Precious
Bagian 11
HUNHAN/WINKDEEP
YAOI! Family
Di dalam bus ketika Daehwi dan Baejin menuju ke rumah Jihoon, karena rumahnya memang agak jauh dari rumah Baejin, keduanya duduk di belakang paling pojok dekat jendela, mengurus semua rencana yang sudah dipersiapkan matang tadi di sekolah.
"Lo bilang gimana sama bokap lo? Sama nyokap lo?" tanya Baejin pada Daehwi yang tengah memegang peta rute Seoul-Busan.
"Dibilangin mereka di China juga." Jawab Daehwi yang masih fokus. "Tapi gue udah bilang sama maid-maid di rumah kalo bonyok pulang bilang aja gue nginep ke rumah lo, gitu." Lanjutnya.
Baejin hanya mengangguk, ia mengecek barang-barang yang ada di tasnya.
Sweater
Hoodie
Air minum
Makanan ringan
Sedikit uang
Dan
Kartu kredit Sehun
Perjalanan mereka akan menempuh waktu 6 jam 36 menit jika menggunakan megabus dan berangkat dari terminal Seoul yang dekat dengan rumah Jihoon.
"Lo bawa duit berapa Daehwi?" tanya Baejin saat temannya melipat kembali map besar yang dibawanya dan memasukkannya ke dalam tas.
Sebenarnya anak itu merasa agak gugup karena ini baru pertama kalinya ia melakukan perjalanan jauh sendirian tanpa bunda dan ayahnya. Maka dari itu dia sengaja diam-diam mengambil kartu kredit dari dompet Sehun yang selalu dan selalu diletakkan ayahnya di bawah bantal kamarnya dan Luhan.
"Gue bawa secukupnya buat bayar tiket bus doang, 40 ribu won cukup." Sahut Daehwi yang kemudian menganga lebar karena Baejin menunjukkan kartu kredit Sehun di depan wajahnya. "ANJIR LO?" kagetnya.
Ia langsung mendengus. "Kita gak mau pergi ke Jepang kali Jin, gak perlu bawa gituan juga. Lagian naik bus diem anteng nyampe sendiri nanti. Tolol banget sih lu." Ejeknya yang memang sering pergi berpetualang sendiri hingga membuat kedua orang tuanya kebingungan mencari.
Baejin menekuk wajahnya karena Daehwi ada benarnya juga. "Gue kan gak kaya lo. Ini perjalanan pertama gue." Ungkapnya yang langsung mendapat rangkulan hangat dari Daehwi.
"Itu gunanya gue ada disini bro!" ucap Daehwi yang memasang cengiran lebarannya dan langsung mendapat senyuman simpul dari Baejin.
Baejin dan Daehwi turun dari bus ketika telah sampai. Kedua anak yang baru menginjak umur 13 tahun itu sampai di kediaman Kim Jongin dan keluarganya.
Baejin mengetuk pintu dengan terburu-buru, selain karena dia menahan rasa kebelet pipis yang sudah ditahannya sejak di bus. Ia ingin segera bertemu Jihoon yang memang belum mengetahui rencananya sama sekali dan kemudian berangkat bersama ke Busan.
"Eh ada Baejin sama Daehwi! Yuk masuk, aunt Kyungsoo lagi bikin kue. Kalian pasti suka." Jongin, sang kepala rumah tangga keluarga tersebut menyambut keduanya dengan hangat. Melihat wajah Baejin yang babak belur ketika ia membuka mata, Jongin sebenarnya ingin bertanya kenapa namun ia urungkan niatnya untuk mencari waktu yang tepat.
"Baejin gak sama ayah bunda kamu?" tanya Jongin saat kedua anak itu sudah duduk manis di ruang tamu dengan disuguhi oleh kue hangat hasil masakan Kyungsoo.
Baejin menggeleng. "Uncle, Jihoon mana?" tanya Baejin dengan nada tergesa-gesa. Daehwi yang duduk di sampingnya langsung menyikut keras lengan sahabatnya karena dirasa terlalu cepat bertanya.
Jongin menggaruk tengkuknya atas pertanyaan Baejin. "Jihoon lagi sakit, tadi pulang sekolah uncle gak tau kenapa tiba-tiba badannya panas." Ucap Jongin lesu.
Baejin ikut bernafas lesu mendengar bahwa Jihoon sakit.
Apa bisa dia hanya berdua saja dengan Daehwi dalam perjalanan panjang ini? Tanpa Jihoon atau Daehwi di sisinya rasanya tetap ada yang kurang.
Mereka harus lengkap. Harus bertiga. Jika salah satu diantaranya tidak ada pasti hal buruk akan terjadi.
Itulah keyakinan yang ditanamkan Baejin dalam hatinya tentang persahabatan mereka.
Baejin sampai lupa bahwa ia kebelet pipis. Tanpa basa-basi dia langsung ke kamar mandi atas izin Jongin, sedangkan Daehwi minta izin Jongin untuk menengok Jihoon di kamarnya.
"Daehwi, Baejin habis berantem apa gimana kok mukanya babak belur?" tanya Jongin ketika melihat kesempatan yang tepat mumpung Baejin ada di kamar mandi.
Daehwi hanya garuk-garuk dan bingung menjawab apa.
"Ayahnya tau nggak kalau Baejin babak belur gitu?" tanya Jongin lagi.
"Tau kok uncle. Tadi di sekolah uncle Sehun jemput Baejin." Daehwi yang keceplosan langsung menutup kedua mulutnya.
Jongin hanya bisa tersenyum karena ia mendapatkan jawaban dari anak sepolos Daehwi. "Yaudah, sana kalau mau lihat Jihoon. Kalau dia lagi tidur jangan dibangunin ya Daehwi, kasian biar istirahat Jihoonnya." Ucap Jongin yang langsung diangguki mantap oleh Daehwi yang naik ke atas.
"Wink, lo sakit ya?" sapa Daehwi saat ia masuk ke kamar Jihoon yang tidak ditutup sama sekali. Ia melihat sahabatnya tertidur tertutup selimut.
"Lo ngapain kesini? Baejin mana?" tanya Jihoon saat melihat Daehwi masuk ke kamarnya begitu saja. "Mana gak ngetuk pintu lagi."
"Ya kan udah kebuka ngapain ngetuk Wink, gilalundro." Sahut Daehwi bingung.
Sebelum Jihoon membalas perkataan Daehwi, anak itu langsung duduk di atas ranjang Jihoon, memanfaatkan waktu yang ada dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang rencana Baejin untuk pergi ke Busan mencari Haowen yang hilang.
"Hah? Haowen ilang?!" Jihoon nampak kaget dan terkejut atas cerita Daehwi. Ia bahkan sama sekali tidak tahu bahwa Haowen hilang. Yang diingatnya dua hari yang lalu ia dan keluarganya sedang makan bersama di rumah Baejin merayakan ulang tahun adiknya.
Jihoon kemudian mengerti kenapa waktu itu ayah dan ibunya tidak menjawab pertanyaannya di mobil saat mereka kembali ke rumah setelah membawa kado ke rumah Baejin.
Daehwi menempelkan punggung tangannya ke dahi Jihoon. "Lo anget, gak usah ikut aja deh mendingan. Gue cuma ngasih tau doang kok." Cerocos Daehwi.
"Gue ikut. Enak aja, lo gak bisa ninggalin gue sendirian sedangkan kalian berdua bakalan traveling ke Busan." Jihoon bangkit dari kasurnya kemudian mengambil tasnya, mengisinya dengan sweater dan beberapa perlengkapan serta obatnya yang dibutuhkan untuk perjalanan.
"Traveling mata lo soak. Kita nyari anak hilang woy!" komentar Daehwi.
"Diem lu."
"Lo izin ke uncle Jongin sama aunt Kyungsoo gimana?" Daehwi penasaran dengan apa alasan yang akan diberikan Jihoon supaya kedua orang tuanya tidak mencarinya.
"Bilang aja nginep ke rumah Baejin ngerjain tugas yang dead line."
Dan benar dugaannya, keduanya memang selalu mengorbankan RUMAH BAEJIN ketika mereka berniat kabur dari rumah masing-masing. Dan entah mengapa menyadari hal itu, Daehwi terkekeh sendiri.
"Napa dah lu?"
Daehwi hanya menggeleng sambil tetap terkekeh geli. "Ngga kok ngga."
Jihoon hanya bisa memasang wajah herannya. Matanya terhenti pada sosok Baejin yang sepertinya sudah sejak tadi berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Udah siap belum? Busnya keburu berangkat." Ia berdiri dan menyandarkan bahunya pada sisi pintu dengan sudut bibirnya yang sedikit terangkat.
"Sok keren lo ngapain berdiri situ, sini dulu lah." Ucap Jihoon sambil menggerakkan tangannya menyuruh Baejin untuk menghampiri ranjangnya.
Baejin hanya memutar bola mata malas dan berjalan menuju ranjang Jihoon. Setelah sampai, bukannya duduk ia malah melayangkan tubuhnya terlentang tidur di atas pangkuan Jihoon yang masih berselimut. Kepalanya tepat jatuh di atas pangkuan Jihoon.
Jihoon kaget atas ulah Baejin yang tiba-tiba tapi entah kenapa ia malah tersenyum karenanya. Menyadari ada yang salah dari wajah Baejin, Jihoon membelalak kaget. "Muka lo kenapa?"
"Berantem sama Daniel tadi dia." Daehwi menyahut.
"Kok bisa?" Jihoon meminta penjelasan pada Baejin. Ditatapnya lebam-lebam di wajah sahabatnya itu dengan seksama. "Parah banget muka lo." Ucapnya khawatir.
"Gak sakit sama sekali kok." Cuek Baejin yang memang berkata jujur karena sakit di hatinya melihat kedua orang tuanya yang bertengkar setiap saat bahkan lebih menyakitkan daripada pukulan-pukulan yang dihantamkan Daniel ke wajah tampannya. "Jadi, kita berangkat?" Baejin memastikan ke Jihoon dan Daehwi.
"Let's go!"
Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi namun Oh Sehun masih bertahan mengendarai mobilnya, mencari anak bungsunya di setiap sudut kota. Ponselnya ia matikan karena puluhan kali Luhan menelfonnya.
Ayah dua anak itu sengaja mematikannya karena tidak mau mengangkat telfon dari istrinya yang pasti akan memarahi dan menyuruh dirinya pulang.
Polisi sampai saat ini pun belum memberikan kabar atas pencarian mereka. Semua masalah ini membuatnya hampir putus asa. Ketika ia melihat bar dan menghentikan mobilnya di depan tempat itu, perasaannya kembali berkecamuk.
FIKIRKAN KESEHATANMU SEHUN! FIKIRKAN GINJALMU!
Perkataan istrinya yang membuat keduanya bertengkar sampai sekarang masih terngiang di kepalanya. Ia tidak mau mencari gara-gara lagi dengan Luhan, maka ia lajukan mobilnya menjauh dari bar dan memilih untuk membeli kopi kalengan untuk menahan kantuk selama menyetir.
Pukul 4 pagi, Sehun sudah kembali ke rumah. Wajahnya kusut karena kebanyakan minum kopi. Kantung matanya yang ia dapatkan dari tour tanpa henti bertambah besar dan hitam karena tidak tidur.
Ia juga tidak peduli bahwa rambutnya mencuat kesana kesini karena ia acak kasar. Jika dilihat sekarang, penampilannya sudah seperti seorang pegawai yang baru diPHK.
Sehun menjatuhkan badannya dan tidur di depan televisi seperti malam sebelumnya. Ia masih merasa bersalah pada Luhan sehingga membuatnya tidak mau tidur di kamar mereka. Matanya perlahan terpejam dan mulai terlelap dalam mimpi.
Tanpa Sehun ketahui, istrinya ternyata masih terjaga. Luhan menangis di dalam kamar seorang diri, mengelus tempat kosong di sampingnya dimana suaminya terbiasa berbaring disana.
"Dimana kau Sehun.." lirih Luhan seiring air matanya yang terus mengalir.
x
o
x
o
Josie
