02
.
.
.
.
.
.
.
Mungkin terkadang anak cheers itu suka dijadikan kambing hitam dalam drama-drama remaja berbumbu romansa, tokoh antagonis pasti berasal dari geng-geng anak perempuan yang hobi memakai rok mini dan berteriak nyaring itu.
Tapi di dunia nyata pun Jihoon pernah merasakannya. Merasakan menjadi tokoh protagonis yang dibully sekumpulan gadis-gadis centil pemandu sorak di sekolahnya.
Mungkin agak menyedihkan sih kalau kasusnya, maksudnya Jihoon kan cowok masa dibully cewek? Tapi mereka itu setengah penyihir jadi wajar dong kalau Jihoon kewalahan.
Dan Jihoon tahu benar motifnya. Apalagi saat sosok jihyo yang memimpin barikade gadis pom pom itu.
Sepertinya yang namanya mantan dan pacar mantan itu selalu menimbulkan perang dunia ketiga bagi kehidupan masing-masing individu. Termasuk Jihoon.
Sejak Seungcheol lulus, gadis itu jadi punya kesempatan emas untuk menganggu Jihoon. Bukannya dia membiarkan gadis itu begitu saja, Jihoon pernah mengganti air mineral gadis itu dengan air dalam botol kemasan yang sama yang sudah dia tambahkan gula dan garam ke dalamnya.
Larutan oralit yang membuat gadis itu sembelit dan rasanya benar-benar definisi dari sembelit.
Tapi yang paling membuat Jihoon meledak adalah saat dia mendapati ruang musik tidak karuan dengan kertas-kertas yang bertebaran, Jihoon menjumputinya hanya untuk mendapati kalau itu adalah lirik-lirik dan notasi tangga lagu yang telah dia buat.
Saat pulang Jihoon mengunci dirinya di kamar tanpa melepas sepatunya. Ibunya menggedor pintu dan memanggil namanya dengan khawatir, tapi yang keluar dari bibir Jihoon hanya sesenggukan. Dia menolak untuk melakukan apapun sejak hari itu.
Rasanya seperti tidak ada lagi hal yang tersisa untuknya. Jihoon terlalu banyak kehilangan. Seungcheol tidak disana, musik itu hidupnya. Tapi kerja kerasnya hancur. Tidak ada yang Jihoon lakukan selain menangis.
Lalu paginya entah bagaimana caranya wajah Seungcheol menjadi hal pertama yang menyapanya saat dia membuka mata.
Seungcheol itu kadang terlalu baik. Jihoon jadi tidak mengerti. Dia pacarnya, bukan superhero, bukan juga ibu peri tapi entah bagaimana selalu bisa menyelamatkan Jihoon dan melakukan apa saja demi mendengar suara tawanya kembali.
Dan Seungcheol selalu bilang "semua baik-baik saja." Yang Jihoon percaya benar adanya.
Semua baik-baik saja, dia baik-baik saja, dia lulus tanpa penghalang yang berarti, nilainya sempurna dan dia langsung diterima di universitas kenamaan di kota.
Jihoon yakin semua telah berubah. Dia sudah tidak butuh superhero atau ibu peri lagi. Dia hanya butuh pacarnya, butuh Seungcheol.
"Kamu bisa tinggal denganku," Seungcheol berujar, mereka tengah menikmati semilir angin malam dari balkon rumah Jihoon.
Malam ini ibunya mengundang keluarga Seungcheol untuk makan malam. Katanya pesta perayaan. Mereka membicarakan banyak hal di meja makan termasuk sekolah Jihoon.
Seungcheol jelas kecewa, dia pernah bilang kalau mereka bisa tinggal bersama saat kuliah, tapi Seungcheol memilih sekolah yang terlalu jauh dan Jihoon punya sekolah impiannya sendiri, sama seperti kakaknya.
"Terlalu jauh." Dan juga susah bagi Jihoon untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
"Tapi kamu akan mudah melupakanku jika kita tidak sering bertemu."
Jihoon jadi ingat masa-masa SMA dulu. Saat Seungcheol selalu meluangkan waktunya untuk menjemputnya setiap minggu, mengejutkan Jihoon dengan kehadirannya di ruang musik. Dia rela bolak-balik demi bertemu Jihoon.
"Bukankah aku yang harusnya bilang begitu padamu?"
"Kenapa denganku? Ada apa, ji? Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman ya? Apa aku melakukan kesalahan?"
Mendengar Seungcheol mengatakan itu Jihoon jadi merasa bersalah. Selama ini Seungcheol selalu berusaha keras untuk Jihoon, apapun untuknya. Tapi dia malah bertingkah kekanak-kanakan seperti ini. Seungcheol pasti kecewa, dia pantas kecewa.
"Tidak ada. Maaf..." Bisiknya. Segera tubuhnya ditarik oleh Seungcheol untuk dipeluk.
"Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu katakan padaku, ya?"
Jihoon mengangguk.
Mereka menikmati dekapan hangat itu setidaknya sampai suara Yoongi terdengar. "Masuk, ji. Udara mulai dingin kau bisa sa--kit Apa yang kalian lakukan?!"
Jihoon menjauhkan tubuhnya seketika. Berjalan masuk melewati kakaknya tanpa mempedulikan tatapan apa-yang-kalian-lakukan milik Yoongi.
"Jangan macam-macam dengan dia, Choi!" Jihoon dengar kakaknya memperingati.
Dia berjalan ke dapur membantu ibunya mencuci piring selagi beliau membersihkan meja makan. Kemudian Seungcheol sudah ada di sampingnya membantu nya meletakan semua piring ke rak.
"Kapan pulang?" Jihoon bertanya. Dia tidak suka kalau mereka hanya diam-diam saja, takut Seungcheol menganggapnya canggung dan membosankan.
"Besok," Seungcheol menjawab kemudian dia mendekat dan berbisik. "Aku mau menginap disini, boleh?"
Jihoon merasa bulu kuduknya berdiri seketika. Kalau Seungcheol berbisik begitu, menginap jadi terasa punya arti yang lain.
"S-sudah t-tanya eomma?"
"Sudah," masih berbisik, "bibi bilang aku bisa tidur di kamarmu."
Jihoon menoleh untuk mendapati meja makan telah kosong. Ibunya sudah tidak ada disana. Hanya dia dan Seungcheol di dapur membicarakan sesuatu tentang menginap.
"K-kenapa tidak dengan Yoongi h-hyung saja?" Karena Yoongi punya kamar yang lebih besar dan dia terbiasa dengan konsep menginap, Jihoon kan tidak. Sekalipun itu dengan Seungcheol.
"Yah kamu kan pacarku, masa aku tidur dengan kakakmu..." Seungcheol merengek dan Jihoon tidak salah dengar.
"Memang kalau pacar harus tidur bersama?"
Seungcheol menelan ludahnya seketika.
Oke Jihoon itu polos, dia mungkin tidak mengerti kalau tidur bersama itu terdengar tidak cocok untuk disamakan dengan konsep menginap yang dimaksud Seungcheol.
Menginap itu tidur, tidur bersama ya juga tidur, begitu pikirnya. Tapi Seungcheol yang sudah bertemu dengan banyak orang, mempelajari banyak hal tentang sistem 'tidur' di dunia ini mengerti kalau itu berbeda.
Tapi dia hanya menjawab, "kan aku kangennya sama kamu, Ji."
Muka Jihoon memerah seperti dugaannya. "Tapi jangan bilang-bilang kakakmu ya?" Seungcheol mewanti. Jihoon mengangguk.
*
Jihoon tidak pernah menyembunyikan apapun dari Yoongi, sekalipun dia selalu ingin. Jadi menyelundupkan Seungcheol ke kamarnya itu terasa salah baginya. Dia merasa bersalah pada abangnya.
Memang kadang Yoongi itu sedikit cerewet kalau menyangkut Seungcheol. Sepertinya setelah Seungcheol pergi jauh kepercayaan Yoongi padanya juga ikut menjauh.
Tapi Jihoon ingin membuatnya sadar kalau dia salah. Tidak ada yang berubah dari Seungcheol. Dia bahkan lebih manis, lebih perhatian dan lebih suka pelukan.
Dia memeluk Jihoon sekarang sambil bergelung di bawah selimut. Jihoon menikmatinya, dia suka semua bentuk pelukan Seungcheol, dan sepertinya dia juga tidak menyembunyikan itu dari Yoongi.
Jihoon suka dingin, tapi tubuhnya tidak, tubuhnya butuh yang hangat-hangat dan pelukan Seungcheol itu hangat. Jadi dia suka, tubuhnya suka.
Apalagi saat Seungcheol mengusap alisnya lembut, membuatnya mengantuk.
"Ji ... Jihoon ... Sayang ... Sudah besar sekarang..." Seungcheol bergumam. Jihoon terkekeh geli karena dia terdengar seperti seorang bapak yang tidak tega melihat anaknya tumbuh besar.
Jadi Seungcheol itu selain bisa menjadi pacarnya, superhero, ibu peri, dia juga bisa menjadi ayahnya. Jihoon jadi heran dengan sosok apa yang tidak bisa Seungcheol mainkan. Dia harusnya jadi aktor.
"Jadi dulu itu aku kecil?" Jihoon bertanya main-main.
Tapi Seungcheol menjawab, "Sekarang juga masih kecil."
Jihoon menyentil pipinya keras. "Tapi aku suka yang kecil-kecil." Seungcheol menambahkan yang jelas saja membuat Jihoon tersipu.
"Sepertinya aku tidak akan tidur lagi malam ini," Seungcheol berujar lagi.
Jihoon mendongak, "kenapa?"
Seungcheol tersenyum, mendekap Jihoon lebih erat. "Tidak mau melewatkan waktu untuk melihatmu seperti ini."
Lagi-lagi wajah Jihoon panas. Dia memukul dada Seungcheol yang malahan membuatnya terkekeh.
*
Seungcheol tetap tidur akhirnya. Jihoon tahu karena dia bangun lebih awal dan mendapati kalau Seungcheol masih memejamkan mata di sampingnya.
Setalah malam tadi Jihoon jadi tahu satu hal lagi tentang Seungcheol. Cowok itu berisik tidak hanya saat terjaga tapi juga saat tidur. Bahkan dia masih sempat mengigau sekarang, dia meraba-meraba seprai di sampingnya, mengusapnya dan membuat gerakan seperti sedang mengucek sambil bergumam, "won... Cuci ... Cuci ... Bajumu." Yang membuat Jihoon tertawa.
Si Won itu mungkin roomate Seungcheol. Mereka pasti punya masalah dengan pembagian tugas bersih-bersih dorm. Mungkin teman sekamar Seungcheol itu sering menumpuk baju, dan dia lelah memarahinya sampai-sampai saking lelahnya Seungcheol jadi memarahinya dalam mimpi.
Manis sekali.
Pagi itu mereka sarapan diam-diam sebelum Yoongi bangun. Setelah itu Seungcheol berpamitan dengan keluarganya dan berangkat ke stasiun ditemani Jihoon yang bersikeras ingin mengantar nya.
Di sana Seungcheol tiba-tiba mendekapnya erat bahkan mengangkat tubuhnya dengan mudah dari tanah. "Aku akan merindukan mu dengan cepat."
Jihoon pun begitu.
"Jangan lupa menghubungi ku saat kau sampai." Dia mengingatkan, Seungcheol masih memeluknya, mungkin sampai lengannya lelah mengangkat berat tubuh Jihoon.
"Aku akan terus menghubungimu bahkan sebelum sampai dan setelahnya."
"Jangan, penumpang yang lain akan terganggu karena kamu berisik dan teman sekamarmu juga."
Jihoon ingin menambahkan "karena kamu sudah cukup menganggu won dalam mimpi." Tapi harus dia urungkan saat mendengar suara berisik kereta yang datang.
"Maaf, mereka harus maklum karena aku tidak bisa memikirkan hal lain selain pacarku." Seungcheol menurunkannya hanya untuk melihat ekspresi wajah Jihoon yang tersipu untuk yang terakhir kali.
Dia mengecup sayang kepala Jihoon sebelum naik ke keretanya, Jihoon masih berdiri di peron yang sama sambil memandangi kereta Seungcheol yang lama-kelamaan mengecil dan menjauh.
Kemudian sebuah pesan masuk ke ponsel nya.
Jihoon merinding mendapati siapa yang mengirim nya dan pesan yang tertulis disana.
Kemana kau setan kecil? Apa yang kau selundupkan tadi malam di kamar mu?
A/N
•seungcheol itu aku banget. Yang gk tega kalo liat Jihoon jadi growing man, miris kalo liat Jihoon sok manly. Padahal semua orang juga tahu kalo dia imut, kenapa harus pura2 dan menutupi gtu loh.
•aku gk ada dendam sama anak cheers kok sumpah. Boro-boro deh. Untung di sekolahku gk ada ekskul begituan :v
