"Ck."

Jongin berdecak sambil tangannya menarik-narik kerah kaus hitam polos yang sedang ia kenakan untuk menghasilkan udara.

Hari ini sangat panas dan sialnya dia sedang menunggu Chanyeol, pria idiot sekaligus temannya yang katanya akan datang dalam kurun waktu kurang dari lima menit. Tapi seharusnya ia tak percaya begitu saja terhadap Chanyeol, buktinya pria yoda itu tak datang-datang.

Bahkan Jongin sudah menunggunya sekitar 30 menit dari waktu yang di janjikan!

Sebenarnya ini bisa dibilang sebagai keajaiban dunia. Bayangkan, seorang keturunan Kim yang keras kepala bernama Jongin menunggu di pinggiran jalan dengan polusi-polusi yang membuat kulit wajahnya berminyak serta udara panas yang membuat tubuhnya berkeringat. Ia terlalu merasa sayang-sayang dengan kulit indahnya yang mungkin terlalu banyak terkena polusi, terkena paparan sinar matahari, dan terlalu banyak mengeluarkan keringat.

Okay, fine.

Ia tahu kalau ia bukanlah para wanita yang biasanya anti sana-sini. Tapi tetap saja jika masalah kulit, pria seperti dirinya juga harus peduli. Untungnya Jongin bukanlah salah satu spesies manusia yang mempunyai masalah bau badan. Jadi mau sebanjir apapun keringat yang bercucuran lewat pori-pori kulitnya, badannya tidak akan mengeluarkan aroma asam kecut.

Ya, walaupun seperti itu, tubuhnya tidak akan terasa segar seperti pertama kali kan?

Tapi setidaknya Jongin 'sedikit agak' tahu diri untuk menunggu Chanyeol karena pria itu akan memberi tumpangan secara cuma-cuma padanya.

Jongin sempat berpikir, apa susahnya Chanyeol untuk menjemput ke rumah? Dan kenapa Jongin malah di suruh untuk menunggu di pinggir jalan seperti ini?

"Dasar raksasa! Awas saja nanti!"

Saat sedang asik-asik mencaci maki Chanyeol, Jongin tiba-tiba di kejutkan oleh suara deru mobil yang bisa ia tebak kalau itu adalah mobil sahabatnya. Dan benar saja tebakannya, disana Chanyeol dengan kaca mata hitam dan bergaya sok sedang tersenyum lebar. Membuatnya mual setengah mati.

"Dasar lama."

Dia berjalan cepat ke arah mobil Chanyeol dan memasukinya dengan gerakan bar-bar. Chanyeol hanya bisa berdoa semoga saja pintu mobil mahalnya tak rusak karena Jongin yang menutupnya terlalu kencang.

-see it

The world is over

The monster in my head are scare of love

Fallen people-

Ini dia yang membuat Jongin harus berpikir ulang jika menumpang pada Chanyeol. Mobil Chanyeol bisa jadi klub jika seperti ini caranya. Suara musik hip-hop yang menggelegar langsung menyerang gendang telinganya saat ia baru saja memasuki benda bermesin itu. Di tambah dengan suara Chanyeol yang sumbang dan juga rap asal-asalannya.

"Bisa kau kecilkan volume nya?! Ini di dalam mobil, bukannya di klub!" Marah Jongin pada Chanyeol yang kini sedang mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama musik hip-hop yang ia setel kencang-kencang.

Tapi bukan Chanyeol namanya jika menuruti perintah Jongin yang terhormat. Jempolnya kian menekan tombol volume yang berada di atas kemudi hingga mencapai pada limit nya.

Jongin dengan refleks menutup erat-erat telinganya untuk menghindari pecah gendang telinga di karenakan ulah Chanyeol yang gila.

"KECILKAN BODOH!"

Akhirnya teriakan Jongin yang kencangnya melebihi musik yang terputar di dalam mobil itu berhasil membuat Chanyeol mengecilkan radio mobilnya.

Telinga Chanyeol langsung berdengung ketika Jongin selesai berteriak.

"Biasa saja bicaranya, telingaku sakit." Keluhnya.

"Lalu apa kabar dengan musikmu? Musikmu dengan teriakanku masih lebih besar musikmu, sial!"

Chanyeol kadang-kadang kesal dengan kemarahan Jongin yang seperti ibu-ibu. Sudah galak, tak mau disalahkan, cerewet pula. Kalau begini sih gendang telinga Chanyeol juga bisa pecah.

Keadaan di dalam mobil sedikit sunyi, hanya ada lagu tadi yang masih terputar dengan volume sedang.

Mereka berdua seperti pada dunianya masing-masing. Jongin dengan pendingin udara di dalam mobil dan Chanyeol yang fokus dengan jalanan di depannya.

Suara pria galak menghancurkan suasana hening di dalam mobil.

"Kenapa lama sekali?" Tanya Jongin kesal sambil tangannya mengambil tiga lembar tissue wajah di dashboard mobil Chanyeol.

Chanyeol berdecak, "Kaus kaki ku hilang sebelah, kemudian sneakers ku menghilang karena di bawa kabur anjing tetanggaku."

"Ceroboh. Untung aku bukan temanmu."

"Hey kau!" Chanyeol tak terima. "Kalau aku bukan temanmu kenapa kau menumpang?!"

"Aku juga tidak mau menumpang kalau saja bensin motorku tidak habis."

"Kenapa tidak mengisi di tempat pengisian bahan bakar?"

"Aku malas."

Tentu saja Jongin tidak menjawab seperti: 'Aku tak punya uang karena uang jajanku dipotong oleh ibuku mengingat aku yang ketahuan menonton porno!'

Harga diri Jongin tentunya masih terlalu tinggi untuk berbicara seperti itu kepada Chanyeol. Chanyeol itu kan mulutnya ember sekali, pasti dalam sekejap, teman-temannya yang lain sudah akan tahu.

Tidak, lagipula itu sangat memalukan.

"Kau-"

Jongin memotong perkataan Chanyeol yang sudah bisa ia tebak, "Aku tahu mobilku banyak. Tapi aku tak mau pakai supir."

Bukannya ingin sombong, Jongin memang mempunyai banyak mobil di rumahnya. Tapi ia tak boleh jika mengendarai mobil itu sendirian, ibunya pasti memaksanya untuk menggunakan jasa supir pribadi untuk mengantar-jemputnya. Tentu ia tidak suka, rasanya seperti di awasi dan tidak bebas untuk kemana-mana.

Bukan tanpa alasan sang ibu melarangnya untuk mengendarai mobil sendiri. Jongin itu kan tipe-tipe bad boy yang sangat liar, jadi ibunya takut kalau Jongin mengikuti acara balapan di suatu tempat. Ibunya juga terlalu malas untuk mengurusi Jongin apabila anak itu terkena razia kemudian masuk ke kantor polisi, karena menurutnya itu adalah hal yang paling merepotkan di seluruh dunia.

"Kedengaran sangat sombong." Chanyeol menyindir. Pria tan itu hanya mendengus mendengar perkataan Chanyeol.

"Tumben ingin ke kampus. Kau dapat pencerahan?" Ucapnya lagi ingin bercanda dengan Jongin. Namun sepertinya Jongin bukanlah orang yang tepat untuk menerima lelucon Chanyeol yang terdengar 'garing' tersebut.

"Aku hanya bosan."

Sepertinya Chanyeol mengerti Jongin hari ini. Jongin dalam mood yang buruk. Biasanya pria itu paling bersemangat jika membolos, tapi kali ini dia malah bosan berada di rumah.

"Biasanya kau akan menonton porno." Chanyeol berkata seakan-akan menonton porno adalah hal yang paling tidak berdosa sama sekali.

Pria tinggi itu kaget serta takjub melihat Jongin yang menggeleng. "Kau benar-benar dapat pencerahan, bung!" Kali ini Chanyeol memukul pundak kiri Jongin.

Ingatkan bahwa telapak tangan Chanyeol besar, jadi sepelan apapun pukulan Chanyeol dapat membuat badan Jongin oleng juga.

Jongin hanya mengaduh pelan, kemudian menatap tajam Chanyeol yang kembali menyetir tanpa rasa berdosa sama sekali.

Ah, setidaknya dia harus menikmati kebebasannya yang terhitung hanya tersisa enam hari lagi. Sepulang kuliah, ia harus pergi ke klub untuk bermain-main seben-tar..

Eh? Tunggu-tunggu..

Tapi kan ia tidak punya uang!

Duh, bagaimana ya? Ia sudah sangat ngebet untuk minum-minum, sudah lama juga Jongin tidak melakukannya. Kali ini dia Jongin merutuki perbuatannya kemarin.

Coba saja kemarin aku tak menonton video itu dan tidak ketahuan ibuku, pasti aku tak semenderita ini!

Jongin menggeleng karena merasa ada yang salah dengan pemikirannya.

Oh, tidak-tidak. Aku tidak salah. Salahkan saja video pornonya, kenapa dia membuatku kecanduan untuk menontonnya hampir setiap hari?!, pikirnya merasa paling benar.

"Kau kenapa? Tidak jelas. Kadang mengangguk, kemudian menggeleng. Jangan membuatku takut!"

"Chan," Jongin tidak mengindahkan perkataan Chanyeol. Jika ia memarahi pria itu, rencananya untuk meminjam uang pada Chanyeol bisa gagal.

Tapi, Oh Ya Tuhan.. Haruskah ia melakukan ini?!

"Chan,"

"Apa sih?! Chan-Chan, Chan-Chan, memangnya aku Shinchan?!"

"Ck!" Jongin menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil membuang muka ke arah luar jendela. Ia kembali memikirkan apakah ia harus meminjam uang pada Chanyeol atau tidak. Bukan masalah apa, namun ini terkait dengan harga diri seorang Kim Jongin!

Tapi jika ia tidak meminjam, ia akan kena sialnya. Duh.

Baiklah, persetan dengan harga diri dan gengsi. Aku sangat butuh uang sekarang!

"Chan, aku pinjam uang." Setelah berdiam diri seperti orang yang sedang menahan buang angin, Jongin akhirnya bisa mengatakan kalimat keramat itu.

Chanyeol berdecih, "Uangmu kemana?"

Reaksi Chanyeol yang sangat menyebalkan membuat Jongin jadi kesal. Dia sudah susah-susah payah membiarkan harga dirinya jatuh begitu saja demi Chanyeol namun reaksinya seperti itu?! Well, fuck.

"Oh ayolah," Jongin berucap malas, "Kau kan temanku."

"Kau bilang aku ini bukan temanku, bocah sial!"

"Kenapa kau malah marah?!" Jongin tersulut juga emosinya. "Temanmu sedang kesusahan dan kau tidak menolongnya? Oh man, you are a piece of shit."

Akhirnya pria yang menyetir itu menghela nafasnya. Baiklah dia menyerah. Lagipula membantu teman yang sedang kesusahan tidak ada salahnya kan?

"Okay mr. Kim. Aku akan meminjamkanmu uang. Sepertinya mood mu sedang buruk."

Jongin tersenyum lebar.

"Itu baru temanku!"


Sesampainya di kampus, Jongin langsung melangkah menuju depan pintu kelasnya. Suara bisik-bisik dari para wanita selalu ia dapatkan saat ia baru memasuki kampus.

Sudah tahukan jika Jongin mempunyai banyak fans? Ah, mood nya lumayan membaik setelah kejadian kemarin (saat di butik).

"What's up, bro!" Jongin tidak membalas tepukan norak dari Bill yang sedang menggigit-gigit tusuk gigi.

Ia berjalan untuk duduk di bangku pojok yang terlihat agak berdebu karena memang jarang sekali di pakai oleh pemiliknya. Tanpa peduli bajunya yang akan kotor, Jongin langsung duduk begitu saja.

Pria Amerika itu berjalan menuju bangku Jongin. Menyengir tidak jelas seperti Chanyeol kemudian mendudukkan diri di bangku depannya setelah mengusir orang yang duduk di sana.

Seperti bocah berandal. Ya seperti Jongin.

"Kemana saja? Chanyeol kemana? Aku tak melihat pria besar itu jalan bersamamu." Tanyanya dengan bahasa Korea yang masih agak kaku dan aneh. Maklum, ia baru benar-benar lancar bicara bahasa Korea dua minggu yang lalu. "Ugh, gay sekali kata-kata ku."

Mungkin Chanyeol tidak menjauhinya, tapi sepertinya hal yang sama tidak berlaku untuk Bill. Lihat saja kelakuannya tadi. Dia terdengar sangat jijik pada gay, yang sialnya Jongin juga akan menjadi gay dalam kurun waktu yang sangat dekat.

Oh tidak, tidak. Jongin, kenapa kau berpikir seolah-olah kau sangat menerima pernikahan bodoh itu?!

Jongin hanya bergumam tidak jelas. Mood nya kembali jelek saat Bill berbicara seperti itu.

"What the fuck is that? Hmm-hmm, I don't understand, asshole." Kini Bill bicara bahasanya lagi, ia cukup tak tahan untuk berlama-lama bicara bahasa Korea.

"Chanyeol ada urusan." Jawab Jongin dengan tidak bersemangat.

Kemudian pria bule itu mengangguk. Merasakan ada yang aneh dari Jongin yang sering ia perlakukan dengan rasis, Bill menepuk bahunya pelan. "Kau punya masalah?"

Jongin hanya menggeleng.

Tidak, Bill belum boleh tahu tentang perjodohannya. Sejauh ini, hanya Chanyeol yang tahu masalah ini. Jongin belum bercerita kepada siapa-siapa lagi, lagipula dia juga tidak berniat untuk menceritakannya. Ia yakin, pasti jika dia sudah menikah beritanya akan tersebar kemana-mana. Dan Jongin sekarang sudah masa bodo dengan fans nya yang akan berkurang atau mungkin hilang tak bersisa.

Oke Kim Jongin, kau sepertinya sudah benar-benar pasrah sekarang.

"Liar," Ucapnya datar. Tentu Bill tidak percaya pada Jongin yang terlihat sedang stress. Apa-apaan, wajah lesu begitu tidak punya masalah. "Wajahmu jelek begitu tak punya masalah kau bilang? Demi bokong Nicki Minaj yang seperti agar-agar, aku tahu wajah orang-orang yang sedang stress! Contoh satunya, wajah lebih keriput." Jongin yang tadinya biasa saja kini mulai tersinggung saat Bill menunjuk-nunjuk wajahnya. "Selanjutnya, warna kulit jadi lebih kusam. Ew, Kim Jongin. Mungkin warna kulitmu sudah kusam dari-okay, sorry!"

Jongin menghela nafasnya setelah memberikan death glare pada Bill. "Aku tak butuh penjelasanmu, profesor Bill yang terhormat."

Tepat sesudah bicara seperti itu, speaker pengumuman terdengar.

'Panggilan kepada Kim Jongin untuk menemui Dosen Choi di ruang Bimbingan Konseling.'

"Dengarkan aku sudah di panggil? Bye."

'Panggilan kepada Kim Jongin untuk menemui Dosen Choi di ruang Bimbingan Konseling.'

Jongin berlalu dari hadapan Bill dan orang-orang lain yang masih satu kelas dengannya itu. Dia tak peduli pada tatapan aneh yang di berikan padanya.

Sebut saja Jongin gila, ia terlihat begitu bahagia di panggil ke ruangan Bimbingan Konseling yang begitu di hindari oleh mahasiswa-mahasiswa yang lainnya. Bukannya malu karena namanya akan tercemar hingga ke seluruh penjuru kampus.

Tapi kali ini Bill tidak seperti orang-orang yang ada di dalam kelas, pria itu kini menatap Jongin karena iri kepada Jongin yang bisa membolos di jam pelajaran pertama si Dosen killer.


"Apa?" Tanya Jongin malas kepada orang di seberang. Dia membuang puntung rokoknya ke tempat sampah kecil yang tersedia di dalam bilik toilet. Kemudian keluar setelah merapihkan tampilannya dan tak lupa ia memakan permen mint untuk tidak terlalu ketahuan jika mulutnya bau asap rokok.

Jongin terlihat percuma masuk kuliah jika di sana ia juga membolos. Bahkan Jongin membolos hingga pelajaran akhir dengan tidur di ruang UKS dan merokok di dalam toilet pria.

Di ruang Bimbingan Konseling Jongin tidak di omeli ataupun di beri surat peringatan. Ia hanya di beri petuah-petuah yang terdengar seperti omong kosong di telinganya. Karena percuma, Jongin tak akan melakukan apa yang Dosen tua itu katakan. Bahkan ia menguap di depan Dosennya!

Kim Jongin, pria bebal yang sayangnya terlalu berkuasa. Lebih tepatnya, orang tuanya. Jadi siapapun tak berhak untuk mengeluarkannya, bahkan untuk sekedar mengomelinya.

"Aku tak bisa mengantarmu pulang."

Kali ini Jongin kesal pada Chanyeol yang sedang menelponnya. "Lalu aku naik apa?!"

"Bus atau taxi mungkin?"

"Perlu ku ingatkan bahwa aku tak punya uang, Park Chanyeol?" Tanya Jongin sarkastik membuat Chanyeol berdecak malas.

"Kau serius tak punya uang sepeser pun? Terdengar sangat miskin untuk orang kaya sepertimu, Kim."

Jongin mendengus, "Ah, sudahlah. Kau benar-benar tak bisa di andalkan." Ia segera mematikan panggilan itu dengan cepat. Malas dengan Chanyeol. Ia lupa kalau pria itu tidak benar-benar baik.

Jadi setelah berpikir, Jongin yang sekarang terlihat seperti orang pasrah kepada takdir itu memilih untuk berjalan kaki ke rumahnya.

Tak ada pilihan, tidak mungkin ia meminta tolong pada Bill, Bill tentunya tidak bisa karena pria bule itu ada acara makan-makan dengan keluarganya di restoran sehabis pulang kuliah.

Rasanya hidup Jongin terasa begitu sial beberapa hari ini.


Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Itulah pepatah yang tepat untuk Jongin. Tadi dia terkena lemparan bola basket dan tepat mengenai adiknya yang sekarang tengah berkedut sakit.

Niatnya Jongin ingin membalas melempar bola itu ke tempat yang sama, namun ia urungkan karena terlalu malas untuk berdebat sekarang.

Sudah begitu para pemain sialan itu tidak meminta maaf kepadanya.

Dasar tak tahu diri, masih baik tidak di balas lemparan juga olehnya.

"Ah, terserahlah!" Jongin kembali berjalan. Dia lebih memilih untuk pulang lewat gang samping universitasnya. Itu lebih cepat menurutnya, seperti memotong jalan.

"Hah.."

Jongin merasa kepalanya panas karena terus menahan emosi sedari tadi.

Kalau saja Chanyeol tidak bilang bahwa ia akan mengantarnya pulang dan ia akan memberikannya pinjaman uang, Jongin tak akan membeli rokok di mini market tadi. Jadi setidaknya Jongin masih sanggup memesan taksi untuk pulang kerumah dan ia tak berakhir mengenaskan dengan jalan kaki begini.

"Dasar gila, bodoh, bedebah gila, sial-"

"Jika kau terus mengumpat, nanti bibir seksimu itu akan kusumpal dengan penis besarku."

Jongin menolehkan kepalanya kebelakang, dan ia mendapatkan sesosok pria yang wajahnya cukup familiar di ingatan Jongin.

Dan apa ia tak salah dengar?

Kenapa kata-kata yang begitu menjijikan keluar dari mulutnya? Kali ini si gila, bodoh, bedebah gila dan sialan bertambah satu di kehidupan Jongin.

Dia kan pria gay gila yang menatap tubuhnya saat ia sedang berkunjung ke apartement Chanyeol waktu itu! Kenapa bisa mereka kembali bertemu? Ini tak sengaja, atau memang pria ini membuntutinya?

"Kau lagi?!" Tanya Jongin sambil menunjuk dengan tidak sopan ke arah wajah pria yang lebih tinggi.

Pria itu menyeringai, "Kau ingat? Aku tersanjung." Jawabnya sambil menarik telunjuk Jongin untuk ia gigit.

Jongin bertambah kesal. Sial, ia kembali di perlakukan seperti pria murahan! Apa-apaan?! Memangnya siapa pria itu yang dengan lancangnya menggigit jari telunjuknya?!

Benar-benar menggelikan dan menjijikan di saat yang bersamaan!

"Apa-apaan kau?!" Jongin menarik jari telunjuknya. Wajahnya sudah memerah karena malu dan marah kepada pria putih yang ada di depannya. "Siapa kau? Kau memata-mataiku ya?!" Tanyanya penuh curiga kepada pria itu. Namun pria itu hanya tersenyum remeh ke arahnya.

Sekarang rasanya Jongin ingin menghancurkan wajah sok itu menggunakan batu bata yang ada di samping kirinya.

"Tidak, Jongin sayang. Aku hanya ingin menjemputmu."

Kali ini Jongin sudah tidak tahan. Emosinya yang tadi dia sudah pendam kini akan meledak.

Bugh!

Satu pukulan tepat mengenai rahang pria itu. Pukulan Jongin terbilang sangat keras, tapi pria itu hanya sedikit oleng karenanya.

Dan Jongin, pria itu sudah lari dengan cepat meninggalkan sang maniak gila yang sudah ia pukul. Tak peduli pada pria itu yang mungkin akan melaporkannya ke polisi, nanti Jongin juga bisa memberikan pembelaan diri berupa pelecehan seksual sebagai bukti bahwa pukulan itu bukanlah suatu bentuk penyerangan, melainkan perlawanan.

"Sial, lumayan juga pukulannya." Pria itu berdialog seorang diri. Kemudian seorang bodyguard nya menghampiri.

"Kau tak apa-apa tuan?"

Dia menggeleng untuk sekedar menjawab. Namun wajah kesakitannya berubah menjadi datar saat melihat tubuh Jongin yang sudah menghilang di balik tikungan.

Sepertinya tidak mudah untuk menaklukan bocah nakal itu, pikirnya sambil berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.


Jongin sampai di apartemen Chanyeol dengan napas yang terengah-engah. Dia memilih untuk ke sini karena jaraknya lumayan lebih dekat dari kampus di bandingkan dengan rumahnya.

Setelah membuka pintu dan melepas sepatunya, Jongin berjalan menuju dapur. Niatnya untuk mengambil minuman di kulkas Chanyeol sempat berhenti karena mendengar suara orang yang seperti sedang making love.

Bagus, jangan bilang Chanyeol tak bisa mengantarku pulang karena ia sedang ingin bercinta dengan wanita gebetannya.

Jongin berusaha untuk tak peduli, ia jalan begitu santai melewati Chanyeol dan wanita yang Jongin tidak kenal yang sedang enak-enaknya bercinta.

Mereka berdua masih tidak menyadari jika Jongin sudah ada di sekitar ruangan itu karena mereka berdua sedang memejamkan mata.

"Ahh! Chanyeol!" Desah wanita itu.

Tapi Jongin tak tertarik, mood nya sedang jelek. Coba saja ia sedang dalam keadaan baik, pasti wanita itu sudah Jongin bobol.

Alasan kedua Jongin tidak tertarik untuk bergabung adalah payudara wanita itu tidak besar, jadi ia malas. Jongin lebih suka yang bulat dan berisi di bandingkan yang kecil seperti itu.

"Ahh.." Desahan berat Chanyeol menandakan bahwa kegiatan mereka berakhir, dan Jongin masih saja asik meminum kola di samping kulkas dengan wajah kelewat santainya.

Mata Chanyeol melotot saat ia baru saja ingin membuang kondom berisi spermanya ke tempat sampah dan menemukan Jongin yang sedang menatapnya datar. Wajah Chanyeol memerah, ia buru-buru mengambil boksernya yang ia sampirkan di kursi makan dan memakainya dengan terburu.

"Sejak kapan kau ada disini?"

Jongin membuang botol kola yang sudah kosong hingga menimbulkan bunyi yang nyaring, "Sejak kau dan wanita itu mendesah?" Jawabnya dengan nada main-main.

Sekarang Chanyeol merasa tak enak kepada Jongin yang tengah menatapnya datar. Mereka -Jongin dan Chanyeol- terlihat seperti mempunyai hubungan, dan Jongin seperti cemburu karena pasangannya bercinta dengan orang lain.

Kurang lebih pemikiran wanita yang sedang memakai bra itu sama dengan kalimat di atas. Dia memakai seragamnya asal dan berjalan tergesa keluar apartemen Chanyeol.

Chanyeol mengacak rambutnya frustasi dan berjalan menyamai langkah wanita itu. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Hani. Aku bukan-"

"Ya, ya aku mengerti."

Blam!

Chanyeol terdiam sambil memandang pintu hitamnya dengan tatapan kosong. Kemudian dia mengambil kaus kusutnya yang tergeletak di atas sofa dan menghampiri Jongin yang kini kembali mengutak-atik kulkasnya. Jongin memakan sembarang cheese cake miliknya dan menghabiskannya dalam kurun waktu yang sangat cepat.

"Bagus, Jongin. Kau dengan santainya memakan cheese cake ku setelah membuat teman wanitaku salah paham."

Jongin yang tak mengerti atau memang otaknya lemot itu hanya terdiam, "Apa maksudnya? Aku membuat wanita berdada tepos itu salah paham begitu?"

"Hey! Jaga perkataanmu, dude. Tepos-tepos, kau tak mengaca?!" Tanya Chanyeol dengan suara menggelegar. Chanyeol sudah pasti tak terima jika gebetannya di katai mempunyai dada yang tepos alias kecil. Walaupun ia mengakui bahwa dada wanita itu memang kecil, tapi setidaknya Jongin jangan berbicara seperti itu. Pedas sekali mulutnya.

"Dadaku memang tepos, aku kan pria. Kecuali jika aku pria jadi-jadian atau ladyboy." Mereka berdua kini berjalan ke ruang tengah, kemudian mendudukkan diri bersampingan. Jongin tetap pada kebiasaannya, yaitu menaikkan kedua kakinya ke atas meja.

"Ada keperluan apa kau ke sini?" Tanya Chanyeol.

Oh iya, Jongin hampir lupa kalau tujuan awalnya kemari adalah untuk bercerita kepada Chanyeol.

"Tadi aku bertemu maniak."

Chanyeol mengerutkan dahinya, "Maniak?"

Jongin mengangguk, "Dia seperti memata-mataiku. Kau tahu? Bahkan aku sudah bertemu dengannya sebelumnya."

"Masa?"

"Iya! Saat aku pergi ke apartemen mu dua hari yang lalu. Dia menatap tubuhku seperti itu, menjijikan sekali. Ya, kau tahu lah maksudku apa." Jongin tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena terlalu tabu dan aneh untuk di katakan.

Namun Chanyeol yang bodohnya sama dengan Jongin menggeleng. Tidak mengerti dengan kata-kata Jongin yang terdengar ambigu.

"Baiklah, aku lupa kalau kau bodoh."

"Ck, kau juga lupa bahwa kau tidak lebih pintar dari ku! Setidaknya di saat kelas dua belas, aku mendapat peringkat ke-16. Di bandingkan saat kau yang kelas dua belas dan kau mendapat peringkat paling terakhir."

Jongin mendengus. Chanyeol selalu mengungkit-ungkit hal itu. Padahal itu sudah berlalu sekitar empat tahun yang lalu dan Chanyeol masih saja menyombongkan diri.

"Sudahlah, jangan membahas hal itu lagi!" Ucap Jongin kesal. "Maksudku dia menatapku seperti ingin.. memperkosaku."

Kali ini Chanyeol meneguk ludahnya kasar, "Itu terdengar mengerikan."

"Lupakan." Jongin berbicara seperti itu karena sudah merasakan atmosfer yang tidak enak di sekitarnya. "Ngomong-ngomong, kau tidak mengantarku pulang karena ingin bercinta dengan wanita itu ya?" Ucap Jongin mengalihkan pembicaraan.

Chanyeol menyengir. Dan Jongin sudah tahu apa jawabannya. "Ayolah, Jong. Ini adalah kesempatan langka. Tak biasanya wanita itu ingin bercinta denganku."

"Tapi tetap saja," Jongin menjeda ucapannya sebentar. "Kau membiarkan aku berjalan kaki dan kau enak-enakan memaju-mundurkan pinggulmu untuk mencari kehangatan wanita? Hebat sekali, Chanyeol. Aku jadi terkesan."

"Maafkan aku, bocah. Tunggu aku, kau ingin ke McDonald atau minum-minum? Hitung-hitung sebagai permintaan maafku."

Jongin tersenyum. Sial, dia jadi bingung. Dia harus kesal dengan Chanyeol atau bagaimana. Karena pria itu terkadang sangat menyebalkan, namun bisa membuatnya senang dalam waktu yang bersamaan.

Dan sepertinya McDonald kedengaran seribu kali lipat lebih menggiurkan di bandingkan klub saat ini.

"McDonald, tentu saja. Traktir aku hingga uangmu sekarat ya?!" Teriak Jongin, dan ia berhasil di lempari kaus kaki bau -yang Jongin perkirakan belum dicuci selama sebulan- oleh Chanyeol, sialnya lagi, benda buluk itu jatuh tepat di dekat lubang hidungnya.

"HOEK!"