Precious

bagian 2

HUNHAN/WINKDEEP

YAOI! Family

rated M

"Oi, Baejin!" Sesaat setelah Baejin keluar dari parkiran untuk memarkirkan sepedanya, teman dekatnya yang bernama Lee Daehwi berlari ke arahnya. Daehwi disini memang bersahabat dekat bahkan sekelas dengan Baejin.

"Oi," Baejin hanya membalas singkat saja setelah Daehwi berhasil menyamakan langkah keduanya menuju kelas mereka.

"Ayah lo keren banget tadi malem gue streaming-an di youtube. Gue suka banget lagu barunya yang judulnya Electric Kiss njir mantab jiwa." Daehwi berubah menjadi fanboy sekarang, tubuhnya tak bisa diam mempraktekkan bagaimana cara Sehun ngerapp di atas panggung.

Baejin yang sudah terbiasa dengan tingkah ayan Daehwi hanya bisa memutar kedua bola matanya malas. "Gue gak peduli. Dan gue juga gak mau peduli sama lagu-lagu ayah gue." jawab Baejin dingin dan singkat, yang langsung meruntuhkan kepercayaan diri Daehwi untuk bertingkah sesuka hati. Ia pun menghentikan syndrome fanboy nya.

Tipikal Baejin, walaupun sifat keras dan konyol Sehun melekat pada dirinya. Namun sikap dingin dan acuh ayahnya lebih mendominasi pada karakter Baejin. Sudah bukan rahasia lagi sikapnya yang seperti itu adalah buah hasil dari jarangnya ayah dan anak itu bertemu satu sama lain.

Daehwi yang berjalan di samping Baejin pun kemudian tersenyum kaku karena menyadari bahwa Baejin memang tidak pernah mempunyai keinginan untuk mendengarkan lagu-lagu EXO.

"Pagi," Bocah lelaki bermata bulat dan rambut coklat tiba-tiba saja menyempil diantara keduanya dan merangkulnya.

"Pagi, Kim Jihoon." jawab Daehwi. Sedangkan Baejin terus berjalan, melepaskan rangkulan Jihoon tanpa terlalu memperhatikan wajahnya, anak dari rekan satu grup ayahnya, Kim Jongin dan Do Kyungsoo.

"Kenapa Baejin? Kangen ayah lo?" goda Jihoon sambil memukul ringan lengan Baejin.

Baejin hanya mendecih dan kemudian menanggapi, "Sorry ya kangen sama tua bangka itu." elaknya yang langsung mempercepat langkahnya masuk ke kelas duluan meninggalkan Jihoon dan Daehwi.

Daehwi menyikut lengan Jihoon, "Dasar lo, udah tau si Baejin kangen berat sama bokapnya masih aja lo godain." ucapnya yang langsung disusul senyum manis anak tunggal keluarga Kim itu. Senyuman yang manis semanis milik ayahnya.

"Gue heran sama si Baejin, padahal bokap gue juga satu band sama bokapnya. Tapi kenapa gue kangennya biasa aja ya sama bokap gue?" heran Jihoon.

Sebuah gelengan kecil adalah jawaban Daehwi untuknya. "Gue juga gak tau." ujarnya sambil menghela nafas panjang.

"Sialan. Pake kempes segala." keluh Baejin saat hendak pulang dan menyadari bahwa ban sepedanya kempes. Ia kemudian menuntunnya berjalan perlahan menuju depan gerbang sekolah dan duduk disana untuk menelfon bundanya supaya segera menjemputnya.

"Baejin, lo kenapa? Kok belum pulang?" Belum sempat Baejin mengeluarkan ponselnya dari sakunya, Daehwi dan Jihoon sudah menghampirinya dan duduk di kedua sisinya.

"Sepeda gue." Baejin menggerakkan kepalanya sedikit untuk memperlihatkan pada kedua sahabatnya ban sepedanya yang kempes habis.

"Bareng mama gue aja, bentar lagi dia jemput kok." usul Daehwi yang lansung disusul gelengan cepat dari Baejin.

"Gue telfon bunda Lulu bentar ya." Baejin mengambil ponselnya dan kemudian mengatakan pada bundanya di seberang sana untuk segera menjemputnya. "Kalian kenapa gak pulang?" tanya nya setelah selesai dengan ponselnya, melihat kedua temannya masih bertahan menemaninya.

Daehwi dan Jihoon saling pandang. "Kita temenin lo sampe bunda lo kesini." ucap Jihoon mantap dengan cengiran manisnya.

Baejin hanya tersenyum simpul. "Thanks ya."

Mereka bertiga pun larut dalam pembicaraan bodoh tentang kelas dan apa saja yang sudah mereka lalui seharian ini hingga tak terasa mobil Luhan sudah berhenti di depan ketiganya.

Luhan beranjak keluar dari mobil, diikuti anak bungsunya dari sisi sebelah. ''Bundanya Baejin cantik ya, awet muda, wajahnya imut gitu." bisik Daehwi pada Jihoon di sampingnya. Ia terpukau dengan kecantikan Luhan.

Jihoon yang juga menyadari hal itu pun hanya bisa mengangguk dan membenarkan apa yang Daehwi katakan.

"Kakak! Gak lupa kan besok hari apa?" Haowen berlari dan menarik lengan kakaknya agar segera memasuki mobil. Disusul dengan sahutan Baejin yang tersenyum lebar pada adiknya. "Nggak dong, masak kakak lupa. Emang kakak ini kayak ayah?"

Jihoon merasakan ada sesuatu menghentak perutnya saat melihat Baejin dengan Haowen, seperti bukan Baejin yang selama ini berada di sekolah.

"Gue duluan ya!" Baejin mengeluarkan cengirannya dan melambai pada Jihoon serta Daehwi yang masih menatapnya menjauh. Setelah itu Baejin masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan Jihoon hanya bersama Daehwi dan juga..

sepeda Baejin yang tergeletak begitu saja.

Daehwi yang menyadari di dekat mereka ada sepeda langsung menepuk jidatnya. "Oi, Wink." panggilnya pada Jihoon.

"Kenapa?" Jihoon mengernyit menatap temannya yang gelisah tersebut.

"Kita ditinggalin oleh-oleh sama Oh Jinyoung." Daehwi menunjuk sepeda Baejin dengan gerakan kepalanya.

pim! pim!

"Lo balikin ke parkiran ya? Jemputan gue udah dateng. Bye!" Jihoon berlari menuju mobil hitam milik ibunya yang sudah menunggunya. Meninggalkan Daehwi yang mengomel tidak jelas sambil menuntun sepeda Baejin masuk ke dalam parkiran.

'Jadi itu tadi yang bisa bikin Baejin senyum..'ucap Jihoon dalam hati ketika mengingat kembali senyuman Baejin saat bunda dan adiknya menjemputnya tadi.

"Kamu kenapa sayang? Senyum-senyum sendiri dari tadi. Sini cerita sama mom." Lamunan sang anak pun dikacaukan oleh ibunya, Kyungsoo yang diam-diam memperhatikan anaknya dari rear-view-mirror.

"Gak papa kok ma." jawab Jihoon masih tetap tersenyum.