Precious
Bagian 7
HUNHAN/WINKDEEP
YAOI! Family
Sehun, Luhan dan Jongin kembali ke rumah Sehun dengan Jongin yang tiba-tiba berubah menjadi supir.
Sesampainya di rumah, yang mereka lihat adalah Kyungsoo yang tidur di atas sofa menanti kedatangan sang suami. Jihoon duduk manis menyaksikan petikan-petikan gitar dari Baejin yang sedang membawakan lagu acoustic dari Do As Infinity berjudul fuikaimori.
Melihat kepandaian anaknya memetik gitar, Sehun menatap istrinya yang berdiri di sampingnya dengan senyuman lebar. "Kau yang mengajarinya?" tanyanya pada sang istri.
Luhan balas menatap Sehun dan mengangguk, "Baejin berbakat, bakatnya ia dapatkan dari ayahnya." Ia percaya bahwa bakat sang ayah telah menurun pada anak sulungnya.
"Sayang, bangun sayang." Jongin mengelus pipi istrinya untuk membangunkannya dari tidur. "Kau menunggu lama ya?" tanya nya sambil tersenyum kemudian meminta maaf.
"Tidak papa." Kyungsoo mendudukkan dirinya dan mengucek kedua matanya. "Tadi Junmyeon dan Yixing pulang duluan karena malam semakin larut karena Guan Lin juga sudah mengantuk. Chanyeol dan Baekhyun juga sudah pulang karena sesegera mungkin mereka harus kembali ke Busan."
Jongin kemudian duduk di samping istrinya. Saat Kyungsoo menyadari kedatangan Sehun dan Luhan tanpa Haowen, Ia siap melemparkan pertanyaan dari mulutnya namun berhasil dicegah oleh tatapan tajam sang suami yang menggelengkan kepalanya.
Kyungsoo kemudian diam mematuhi suaminya karena memang ada sesuatu yang tidak beres.
Baejin masih memetik gitarnya tanpa menyadari bahwa ayah dan bundanya sudah berdiri di belakangnya. Saat Sehun memanggil namanya, ia menoleh dan seketika terkejut menatap kepala Luhan yang terperban.
Sehun yang mengira Baejin berjalan ke arahnya untuk memeluknya pun melebarkan kedua tangannya, namun ternyata salah besar. Anak sulungnya berjalan mendekat dan malah melayangkan tinjunya pada perutnya.
"Ugh!" Tinju Baejin berhasil membuat Sehun sedikit meringis sakit karena tenaganya ternyata tidak main-main.
Tidak ada diantara Jongin, Kyungsoo, Luhan dan juga Jihoon yang tidak terkejut atas perlakuan Baejin pada ayahnya sendiri.
"KAU APAKAN BUNDAKU, TUA BANGKA! PAMAN JUNMYEON BILANG, BUNDA MASUK RUMAH SAKIT! KENAPA BUNDA BISA SAMPAI MASUK RUMAH SAKIT?! KENAPA KEPALANYA BISA DIPERBAN! KAU BOLEH SAJA TIDAK PULANG SELAMA YANG KAU MAU DAN TAK PEDULI PADAKU! TAPI SAAT KAU MEMBIARKAN BUNDAKU TERLUKA, AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU!"
Kemarahan Baejin meledak hebat melihat bundanya terluka. Ia berfikir jika saja ayahnya tidak pulang maka Luhan pasti takkan terluka seperti ini. Melihat bundanya yang lemah dan sekarang terluka, apalagi ketika ada Sehun di sampingnya, rasa benci Baejin pada ayahnya membakar emosinya.
Makian yang selalu ingin ia keluarkan tepat di depan wajah Sehun akhirnya kini bisa ia lampiaskan sepenuhnya walaupun harus disaksikan oleh Jihoon dan kedua orang tua sahabatnya.
Setelah berhasil melampiaskan semua kekesalan pada ayahnya, Baejin berlari naik ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun, meninggalkan Jihoon yang menatap punggungnya sedih.
Luhan menatap cemas suaminya yang malah tertawa tanpa sebab. Jongin, Kyungsoo dan Jihoon pun ikut merasa khawatir tentang bagaimana perasaan Sehun.
"Hahaha! Dia benar-benar mirip denganmu! Tukang pukul." Ucap Sehun sambil memukul pelan bahu istrinya di sampingnya dan menjulurkan lidah mengejek.
Setelanya benar saja Luhan langsung memukul lengan sang suami dengan tinjunya. "Tuh kan mukul beneran." Cibir Luhan sambil mengelus lengannya.
Walaupun bisa tersenyum dengan candaan suaminya, tapi tetap saja Luhan merasa bahwa suaminya hanya menutup-nutupi perasaannya yang kini bisa dipastikan kacau atas ucapan dan makian dari anak sulung mereka.
Kim Jongin, sang sahabat juga menyadari hal tersebut kemudian memilih untuk meninggalkan keluarga itu sendiri. Ia segera pamit pada Sehun dan Luhan, mengajak istri dan anaknya pulang.
Di perjalanan pulang, Jihoon bertanya pada papanya tentang keberadaan Haowen kenapa dia tak pulang bersama kedua orang tuanya. Dan juga kenapa Sehun tertawa lepas sesudah anaknya memukulnya dan melampiaskan kekecewaan pada ayahnya.
Jihoon tidak mendapatkan jawaban. papanya tetap saja diam dan fokus menyetir. Ketika ia menoleh dan meminta jawaban dari ibunya.
Jawabannya adalah sama saja.
Luhan membuatkan teh hangat untuk Sehun yang sekarang ini menghubungi polisi untuk mencari keberadaan Haowen.
"Kalian ini polisi! Sudah menjadi tugas kalian untuk melayani masyarakat! Jangan ajari aku! Temukan saja anakku dan akan ku bayar berapapun yang kalian minta! Apa?! Menunggu hingga lima hari? Kau gila! Kalau ada apa-apa dengannya kau mau tanggung jawab?! Apa kau bisa pastikan dia baik-baik saja?! Persetan dengan undang-undang! Aku bisa mencari anakku sendiri tanpa kalian!"
Sehun membanting ganggang telfonnya kasar. Ia mengacak rambutnya yang kini terlihat kusut. Seolah tak tau lagi apa yang harus dia lakukan, akhirnya maknae EXO itu membanting vas bunga dan memecahkannya. Kakinya menendang kursi hingga jatuh.
"Sehun.." Luhan menjadi takut untuk mendekati suaminya sendiri sekarang. Karena jika Sehun sudah marah, apapun akan dihancurkannya.
Melihat istrinya berdiri kaku dan takut untuk mendekatinya, Sehun malah berjalan mendekat ke arahnya, mengambil teh dari nampan yang dibawa Luhan, meminumnya sedikit lalu meletakkannya di atas meja.
Sepersekian detik kemudian, Sehun menubruk tubuh Luhan dan membantingnya di sofa. Ia menindih tubuh Luhan di bawahnya. Tangannya dengan cepat membuka pakaian yang dipakainya.
Namun bukannya merasa bahagia, Luhan justru takut dengan keadaan suaminya sendiri. Perasaannya tersirat pada tatapannya ke arah Sehun dan juga bagaimana ia membalas ciuman kasar Sehun pada bibirnya.
"Luhan, ayolah!" Sehun memaksa sang istri untuk membuka pakaiannya. Namun istrinya malah melindungi dadanya dengan kedua tangan.
Luhan hampir menangis. "Ku mohon jangan lampiaskan amarahmu padaku Sehun. Aku mencintaimu. Tapi aku tidak mau jika kita harus melakukan hubungan badan saat kau sedang marah seperti ini. It—itu sangat menyakitkan." Lirihnya dengan tubuh yang hampir bergetar.
Menyadari bahwa tindakannya salah, Sehun menghela nafas kasar. Ia kemudian menjatuhkan dirinya tidur terlentang di atas lantai dengan keadaan yang masih shirt-less. "Maafkan aku. Aku bingung sekali sayang." Ucapnya sambil menerawang ke langit-langit.
Luhan hanya diam menunggu sampai emosi Sehun stabil. Beberapa menit mereka lalui hanya saling diam. Hingga akhirnya Sehun mengambil kaosnya dan memakainya kembali.
Pria itu kini kembali mengecup bibir sang istri dengan lembut. Merasa bahwa suaminya telah kembali, Luhan membalas pagutan bibir Sehun lembut.
"Aku akan bicara pada Baejin." Luhan hampir berdiri setelah menyelesaikan ciuman mereka. Tapi tangan kekar Sehun mencengkeram pergelangan tangannya dan mencegahnya agar tidak kemana-mana.
"Aku saja." Cegahnya dan kemudian naik ke atas menuju kamar Baejin.
Hal itu membuat Luhan tersenyum menatap punggung dan bahu lebar sang suami yang menjauh menaiki tangga.
"Menangkan hati anakmu, ayah.."
Sehun masuk ke kamar Baejin tanpa mengetuk. Ia sudah membaca tulisan yang Baejin letakkan di pintu dan tidak peduli sama sekali. Yang ada malah hampir tertawa karenanya.
Ketika pintu berhasil terbuka, ia menemukan anak sulungnya mengcover dirinya di dalam selimut. Yang terlihat hanya kepala cokelatnya saja.
"Bunda tidak usah mencemaskan Baejin. Baejin mau tidur." ucap Baejin dari dalam selimut. Dikiranya yang masuk adalah Luhan tanpa ada rasa curiga sedikitpun bahwa orang yang masuk adalah ayahnya. Dengan dipasangnya tulisan larangan untuk Sehun di depan pintu sudah cukup meyakinkan dirinya bahwa ayahnya tidak akan pernah masuk ke kamarnya.
Sehun diam. Tidak menjawab. Ia semakin mendekatkan dirinya untuk duduk di tepian ranjang Baejin.
Merasa ada seseorang duduk di ranjangnya, Baejin berucap lagi, "aku mau sendiri bunda. Lebih baik bunda ke bawah saja melepas rindu dengan ayah. Aku tau bunda sangat merindukan si tua bangka itu!"
Mendengar kata 'tua bangka', Sehun memasang wajah terkejutnya. Ia tercengang sekaligus menahan tawanya agar tidak meledak. 'Apa aku setua itu?' batinnya.
Tangan besar papanya kini mengelus puncak kepala Baejin dan kemudian mengacaknya gemas.
"Ayah hentikan!" Tanpa melihat dan keluar dari selimutnya, Baejin sudah tau kalau itu adalah ayahnya walaupun dalam hati ia masih tidak percaya bahwa ayahnya menyusulnya ke kamar.
Sehun tersenyum. "Kau tau kalau ini ayah? Hebat juga kau." Candanya menyebalkan.
"Tentu saja aku tau! Tangan ayah itu besar. Tak seperti tangan bunda! Lagian tangan bunda baunya juga lebih harum! Dan satu lagi, bunda tidak pernah mengacak-acak rambutku menyebalkan seperti tadi!"
Sehun kemudian tertawa lepas mendengar ocehan Baejin. Pikiran usilnya datang dan kemudian menubruk Baejin untuk menggelitikinya agar anak itu keluar dari selimutnya. Ia tidak peduli bahwa Baejin meronta dan hampir menendang kemaluannya saat ia terus menyerangnya.
Baejin meruntuhkan pertahanannya. Akhirnya ia melepaskan selimutnya dan duduk tegap menghadapi ayahnya yang saat ini menatapnya dengan tatapan usil.
Sehun yang melihat wajah kesal anaknya hanya bisa memasang wajah puppy eyes seraya berkata, "Sehun kangen Jinyoung." Membuat Baejin mengalihkan pandangannya karena tak kuat menatap mata ayahnya sendiri yang terlihat sangat imut jika seperti itu.
Baejin malu dan bingung harus membalas apa di depan ayahnya yang jarang ia temui. Karena melihat wajah Baejin yang malu-malu, akhirnya ayahnya memencet hidung anaknya keras-keras hingga memerah.
"Ayah!" gertak Baejin kelepasan sambil mengurut hidungnya yang memerah.
"Terima ini, Jinyoung!" Sehun semakin melancarkan serangan-serangan usil ke perut dan sela ketiak Baejin.
"Ayah ngapain sih!" Baejin meronta kegelian namun ia menikmatinya.
Dan mereka pun berakhir dengan perang bantal yang diselimuti gelakan tawa dari keduanya.
Tanpa Baejin sadari, bundanya dari tadi berdiri di ambang pintu kamar dengan senyuman nanar.
"Kalau bisa, aku ingin waktu berhenti sejenak dalam keadaan ini."
