Arjuna berjalan menghampiri kedua perempuan di puncak teras istana dengan langkah seorang ksatria yang kembali dari medan perang. Ya, selama di pengasingan, ia telah melewati banyak rintangan dan cobaan yang sama beratnya dengan peperangan. Bahkan mungkin lebih dari itu.

Subadra tersenyum sangat bahagia saat sang suami kini berada tepat di hadapannya. Seperti mimpi, ia tak pernah menduga jika Arjuna kembali dari pengasingan dan langsung menemuinya di Dwaraka.

"Subadra..." Gumam Arjuna. Senyuman yang dilontarkannya membuat Subadra, sevara refleks, memeluk Arjuna dengan rasa senang yang sangat luar biasa. Ia tumpahkan rasa rindunya yang besar saat itu juga, detik itu juga. Arjuna membalas kasih sayang yang dilimpahkan Subadra kepada dirinya dengan merangkul sang istri dengan penuh kehangatan.

"Tuanku. Aku sangat merindukanmu." Ucap Subadra senang.

Arjuna langsung melepaskan rangkulannya tatkala matanya menangkap sesosok makhluk cantik yang berdiri di belakang Subadra, yang memandanginya dengan mata yang berbinar.

"Subadra, siapa putri yang manis ini?" Tanya Arjuna.

Subadra membalikkan tubuhnya untuk melihat Ridhima secara jelas. "Ah, sudah kuduga kau pasti tidak tahu. Dia Ridhima, putri bungsu Kak Krishna. Usianya dua setengah tahun lebih muda dari anak kita Abhimanyu." Terang Subadra.

Ridhima, yang baru terbangun dari kekagumannya, langsung melontarkan senyuman manis. Dengan segera, ia menyentuh kaki Arjuna. "Salam, paman Arjuna."

Arjuna tersenyum. "Diberkatilah."

Ridhima segera menegakkan badannya, menyambut kedatangan Arjuna dengan senyuman khasnya yang manis -yang belum sempat ia lontarkan pada Arjuna karena terlalu terpaku pada sosok gagah yang selama ini membuatnya penasaran.

"Ah, Paman Arjuna! Akhirnya aku bisa bertemu denganmu!" Seru Ridhima secara tiba-tiba, membuat Arjuna sedikit terlonjak dan akhirnya tertawa.

"Hahaha. Kau anak yang bersemangat, ya. Aku senang bisa bertemu denganmu, nak." Arjuna membelai kepala Ridhima, melimpahinya semua do'a baik yang bisaia berikan.

"Tuanku, apa kau sudah bertemu dengan putra kita?" Tanya Subadra.

"Ya. Aku baru saja menemuinya di tempat latihannya. Abhimanyu adalah anak yang sangat hebat. Aku sangat bangga kepadanya." Jawab Arjuna.

Subadra tersenyum puas. Betapa senangnya ia mendengar bahwa akhirnya suami yang ia cintai bertemu dengan putra terkasihnya setelah beberapa tahun mereka terpisah oleh takdir kejam yang memperlakukan suami, saudara ipar, dan terkhusus istri pertama mereka dengan tidak adil.

Arjuna melongok ke belakang Ridhima dan Subadra seperti sedang mencari seseorang. Subadra yang menyadari hal itu mengulurkan tangannya, lalu memegang lembut bahu kokoh sang suami.

"Ada apa tuanku? Apa yang kau cari." Tanya Subadra. Ia mulai melongok ke arah pintu masuk istana, mengernyitkan sedikit dahinya, seperti yang dilakukan Arjuna.

"Um, dimana Madawa? Aku ingin bertemu dengannya.

Subadra langsung menurunkan lengannya. Bibir indahnya menekuk secara tiba-tiba. Alisnya pun ikut ia tekukkan. Bukannya ia tidak suka, tetapi apa setidaknya ia tidak merindukan istri cantiknya ini? Tapi, Subadra langsung mengurungkan kekesalannya begitu ia melihat wajah Arjuna yang terlihat serius.

"Kakak sedang ada tamu." Jawab Subadra. "Aku kira kau tidak ingin tahu siapa tamunya."

Arjuna mengangkat sebelah alisnya, merasa sedikit penasaran dengan apa yang disembunyikan Subadra, walau sebenarnya ia sudah memiliki dugaan. Ia beralih pada Ridhima yang sedari tadi berdiri dengan kikuk di samping istrinya.

Tatapan Arjuna dan Ridhima saling bertemu, membuat Ridhima tak bisa menyembunyikan apapun lagi. Ia harus siap membuat Paman Arjunanya merasa tidak senang. "Paman Duryodhana dari Hastinapura."

Raut wajah Arjuna terkesan biasa saja. Namun, air mukanya mengisyaratkan sebuah kekesalan dan kemarahan yang besar.

"Sejak kapan dia ada di sini? Dan mau apa dia?" Tanya Arjuna

"Sejak tadi pagi." Jawab Subadra.

Melihat ekspresi Arjuna yang seserius itu, Ridhima tahu bahwa akan terjadi sesuatu yang besar, selain dari wacana perang yang Abhimanyu ceritakan kepadanya.

"Paman, apakah kau akan menumpas semua kejahatan di muka bumi ini?" Tanya Ridhima spontan.

Arjuna tersenyum hangat. Ia pandangi keponakannya itu dengan penuh kelembutan. "Tentu Ridhima. Paman akan memberantas semua kejahatan, atas nama kebenaran."

Ridhima tersenyum, namun wajahnya masih menyiratkan kecemasan yang besar. "Terima kasih, paman."

~ooo0ooo0ooo~

Sang Rembulan bersinar dengan cerah, menampakkan wujudnya yang jelas di atas langit malam Dwaraka yang bertabur bintang. Ridhima duduk santai di gazebo taman, menyaksikan sepasang angsa putih yang sedang bercengkrama di atas kolam jernih yang memantulkan bayangan rembulan di atas langit. Sambil berdendang secara perlahan, ia merangkai sisa tangkai bunga yang ia ambil di padang bunga tadi siang bersama Gehna.

"Nyanyianmu selalu indah seperti biasanya, putriku." Suara itu tiba-tiba muncul entah dari mana. Ridhima yang terkejut menghentikan nyanyiannya, lalu menengok ke kanan dan ke kiri, mencari dari mana asal suara itu. Sesosok indah seorang lelaki yang sudah tak asing bagi dirinya tertangkap oleh matanya di depan gazebo, bermandikan sinar rembulan yang cerah, Basudewa Krishna terlihat sangat menawan.

Krishna menapaki dua, tiga anak tangga dan masuk ke dalam gazebo. Ia duduk tepat di samping kiri Ridhima yang sibuk merapikan karangan bunga buatannya.

"Apa yang sedang putriku lakukan di malam berbintang yang indah ini? Udara malam tidak baik untukmu." Ucap Krishna.

Ridhima tersenyum tipis. "Aku hanya sedang merangkai bunga, ayah."

Krishna bergeser lebih dekat lagi dengan Ridhima yang sibuk dengan pekerjaannya, seolah ia mengabaikan ayahnya yang duduk di dekatnya. Ia mulai membelai Ridhima dengan tangannya yang selembut kasih sayang Dewa. Berulang kali, ia membelai rambut Ridhima yang dibiarkannya terurai panjang. "Ada apa Ridhima? Apa yang mengganggu pikiranmu?"

Bum! Seperti yang ia duga, ayahnya selalu tahu apa problema yang tengah ia pikirkan dan rasakan. Sekeras apapun Ridhimamenyembunyikan sesuatu, ayahnya pasti selalu mengetahuinya. Kali ini, walaupun hatinya sedang gundah, ia sengaja tidak memberitahukan dulu persoalannya karena Ridhima tahu bahwa Krishna akan segera mengetahuinya, cepat atau lambat.

Ridhima menghentikan aktivitasnya. Ia sandarkan kepalanya ke bahu sang ayah. Krishna merangkul pundak Ridhima, menjaganyauntuk tetap hangat di tengah malam yang dingin ini -mengingat bahwa Ridhima memiliki fisik yang lemah.

"Ayah," Ucap Ridhima lirih. "apa yang akan terjadi jika dunia ini jatuh ke dalam sebuah perang yang besar?"

Krishna tidak segera menjawabnya. Sekali lagi, ia membelai lembut kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Ridhima sayang, ayah yakin kau belum pernah mendengar kisah tentang seorang putri yang terlahir dari api suci dan pertemuannya dengan kelima pangeran yang akan mengubah takdir bangsa Arya." ucap Ridhima.

Ridhima menggelangkan kepalanya perlahan.

"Maukah kau mendengar ceritanya? Kau adalah anak yang cerdas. Ayah yakin setelah kau mendengarkan kisah ini kau akan menemukan jawaban untuk semua pertanyaanmu. Dan kau akan memgerti."

Ridhima, kali ini, mengangguk. Ia bersiap untuk mendengarkan kisah yang akan dituturkan oleh sang ayah.

Krishna pun mulai bercerita. Sebuah cerita dari putri yang terlahir dari api dan para suaminya, yang akan menegakkan kebenaran dan membawa kejayaan di daerah Arya. Sebuah kisah yang panjang tentang Bibinya Drupadi dan para Pandawa, pamannya, yang membawanya ke jalan takdir yang telah digariskan Yang Kuasa untuknya...

-To be Continued-