasa bosan, memandang Abhimanyu kagum. Ia sangat hebat, pikirnya. Ia sangat baik, menyenangkan, dan terkadang menyebalkan di luar arena. Tapi, di dalam arena, ia terlihat sangat gagah, berani, dan mempesona. Mata tajam yang membidik sasaran di depannya selalu membuat Ridhima tak henti memandangnya.

Saat itu, suatu perasaan dan pemikiran aneh mengganjal benak Ridhima. Dia tahu bahwa Abhimanyu sangat senang berlatih, apalagi jika bersama ayahnya, Krishna. Tapi, akhir-akhir ini, ia berlatih dengan sangat tidak wajar. Sekeras apapun Abhimanyu berlatih, ia tidak pernah berlatih sekeras, selama, dan sekuat ini.

"Kak Abhimanyu?"

"Ya?" Jawab Abhimanyu tanpa sedikitpun menoleh ke arah Ridhima. Ia terlalu fokus pada sasarannya.

"Kenapa akhir-akhir ini kau berlatih dengan sangat keras?"

Abhimanyu yang hendak menarik tali busurnya terdiam. Ia menurunkan tangannya, dan mulai memusatkan perhatiannya pada Ridhima.

"Aku harus berlatih keras karena sebentar lagi perang akan segera terjadi, Ridhima."

Ridhima tertegun. Batinnya belum siap menerima semua ini. Sebisa mungkin, ia mencoba untuk tetap tenang.

"Perang? Apa ada yang akan menyerang Dwaraka?" Tanya Ridhima.

Abhimanyu menggeleng perlahan. "Bukan hanya itu. Ini adalah sebuah perang besar yang mempertaruhkan keadilan dan kebenaran di daerah Arya. Aku kira kau sudah tahu tentang permainan dadu Paman Yudhistira dan penghinaan yang dilakukan oleh Paman Duryodhana kepada Ibu Drupadi di istana Hastinapura."

Ridhima semakin tertegun. Tubuhnya kini mulai bergetar. Pikirannya tidak jernih. Sebuah perang besar? Ia tidak pernah merasa setakut ini saat perang-perang sebelumnya terjadi. Dan yang lebih buruk lagi...

"Maksudmu... Perang melawan orang-orang itu?" Tanya Ridhima, lagi.

"Jadi, kau sudah bertemu dengan Paman Duryodhana?"

Ridhima menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi ayah bilang mereka adalah keluarga kita."

"Dia bahkan murid dari Paman Balarama dan mertua Kak Samba." Timpal Abhimanyu.

Firasat Ridhima benar. Orang-orang itu bukanlah orang baik-baik. Dan, Paman Duryodhana itu yang melakukan penghinaan terhadap bibinya Drupadi? Krishna telah banyak bercerita tentang bibi Drupadi dan ketidak adilan apa yang menimpanya. Tapi, ia tidak pernah tahu hal lainnya.

"Ah, aku pergi dulu. Dah!"

"Hei, Ridhima! Kau mau ke mana?"

Ridhima berlari menyusuri pepohonan yang berderet di jalan menuju istana. Kakinya yang kecil dan ringan nampak membuatnya seperti melayang di atas awan. Secepat mungkin, ia berlari menuju istana. Ia ingin menanyakan banyak hal kepada ayahnya. Banyak sekali.

Kakinya mulai menapaki tangga menuju ruang utama istana, dimana ia tanpa sengaja menabrak bibinya, Subadra, yang sedang berjalan dengan santai.

"Ah, maafkan aku bibi." Kata Ridhima.

"Ridhima? Kenapa kau berlarian seperti itu?" Tanya Subadra.

"Aku... ayah dimana?"

"Ayahmu sedang bersama tamu-tamunya di ruang pertemuan. Sebaiknya kau jangan dulu menemuinya."