Precious
bagian 4
HUNHAN/WINKDEEP
YAOI! Family
boyxboy
Haowen masih menangis ketika bundanya kembali. Mendapati anak bungsu kesayangannya menangis, Luhan meletakkan semua barang belanjaannya tanpa berfikir bahwa dia hampir melemparnya. Ia tidak peduli jika banyak telur ayam disana. Yang ia khawatirkan sekarang ini adalah anaknya. Apa yang membuat Haowen menangis, karena setahunya, anak bungsunya adalah anak yang ceria dan tidak gampang menangis.
"Haowen, kamu kenapa sayang?" Luhan menghambur, berlutut untuk memeluk Haowen yang menangis memeluk kedua lututnya. "Kamu kenapa? Kenapa nangis? Ssshh..." Luhan berusaha menenangkan anaknya dengan mengelus-elus puncak kepala Haowen.
Bukannya membalas pelukan bundanya, Haowen malah mendorong Luhan menjauh dari tubuhnya. "Irene itu siapa bunda?" tanyanya penuh penekanan.
Luhan tercekat. Ia tidak percaya anaknya akan menanyakan hal ini. Walau bagaimanapun, Irene adalah satu-satunya mantan Sehun yang sangat tidak disukai oleh ibu dua anak ini. Mulai dari wanita itu kerap menyakiti Sehun, mengolok-olok Sehun dan teman-temannya, bahkan sampai membuat lagu dan gosip yang jelas-jelas menjatuhkan nama baik Sehun.
Luhan tetap diam. Tidak ada keinginan sedikitpun darinya untuk membalas pertanyaan anaknya. Selain karena dia tidak mau membicarakan Irene, itu juga sama saja dengan membuka luka lama di hidupnya.
"Bunda kenapa diam?! Irene itu siapa!" Haowen terus mendesak bundanya yang tak bergeming sama sekali. Hal ini membuatnya geram dan kemudian berlari ke kamarnya, meninggalkan bundanya terduduk sendiri di ruang tengah.
'Darimana dia tau Irene..'
Ketika malam tiba, seperti janji yang sudah dikatakan oleh Guan Lin pada Haowen, ia dan mamanya datang ke rumah Luhan bersama dengan Kyungsoo dan juga Jihoon. Malam ini para istri berkumpul untuk menyiapkan pesta ulang tahun Haowen, kecuali istri Chanyeol, Baekhyun yang memang keluarga kecil mereka tidak tinggal di Seoul.
"Aunt Luhan, Baejin dimana?" tanya Jihoon saat mereka semua sedang sibuk berbenah dan mendekor, namun batang hidung anak sulung Luhan tak nampak sama sekali.
Luhan yang sedang sibuk memasang riasan dinding bersama dengan Yixing tidak terlalu mendengar pertanyaan Jihoon barusan karena ocehan Yixing mengalahkannya. "Luhan jangan disitu! Geser ke kanan lagi sedikit! Iya nah! Pas! Geser dikit lagi! 3 mili meter!"
"Gimana sih Cing! Aku gak bisa ngukur lah 3 mili meter itu segimana!"
"Kalian berisik banget sih, pasang yang bener bisa nggak? Gak usah pake berisik Cuma masang gituan doang!" komentar Kyungsoo judes yang sedang fokus menganyam pita bersama dengan Guan Lin.
"Berisik lo! Lo mah enak di bawah gak naik kesini komentar mulu deh bisanya ih!" kesal Yixing. Sang anak, Guan Lin, hanya bisa menghela nafas keras melihat tingkah mamanya.
"Ya udah sini gue yang naik!" Kyungsoo kemudian menuju ke tempat Yixing untuk bertukar posisi. Naasnya, Yixing hilang keseimbangan dan malah jatuh dari kursi terjerembab ke lantai.
Tawa Luhan dan Kyungsoo pun meledak karenanya.
"Kyungsoo!!!" geramnya marah dan kemudian malah berkelahi saling jambak di lantai.
"Ya tuhan..gak suaminya, gak istrinya..sama aja.." Luhan sampai kewalahan melihat tingkah teman-temannya.
Jihoon yang merasa dari tadi tidak diperhatikan sama sekali, kemudian berdiri meminta izin untuk ke dapur mengambil minuman, padahal sebenarnya ia ingin mencari Baejin.
Tok tok tok.
Jihoon mengetuk pintu kamar Baejin yang bertuliskan: "KALO MAU MASUK KETUK!" dan di bawahnya ada tambahan: "P.S.: Ayah kalo masuk cuma mau ganggu, mending gak usah masuk."
Tulisan itu membuatnya mengernyit, "Perasaan dulu gak ada tulisan kaya gini deh.." gumamnya.
Tok tok. Jihoon mengetuk lagi. Tapi tetap tidak ada jawaban.
"Baejin, lo tidur?" tanya nya agak keras. Tetap saja tak ada sahutan.
Akhirnya, Jihoon memutuskan untuk masuk ke kamar Baejin. Dengan hati-hati ia memutar kenop pintu yang tidak dikunci sama sekali, dan melangkahkan kakinya pelan agar tidak membangunkan Baejin yang ternyata sedang tidur dengan keadaan terlentang di atas kasur ber-sprei Pokemonnya.
"Ayah sama anak sama aja. Sukanya Pokemon." Gumam Jihoon saat melihat sprei Baejin. Papanya, Junmyeon memang suka sekali bercerita tentang band nya pada anaknya. Maka dari itu Jihoon juga tahu kepribadian para anggota band yang lain termasuk papa Baejin.
Jihoon memandang wajah damai Baejin yang tertidur pulas seolah tak ada beban. Darahnya berdesir hangat ikut merasa nyaman melihat Baejin tidur dengan tenang. "Ganteng.." gumamnya kemudian tanpa sadar mengelus pipi Baejin.
Sesaat setelah ia mengelus pipi Baejin beberapa kali, akhirnya Jihoon menyadari kalau tindakannya ini bisa membuat Baejin bangun. Jika dia terbangun maka lelaki berambut coklat itu pasti akan memarahinya. Alhasil, Jihoon memutuskan untuk pergi dari kamar Baejin dan menutup pintunya pelan.
Namun sebelum pintunya benar-benar tertutup rapat, Jihoon mengucapkan sesuatu untuk Baejin, "Mimpi indah ya Baejin.. jangan murung terus.."
Jihoon pun kembali ke ruangan tengah melihat apakah pekerjaan para bunda sudah beres atau belum. Tanpa ia ketahui yang sebenarnya, bahwa Baejin ternyata tidak tidur. Ia hanya memejamkan matanya, karena suara ketukan pertama dari Jihoon sudah membangunkannya.
Baejin menyentuh pipinya, tempat dimana Jihoon tadi mengelusnya.
"Si Jihoon kenapa ya.."
Saat sampai di bawah, Jihoon sudah melihat Haowen bergabung bersama mereka. Wajahnya kacau, sangat terlihat bahwa ia menangis tadi. "Hay, Haowen!" sapa Jihoon ceria pada sang calon yang akan berulang tahun besok.
"Hay kak Jihoon." Balas Haowen tersenyum namun Jihoon tau bahwa itu bukan senyuman Haowen yang biasanya. Seolah seperti senyum yang dipaksakan.
Saat Jihoon mengalihkan pandangannya ke arah mamanya dan dua mama lainnya, ia bernafas lega karena akhirnya pertengkaran mereka sudah berakhir. Kini, Kim Kyungsoo, istri dari Kim Jongin, Kim Yixing, istri dari Kim Junmyeon dan sang pemilik rumah, Oh Luhan, istri dari Oh Sehun sudah kembali tenang dan fokus pada pekerjaannya masing-masing.
Jihoon dan Haowen pun bergabung dengan bunda mereka. Dan masih terlihat jelas, sangat jelas kalau Haowen tidak mau terlibat dalam pembicaraan dengan bundanya sendiri.
"Selamat ulang tahun Haowen sayang! Ayah sayang banget sama kamu!"
Tepat pukul 00:01, Sehun mengirim video call rekamannya pada Haowen karena sekarang ini tidak mungkin ia harus menelfon Haowen secara langsung. Di belakang Sehun juga terlihat Chanyeol, Junmyeon dan Jongin memakai topi ulang tahun dan juga meniupkan terompet sebagai ucapan untuk Haowen.
"Selamat ulang tahun Haowen! Tumbuhlah menjadi anak yang patuh dan baik. Sayangi sesama. Jangan membully teman ya!" Wajah Sehun kini tertutupi oleh wajah Jongin, Junmyeon dan Chanyeol yang berdesakkan memenuhi layar satu per satu mengucapkan harapan dan doa mereka pada anak bungsu Sehun.
Video berdurasi 3 menit itu pun berakhir dengan akustik dari Chanyeol dan Sehun yang menyanyikan lagu ulang tahun untuk Haowen. Ditutup dengan kecupan sang papa pada layar yang mengakhirnya.
"Selamat ulang tahun sayang.." Luhan memeluk Haowen, namun sungguh dengan berat hati, Haowen membalas pelukan bundanya yang ia fikir memang bukan bunda kandungnya.
"Selamat ulang tahun Haowen! Adikku yang paling aku sayang! Semoga semua yang kamu cita-citakan terwujud! God bless you!" Baejin memeluk Haowen erat, begitupun Haowen. Ia menangis selama memeluk sang kakak. Seolah tidak terima bahwa Baejin bukanlah kakak kandungnya.
Haowen sudah terlalu menyayangi kakaknya dan takkan mau berpisah ketika menyadari bahwa Luhan bukanlah ibu kandungnya.
"Kakak, Haowen sayang sama kakak.." lirihnya.
"Iya, kakak juga sayang sama kamu." Balas Baejin tulus, semakin mengeratkan pelukannya pada adiknya satu-satunya.
Luhan yang melihat kehangatan kedua anaknya merasa terharu dan tanpa ia sadari, ia telah menjatuhkan air matanya.
Setelah kejutan tengah malam itu berakhir, akhirnya mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Karena keesokan paginya pesta yang sebenarnya baru akan dimulai.
Seperti biasa, siang ini Luhan menjemput Haowen dari sekolah. Sedangkan Baejin masih berada di sekolahnya karena ada tambahan jam hingga sore.
Di mobil, Haowen masih mendiamkan Luhan karena tidak mau menceritakan tentang Irene. Berkali-kali Luhan mencoba menarik perhatian putranya tetap saja tidak berhasil.
"Haowen, bagaimana kalau kita ke mall dan beli eskrim? Atau sepatu? Kau boleh ambil apa saja sesukamu karena hari ini hari ulang tahunmu." Usul Luhan tak kehabisan akal.
"Terserah bunda saja.." sahut Haowen acuh. Namun dalam hati, inilah yang dia tunggu-tunggu. Dan kesempatan ini akan ia gunakan sebaik mungkin.
Baejin mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Ia tidak ingin terlambat pulang di hari istimewa adik kesayangannya. Sesampainya di rumah, seperti biasa ia berjalan lunglai menuju ke dapur untuk mengambil minuman dingin. Kegiatan sekolah benar-benar menghabiskan tenaganya, ditambah lagi ia harus mengikuti jam tambahan karena nilai matematikanya yang kurang bagus.
Baejin membuka kulkas, ketika ia meraih minuman dingin disana dan hampir membukanya.
Klang!
Minuman kaleng itu terjatuh. Dengan mata Baejin yang melebar menatap sesuatu yang sangat mengejutkannya.
Ia melihat sosok pria berambut hitam legam dengan jacket hitam kulitnya dan celana skinny jeans serta sepatu hitam perlengkapan manggungnya yang belum dilepaskan sama sekali—sedang duduk manis di meja makan meminum minuman favoritnya, bubble tea.
"Hey jagoan! Bagaimana sekolahmu? Kok pulang sore?" sapa orang itu dengan senyuman lebarnya.
Oh Sehun, ayahnya. Orang yang menyapanya barusan. Yang duduk tanpa dosa meminum bubble tea di depannya. Adalah orang yang selama ini Baejin tunggu untuk kembali.
Dan hari ini, akhirnya orang itu kembali ke rumah.
Baejin sebenarnya merasa sangat bahagia dan sangat terkejut dengan kepulangan ayahnya. Karena ia fikir ayahnya tidak akan pulang tahun ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya saat adiknya berulang tahun.
Namun yang dapat ia ucapkan dari mulutnya hanyalah, "Oh, ternyata kau ingat hari ini ya.." dan dengan itu, Sehun hanya bisa membalas perkataan putranya dengan senyuman kaku. Karena secara tidak langsung, putranya sedang menyindirnya.
Ia benar-benar merasa bersalah sebagai seorang pria yang jarang berada diantara keluarganya.
Baejin kemudian berjongkok mengambil kaleng yang tadi ia jatuhkan dan membawanya berlari secara terburu-buru ke atas, menuju kamarnya dan kemudian menguncinya rapat-rapat.
Masih mengenakan seragam dan kaos kaki, Baejin melompat ke kasurnya dan memeluk gulingnya. Ia berguling-guling seperti remaja yang baru saja diterima cintanya. Senyuman yang memperlihatkan rentetan gigi depannya pun tak lepas dari wajahnya.
Baejin sangat bahagia hari ini.
"Akhirnya ayah pulang.."
