Precious

Bagian 8

HUNHAN/WINKDEEP

YAOI! Family

Baejin dan ayahnya masih asik saling pukul menggunakan bantal dan guling. Suara tawa lantang keduanya memenuhi kamar. Saat Baejin berhasil mendaratkan lemparan bantal ayahnya dan membuatnya hampir terjatuh dari ranjang, Sehun menoleh ke belakang dan mendapati istrinya berdiri di dekat pintu.

"Hey sayang, kau mau bergabung?" tawar Sehun seraya merangkak kembali ke ranjang.

Luhan hanya menggeleng pelan dan tetap menyaksikan anak dan suaminya tertawa bersama.

"Stop Baejin! Haha! Ayah menyerah!" seru Sehun sambil melindungi wajahnya dengan sikunya. Namun tak menghentikan Baejin untuk terus tertawa dan memukuli ayahnya dengan bantal.

Alhasil Sehun pun beranjak bangun dan meninggalkan ranjang Baejin, berlari menuju Luhan dan memeluk istrinya tersebut seketika hingga membuat keseimbangan Luhan hampir goyah dan terjatuh ke belakang. Tapi Sehun menahan tubuh sang istri dalam pelukan kuatnya.

"Aku mencintaimu," ungkapnya kemudian mencuri kesempatan untuk mengecup bibir istrinya sekilas.

Walaupun ayahnya membelakanginya, Baejin tetap tahu bahwa Sehun sedang mencuri ciuman bundanya dalam pelukan itu.

"Kamar kalian ada di bawah, bunda, ayah~" seru Baejin dengan nada malas.

Tanpa membalas perkataan sang anak, Sehun akhirnya menggendong istrinya ala bridal style. Membuat Luhan hampir berteriak karena kaget atas ulah suaminya yang tiba-tiba.

"Selamat tidur, sayang." Luhan yang berada dalam gendongan Sehun melambai pada Baejin sebelum meninggalkan kamar sang anak.

"Mimpi indah ya." Tambah sang ayah yang kemudian menghilang dibalik pintu yang ditutup dengan salah satu kaki sang ayah dari luar.

Setelah kedua orang tuanya pergi, Baejin kembali tidur. Namun ketika tangannya tak sengaja masuk ke bawah bantal yang ia tiduri.

Ia menemukan sesuatu disana.

"Kau tidak lupa kan kalau kita masih mempunyai satu anak lagi?" tanya Luhan yang saat ini sudah berbaring di kamarnya dan sang suami. Jemarinya meraba-raba bibir sang suami yang saat ini berbaring menghadap wajahnya dengan jarak yang sangat dekat.

Sehun mencoba menggigit jemari Luhan yang berada di bibirnya namun gagal karena istrinya berhasil menariknya kembali lebih dulu. Membuat sang suami mendengus namun juga terkekeh.

"Aku tidak lupa, besok akan kita cari lagi. Lagipula aku punya banyak waktu di Seoul sebelum tour selanjutnya." Jawab Sehun sambil menyibakkan beberapa helai rambut sang istri ke belakang telinganya lalu mengecup hidungnya kemudian.

"Haowen akan baik-baik saja. Dia kuat sama sepertimu. " ucap Sehun lagi.

Luhan pun mengangguk, perasaannya sedikit tenang karena ia tak menghadapi masalahnya sendiri. Kali ini, ada sosok Sehun yang senantiasa selalu mendukung dan menjaganya.

Lampu pun dimatikan dengan Sehun yang menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan istrinya. "Selamat tidur istriku." Ucapnya lalu mengecup dahi Luhan.

Luhan tersenyum dan membalas sang suami, "Selamat tidur, Sehun."

Kemudian keduanya terlelap dalam tidur mereka yang damai.

Waktu terus berjalan, hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Melihat istrinya yang terlelap, Sehun bangkit dan berganti pakaian.

Ia keluar dari rumahnya menuju ke rumah Junmyeon yang memang hanya beberapa block saja dari tempatnya sambil membawa sesuatu.

Sesampainya di depan rumah mewah dan besar milik Junmyeon hanya dengan berjalan kaki, leader EXO itu sudah menunggu di teras rumahnya. Ternyata kedua orang itu sudah menjadwalkan janji untuk bertemu atas ajakan Sehun.

Ayah dari Baejin dan Haowen tersebut telah mengirim pesan pada Junmyeon saat perjalanan pulang mereka dari rumah sakit menuju rumah.

"Kirain lo pehape." Sapa Junmyeon saat melihat Sehun berjalan ke arahnya.

"Gue gak pehape." Balas Sehun yang kemudian duduk di samping Junmyeon. Ia membuka sesuatu yang dibawanya tadi, sebuah botol dan membaginya bersama Junmyeon yang sudah menyiapkan dua buah gelas untuk mereka.

"Jadi.. Haowen beneran ilang?" tanya Junmyeon meneguk minumannya. Ia merasakan air beralcohol itu membakar tenggorokkannya walaupun hanya menenggak sedikit.

Sehun mengangguk, ia menuangkan minuman ke gelasnya lebih banyak dari takaran Junmyeon. Melihat sahabatnya seperti itu, sebenarnya Junmyeon ingin melarangnya agar tak minum kebanyakan. Tapi ketika melihat mata Sehun yang diselimuti kesedihan, Junmyeon tetap membiarkannya.

"Pasti ketemu kok, gue sama Jongin bakal bantu lo. Tenang aja." Junmyeon merangkul Sehun dan menepuk-nepuk punggungnya.

"Makasih hyung." Jawab Sehun tak berhenti menenggak minumannya terus-menerus.

Junmyeon tahu bahwa Sehun sangat terpukul sekarang. Ia juga telah mendapat kabar dari Jongin bahwa tadi saat ia sudah pulang, Sehun sempat punya masalah dengan anak sulungnya, dan sekarang anak bungsunya menghilang tanpa kabar dan diketahui dimana keberadaannya.

Yang bisa Junmyeon lakukan hanyalah mendoakan sahabatnya, berharap bahwa semuanya akan kembali baik-baik saja.

Kembali ke kamar Baejin, ternyata anak itu masih tetap terjaga. Lampu kamarnya masih terang dan yang ia lakukan sekarang adalah fokus bermain social media dengan laptop pemberian uncle Junmyeon di ulang tahunnya yang ke-12.

Matanya terus mencari dan men-stalk akun social media milik Park Taehyung yang merupakan anak dari Park Chanyeol dan Park Baekhyun. Ia berharap bahwa Taehyung masih bangun saat ini.

Namun saat ia menerror anak pertama dari Park Chanyeol tersebut dengan ratusan pesan yang dikirimnya. Tidak ada satupun yang dibalas.

"Tae Hyung. lo kemana sih!" gerutunya kesal.

Namun tiba-tiba muncul notifikasi pertanda ada pesan masuk baru. Hati Baejin berubah gembira saat mengetahuinya. Dengan cepat ia melihat apakah itu balasan dari Taehyung atau bukan.

Ketika ia tahu siapa pengirimnya, raut wajah yang tadinya gembira kini berubah lesu.

Lee Daehwi

Daehwi: Eh si abang belom bobok. Mau dikelonin sama akang Daehwi?

Baejin hampir membanting laptop nya sendiri ketika membaca pesan Daehwi yang sangat tidak bermutu tersebut.

Jinyoung: Mati aja lu sana.

Daehwi: Kalo ane mati nanti sapa yg nemenin ente kemana2 bang?

Jinyoung: Brisik.

Daehwi: Lu kenapa masih melek jam segini? Ada masalah? Ga biasanya lu

Jinyoung: Bukan urusan lu.

Daehwi: Halah ujung2nya bsk jg cerita, gue bosen bgt nih Baejin di rumah sendirian

Jinyoung: Mama Suzy sama papa Minho kemana

Daehwi: Ke China ada acara penghargaan aktor gitu

Jinyoung: Tapi kan ada pelayan-pelayan lo. Jadi gak sendirian juga namanya. Gak kaya gue, rumah gue kan gak ada pelayan.

Daehwi: Ga nanya gue :p

Jinyoung: Tai

Daripada terlarut dalam obrolan yang tidak jelas arah tujuannya menurut Baejin, lelaki itu kemudian mencetuskan rencana yang sedang ia susun di otaknya. Sebuah rencana besar yang akan melibatkan Daehwi dan Jihoon juga.

Baejin menceritakan semuanya pada Daehwi malam itu. Tentang apa yang ia temukan di bawah bantalnya. Hal itu sukses membuat anak Lee Minho itu kaget setengah mati dan sempat tak percaya.

Tapi di akhir obrolan yang memakan waktu hingga pukul 3 pagi tersebut. Akhirnya menghasilkan sebuah keputusan.

Sebuah tindakan yang akan Baejin dan kedua sahabatnya ambil keesokan hari.

Setelah selesai dengan laptopnya, rasa kantuk hebat menyerang Baejin, namun sebelum tidur, ia kembali mengambil sesuatu yang ia temukan tadi di bawah bantalnya untuk dibacanya.

Sesuatu itu adalah kertas.

Sebuah kertas dengan tulisan tangan adiknya yang bertuliskan:

To: kak Baejin

Kak, aku bukan adikmu.

Ternyata aku anak orang lain.

Nama bundaku adalah Irene.

Aku akan pergi dari kehidupan bunda Luhan dan kak Baejin mulai sekarang.

Tapi sebelum itu aku akan ke tempat uncle Chanyeol untuk mencari tahu lebih banyak tentang bundaku yang sebenarnya.

Bunda Luhan pernah bilang kalau bunda dan aunt Baekhyun adalah orang yang paling tau tentang semua kisah cinta ayah dan teman-teman bandnya.

Aku akan menemui aunt Baekhyun di Busan, karena bunda Lulu tidak mau menjawab pertanyaanku tentang Irene.

Sekarang aku akan mencari ibu kandungku.

Aku senang bisa mengenalmu dan menjadi adikmu kak.

Kau ingat kalau aku pernah bertanya kenapa wajah kita sangat berbeda?

Ternyata jawabannya adalah ibu kita juga berbeda.

Itulah alasannya kenapa kita juga tidak mirip.

Tapi aku ingin kakak tau kalau aku sangat menyayangimu kak.

Kakak jaga diri ya. Jangan pernah lupakan aku.

Haowen

p.s.: jangan beri tau bunda dan ayah, biar besok aku beri tau sendiri saja

p.s.s.: jangan murung terus ya kak, nanti gantengnya ilang

p.s.s.s.: Haowen sayang kakak :)

Baejin mencengkeram kertas tersebut kuat-kuat hingga kusut. Sudah dipastikan ia tidak bisa tidur sekarang.

"Bodoh.."

Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut sang kakak setelah membaca surat dari Oh Haowen, adiknya.