Kruuuuukkk..

"Aduh lapar sekali.." Jongin mengusap-ngusap perutnya yang berbunyi tadi. Kemudian dia berjalan menuju dapur untuk mencari makanan di dalam lemari pendingin. Dan saat membukanya, hidung Jongin langsung di sambut oleh bau tidak sedap dari dalam sana. Jongin langsung berhoek-hoek ria saat bau itu menusuk-nusuk hidungnya.

Matanya melihat keju busuk, roti berjamur, susu kadaluwarsa dan bahan-bahan makanan lainnya yang sudah tidak layak makan.

Gila, ini kulkas atau tempat sampah?

"Aku bisa mati kelaparan jika tinggal di sini. Ahh, aku mau makaaan!" Jongin malah merengek entah pada siapa. Kakinya menghentak-hentak tanpa menyadari kalau Sehun melihat semua kelakuan idiotnya di dapur.

Bad boy macam apa yang merengek seperti bayi?, Sehun membatin.

"Hey bocah! Sedang apa kau di dapurku?!"

Jongin terkejut dan langsung berhenti merengek. Ia memasang wajah normalnya kemudian menoleh ke arah sumber suara. "Aku lapar. Dan kau tahu apa? Di dapurmu bahkan tidak ada makanan sama sekali! Di kulkasmu apalagi, isinya makanan busuk semua. Memangnya aku lalat apa di kasih makanan seperti itu masih di makan?"

Sehun berdecak malas, "Kan aku sudah bilang tadi. Aku ini orang sibuk. Aku jarang sekali ada di flat ku, jadi aku mana tahu kalau semua makanan di kulkasku sudah kadaluwarsa? Aku juga tidak sempat untuk berbelanja bulanan. Setengah dari hidupku aku habiskan untuk bekerja di luar kota dan negeri, bukannya di supermarket."

"Ish." Jongin menatap sengit ke arah pria putih di depannya. Tangannya membuat gesture meminta kepada Sehun, membuat yang di perlakukan seperti itu mengernyitkan alisnya bingung.

"Apa?"

"Berikan aku cardlock flat ini dan berikan aku uang. Aku ingin membeli makanan di luar."

Sehun menggeleng-geleng sambil tersenyum menyebalkan, membuat Jongin semakin gemas ingin menguliti pria itu hingga mati.

Ternyata ada ya orang yang lebih menyebalkan dari Chanyeol dan ibunya? Mereka berdua saja sudah ingin membuat kepala Jongin meledak, apalagi si pria putih yang satu ini? Bisa-bisa ia sudah ditemukan di headline berita Seoul dengan judul 'Seorang pria di temukan tewas menenggak racun serangga karena sudah kesal dengan suaminya sendiri'. Alasan yang terlalu konyol untuk khalayak umum, namun terdengar wajar bagi Jongin sendiri.

"Tidak bisa, kau tidak boleh memegang cardlock flat ini. Nanti yang ada kau membawa wanita jalang dan bercinta dengan mereka. Aku tidak suka jika kau membuat kotor flat ku dengan cairan mereka."

Jongin kesal sebenarnya, tapi ia berusaha untuk tidak fokus pada perkataan Sehun yang terkesan menyindirnya, ia lebih fokus pada sebuah lempengan plastik yang mengintip di balik saku celana pria itu. Dan Jongin yakin kalau itu adalah cardlock nya.

Tapi sepertinya Sehun malah menganggap kalau ia sedang memandangi alat kelaminnya dari luar celana.

Pria yang lebih tinggi dari Jongin itu tertawa seperti penjahat seksual. "Kau melihat ke arah mana, sayang? Kau tidak sabar ingin merasakan malam pertama kita, heum? Baiklah aku akan melakukannya sekarang juga." Sehun sudah akan membuka ikatan tali pada celana training nya sebelum–

Sret!

"HAHA! I GOT IT!"

Semuanya terlalu cepat bagi Sehun. Ia tidak tahu kenapa bocah seksi itu berlari dengan tergesa sambil menggenggam sesuatu. Kemudian ia melirik ke arah sakunya, dan benar saja. Yang Jongin ambil itu adalah cardlock flat yang ia taruh di saku celana tadi! Astaga.

Akhirnya dengan sekuat tenaga Sehun berlari mengejar Jongin. Tangannya menggapai-gapai tubuh bocah bar-bar yang sedang tertawa girang di depannya, tapi tetap tidak bisa.

"Berhenti kau bocah sialan!"

"KAU TIDAK BISA MENANGKAPKU, PRIA MESUM!" Ia menengok sebentar ke arah belakang. Di belakang sana, Sehun masih agak jauh di belakangnya. Jongin dengan cepat dan lincah membelokkan dirinya ke sebuah pojokan yang membuat dirinya di kepung oleh mesin cuci juga dinding. Ia menggunakan kesempatan super sempit itu untuk menghubungi Chanyeol, meminta pertolongan untuk membawanya kabur dari sini.

"Halo Chan–"

"Yak! Kau kabur ke flat ku ya?! Fuck you! Ruang tamu ku jadi berantakan, idiot! Lalu kenapa tuxedo mu terletak sembarangan?! Kau habis bercinta dengan jalang disini, hah?! Sudah kabur dari pernikahanmu sendiri, sekarang kau malah merepotkanku, sial–"

"Aish, Chanyeolhh! Tolong selamatkan akuhh!"

Chanyeol terkejut dengan suara Jongin yang terdengar agak–bagaimana ya? Ini otaknya yang terlalu liar atau Jongin yang memang terdengar seperti mendesah?

"Kau–" Chanyeol terdiam lalu berkata dengan suara besarnya. "Kenapa kau mendesah?!"

"Sudah cepatlah selamatkan aku, Chanyeolh! Kau tunggu saja di depan flat–" Mata Jongin membulat saat ia menemukan seonggok bayangan di depan matanya, dan ternyata benar. Sehun dengan wajah lelah dan berkeringat sedang menatap nyalang ke arahnya.

"HAH! KENA KAU, BOCAH!"

Jongin jadi merasa seperti sedang ikut syuting film horror jika seperti ini caranya. Ia terus di teror dengan keberadaan Sehun yang menemukannya secara tiba-tiba seperti ini. Dan tentu saja Sehun yang jadi setannya.

Dengan lincah ia menghindar dari tangan Sehun yang berusaha mencengkram kemeja pernikahan yang masih ia kenakan. Tangannya masih dengan setia menempelkan ponselnya di telinga, tanpa mengurangi kecepatannya berlari. Jongin sedikit bersyukur karena flat ini lebih luas daripada milik Chanyeol, jadi ia lebih bisa banyak menghindar dari Sehun yang kini berbalik ingin menguliti dirinya.

Jongin terus berlari hingga tanpa sadar ia menyandung ujung karpet yang sedikit terangkat.

Brugh!

"ADUH SAKIT!" Akhirnya pria tan itu terjatuh ke atas lantai dengan bokong yang mendarat duluan. Pria putih yang mengejarnya tertawa puas. Wajahnya yang pucat kini lebih terlihat pucat karena kelelahan berlari.

Gila, Jongin mempunyai tenaga yang selevel dengan tenaga kuda!

"Hey, bodoh Jongin! Kau kenapa sih?!"

Sehun langsung menindih Jongin di saat pria itu masih mengaduh kesakitan, tangannya mencoba membuka genggaman super kuat tangan sebelah kiri Jongin yang ia yakini kalau cardlocknya sudah sangat lepek.

"Aku sedangh–JANGAN MEMAKSA, BODOH! SAKIT! ADUUHH!"

"Kau mencengkramnya! Jadi aku kesusahan!"

"Aku tidak mau! Jangan memaksa-akh!"

"Tinggal buka saja apa susahnya?! Kan aku jadi tidak membuatmu sakit juga, bocah!"

"Aku capek, sialan! Jadi berhenti memaksa!"

"Makanya longgarkan sedikit! Pasti benda itu sudah basah sekarang!"

"Biar! Biar ku buat patah sekalian!"

"Kau gila?! Kalau patah aku akan kehilangan harapan! Cepat buka!"

"Tidak mau! Menyingkir dari atasku! Bokongku sakit sekali!"


Chanyeol hanya melongo sambil telinganya mendengarkan rentetan kalimat penuh keambiguan serta umpatan yang keluar dari speaker ponselnya. Tangannya gemetar, pori-porinya juga sudah mengeluarkan bulir keringat dingin. Padahal baru tadi dia menyaksikan secara langsung pernikahan Jongin, dan kali ini Chanyeol malah mendengar secara cuma-cuma desahan malam pertama Jongin dengan suami kakek-kakeknya.

Dia mengambil nafas banyak-banyak dan berteriak pada kedua orang di seberang sana. "AKU TAHU KALAU AKU INI TIDAK PUNYA KEKASIH, SIALAN! TAPI JANGAN PAMERKAN MALAM PERTAMA MU JUGA!"

Chanyeol mematikan ponselnya secara sepihak. Tubuhnya masih bergetar takut karena kejadian tadi. Ia baru tahu kalau pria dengan pria bercinta akan semengerikan itu jadinya. Apalagi tadi Jongin terdengar sangat kesakit–an..

T–tunggu sebentar..

'JANGAN MEMAKSA, BODOH! SAKIT!'

'Aku capek, sialan! Jadi berhenti memaksa!'

'Tidak mau! menyingkir dari atasku! Bokongku sakit sekali!'

Dilihat dari percakapan mereka.. jangan bilang kalau Jonginlah yang di–

"Oh my God.." Chanyeol menutup mulutnya yang menganga menggunakan telapak tangan sembari memikirkan kalimat gantung penuh keambiguan yang tadi berada di otaknya.

Kemudian senyum menyebalkan terlukis di belah bibir Chanyeol. Chanyeol bahagia saat mengetahui fakta bahwa ia sudah mempunyai senjata untuk menyerang balik Jongin jika pria itu sudah kelewatan dan semena-mena padanya.

Keselamatan bocah sialan itu ada di tanganku sekarang! Aku bisa meledeknya jika ia sedang mengancamku untuk membakar semua poster Dara noona! Hahaha!


Setelah acara kejar-kejaran tadi, kini keduanya saling mendiamkan diri. Si pria tan memilih untuk diam sambil menahan rasa lapar yang teramat sangat. Sebenarnya Jongin ingin bilang pada Sehun kalau ia sangat lapar, tapi gengsi sekali rasanya.

Sedangkan yang satunya sedang berfikir keras. Haruskah ia mengajak Jongin makan di luar atau membiarkannya kelaparan?

Sebenarnya ia kasihan dengan anak itu, pasti dia belum makan mengingat kalau tadi pagi itu adalah saatnya Jongin mempersiapkan pernikahan. Kalau dia sih sudah makan di pesawat walaupun ia belum makan siang.

Akhirnya setelah berdebat dengan dirinya sendiri, Sehun memberanikan diri untuk mengajak Jongin makan di luar.

"Hey bocah. Mandi dan ganti pakaianmu sana. Kita akan makan malam di luar."

Jongin memberikan tatapan tidak percaya kepada Sehun. Ternyata si es ini bisa baik juga.

"Aku tidak bawa pakaian ganti, aku kabur dari rumah tadi. Kau lupa?"

Sehun berdecak sebentar, lalu mengingat bahwa ia ada satu buah kaus yang tidak pernah ia pakai karena sempit.

"Jangan bilang kau tidak bawa pakaian dalam juga?" Jongin mengangguk dengan santai dan itu membuat Sehun menatapnya horror. "Aish, benar-benar bocah ini."


Jongin sangat menyesal setelah menerima setelan santai yang di berikan Sehun.

Kausnya sih oke, apalagi merk Supreme seperti yang sering Jongin beli, ia sangat menyukainya malah. Tapi masalah sebenarnya itu terletak di bagian celana.

Bagaimana tidak? Celana jeans ini sangat ketat dan terlalu pendek, sudah begitu ada bagian robeknya di paha. Untung saja sang ibu sudah menyuruh Jongin waxing. Kalau tidak, habislah ia di ledek oleh makhluk pucat di sampingnya.

Tapi walaupun sudah mulus tanpa bulu, Jongin masih tidak percaya diri memakai celana super ketat dan pendek bak hotpants. Memangnya ia wanita apa dipakaikan celana seperti ini?

Sehun bersiul sambil melihat kearahnya, membuat Jongin kesal dan sedikit déjà vu dengan kejadian di lift waktu itu.

"Wah wah wah kau seksi juga ya, Jongin." Kemudian ia berkata lagi, "Sebenarnya itu celana wanita. Saat itu aku pernah membawa wanita jalang kesini, tapi celananya tertinggal. Ya sudah, jadi aku berikan kepadamu. Dan ternyata kau lebih cocok memakainya daripada wanita itu."

"Kau menjadikanku bahan percobaan ya? Aku ini laki-laki, kau buta? Atau kau ingin ku buat buta?"

"Ah galak sekali.. Ayo pergi, sudah semakin larut." Sehun dengan santainya merangkul pinggang Jongin setelah mengalihkan pembicaraan mereka, ia mencoba menghindar dari tatapan mematikan Jongin.

"Lepaskan tangan berdosamu itu dari pinggangku, you fucking asshole. Aku bukan gay."

Setelahnya Jongin melepaskan tangan Sehun dengan kasar karena di rasa pria putih itu tidak mendengar perkataannya. Namun saat ia sudah berjalan selangkah di depan Sehun, Jongin merasakan kalau tangan pria sialan itu meremas bokongnya. Akhirnya tanpa babibu, Jongin langsung menendang tulang kering pria itu dengan keras.

"Aw!"


"Shit! You hurt me!" Sehun masih asik mengusap-usap tulang keringnya yang masih sakit. Sedangkan yang membuat ulah hanya mengendikkan bahunya tidak peduli.

"It's your fault, Oh Sehun." Jongin tanpa canggung mengganti-ganti dengan asal saluran radio di mobil Sehun hingga ia menemukan sebuah lagu kesukaannya.

-I'm too lit to dim down a notch

Cause I could name some thangs that I'm gon' do

Wild, wild, wild

Wild, wild, wild thoughts

Wild, wild, wild

When I'm with you, all I get is wild thoghts-

"Wild, wild, wild

When I'm with you, all I get is wild thoughts.."

Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya, menikmati drop lagu yang menguar di pendengarannya.

"Me too."

Jongin mendelik di saat Sehun terdengar seperti menjawab nyanyiannya.

Sial, Jongin rasa ia salah memilih lagu. Ia lupa kalau ia sedang bersama Oh Sehun alias pria gay yang mempunyai hormon berlebih. Di beri lagu erotis seperti ini maka semakin menjadi-jadilah si es itu.

"Dasar gila."

Sehun menyeringai mendengarnya, "Apa? Aku kan hanya bicara yang seharusnya aku bicarakan. Lagipula, siapa suruh kau menyetel lagu yang seperti itu? Kau seperti minta di perkosa kau tahu?" Sehun tersenyum tipis saat Jongin membuang pandangannya ke arah luar sambil mengacungkan jari tengah ke arahnya. Ia tahu kalau Jongin sedang kesal sekarang. "By the way, selera musikmu bagus juga."

Jongin menjawab Sehun dua menit kemudian. "Entahlah. Aku sebenarnya tidak terlalu suka genre yang seperti ini. Chanyeol suka menyetel lagu yang seperti ini dan aku ikut-ikutan saja."

Sehun agak tidak suka saat nama Chanyeol keluar dari mulut pria berbibir tebal itu. "Lalu musik apa yang kau suka?"

"Menurutku musik tahun 90-an adalah yang terbaik. Banyak sekali penyanyi-penyanyi yang mendunia saat itu, lagunya juga sangat bagus. Apalagi Westlife dan Michael Jackson, aku pikir mereka luar biasa."

Sehun tidak tahu harus merespon apa. Intinya ia merasa agak senang karena Jongin sudah sedikit menceritakan tentang hal yang disukainya. Apalagi, ini adalah pertama kalinya mereka berbincang tanpa adanya kalimat umpatan.

Awalan yang bagus, pikirnya sambil tersenyum tipis.

"Oh iya, besok kau harus ikut denganku." Sehun berkata tanpa melihat ke arah Jongin.

"Kemana?"

"Ke rumahmu. Kita harus memindahkan semua barang-barangmu ke flat ku. Sekalian kau dan aku minta maaf pada kakek."

"Tidak mau. Aku canggung."

Dahi Sehun mengerut, "Canggung dengan kakek ku atau canggung karena tinggal satu flat denganku?"

"Ah tidak tahu. Pokoknya aku canggung. Lebih baik aku tinggal di flat Chanyeol saja."

Sehun menatap tidak suka ke arah pria tan itu, dan sekali lagi, Jongin mengendikkan bahunya tidak peduli. "Kau menikah denganku, bukannya dengan Chanyeol. Seharusnya kau tinggal bersamaku, bukan bersama Chanyeol."

Jongin bergidik ngeri saat mendengar kalimat Sehun yang terdengar begitu serius dan begitu–aneh. Ditambah dengan wajahnya yang terlihat mengeras. Kenapa dia? Jongin sungguh tidak mengerti dengan jalan pikir pria itu.

"Aku tahu, tapi aku belum sepenuhnya menerima pernikahan ini, Oh Sehun. Aku bukan gay sepertimu."

Rahang Sehun mengeras, dan Jongin melihat semua perubahan yang di tampilkan oleh Sehun.

"Gay atau bukan, menerima atau tidak, kau tetap menjadi pasanganku yang sah." Keadaan di dalam mobil jadi canggung, dan Jongin sedikit bersyukur karena mereka sudah sampai di depan restoran cepat saji yang mereka tuju. "Jangan lagi membuat mood ku buruk, bocah. Cepat turun."

"Kau juga membuat mood ku buruk, Sehun-ssi." Jongin menatap pria itu sinis sebelum keluar dari mobil dengan bar-bar dan menutup pintunya dengan sangat kencang.

Meninggalkan Sehun dengan raut datarnya di dalam mobil.

To Be Continued

.

.

.

Maaf, kemarin kalian salah paham. Gue bukannya mau ngapus cerita ini kok, gue cuma mau ngapus bagian yang itu. Gue sadar kalo gue terlalu lembek kemarin. Soalnya waktu itu gue lagi 'dapet' di hari pertama, udah gitu banyak masalah, banyak tugas, terus jadinya begitu deh. Gue nggak mikir2 dulu kalo mau bertindak, maaf

Terima kasih yang udah nyemangatin gue, gue akan berusaha buat nggak baper kayak gitu lagi. Keadaan gue lagi buruk banget waktu itu, karena biasanya gue nggak semudah itu buat baper, gue udah terlalu biasa dapet perkataan yang menyakitkan. Tapi entah kenapa otak dan tangan gue langsung bergerak buat ngetik itu semua

Buat mbak cute, maaf dan terima kasih juga. Mudah2an mbak nggak terlalu ceplas-ceplos kalo review di tempat orang, nanti takutnya orangnya 'lagi' kayak gue wkwk

Kalo kalian bingung sama karakter oseh, gue mau bikin dia itu jadi tipe orang yang susah di tebak. Gue bingung mau ngejelasinnya gimana, jadi to the point aja biar nanti kalian pahamin sendiri di chapter-chapter yang akan datang

Gue udah mikirin konfliknya ff ini bakal kayak gimana, tapi kayaknya yang gue pikirkan itu agak disgusting karena terlalu klise dan lenjeh wkwk, jadi mungkin konfliknya bakal agak lama munculnya

Ps: Kalian jangan mandang gue gimana2 yaa

Ps2: Gue baru ngeh kalo di setiap chapter cerita gue selalu minta maaf wkwk