Precious
Bagian 6
HUNHAN/WINKDEEP
YAOI! Family
"Sehun! Lo mau kemana?" tanya Jongin saat tiba-tiba saja sang pemilik rumah berubah panik setelah menerima telfon dari orang asing tersebut.
Sehun meraih jaket dan kunci mobilnya tanpa mengucapkan sepatah katapun pada teman-temannya. Chanyeol dan Baekhyun yang baru saja keluar dari kamar mandi pun ikut heran dan bertanya ada apa.
Masih berusaha memakai sepatunya seraya berdiri, Sehun menjawab pertanyaan Jongin. "Gue mau ke rumah sakit." Kakinya kini telah masuk semua ke dalam sepatu vans hitamnya.
"Siapa yang sakit?" sahut Baekhyun kaget.
Sehun hanya melirik pasangan suami istri yang baru saja menyelesaikan jatah bulanan mereka tersebut, "Luhan masuk rumah sakit." Ucapnya singkat yang langsung berlari menuju pintu depan.
"Gue ikut!" Jongin mengejar Sehun. Sebelum menutup pintu, tak lupa ia berpesan pada istrinya. "Jaga anak-anak."
Kyungsoo pun mengangguk mantap atas amanat dari suaminya. Chanyeol yang masih tidak mengerti apa yang terjadi hanya bisa berdiri sambil menatap ke arah Jumyeon dan Yixing, "Luhan kenapa?"
Namun pasangan suami istri itu hanya menggeleng dan tidak tahu sama sekali apa yang sedang terjadi.
"Baejin, lo disuruh turun sama ayah lo." Ucap Jihoon saat ia sudah sampai di kamar Baejin mendapati lelaki berambut lurus halus itu sedang asyik bermain PS.
"Bunda Lulu udah pulang belum?" Ajakan Jihoon dibalas dengan sebuah pertanyaan dari mulut Baejin.
Jihoon hanya menjawab belum karena memang kenyataannya Luhan dan Haowen belum ada di meja makan sejak pertama kali ia menginjakkan kaki ke rumah Baejin.
"Kok lo yang disuruh manggil gue? Si tua bangka itu gak mau manggil gue sendiri? Sukanya nyuruh orang lain. Pengecut." Cibir Baejin tanpa mengalihkan fokus matanya pada layar di depannya. "ARGH!" Ia membanting stick PS karena gagal memenangkan ronde. Namun kemudian meraihnya kembali dan memencet tombol restart untuk mulai main lagi.
"Baejin, ini hari ulang tahun adek lo, masa iya lo mau terus-terusan di kamar main PS." Jihoon melangkah mendekat dan duduk di samping Baejin, memperhatikan kelihaian Baejin bermain PS.
Baejin tidak merespon. Menoleh saja tidak.
Jihoon menghela nafas karena Baejin sepertinya memang tidak bisa diganggu untuk saat ini. Ia kemudian berdiri dan bersiap keluar dari kamar Baejin, tapi langkahnya terhenti ketika Baejin tiba-tiba berkata.
"Lo disini aja. Temenin gue."
Sehun mengendarai mobilnya secepat angin. Tidak peduli bahwa ia hampir menabrak trotoar dan apapun di depannya.
"Santai Sehun!" peringat Jongin yang saat ini khawatir terhadap nyawanya. "Anak gue masih 13 tahun!"
"Istri gue kecelakaan dan dia masuk rumah sakit! Gimana gue bisa santai! Anak gue juga 13 tahun yang satunya 10 tahun hari ini! Gak usah bacot lo!" balas Sehun membentak Jongin dengan emosi yang terpancar dari raut wajahnya.
Jongin yang terkena marah dari sahabatnya kemudian terdiam selama perjalanan yang meresikokan nyawanya itu sampai mereka tiba di rumah sakit. Jika menyangkut soal Luhan, Sehun yang sedingin es batu selalu berubah drastis menjadi sepanas bara api.
Sehun berlari menuju ruangan tempat Luhan dirawat, hatinya sudah sangat cemas jika sesuatu yang buruk terjadi pada anak bungsu dan istrinya. Karena orang asing yang menelfonnya tadi hanya menyebutkan nama istrinya tanpa mengikut sertakan anak bungsunya.
Sehun tidak dapat berpikir jernih. Ia terus dihantui pikiran-pikiran buruk tentang apa yang menimpa anak bungsu dan juga istrinya.
Bruak!
"Luhan!" Suara pintu yang dibuka dengan sangat keras dan terbentur tembok menyebabkan Luhan, pria lemas bertubuh kecil yang ada di ruangan tersebut menoleh ke arah pintu masuk ruangannya dirawat.
"Sehun.." lirihnya terharu karena setelah sekian lama tidak bertemu, ia akhirnya bisa menatap wajah suaminya sendiri secara langsung.
Sehun kemudian menghambur memeluk istrinya yang hanya duduk di ranjang rumah sakit. Ia bersyukur akibat dari kecelakaan yang menimpa istrinya tidak begitu parah, karena yang ia rasakan sekarang Luhan masih bisa membalas pelukan hangatnya. Walaupun dahi sang istri terperban.
"Aku merindukanmu.." Sehun mempererat pelukannya pada Luhan.
"Aku juga merindukanmu, Sehun.." Luhan tak mau kalah mengencangkan pelukan pada suaminya. Ia menyesap kuat-kuat aroma tubuh Sehun yang sangat ia rindukan. Bau keringat Sehun yang menjadi candu sendiri untuknya.
Luhan tak bisa menggambarkan lagi bagaimana perasaannya tersiksa ketika jauh dari Sehun.
Tapi kini, ayah dari anak-anak yang lahir dari rahimnya telah kembali setelah sekian lama.
Pelukan mereka pun terlepas, tergantikan oleh ciuman singkat yang Sehun daratkan di bibir tipis merah muda Luhan. Seolah akan melanjutkan ciuman mereka ke tahap yang lebih lanjut, suara dehaman menjauhkan jarak keduanya.
"Lo gak lupa kan ada gue disini?" Kim Jongin dengan wajah polosnya berdiri di dekat pintu, berjalan mendekat ke arah Luhan dan Sehun.
Suami Luhan itupun hanya bisa memasang wajah kesalnya karena gara-gara Jongin, ia tidak jadi melepas rindu di rumah sakit.
"Lo gak papa?" tanya Jongin ke Luhan.
Luhan menggeleng pelan. "Gue bahkan boleh pulang sekarang." Balasnya yang langsung disusul helaan nafas lega dari sang suami dan sahabatnya.
Luhan menatap Sehun dengan tatapan nanar ketika wajah khawatir suaminya tampak begitu jelas. Sehun pasti sedang bertanya-tanya dalam hati dimana Haowen. Begitupun Jongin, mengetahui ada yang janggal, ia memilih untuk tetap menjadi karakternya saja. Tidak terlalu banyak bertanya karena ia takut salah.
Ketika sang suami menangkap tatapan khawatir sang istri yang ditujukan kepadanya, ia melirik Jongin dan menyuruh ayah dari Jihoon itu untuk keluar dan meninggalkan keduanya di dalam.
Jongin mengangguk dan berjalan menuju ke pintu keluar, "jangan lupa pakai pengaman." Ucapnya sebelum akhirnya benar-benar menghilang.
"Anjir." Sehun tersenyum karenanya. Lalu kembali menatap istrinya. "Dimana—"
"Haowen hilang."
Belum sempat Sehun menyelesaikan pertanyaannya, Luhan sudah memotongnya terlebih dahulu, ia kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis tanpa ingin dilihat oleh suaminya.
Ibu dari dua anak itu kemudian bercerita sambil menangis dan masih menyembunyikan wajahnya. Tentang bagaimana ia bisa tertimpa kecelakaan seperti itu. Ia mencari Haowen dengan perasaan panik karena anak bungsunya menghilang saat berbelanja di mall dan lepas dari pengawasannya.
Menyetir jadi tidak fokus. Menyetir selama berjam-jam tanpa berhenti ataupun istirahat dan akhirnya kelelahan, menabrak tiang listrik sehingga merusak bemper depan mobilnya dan meninggalkan sobekan kecil di dahinya.
"Aku benar-benar bukan ibu yang baik.. tidak becus menjaga anak kita sendiri.. seharusnya aku tidak seperti ini.. aku ibu yang gagal.." Luhan terus menerus memaki dirinya sendiri dan terisak dalam tangis.
Sehun yang melihat istrinya seperti itu tak bisa menahan rasa nyeri di hatinya. Karena bagaimanapun juga, ia juga turut andil atas hilangnya Haowen. Jika dia tidak sibuk bekerja dan tour di luar sana, selalu ada untuk anak-anaknya, maka Haowen takkan hilang seperti sekarang.
'Seharusnya aku mencari pekerjaan yang lebih layak di Seoul selalu dekat dengan keluargaku dan melihat tumbuh kembang anak-anakku.. Jinyoung yang sudah sebesar sekarang saja aku kaget melihatnya.. aku benar-benar ayah yang buruk..' batin Sehun bergejolak. Perasaan bersalah sangat memukul mentalnya sekarang ini.
"Kau ibu yang sempurna Luhan.. tidak usah menangis sayang.. kita akan cari Haowen bersama-sama.. kau tidak gagal.. kau berhasil merawat kedua anak kita hingga tumbuh dewasa seperti sekarang ini ketika aku tidak ada diantara kalian.. kau tidak gagal sayang.." Sehun meraih istrinya untuk mendekapnya kembali, ia ciumi puncak kepalanya sesekali agar tangisannya berhenti.
Luhan tidak menjawab, ia masih terisak dan khawatir pada Haowen. Dimanakah anak bungsunya sekarang apakah dia baik-baik saja?
Lama-kelamaan tangisan Luhan mereda dalam dekapan hangat sang suami. Ia tidak mau mengambil keputusan lebih dulu sebelum menemukan bukti. Tetap mengurungkan niatnya untuk mengatakan pada Sehun tentang perdebatannya dengan Haowen kemarin.
Pertanyaan Haowen yang menanyakan siapa itu Irene.
xoxo,Josie
