Chapter 5 : Misunderstanding
.
.
.
Semua orang masih terpaku pada pemandangan seorang pria berumur kisaran 60 tahunan itu dengan tatapan yang syok. Begitupula dengan Jongin, lelaki itu masih sangat-sangat tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang.
Baik, Jongin mungkin sudah 'agak' mentolerir dirinya yang menikahi seorang pria, tapi tidak dengan seorang pria yang seumuran dengan kakeknya juga!
Pria tan itu terlihat menatap minta penjelasan kepada sang ibu dan ayah yang malah sedang duduk tenang tanpa ada rasa terkejut sama sekali.
Ya Tuhan, apalagi drama yang tengah keluargaku mainkan kali ini?
Kemudian Jongin kini beralih menatap Chanyeol. Pria tinggi itu terlihat sangat menonjol akibat rambut gulalinya, dan dia terlihat sama terkejutnya dengan para tamu undangan. Perlahan-lahan bola mata Chanyeol bergerak melihat kearahnya, Jongin tiba-tiba jadi keringat dingin.
Sumpah, Jongin tidak tahu kalau rupa calon suaminya seperti ini.
Tap Tap Tap
Derap langkah itu terdengar jelas di telinga Jongin karena suasana yang terlalu hening. Dan sekarang pria tua itu tepat berada di samping Jongin sambil tersenyum tanpa beban.
Pria tua itu berdeham, mengembalikan pikiran-pikiran para tamu undangan yang sudah kemana-mana, termasuk si pendeta.
Jongin kesal, marah, ingin menangis, dan sangat kecewa di acara yang 'seharusnya' sakral ini. Hingga ia memilih untuk menutup kedua belah irisnya dan hanya mendengarkan apa yang tengah di ucapkan oleh sang pendeta.
"Ya, Sehun bersedia." Ucap pria di samping Jongin dengan tegas.
Kali ini gilirannya untuk menjawab rentetan pertanyaan dari sang pendeta. Dengan sangat berat hati, Jongin menjawab. Suaranya agak parau dan bergetar.
"Aku.. bersedia."
Brak!
Cklek!
Kedua tangan itu membanting pintu kamar dengan keras dan memilih untuk mengunci diri dari dalam daripada keluar dan berbincang-bincang dengan sanak keluarganya.
Jongin benar-benar sangat kesal sekarang. Sudah dijodohkan secara paksa, lalu pasangannya itu laki-laki, sudah tua lagi. Lengkap sudah penderitaannya sekarang.
Seandainya,
Seandainya saja dirinya wanita ataupun seorang gay, Jongin juga tidak akan pernah mau menikahi seorang kakek-kakek tua yang kaya. Walaupun sebenarnya ia itu sedikit–hanya sedikit–matre (terutama pada Chanyeol), Jongin tak akan membiarkan sisa hidupnya untuk menemani seorang kakek-kakek.
Oh!
Apakah tujuan sebenarnya perjodohan ini adalah Jongin hanya disuruh mengurus seorang kakek-kakek tua yang terpaut puluhan tahun dengannya? Hell no.
Jongin mengurus dirinya sendiri saja malas, apalagi mengurus orang lain? Yang ada kakek-kakek itu malah semakin menderita jika mengikuti gaya hidupnya yang urakan.
Tok Tok
"Jongin, buka pintunya sebentar sayang."
Jongin sama sekali tidak beranjak dari tempat tidurnya, malas untuk membukakan pintu. Terutama untuk ibunya yang sudah banyak membohonginya.
Tok Tok Tok Tok Tok
Pria itu makin jengkel karena suara ketukan pintu yang tak berhenti. Ibunya makin brutal mengetuk pintu, dan sekarang ia menutupi kedua telinganya menggunakan bantal.
DUK!
Suara tendangan (yang sangat Jongin yakini kalau ibunya menendang menggunakan high heels) di pintunya kini membuat Jongin tidak tahan dan memilih untuk membuka pintunya dengan kasar. Dan wanita paruh baya itu terlihat lebih jengkel dari dirinya. "Kamu harus dikasari dulu ya baru bergerak?" Seperti biasa, sang ibu sembarangan masuk ke kamar anaknya, membuat si anak tambah jengkel.
"Mau apa ibu kesini? Ibu mau memberitahu kalau Sehun yang kakek-kakek itu ternyata keturunan alien?"
"Atau dia bagian dari illuminati?"
"Atau dia itu sebenarnya Voldemort?"
"Tidak, anakku yang pandai.." Wanita itu menjawab dengan sarkasme tinggi saat mendengar ocehan anaknya yang ngelantur. "Aku ingin memberitahu sesuatu yang telah kau salahpahami disini."
Jongin menarik napas panjang, bersiap untuk mengeluarkan semua uneg-unegnya kepada sang ibu. "Bagian mana yang telah aku salah pahami? Semua sudah jelas ku lihat. Ibu telah banyak menekanku. Entah itu menjodohkanku dengan pria yang ternyata seumuran dengan kakek ku sendiri maupun yang lainnya! Padahal aku sudah berusaha untuk tak mengecewakan dan membuat malu keluargaku hanya karena aku yang tak mau menikah dengan seorang pria, yang sebenarnya sangat ingin ku lakukan. Tapi ibu malah membuat semuanya jadi seperti ini. Apakah ada kesalahpahaman di setiap kalimatku?"
"Baiklah, ibu memang salah karena tidak memberitahumu. Tapi dengar penjelasan ibu terlebih dahulu, Jongin." Ibu Jongin terlihat sabar dengan kelakuan anaknya yang sangat bar-bar dan keras kepala.
"Tidak terima kasih, ibu. Aku," Jongin menunjuk dirinya sendiri, "Tak mau melanjutkan pesta ini, dan aku juga tak mau tinggal satu rumah dengan kakek tua itu." Jongin bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamarnya dengan cepat. Tangannya dengan lincah mengambil kunci motor yang tergantung di dinding, tak lupa dengan helm dan rokoknya yang ia simpan di dalam saku jaket kulit miliknya.
Jongin sedikit bersyukur karena pernikahan–sialan–nya itu berlangsung di halaman belakang, jadi ia tak perlu menyamar untuk keluar dari sini.
Sedangkan wanita paruh baya itu kalang kabut, bingung harus melakukan apa. "Apakah aku harus memberitahu Sehun?" Merasa itu adalah pilihan yang tepat, ia buru-buru mencari-cari kontak Sehun pada ponselnya dan langsung menempelkan benda persegi itu pada sebelah telinganya. Menunggu yang di telepon mengangkat.
"Ah ya, ada apa ibu mertua?"
Ibu Jongin menggigit bibir bawah karena gugup harus berkata apa kepada Sehun yang terdengar dalam suasana hati yang sangat baik. "Maaf, Sehun. Sepertinya banyak terjadi kesalahpahaman. Jongin pergi dan dia bilang kalau dia tidak mau melanjutkan pesta pernikahan ini.." Sehun terdengar terkekeh di panggilannya, membuat dahi wanita itu mengkerut bingung.
"Tak apa-apa, ibu mertua. Aku tahu kenapa dia seperti itu, pasti Jongin sangat terkejut saat tahu kalau Sehun yang dia maksud ternyata adalah kakek ku. Aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama seperti Jongin jika mengetahui calon pengantinku mempunyai jarak umur yang terlampau jauh. Ya walaupun hanya kesalahpahaman belaka."
Wanita paruh baya itu menghela napas lega lalu tersenyum lembut, "Terima kasih sudah bisa mengerti anak nakal itu, Sehun. Aku bahagia kau mempunyai sifat yang sangat dewasa."
"Dengan senang hati," Hening sebentar. "Kalau boleh tahu, Jongin pergi kemana ya tante? Mungkin aku bisa mengajaknya ke apartemenku dan meluruskan semua kesalahpahaman ini dengannya."
"Memangnya kamu sudah menyelesaikan semua urusan di Jepang?"
"Tentu sudah. Maaf aku sudah membuat semua ini jadi begitu rumit. Sebenarnya ini keteledoranku karena lupa membeli tiket pesawat waktu itu, jadi aku meminta kakek ku untuk mewakilkan ku di pernikahan ini karena undangan juga telah di sebar dan tak bisa di undur lagi. Aku juga baru landing setengah jam yang lalu dan sedang dalam perjalanan menuju apartemenku sekarang."
"Ah, baiklah aku mengerti." Ibu Jongin terlihat mengingat tempat apa saja yang sering Jongin kunjungi beberapa hari ini. Dan kediaman Chanyeol terlintas di pikirannya. "Tentang Jongin, sepertinya bocah itu sedang pergi ke apartemen temannya."
"Apartemen temannya? Di mana?"
"Kalau tidak salah, nama gedung apartemennya Viva, dan tante lupa di mana daerahnya."
"Apartemen Viva? Sepertinya tempat itu sama dengan apartemen yang aku tinggali. Kebetulan aku juga pernah melihat dan mengikuti Jongin yang masuk ke ruangan, err.. 629? Ya kalau tidak salah di lantai 21." Sehun berkata dengan tidak begitu yakin.
"Baguslah kalau kau sempat mengikutinya karena aku sama sekali tidak pernah berkunjung ke apartemen Chanyeol." Ibu Jongin kembali menghela napas lega. "Okay, Sehun. Aku akan menutup teleponnya. Terima kasih."
"Ya, sama-sama. Salam kepada ayah mertua ya tante."
Pik!
Sehun buru-buru mengetikkan nama Jongin di aplikasi kontaknya dan dengan cepat mendial nomornya. Tapi sial, bocah seksi itu tidak kunjung mengangkat. Ya mungkin nomornya masih nomor asing di ponsel Jongin, karena Jongin sendiri belum tahu hal apapun tentangnya. Pengecualian untuk predikat mesum dan brengsek yang mungkin akan langsung Jongin sadari setelah bertemu tatap dengan dirinya nanti.
Sehun sebenarnya sudah kenal Jongin sejak lama, tapi akibat pekerjaan dan tugas yang menumpuk membuat Jongin jadi tidak kenal dan tidak pernah melihatnya sama sekali. Sehun pun juga sudah tahu sejak lama kalau dia akan dijodohkan dengan Jongin.
Awalnya dia kaget, tapi lama-kelamaan Sehun jadi masa bodo dengan masalah jodoh-jodohan klasik orang tuanya. Toh, perjodohan ini menguntungkan karena orang tua Jongin mau bekerja sama dengan perusahaannya secara cuma-cuma. Juga menguntungkan bagi dirinya yang memang menyukai Jongin dari awal melihat.
Sehun diam-diam mengirimkan mata-mata untuk mengikuti semua kegiatan bocah itu. Makanya ia tahu kalau Jongin berada di gang sempit saat itu. Bahkan Sehun menahan tawanya dengan susah payah saat melihat anu Jongin terkena lemparan bola. Saat itu juga ia dengan berani menghampiri Jongin yang sedang menyumpah serapahi seseorang dan berniat untuk menggoda Jongin. Akibat perbuatannya, Sehun mendapatkan pukulan keras di rahang kirinya.
Sehun nekat menggoda Jongin karena kalau boleh jujur, ekspresi marah pria itu sangat menggemaskan.
And for your information, menggemaskan bagi Sehun, menyeramkan bagi orang lain.
"Halo? Siapa ini?"
Sehun menyeringai saat suara Jongin sudah mulai keluar dari speaker mobilnya. "This is your husband, Oh Sehun."
"A-aku pikir kau salah sambung, jadi silahkan menutup teleponnya terlebih dahulu."
Sehun terkekeh mendengar betapa lucunya Kim Jongin yang sering mendapat panggilan bocah berandal itu. Apa-apaan? Sudah jelas ini benar-benar nomornya, tapi dia malah mengelak dengan cara yang klasik.
"Aku tidak pernah salah orang, sayang. Jadi, kenapa kau kabur dari pernikahan kita?" Ucap Sehun to the point.
"Maaf kakek, tapi aku memang tidak mau menjalani pestanya. Dan, please, jangan panggil aku sayang."
"Aku akan tetap memanggilmu dengan seperti itu. Atau kau mau aku panggil dengan panggilan kesayangan yang lain? Love? Honey? Yeobo? Sweetheart? Or cupcake? Anything for you, babe."
Jongin berdecak kesal, "Cukup dengan nama saja. Jangan panggil aku dengan embel-embel apapun, aku tak suka."
"Baiklah, terserah padamu."
Pria berpakaian agak formal itu tersenyum saat sudah sampai di tujuannya, yaitu gedung apartemen Viva. Dia turun dari mobil setelah mematikan sambungan ponsel pada mobil hingga ia buru-buru menempelkan benda persegi panjang itu pada telinganya. Kaki jenjangnya melangkah ke dalam dengan penuh kewibawaan.
Sehun terlihat seperti model runaway dari fashion show kelas dunia, padahal hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya di gulung hingga siku dengan celana bahan warna khaki yang sangat pas melingkar di kedua tungkai kakinya.
"Kata ibumu, kau kabur dari rumah, kemana?"
"Kenapa ingin tahu? Sudahlah tak usah mencari, nanti kalau pinggangmu encok aku tak mau tanggung jawab."
"Jahatnya.." Sehun menjauhkan ponselnya dan menutup lubang pada ponsel agar Jongin tak dapat mendengar apa yang ingin ia tanyakan pada resepsionis yang ada di depannya. "Bisa cepat kau carikan di flat berapa Chanyeol tinggal?"
Melihat pria tampan di depannya sedang terburu-buru, sang resepsionis juga ikut terburu-buru melihat daftar ribuan flat beserta pemiliknya. Kemudian sang resepsionis meneguk ludahnya kasar, ia takut bertanya karena wajah pria tampan ini sangat dingin dan galak.
"Maaf, tapi apakah Chanyeol yang Anda maksud itu adalah Park Chanyeol?"
Sehun yang kembali berbicara dengan Jongin di ponsel tiba-tiba berhenti saat resepsionis itu bertanya. "Astaga, memangnya ada berapa banyak Chanyeol di sini? Pokoknya Chanyeol yang sering di kunjungi oleh seorang lelaki berkulit tan."
Jongin menyatukan kedua alisnya saat hanya mendengar suarakrasak-krusuk dari speaker ponselnya. Saat ini ia masih memakai tuxedo pernikahan hingga ia sempat ditanyai oleh si resepsionis. Tapi Jongin masa bodo, kan tujuannya hanya untuk lari dari pesta pernikahan itu.
"Haloo kakeek? Kau masih ada disana kan? Kalau tidak aku akan dengan sangat senang hati memutuskan pang–"
"Jangan. Aku sudah selesai."
"Selesai apanya? Sudah ya, aku ingin tidur. Jadi tolong matikan teleponnya terlebih dahulu, karena KIM Jongin, masih ingin menghormati orang yang lebih TUA." Jongin terdengar menekankan marga aslinya juga kata 'tua' pada ucapannya.
Benar-benar orang ini.
"Hey, jangan sembarangan. Jika kau mengetahui hal yang sebenarnya, pasti kau akan malu Jongin."
"Malu? Seharusnya kakek lah yang malu karena menikahi seseorang yang masih di bawah umur." Laki-laki itu terlihat sedang memutar bola matanya, ia lelah berdebat dengan kakek ini. "Maaf, kalau kata-kataku sangat kasar dan tidak sopan. Tapi kakek sudah terlalu menjengkelkan. Jadi, silahkan tutup teleponnya."
TING TONG
"Hah.. lebih baik kau membuka pintu terlebih dahulu daripada bersusah payah menyuruhku untuk menutup telepon, ya kan?"
"Ck," Dengan malas Jongin bangun, ia melepas jas putihnya dan melemparkannya ke sembarang arah. Untung Chanyeol belum pulang, jika sudah, pasti Jongin terkena omelannya.
Jongin tetap melanjutkan jalannya hingga ia sampai di depan pintu hitam milik Chanyeol. Ia sama sekali tidak curiga dengan suara ponselnya yang hening. Begitu ia membuka pintunya, matanya melotot kaget karena mendapati si gay cabul yang sering melecehkannya dimana pun ada di hadapannya.
Jongin menatap sengit kearah pria itu, tidak takut sama sekali dengan tatapan tajam si pria gay menyebalkan. "What are you doing here, asshole? Kau membuntutiku? Hah?!"
Sedangkan pria itu hanya mengendikkan kedua bahunya tidak peduli, kemudian salah satu alisnya yang menukik tajam itu terangkat.
"Aku sedang menelponmu."
Jongin bertambah kaget karena suara pria itu keluar dari speaker ponselnya. Kemudian pria berambut hitam itu mematikan sambungan teleponnya dengan wajah datar. "Dan seperti yang kau lihat, aku sedang ingin menjemputmu untuk pulang ke rumah kita."
"Apa maksudmu–HEI! TURUNKAN AKU, BRENGSEK!" Jongin kaget karena tubuhnya diangkat dengan mudah oleh pria cabul di depannya. Padahal tubuhnya cukup berat, tapi bagi pria yang sedang menggendongnya ini 'mungkin' ia hanyalah seekor anak anjing.
"Diam, bodoh." Setelah berbicara seperti itu, salah satu tangan si pria berambut hitam menutup pintu flat Chanyeol, sedangkan tangan yang lainnya menahan agar tubuh pria bar-bar di pundaknya tidak jatuh ke lantai berkarpet.
Sedangkan Jongin tidak menyerah begitu saja, terlalu banyak perlawanan yang ia lakukan kepada pria cabul ini hingga membuatnya jadi cepat lelah. Mulai dari menendang-nendang tidak jelas, memukul bokongnya dengan kencang, mencubiti kulit punggungnya menggunakan kuku, hingga meneriaki pria itu dengan kata-kata yang harus sekali di sensor.
Tapi pria yang sedang ia siksa ini malah tidak mengaduh kesakitan, hanya beberapa ringisan pelan saat ia mencubiti punggungnya menggunakan kuku.
Jongin melihat secara terbalik kalau ia sedang memasuki sebuah lift. Ia tidak tahu menahu kalau ia akan dibawa kemana. "Kau mau membawaku kemana, sialan? Cepat turunkan aku! Aku sudah terlalu malu di gendong seperti ini!"
"Kan sudah ku bilang kalau aku akan membawamu ke rumah KITA, jadi hanya diam dan tidak usah merengek."
"Apakah perlu ku panggilan polisi biar kau membusuk di penjara sekalian?"
"Coba lakukan, lalu aku akan memperkosamu di sini. Sekarang juga."
Jongin diam seribu bahasa. Dia benar-benar speechless saat si pria cabul yang masih betah menggendongnya ini mengancam untuk memperkosa dirinya.
Apa? Seorang primadona kampus–atau mungkin sudah akan jadi mantan–diancam untuk di perkosa oleh seorang pria?
Bip!
Cklek
Saat pintu terbuka, Jongin di sambut oleh aroma kopi yang sangat menenangkan. Walaupun ia tak suka kopi, Jongin tetap menyukai aroma biji-bijian itu. Wanginya sangat hangat, tenang, dan berkelas.
Tapi suasana tenang itu tak berlangsung lama karena Jongin sudah di turunkan secara tiba-tiba dari bahu si pria tinggi. Pria itu terlihat sedikit meregangkan sebelah bahunya yang tadi di gunakan sebagai tumpuan untuk menggendong Jongin. Diam-diam Jongin tertawa dalam hati.
"Ini, tempat yang ku maksud. RU-MAH KI-TA."
Jongin yang sudah kembali pada kesadarannya marah-marah. "Apa yang kau maksud dengan 'rumah kita' yang kau sebut dengan banyak penekanan itu? Memangnya kau siapa dengan seenaknya menyuruhku untuk tinggal satu flat bersamamu?" Ia meneguk ludahnya dengan susah payah karena ingin berkata sesuatu yang, benar-benar.. harus ia katakan.
"L-lagipula, aku sudah menikah!" Kulit wajahnya berubah jadi agak sedikit merah.
Si pria tinggi menjentikkan jarinya sambil tersenyum menyebalkan. Membuat Jongin rasanya ingin merobek bibir tipis itu, "Nah itu. Berarti kau sudah mengakui keberadaan ku, sayang."
"Mengakui keberadaan, apa? Aku tak mengerti, jadi tolong jelaskan apa maksud dari semua ini. Karena yang ku tahu, aku tidak pernah berhubungan dengan orang seperti dirimu."
Pria itu menghela napasnya pelan, sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu Jongin tentang segala kebenarannya.
"Aku," Jongin mengernyitkan dahinya. "Akulah yang sebenarnya Oh Sehun itu, Jongin. Oh Sehun bukan seorang kakek-kakek yang ada di pernikahan kita tadi pagi. Dia adalah kakek ku yang aku jadikan wakil."
"Alasan kenapa aku tidak hadir di acara pernikahan, itu karena aku belum sampai di Korea. Aku mempunyai cabang bisnis di Jepang, jadi pada saat H-3 hari pernikahan, aku kembali di panggil oleh bawahanku untuk mengurusi sesuatu yang tak dapat di wakilkan. Aku kesal dan ingin sekali mengundur hari pernikahan ini, tapi aku tidak enak pada keluargamu. Lagipula undangan juga sudah di sebar oleh ibumu. Ya jadi, apa boleh buat?"
"Jadi dengan penuh rasa terpaksa, aku pergi ke Jepang. Urusanku selesai hanya dua hari sebenarnya, tapi saat H-1, aku lupa membeli tiket pesawat. Aku baru teringat pada saat jam dua belas malam dan memesannya saat itu juga. Dan sampailah aku di Korea, hanya selang satu jam dari sekarang."
Mulut Jongin terbuka sedikit, kemudian ia tertawa hambar karena rasa tidak percaya atas apa yang telah terjadi pada dirinya sekarang ini.
Entah tentang hidupnya yang terlalu seperti drama, ataupun tentang fakta baru si Oh Sehun yang asli.
"J-jadi, semua ini?" Tanyanya dengan raut wajah tak percaya kepada Sehun.
Sehun menghela napasnya kemudian mengangguk, "Ini memang rumit, tapi ya, ini hanya kesalahpahaman belaka. Jadi kau tak perlu menyebut suamimu dengan sebutan kakek-kakek lagi, karena seperti yang telah kau dengar, dia adalah kakek ku dan aku adalah suamimu."
Jongin merasa kepalanya seperti ingin pecah. Ia terlalu pusing untuk menerima segala fakta-fakta baru tentang hal-hal yang 'akan' menyangkut dengan kehidupannya. "Sepertinya semenjak berhubungan denganmu, entah kenapa hidup ku mirip drama-drama picisan." Setelah sudah puas(?) mengurut tulang hidungnya, Jongin memilih untuk tak memperpanjang masalah ini karena malas.
Jongin itu sebenarnya tipe orang yang malas mempunyai masalah, tapi dirinya sendiri sering membuat masalah dengan orang lain.
"Jadi, bagaimana? Mau tinggal disini, atau–?" Sehun sengaja memberikan pernyataan menggantung agar si bocah seksi di depannya ini kembali berbicara kepadanya.
Jongin menatap sengit ke arah Sehun, membuat yang ditatap memasang ekspresi wajah super datar. "Atau apa? Jangan macam-macam. Ingat ya, Oh Sehun yang asli. Aku tidak tahu ini semua memang rencanamu atau bukan. Tapi yang jelas, aku masih belum mengenalmu. Aku hanya kenal dengan sifat mesum nan menyebalkan milikmu saat pertemuan pertama kita."
"Macam-macam apanya, bodoh? Aku kan hanya bertanya ingin tinggal disini atau tidak. Lagipula, jarak flat ini tidak terlalu jauh dengan flat temanmu yang bernama siapa tuh? Cenyol? Cendol? Cenil? Apalah namanya, terserah. Dan yang jelas ini bukan rencana ku. Aku juga sebenarnya sudah tahu lama tentang dirimu, tapi yah, yang namanya aku orang sibuk. Jadi yang malas tidak tahu menahu tentang apa yang telah terjadi pada lingkungan sekitarnya." Dagu Sehun terangkat tinggi sekali, bibir pria itu juga menyunggingkan sebuah seringaian.
Duh, baru saja di hari pertama–bahkan belum sampai sehari–kehidupannya setelah menikah, Jongin sudah sebenci ini pada Oh Sehun alias, ugh, suaminya.
Bagaimana dengan beberapa hari, bulan dan tahun kemudian?
To Be Continued
.
.
.
Sorry kalo kalian kecewa dgn chap kemarin..
Mood gue benar2 down beberapa hari ini. Entah akibat masalah rumah, sekolah, tugas kelompok, ulangan, pensi, presentasi dan beberapa hal sialan lainnya. So mungkin ff yang lain akan lama update
ps: Gue mau edit semua ff gue jadi lebih layak baca, boleh ga?
