Precious

bagian 1

HUNHAN/WINKDEEP

YAOI! Family

rated M

"Sialan. Kalah lagi." Baejin membanting PSP nya di atas meja makan. Ia dan keluarganya sedang bersiap sarapan seperti biasanya setiap pagi, sebelum berangkat ke sekolah. Ketika ia sibuk bermain game, adiknya Haowen dengan diamnya duduk manis sambil memperhatikan kakaknya bermain.

Hanya bertiga tanpa ada sang ayah.

"Iya, kau jaga kesehatan disana. Moscow udaranya sangat dingin, selalu pakai mantelmu.."

Pandangan Baejin beralih pada bundanya yang sedang menelfon tak jauh dari meja makan.

"Aku juga mencintaimu.."

Sesaat setelahnya Luhan menutup telfonnya dan duduk bergabung dengan kedua anaknya.

"Baiklah, mari makan. Bunda sudah selesai dengan ayah." Luhan mengambil beberapa helai roti dan mengolesinya dengan selai untuk berikutnya ia berikan pada anak-anaknya. Setelah keduanya mendapatan jatah mereka, ia menyiapkan untuknya sendiri.

"Sebelum makan, kita harus berdoa dulu. Bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan kita makanan. Oh iya! Ayah kalian bilang hari ini dia sangat merindukan kalian dan bahkan ingin pulang dan memeluk kalian. Jangan lupa doakan ayah kalian juga ya?" tutur Luhan pada anak-anaknya yang hanya diangguki oleh si bungsu.

Kemudian ketiganya memanjatkan doa sebelum makan dipimpin oleh bunda mereka.

"Ayah sekarang ada dimana bun?" tanya Haowen di sela-sela sarapan mereka.

"Dia ada-"

Belum sempat Luhan menjawab, Baejin sudah memotong kalimat bundanya.

"Untuk apa kau menanyakan keberadaan tua bangka itu Haowen? Toh dimanapun dia sekarang. Dia takkan mungkin ada di sisi kita dan takkan pernah peduli padamu." kata Baejin sarkas dan hal itu langsung membuat adiknya tidak terima.

"Kakak jangan sok tau! Tadi bunda bilang kalau ayah mau pulang dan memeluk kita! Itu berarti dia merindukan kita!"

"Kau yang sok tau! Si tua bangka itu bohong! Anak kecil sepertimu tau apa Haowen?! Kau masih kecil. Kau belum sadar kalau ayah tidak pernah peduli pada kita! Kalau dia peduli, di pesta ulang tahunmu tahun lalu dia pasti datang! Tapi kenyataannya dia tidak ada disini! Bahkan sampai saat ini!"

Sentakan sang kakak membuat Haowen murung dan hampir menangis untuk membenarkan apa yang dikatakannya barusan, tentang ayah mereka yang tak pernah ada di tengah-tengah keluarga.

Luhan yang melihat kedua anaknya berdebat segera menangahi, dengan lembut ia menasehati sang kakak, "Baejin, ayahmu peduli padamu. Kau tidak boleh bilang begitu. Dimanapun dia sekarang dia pasti selalu mengingat kita. Jika tidak dia takkan bekerja keras sampai sejauh ini untuk kita."

"Bunda jangan terlalu baik pada ayah! Setiap hari pasti bunda yang selalu menelfon dan menanyakan keadaan ayah! Memangnya dia sesibuk itu sampai menelfon kesini saja tidak sempat?! Memangnya itu yang namanya ayah? Yang namanya suam-"

"Baejin, hentikan." Luhan hampir membentak anaknya sendiri atas ocehan-ocehannya yang tidak masuk akal tentang Sehun dan hampir melewati batas kewajaran. Jujur saja ia juga merindukan Sehun bahkan melebihi kedua anaknya.

Ia merindukan sosok Sehun bermain bersama kedua anak mereka. Merindukan sentuhan suaminya sendiri yang sudah lama tak dirasakannya. Tapi apa boleh buat, Sehun berada jauh dari keluarga juga karena keluarga. Ia bekerja keras hanya untuk mensejahterakan kehidupan istri dan anak-anaknya.

"Aku tidak lapar. Mau beli makanan di sekolah saja." Baejin meletakkan roti yang sama sekali belum digigitnya kembali ke atas meja dan kemudian melenggang pergi ke sekolah tanpa berpamitan dengan Haowen dan bundanya.

"Bunda, apa benar yang dikatakan kakak kalau ayah sudah tidak peduli pada kita?" Sang adik yang dari tadi menyaksikan perdebatan bunda dan kakaknya pun merasa cemas dan khawatir.

"Tidak sayang, itu tidak benar. Ayahmu sangat menyayangi kalian berdua. Kakakmu hanya rindu pada ayahmu saja." jawab Luhan sambil tersenyum teduh pada Haowen.

"Bunda tidak papa kan?" Haowen berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati bundanya, ia memeluk Luhan dengan potongan roti yang masih ia genggam.

"Bunda tidak papa. Sudah, tidak usah dipikirkan." Luhan balas memeluk Haowen dan mendaratkan beberapa ciuman di dahi sang anak. "Sekarang habiskan sarapanmu lalu bunda akan mengantarmu ke sekolah." ucap Luhan setelah melepaskan pelukan mereka.

Berbeda dengan sang kakak, Haowen dengan patuh menuruti dan mempercayai semua perkataan bundanya dan menghabiskan sarapannya segera.

Luhan hanya bisa tersenyum nanar memperhatikan Haowen menghabiskan rotinya.

'Sehun..seandainya kau ada disini..'