Setelah menghela nafas panjang Baekhyun berjalan mendahului Chanyeol ke arah ruang tamunya.
"Jadi apa yang terjadi padamu? "
--
Chanyeol PoV
Malam ini entah sudah yang keberapa kalinya aku di telfon oleh manajer Baekhyun yang menanyakan keberadaan anak itu. Baekhyun adalah idol yang merepotkan. Tapi entah mengapa aku bisa bersahabat dengannya. Sekarang aku sangat khawatir padanya. Sayangnya aku belum bisa mencarinya. Pekerjaanku sebagai produser yang menghalangiku.
Setelah lama berkutat dengan layar kotak di hadapanku. Aku langsung menelfon baekhyun dan menanyakan dimana keberadaannya. Aku mengatakan bahwa aku akan tiba di sana sekitar tiga puluh menit lagi. Tanpa menunggu jawabannya aku langsung bergegas keluar rumah dan mengendarai mobilku.
Lebih cepat dari dugaanku, aku sampai hanya dengan dua pulih menit berkendara. Keadaan jalanan yang cukup sepi memudahkanku. Aku memarkirkan mobilku di sebelah mobil baekhyun. Mobilnya terlihat basah, apakah dia habis keluar?
Saat sampai di depan apartemennya aku memasukkan password yang dia beri tahu padaku tapi, sial pasti passwordnya telah diganti. Aku menekan bell bekali - kali sampai rasa cemas tiba tiba menguasai diriku. Segera aku turun ke lantai bawah dan bertanya ke resepsionis yang berjaga di sana. Mereka mengatakan tidak bisa memberitahunya karena masalah privasi. Sayangnya, uang bisa mengubah segalanya. Ini adalah masalah yang mudah jika kau memiliki banyak uang.
Setelah masuk ke dalam apartemen baekhyun, aku mendengar suara gemercik air dari arah kamar. Saat aku akan membuka pintu, baekhyun tiba tiba saja keluar kamarnya dengan rambut yang masih basah. Untunglah Dia tidak apa - apa. Aku menyerangnya dengan berbagai pertanyaan yang tersimpan di benakku dan menelitinya dari bawah sampai atas. Dan ku lihat matanya sembab, apakah dia habis menangis?
--
Normal PoV
"Jadi, apa yang terjadi padamu? " Chanyeol membuka suaranya setelah duduk di hadapan Baekhyun.
"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa ingin pergi dari diriku tapi aku tidak bisa. "
"Kau ingin bunuh diri? "
"Awalnya iya. Tapi aku mengurungkan niatku. "
Chanyeol menatap Baekhyun tidak percaya. Bagaimana sahabatnya bisa berfikiran pendek seperti itu?
"Kau gila? Aku tau kau sangat tertekan Baek. Tapi aku mohon, jangan pernah lakukan hal segila itu. "
"Ya semoga. " Baekhyun menundukkan kepalanya. Merasa bersalah pada dirinya sendiri, pada keluarganya, sahabatnya, dan juga pada para penggemarnya.
"Baek, apapun yang terjadi, beritahu aku. Jangan pernah menyimpannya sendiri. Kau tidak hidup sendirian Baekhyun. Ada aku, keluargamu, manajermu, bahkan penggemarmu. Apa kau tidak memikirkan perasaan kami jika kau pergi dengan cara bunuh diri? Jangan gila Baek. "
"Aku tahu Chanyeol. Tapi terkadang aku merasa sangat sia - sia hidup seperti ini. "
Air mata Baekhyun menetes. Pikirannya kacau, memilih pergi atau bertahan. Chanyeol menarik Baekhyun ke dalam pelukannya, membuat Baekhyun semakin terisak.
"Baek dengarkan aku. Hidupmu tidak sia - sia Baek. Kau sudah melakukan yang terbaik dalam hidupmu. Jangan menangis Baek. Aku akan selalu ada di sisimu sebagai sahabat terbaikmu. Sekarang hapus air matamu dan tidurlah,ini sudah sangat larut.aku akan menginap."
"Terimakasih Chanyeol. Kau memang sahabat terbaikku. "
Tapi Chanyeol berharap lain. Bisakah dia menjadi lebih dari seorang sahabat?
