Suara gesekan antara aspal dengan benda karet bulat berwarna hitam, atau yang sering kita sebut ban, terdengar sangat memekakan telinga. Itu adalah ban motor Jongin.
Setelah memarkirkan dengan sembarang motor sport nya di halaman rumah, dia bergegas untuk masuk kedalam, berniat untuk menemui ibunya dan menyelamatkan makhluk kecil kesayangan bernama Monggu. Dia melepaskan helm hitamnya dan meleparkannya ke atas lantai hingga menggelinding keluar. Salah satu maid wanita yang sedang menyapu lantai segera mengejar helm Jongin. Menghela nafas lelah akan kelakuan sang Tuan Muda yang seenaknya.
"Mom! Where are you?!"
Jongin berteriak dengan suara sumbang. Kakinya melangkah cepat menaiki tangga karena merasa ibunya tak menyahut.
"AAAAA!"
Hampir saja Jongin terkena serangan jantung mendadak karena ibunya yang terlihat seperti hantu. Wajahnya yang terlapisi oleh masker putih kaku dengan mata yang melotot seakan-akan mau keluar, menyeramkan sekali.
"Ibu membuatku kaget!" Ia mengelus dadanya yang tengah berdebar kencang sekarang.
Ibunya berkacak pinggang, membuat Jongin memutar bola matanya jengah. "Darimana saja kau, huh?! Ibu tidak menyuruhmu untuk pergi keluar bukan?!" Berbicara dengan tidak jelas karena masker yang kaku, membuat kulit wajahnya tidak lentur. Untung saja Jongin mengerti apa yang sudah dikatakan oleh ibunya.
"Aku pergi ke apartemen Chanyeol. Kenapa ibu sangat mudah curiga dengan anak sendiri? Aku kan sudah dewasa, seharusnya aku tak lagi di kekang oleh ibu dan ayah."
Wanita paruh baya itu menyipitkan matanya yang sudah sipit. Dia merasa tidak terima dengan perkataan anaknya.
"Apanya yang dikekang? Aku melakukan ini karena kau yang masih sangat kekanakan. Old face with childish personality. It's you my son." Setelah menyinggung Jongin, wanita itu bersendawa. Tak peduli dengan etika keluarga Kim yang seharusnya di junjung tinggi. "Ahh, aku kenyang sekali."
Jongin menggelengkan kepalanya dengan pelan dan menutup mulutnya dramatis, merasa tak percaya kepada ibunya sendiri.
Ibunya bersendawa, dan itu semua membuat Jongin berpikiran negatif. Ketakutan akan Monggu yang mati mendominasi.
Monggu.
'Pulang, Jongin! Kalau tidak monggu mu akan ku goreng!'
Monggu..
'Ahh, aku kenyang sekali..'
Di. Ma. Kan.
Dia tersentak akan lamunannya tentang Monggu, dan kini amarahnya mulai meledak-ledak.
"IBU! KAU BENAR-BENAR MEMAKAN MONGGU?! TIDAK MUNGKIN KAN IBUKU YANG SUDAH TUA INI MEMAKAN DAGING ANJING?!"
Jongin berteriak hingga memuncratkan banyak sekali hujan lokal dari mulutnya.
Jorok, begitulah pikir sang ibu yang maskernya sudah terkena cipratan air liur Jongin. Dan tak bisa dipungkiri bahwa wanita itu merasa tersinggung dengan kalimat anaknya.
Tua? Dirinya dikatai tua?! Benar-benar anak yang tak tahu diuntung.
Lagipula tidak mungkin kan ia memakan daging anjing? Ia masih terlalu waras untuk memakan anjing milik anaknya sendiri!
Ibu Jongin berdecak karena merasa masker bengkoangnya pecah dibagian sekitar mulut. "Mau tidak kau masuk lagi kedalam perutku? Aku merasa menyesal melahirkanmu."
Interaksi yang terdengar sangat tidak masuk akal jika mengingat mereka adalah pasangan ibu dan anak. Jongin tentu saja merasa sakit hati saat mendengar perkataan ibunya. Apalagi dibagian penyesalannya itu.
"Hei, tak usah memasang ekspresi itu, kan sudah ku bilang sedari tadi. Lagipula, aku tak akan mau memakan anjingmu. Anjing jelek begitu."
"Jahat sekali, ibu memangnya lupa siapa yang memberikan anjing itu?"
"Eum, siapa ya? Pasti orangnya cantik sekali."
Jongin berlagak seperti ingin muntah saat mendengar perkataan ibunya yang narsis sekali. "Sudahlah ibu, dimana pacarku?"
Wanita itu melotot senang saat anaknya menanyakan dimana Sehun. Ah, pasti anaknya sudah setuju sekali dengan perjodohan ini. Buktinya dia sudah menanyakan dimana Sehun berada.
"Kau menanyai Sehun ya? Sehun sekarang sedang berada di-"
"Ish, bukan ibu! Aku sedang menanyai Monggu, bukannya si Sehun-Sehun itu!"
"Ya Tuhan, masker ku pecah." Gumam ibu Jongin sambil meraba maskernya yang hampir pecah semua dan ia yakin sekali kalau ini adalah akibat dari meladeni anaknya yang berandalan. "Ibu kira kau sedang menanyai Sehun. Monggu mu ada dikandangnya tentu saja." Ibu Jongin sedikit terjungkal kebelakang karena Jongin yang memeluknya dengan tiba-tiba. "Apa-apaan sih kau ini?"
"Aku tahu ibu tidak sejahat itu kepadaku." Jongin tersenyum bahagia saat mengetahui bahwa Monggunya baik-baik saja.
Kemudian sang ibu melepaskan secara paksa pelukan anaknya. "Ada apa? Mau memelukku lagi saking senangnya karena Monggu mu tak ku olah?"
"Tidak, kepedean sekali." Jari-jari Jongin bergerak untuk mencubit pipi ibunya yang sedang terlapisi oleh masker pecah yang kering. Dan kelakuan Jongin membuat wanita itu melotot. "Bye mom! Love you so much!" Jongin langsung berlari karena takut dipukul atau kembali dicubit oleh ibunya.
"KIM JONGIN!"
Jongin tak berkedip saat menatap satu postingan dari akun porno Instagramnya.
Ya, kurang lebih inilah yang dilakukan oleh Jongin jika dia sedang bosan dirumah tapi malas untuk keluar. Meng-stalk suatu akun porno di instagram. Jadi tak jarang jika di kolom explore milik Jongin banyak sekali postingan 18+. Benar-benar mesum.
Apakah kalian mau tahu kenapa Jongin tersenyum mesum seperti itu sambil menatap layar datar ponselnya? Itu karena ia sudah berhasil mendownload video porno baru untuk koleksinya. Dan pria itu berniat untuk menonton video porno yang baru saja didownload. Video itu berdurasi sekitar 1 jam.
Setelah menyamankan posisinya diatas tempat tidur, Jongin memasang sepasang headset di kedua telinganya. Jongin mulai memutar video itu dengan volume yang full dengan tujuan untuk menghayati desahannya.
Baru saja terputar selama 2 menit, Jongin merasakan bahwa ibunya sedang menggedor-gedor pintu kamarnya sambil berteriak.
Ia paling kesal jika diganggu, dan pada akhirnya ia berjalan menuju pintu sesudah mematikan video laknat itu namun Jongin tidak melepas headset nya.
Jongin bertanya kepada sang ibu yang terlihat sedang kesal, "Ada apa?" Tanyanya dengan wajah malas luar biasa.
Bukannya menjawab, sang ibu malah memberi pertanyaan lagi kepada Jongin. Dia bertanya, "Kau menonton porno ya?"
Wajah Jongin langsung memerah. Ia berusaha untuk tetap mengelak kalau ia tidak akan pernah menonton video laknat itu lagi (karena Jongin juga pernah ketahuan oleh ibunya sebanyak 2 kali).
Tapi sialnya dia menjawab terlalu cepat, "Tidak!"
"Masa? Jadi siapa ya tadi yang mendesah?" Ibu Jongin melangkah menjauh, membuat Jongin bernafas lega.
Syukurlah Jongin tidak ketahuan oleh sang ibu, jadi uang jajannya selamat, Monggu pun ikut selamat. Tapi rasa leganya itu tak berlangsung lama karena sang ibu membalikkan badan dan berbisik di telinga sebelah kanannya yang sudah tidak terpasang headset. "Anakku sayang, kalau pakai headset yang benar, masa tidak dicolok?"
pcy: Bro, where r u? Kenapa pintu apartemenku tak kau kunci?
Jongin sedang berada di halaman belakang rumahnya. Dia sudah bosan didalam kamar, jadi dia berniat untuk mencari udara segar.
Oh iya, mau tahu bagaimana nasib Jongin setelah ketahuan menonton video porno oleh ibunya? Ya, uang jajannya benar-benar dikurangi sebanyak 20% seperti yang ditakut-takutkan oleh Jongin. Kasihan sekali.
me: Aku pulang, aku lupa
pcy: Dasar bedebah. Kalau apartemen ku kemasukan maling bagaimana? Kau mau tidak bertanggung jawab?
me: Kemasukan maling bagaimana? Pengamanannya saja ketat sekali, aku ingin berkunjung ke apartemen mu saja butuh perjuangan. Dan aku merasa tersinggung karena diperlakukan seperti teroris
pcy: Kau memang
me: Sialan
pcy: Kenapa kau tidak bilang kepadaku?
me: Aku bilang, kau saja yang tidak dengar. Itu berarti kotoran telingamu terlalu tebal. Ke THT sana
pcy: Najis, jorok kau
Tapi jujur saja. Jika Jongin menjadi Chanyeol, pasti ia juga tidak akan dengar dengan apa yang dirinya sendiri katakan. Toh Jongin seperti bicara kepada dirinya sendiri.
me: Apa tujuanmu mengechat ku sih? Kesepian?
Seharusnya Jongin tidak bertanya seperti itu kepada Chanyeol. Karena sudah pasti bocah itu akan membalas pesannya dengan tulisan yang tidak-tidak. Mengingat kelakuan mereka yang tidak jauh berbeda.
Baru saja Jongin ingin menghapus pesan itu dan mengaktifkan airplane mode pada ponselnya, Chanyeol sudah membalas pesannya.
pcy: Iya nih, aku kesepian. Temenin aku dong om :*
Benarkan kalau Chanyeol itu adalah sesat?
me: bstrd
Setelah membalas pesan Chanyeol untuk yang terakhir kalinya, Jongin segera mengaktifkan airplane mode pada ponselnya. Bocah Park itu bilang jika dirinya adalah seorang homophobia, tapi kelakuannya terlihat seperti gay yang butuh belaian om-om. Dasar orang aneh.
Tak ada lagi yang dilakukan oleh Jongin selain melamun sambil memperhatikan gelombang air pada kolam renangnya. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi jika ponselnya dalam keadaan mode pesawat seperti ini. Dan pilihan terakhir dalam pikirannya adalah bermain game.
Saking serunya bermain, ia tidak sadar bahwa caci makinya terdengar oleh sang ibu yang sedang berjalan menghampiri.
"Dasar bocah gila! Kenapa kau malah mati?! Benar-benar tidak bisa berkelahi, kalau tidak bisa ya sudah jangan ikut main. Kenapa memaksa sekali?!"
Ia mengomeli player nya, padahal kita tahu bahwa sedari tadi pemain itu dikendalikan oleh Jongin, bukannya bergerak dengan sendirinya. Berarti Jongin sama saja mengatai dirinya sendiri.
Ibu Jongin yang melihat tingkah laku anaknya yang seperti orang idiot itu segera menempeleng kepala Jongin. Membuat Jongin berteriak dengan histeris. "Ibu! Apa yang kau lakukan? Dimana-mana saja kau ada, aku jadi bingung kau ini sebenarnya ibu ku atau setan."
"Aku memanggilmu sedari tadi."
"Masa? Aku tidak dengar." Jongin menaruh ponselnya disaku celana belakang, namun karena mengganjal saat ia duduk, Jongin memindahkannya ke saku pakaian.
"Berarti kotoran telingamu terlalu tebal."
Karma.
Wanita itu duduk disamping Jongin yang sedang memasang wajah kesalnya.
"Cepat ganti pakaianmu, kita akan pergi keluar."
"Kemana?"
"Banyak omong, cepat ganti pakaian sana!"
Disinilah Jongin, ditempat yang seharusnya paling dirinya hindari.
Dimana lagi kalau bukan butik? Mana tahu Jongin akan diajak kesini, kalau tahu pasti Jongin tidak akan mau.
Lihatlah betapa bahagianya pasangan suami istri itu memandang berbagai macam tuxedo untuk dirinya diacara pernikahan nanti. Kalau begini sih, namanya pemaksaan.
Masa orang tuanya bahagia anaknya sengsara begini? Menggelikan.
"Hai Tante Kim!" Seorang wanita berwajah oriental yang Jongin sangat yakin sekali bukanlah orang Korea memanggil ibunya sambil melangkah kemari.
Wajahnya terbilang sangat cantik, badannya juga oke.
Ibu Jongin mengalihkan pandangannya kepada orang yang telah memanggil namanya, kemudian dia memeluk wanita itu. "Yui?! Tante kira kamu sedang di Jepang, bagaimana kabarmu?"
Berisik. Begitulah yang ada dipikiran Jongin saat mendengar kedua orang yang baru bertemu ini berbincang. Haruskah mereka–wanita memekik kalau sedang senang?
"Aku baik, tante?"
"Tante baik."
"Tante sedang apa? Kebetulan aku menjadi designer baru disini."
"Benarkah?!"
Oh God, telingaku mau pecah rasanya.
Yui mengangguk, "Untuk apa dan siapa?"
"Untuk anakku, untuk pernikahannya yang akan dilaksanakan satu minggu lagi."
"APA?!" Ayah Jongin, Jongin beserta Yui kaget karena perkataan sang ibu.
Sial, kenapa ibunya jadi seenaknya begini? Sekarang Jongin jadi tahu sifatnya menurun darimana.
"Kenapa terkejut? Tidak suka?" Nada wanita itu terdengar sangat menyeramkan sekali. Bahkan sang suami yang masih kaget itu buru-buru memasang ekspresi biasanya.
Jongin tidak berkutik kali ini. Karena dia tidak mau kena omelan sang ibu lagi.
"Baiklah, mau yang seperti apa?" Wanita itu bertanya dengan suara yang bergetar.
"Aku sudah berbincang dengan Sehun, katanya diresepsi pernikahannya, dia ingin memakai pakaian serba putih kemudian pada saat pestanya terserah padaku."
Sepertinya si Sehun-Sehun itu sudah sangat mempersiapkan sekali pernikahan konyol ini. Bahkan pria itu terlihat sangat antusias hingga membicarakan masalah pernikahan dengan sang ibu tanpa sepengetahuannya. Padahal Jongin juga sama sekali belum pernah melihat batang hidung pria yang katanya mirip orang barat itu.
"Jadi menurutmu, mereka harus memakai setelan warna apa, Yui?"
"Bagaimana dengan biru? Kurasa cocok."
Ibu Jongin terlihat setuju dengan keputusan Yui. "Oke."
Baiklah, sekarang ia hanya tinggal menunggu seperti orang bodoh. Karena Jongin tahu, bahwa sudah tidak ada lagi kesempatan untuk membatalkan pernikahan ini.
Dirinya sudah terlalu.. hopeless. Entah kenapa Jongin tidak bisa memberontak seperti yang biasa ia lakukan. Mau meminta tolong pada Chanyeol, tapi sifat idiotnya membuat Jongin harus berpikir ulang hingga seratus kali.
Katakan selamat tinggal pada fans yang sudah terlalu banyak dikampus.
Katakan selamat tinggal pada wanita-wanita yang sudah dengan rela mengangkang lebar untuknya.
Katakan selamat tinggal juga pada teman-teman di klub malam.
Karena Jongin yakin bahwa hidupnya sudah tidak lagi bebas satu minggu kemudian.
