Pagi itu, Ridhima berjalan di koridor istana dengan santai. Hari ini, seperti yang telah ia rencanakan, ia akan menemani Abhimanyu latihan. Dan setelahnya, Ia akan pergi ke kuil dan pasar untuk membeli beberapa barang dengan ditemani Abhimanyu, sesuai yang Abhimanyu janjikan padanya.
Langkah Ridhima terhenti tatkala di persimpangan koridor ia mendengar suara Pamannya, Balarama, tengah berbicara dengan seseorang. Ia merapatkan diri ke tembok pualam berwarna cerah di dekatnya. Mata indahnya mengintip dari balik dinding, penasaran dengan siapa yang sedang berbicara dengan Balarama.
"Dengan rendah hati aku meminta bantuanmu, guru. Aku ingin kau membantu kami menghadapi para Pandawa di perang nanti." Ucap Lelaki itu dengan berlinang air mata. Ya, lebih tepatnya itu hanya tetesan air mata buaya.
Ridhima, berbanding terbalik dengan apa yang dikhawatirkannya, semakin menajamkan telinganya dan memfokuskan penglihatannya. Ia memperhatikan percakapan antara kedua pamannya itu dengan seksama. Ia tahu ia tidak memahami apapun, tapi ia mengerti bahwa saat ini situasinya sedang tidak baik, seperti apa yang telah diceritakan oleh ayahnya tadi malam.
Sebuah tangan halus yang tiba-tiba mendarat di pundak Ridhima mengejutkannya, membuatnya hampir bersuara. Jika ia terlambat menutul mulutnya dengan tangan, mungkin kedua orang yang sedang ia intip itu akan menyadari bahwa pembicaraan mereka sedang disadap, dan buruknya, oleh seorang gadis yang bahkan tidak tahu apapun.
Ridhima berbalik, mencari tahu siapa yang telah mengejutkannya. Ia mendapati wajah Abhimanyu yang sama pucat dan terkejutnya dengan dirinya.
"Kak Abhimanyu!"
"Sedang apa kau di sini? Paman Krishna mencarimu." Ujar Abhimanyu.
Ridhima meletakkan jari telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Abhimanyu untuk terdiam. Abhimanyu malang yang kebingungan hanya mengangkat sebelah alisnya. Ridhima menarik lengan Abhimanyu, dan memperlihatkan apa yang sedang diintipnya dari balik dinding, dan sebisa mungkin, tetap membuat dirinya tersembunyi.
"Aku ingin sekali membantumu." Ucap Balarama. "Tapi, semua tergantung pada keputusan adikku Krishna."
Duryodhana terlihat tidak senang.
"Temuilah dia secepatnya. Dia akan menerima permohonan siapapun yang pertama menemuinya." Sambung Balarama.
Ridhima dan Abhimanyu saling memandang.
"Kakak, apakah kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ridhima pada Abhimanyu.
"Aku rasa ini bersangkutan dengan perang yang akan segera terjadi..."
Sebelum Abhimanyu melanjutkan kalimatnya, pendengarannya yang tajam menangkap suara hentakan kaki yang mulai terdengar semakin mendekati posisi mereka berdiri. Abhimanyu, dengan segera, menarik tangan Ridhima menjauhi persimpangan koridor. Betul saja, Duryodhana dengan langkah yang sedikit terburu-buru muncul di hadapan mereka. Beruntung, ia tidak melihat kedua muda-mudi itu, dan beruntung pula, ia berjalan ke arah sebaliknya sehingga ia tidak menjumpai Abhimanyu dan Ridhima yang bersembunyi di sebalik guci besar yang berada sekitar lima meter dari persimpangan itu.
Setelah Duryodhana dipastikan pergi, kedua sepupu itu keluar dari tempat persembuyiannya.
"Aku mengerti." Gumam Abhimanyu. "Sepertinya Paman Duryodhana berusaha meminta bantuan Yadawa yang berada di pihak yang netral. Kau sendiri tahu kekuatan pasukan Narayani yang begitu hebat. Ditambah dengan kekuatan Paman Balarama dan Paman Krishna. Jika sampai Yadawa berada di pihak mereka, bisa gawat."
Ridhima termenung. Ia berusaha mencerna sedikit demi sedikit apa yang dikatakan Abhimanyu barusan. Pikirannya mulai berputar. Apa ia bujuk saja ayahnya untuk tidak menerima permohonan Kurawa? Ia tahu bahwa Krishna tidak mungkin menolak permintaan putri semata wayang yang sangat dikasihinya. Tetapi, Balarama sendiri berkata bahwa ayahnya itu telah bersumpah untuk memenuhi permintaan siapapun yang terlebih dahulu menemuinya.
"Tapi," lanjut Abhimanyu, "kita tak perlu khawatir. Ayahku sudah datang untuk meminta bantuan Paman Krishna. Lagi pula, Ibu sudah memberitahu ayah hal serupa. Dia akan menemui Paman Krishna sebelum Paman Duryodhana mendatanginya."
Ridhima mulai tersenyum. Sebuah harapan muncul di benaknya saat nama Arjuna keluar dari mulut Abhimanyu.
"Semoga saja." Ucap Ridhima optimis. "Pokoknya Ketidak benaran tidak boleh menang."
Abhimanyu tersenyum. Perlahan, senyumannya berkembang menjadi sebuah tawa kecil yang mengusik Ridhima.
"Hahaha. Dasar kau ini. Sudahlah. Kau ingin melihatku latihan, bukan?" Ucap Abhimanyu.
"Iya. Dan kau juga sudah berjanji akan mengantarku ke kuil dan berbelanja di pasar." Timpal Ridhima
"Iya iya. Kalau begitu, ayo!"
Sepertinya ada sesuatu yang terlupakan...
~ooo0ooo0ooo~
Duryodhana keluar dari sebuah ruangan luas nan indah dengan wajah berseri yang memancarkan perasaan menang. Kakinya yang kuat terhentak keras, menghasilkan sebuah irama berdebum yang menggetarkan bumi. Ia membusungkan dadanya, bangga akan hasil yang ia raih. Perasaan kesal masih menggelayuti benaknya, namun ia senang karena usahanya membuahkan hasil yang baik, setidaknya bagi dirinya.
Sangkuni, dengan tergopoh-gopoh, menghampiri keponakannya itu dengan semangat yang membara. Senyuman Duryodhana membuatnya senang karena rencana liciknya --sepertinya- berjalan dengan baik.
"Keponakanku," ucap Sangkuni, "bagaimana hasilnya? Apakah Basudewa Krishna setuju untuk berada di pihak kita?"
Duryodana tersenyum lebar. "Lebih dari itu, paman. Kita mendapatkan pasukan Narayani Akshaudini Krishna yang kuat dan tangguh. Para Pandawa pasti tidak akan bisa berkutik. Dan bodohnya, Arjuna hanya meminta Krishna yang bahkan tak bersenjata. Hahaha."
Sangkuni, raut wajahnya yang sebelumnya berbinar, merasa sangat marah. "Kau yang bodoh, keponakanku Duryodhana! Kenapa kau tidak meminta Basudewa Krishna yang berada di pihakmu?"
Duryodhana berbalik marah pada pamannya itu. "Apa untungnya seorang kusir yang bahkan tidak bersenjata? Basudewa Krishna bisa menjadi sangat hebat karena senjata cakra sudarsananya. Jika ia tidak membawa senjatanya, apa bedanya dia dengan temanku Karna yang kutugasi sebagai kusir keretaku?"
Sangkuni lebih mendekatkan dirinya pada Duryodhana. Ia mengangkat kedua tangannya, dan mendaratkannya di bahu kokoh sang keponakan. Ia pandang Duryodhana dengan sebelah matanya yang terbuka.
"Kau salah, keponakanku. Senjata terhebat yang dimiliki Basudewa Krishna bukanlah Cakra Sudarsananya," Sangkuni mengacungkan jarinya, lalu ia menunjukkannya kepada kepalanya sendiri, "tetapi akalnya. Bukankah sudah kubilang kalau Basudewa Krishna adalah manusia terlicik yang pernah ada? Kekuatan tidak akan pernah bisa mengalahkan akal dan pikiran, sehebat dan sekuat apapun itu. Dan, apa kau pikir Basudewa Krishna akan diam begitu saja saat melihat pasukan kita hampir menang? Ingatlah penghinaan yang kita dapatkan saat kita datang ke Dwaraka untuk melangsungkan upacara pernikahanmu dengan Subadra!"
Dursasana yang sedari tadi terdiam di samping pamannya Sangkuni mulai angkat bicara. "Kalau begitu, bagaimana solusinya, paman?"
Mata kiri yang terkatup itu menebarkan sebuah aura kelabu yang pekat, yang mulai berputar di atas kepala Raja Gandhara dengan sejuta kelicikannya. Sangkuni berjalan mendekati balkon, memandang indahnya pemandangan alam Dwaraka dari dalam kamar yang terletak di lantai tiga istana. Matahari dengan semua kegelapannya menyinari pria berjanggut tebal itu.
Dari atas sana, Sangkuni menangkap sosok cantik Ridhima beserta Abhimanyu dan beberapa pelayan yang berjalan di sekitar halaman depan istana dengan membawa beberapa barang yang baru saja dibelinya di pasar. Sebuah senyuman sinis tersungging di bibir Sangkuni, dengan segenap perasaan senang yang bercampur dengan dendam dan rencana jahat yang muncul di pikirannya.
"Basudewa Krishna... Putrinya itu akan menjadi kunci kemenangan kita."
--To be Continued--
