Precious

Bagian 14

HUNHAN/WINKDEEP

YAOI! Family

(one day before Sehun and Luhan go to Jongin's house)

"Apaan nih ribut-ribut?!" Sosok pria cantik berambut pirang turun dari kamarnya, ia heran melihat ada banyak sekali orang di rumahnya.

"Ngapain lo kesini Baejin?" tanya sosok itu, alias Taehyung, kakak Jackson yang sudah ditunggu-tunggu oleh Baejin untuk segera muncul.

"Haowen mana?" tanya Baejin penuh penekanan.

Taehyung hanya tergelak atas pertanyaan Baejin. Ia menoleh ke arah Jackson yang memain-mainkan lima ratus won sambil tersenyum girang. "Dari sapa tuh?" tanya Taehyung pada adiknya.

Jackson hanya menggerakkan kepalanya menunjuk ke arah Jihoon yang terbaring di sofa. Taehyung mengikuti pandangan adiknya dan mendapati Jihoon disana. "Jihoon kenapa tidur disana?" tanya Taehyung pada Daehwi.

"Badannya panas, dia lagi sakit." Jawab Baejin tak memberi kesempatan pada Daehwi membalas pertanyaan Taehyung. "Lo jangan coba nyuekin gue ya. Gue lagi ngomong sama lo." Ketus Baejin. Taehyung hanya memutar bola matanya tak peduli.

"Lu bawa Jihoon ke atas, ke kamar yang pintunya warna orange. Disana ada obat-obatan. Lu rawat dia disana. Jangan dibiarin disini." Perintah Taehyung yang langsung diangguki oleh Daehwi yang memang takut pada sosok kakak Jackson yang terlihat sangat menyeramkan dan cuek tersebut.

Daehwi membantu Jihoon berjalan dan memapahnya naik ke kamar yang dikatakan Taehyung. "Heh, lo anterin sana mereka." Suruh sang kakak pada Jackson, adiknya yang langsung menurut dan mengekori Daehwi dan Jihoon naik ke atas.

"Ini gak ada urusannya sama Jihoon, kenapa juga lo ngajak dia ke Busan? Goblok banget sih lo." Taehyung mencengkeram pergelangan tangan Baejin dan mengajaknya keluar dari rumah.

"Lo mau bawa gue kemana?!" Baejin mulai panik dan meronta melepaskan tangannya dari cengkeraman Taehyung.

Taehyung terlihat kesal dengan tingkah anak itu dan kemudian ia membentak, "lo mau ketemu adek lo gak?! Kalo iya sekarang lo ikut gue! Jangan kebanyakan bacot!"

Baejin menelan ludah karena takut dan kaget atas sentakan Taehyung. Ia merasa kitten dan mati kutu di depan hyung yang lebih tua 2 tahun darinya itu.

Baejin menurut saja dan mengikuti Taehyung masuk ke dalam mobil. "Lo bisa nyetir? Lo kan masih 15?" heran Baejin saat Taehyung mulai menyalakan mesin mobil.

"Lo gak usah banyak bacot bisa? Tinggal duduk santai apa susahnya sih." Ucap Taehyung ketus seperti dugaan Baejin.

Lelaki itu hanya bisa menghela nafas keras dan diam menuruti sang pemilik mobil yang akan membawanya entah kemana.

"Lo diapain aja sama Jackson?" tanya Taehyung saat keduanya mulai memasuki jalan raya kota Busan yang gemerlap seperti siang hari.

Ternyata hari sudah gelap. Matahari telah tergantikan oleh bulan, membuat aktivitas para penduduk Busan semakin padat di malam hari. Baejin sedikit terpesona dengan pemandangan yang diberikan kota Busan untuknya pada malam hari.

"Dia morotin uang Jihoon. Adek lo masih gak bisa bedain siang sama malam ya?" tanya Baejin tiba-tiba. Ia mengingat kalo Jackson menyapanya dengan sapaan selamat pagi saat mereka sampai di rumahnya tadi. Padahal hari sudah gelap.

Taehyung tegelak karena dari dulu Jackson memang mata duitan. "Good morning bagi dia itu kalo dia lagi bangun tidur. Mau sore mau malem Jackson gak bakal peduli." Ucap Taehyung yang kemudian mengambil bungkus rokok dan mengeluarkan batangnya satu.

"Help me please." Ia mendekatkan ujung batang rokok yang diemutnya pada Baejin untuk menyalakannya.

"Lo ngerokok?" Baejin kembali terkejut dengan ulah Taehyung di sampingnya. Ia tidak menyangka di usianya yang 15 tahun, lelaki itu sudah berani merokok seperti ini.

Taehyung mengangguk, sejenak mengambil rokok dari mulutnya kemudian menjawab, "I do what I want."

Baejin saja baru pertama kali ini keluar jauh dari rumah. Ia kembali merasa tidak ada apa-apanya dan tak bisa apa-apa dibandingkan Taehyung ataupun Jackson. Ia merasa sangat pecundang.

Tanpa sadar Baejin menunduk dan menggigit bibir bawahnya kencang setelah memetikkan korek api untuk Taehyung. Ia tidak tahu bahwa lelaki di sampingnya menyadari hal itu.

"Lo kenapa Baejin?" tanya Taehyung sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Gue ngerokok kaya gini juga diem-diem kali. Kalo ketahuan papih ya gue mati lah." Tambahnya lagi.

Baejin mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Perasaan berdebar-debar tiba-tiba menyerangnya. 'Akhirnya.. akhirnya aku bisa merasa bebas untuk yang pertama kalinya..' batinnya bersorak gembira.

"Baejin?" Taehyung memanggil namanya lagi.

Baejin mendongak dan menoleh ke arahnya yang sedang fokus memperhatikan depan. Tanpa diduga ia menggigit lengan Taehyung gemas.

"Anjrit! Ngapain lo!" Kaget Taehyung karena Baejin menggigitnya tiba-tiba. Anak sulung Oh Sehun tersebut memang mempunyai kebiasaan untuk menggigit orang lain di dekatnya ketika ia sedang excited.

"Gue merasa.. gue merasa kalo.. kalo gue.. gue berdebar-debar.. gue kaya lepas dari sesuatu yang selama ini ngekang gue." Ucapnya dengan perasaan tak menentu.

Taehyung tersenyum mendengar perkataan Baejin. Dugaannya bahwa anak tersebut memang anak rumahan yang sama sekali tidak pernah melihat dunia luar memang benar. Bisa dibuktikan hanya dengan menatap wajah Baejin sekarang.

"Baru pertama kali ini lo pergi ke luar Seoul tanpa orang tua lo?" tanya Taehyung memprediksi.

"Iya."

Taehyung tersenyum. 'Lucu juga..' batinnya geli.

"Kenapa ayah bunda lo gak pernah izinin lo keluar?"

Baejin menggeleng. "Gue nya sendiri juga gak mau keluar kok." Jawabnya pasrah.

"Lo terlalu lama mengunci diri lo sendiri Baejin. Dunia luar bukan Cuma Busan doang." Kata Taehyung.

Baejin memandang anak itu dengan tatapan kagum, dalam hati dia berkata, 'thanks udah mau nolongin gue, Tae hyung..'

"Gue tau lo lagi ngeliatin gue. Kenapa?" tanya Taehyung risih yang menyadari bahwa Baejin daritadi menatapnya.

Baejin langsung membuang pandangannya ke arah luar mendengar ucapan Taehyung. "Gak, gue Cuma seneng aja lo mau bantuin gue buat ketemu adek gue."

Taehyung tersenyum remeh. "Your welcome."

Keduanya kini telah sampai di kediaman Irene. Sebuah rumah besar yang lebih besar dari milik Sehun di Seoul.

"Ini rumah Irene. Kemarin papih nganter Haowen kesini. Kalo hari ini lo nunggu papih sama mamih buat pulang, mereka gak akan pulang sampe besok. Itu aja besok papih yang pulang. Mamih nggak. Kedua orang tua gue super sibuk ngalahin Kim Jong Un." Ujar Taehyung sarkas.

Baejin hanya mengangguk ternyata bukan Cuma dirinya yang selalu ditinggal oleh orang tua. Mending-mending Luhan masih selalu ada di sampingnya ketika Sehun tak ada. Tapi Taehyung, kedua orang tuanya sering meninggalkannya.

Keduanya melangkah bersama memasuki rumah besar yang pintunya sudah terbuka lebar seolah menyambut mereka itu.

"Haowen!" panggil Baejin keras. Namun yang ia dapatkan hanya kesunyian.

Taehyung sedikit merasa curiga dengan keadaan rumah tersebut sekarang. Ia menyimpan banyak pertanyaan dalam hati atas sepinya rumah Irene.

"Mungkin momnya Haowen lagi keluar sama anaknya yang udah kembali kali." Celetuk Taehyung yang langsung membuat Baejin menatapnya heran.

"Momnya Haowen mom gue juga. Bunda Lulu di Seoul, bukan disini." Ketusnya.

"Aunt Luhan bukan mom nya Haowen. Papih juga bilang gitu ke gue kemarin." Balas Taehyung tak mau kalah.

Ketika Baejin akan membalas pedebatan sengit mereka, Taehyung sudah memotong lagi.

"Dulu pas lo masih kecil uncle Sehun juga masih deket dan berhubungan sama Irene, itu yang papih gue bilang. Papih selama ini percaya kalo Haowen anak aunt Luhan sama ayah lo. Tapi pas Haowen cerita semua kemarin sambil nangis-nangis, papih bilang kalo dia kecewa sama ayah lo. Kata papih, ayah lo itu brengsek. Papih aja gak nyangka kalo ayah lo sebrengsek itu."

Perkataan panjang lebar Taehyung berhasil menyulut emosi Baejin. Ia ingin menonjok wajah Taehyung namun ingat bahwa manusia di sampingnya ini lebih kuat darinya mengingat sejak kecil mereka sering berkelahi dan Baejin selalu kalah dari Taehyung.

Teringat juga bahwa sejak dulu mereka memang tidak pernah akur. Terlibat pertengkaran dengan Taehyung ketika dia dan Jihoon masih kanak-kanak. Saat itu, mereka berebut siapa yang akan bermain jungkat-jungkit dengan Jihoon ketika semua member EXO berkumpul. Taehyung tentu saja tidak mau mengalah dan dia selalu menang. Alhasil, ia main jungkat-jungkit dengan Jihoon, dan Baejin hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.

Karena tidak terima jika kalah, Baejin pun mengajak Jihoon menyendiri bermain dengannya dan menjauh dari Taehyung dan para member EXO. Tetapi sialnya mereka bertemu anak-anak nakal di jalan dan Baejin harus melindungi Jihoon karena dialah yang membawa Jihoon keluar dari zona aman perlindungan para orang tua.

Walau babak belur dipukuli anak-anak jalanan, tapi Baejin berhasil melindungi Jihoon hanya dengan berbekal perkataan Jongin yang selalu ia simpan dalam hatinya sampai saat ini.

"Baejin, kalo uncle gak bisa ada di sisi Jihoon lagi dan jagain dia, kamu mau kan gantiin posisi uncle?"

Baejin menjawabnya dengan anggukan antusias dan melingkarkan kelingkingnya dengan milik Jongin. Baejin kecil yang masih polos dan tidak tau apapun waktu itu telah membuat janjinya sendiri dengan ayah Jihoon. Sebuah janji yang hanya dua orang itu ketahui.

Namun ketika ada yang menjelek-jelekkan ayahnya seperti yang dilakukan Taehyung sekarang ini, tak peduli siapapun dia. Ingin rasanya Baejin menghajarnya sampai babak belur. Ia memang tidak suka pada ayahnya yang tak pernah ada untuk keluarga. Tapi cukup dia seorang saja di saat tertentu.

Orang lain tak tau tentang ayahnya dan ia tak mau mereka sembarangan menghina atau menjelek-jelakkan ayahnya. Terutama di depan mata kepalanya sendiri.

"Tae hyung, bisa nggak sehari aja lo gak bikin gue kesel? Gue pengen mukul lo sekarang."

Taehyung tergelak karena ucapan Baejin. "Kaya lo bisa aja mukul gue." Ledeknya.

"Lo boleh ngehina gue. Bodoh-bodohin gue dan bahkan mukulin gue sekalipun. Tapi asal jangan ayah gue. Lo gak tau apa-apa tentang ayah gue!" Baejin membentak hebat, membuat Taehyung tercekat dan mematung.

Baru pertama kali ini dia melihat Baejin semarah itu. Dan jujur saja hal itu membuatnya sedikit takut.

Ketika Baejin mengambil ancang-ancang untuk lari. Dua orang pria dewasa yang tingginya hampir menyamai Chanyeol, memakai tuxedo sudah memunggunginya dan juga Taehyung seolah melindungi keduanya dari sesuatu.

Dua orang itu memasang posisi siaga membawa pistol masing-masing melindungi Taehyung dan Baejin di belakang mereka.

Setelah kemunculan keduanya, yang pertama, seorang pria tinggi lengan bajunya ia lipat sampai siku, mempunyai garis pipi yang keras berdiri memunggunginya.

Dan yang kedua, berambut klimis namun memiliki tubuh yang lebih berisi dari yang pertama walaupun tinggi mereka sama, rambutnya lebih panjang.

Setelah keduanya muncul, suara ricuh mulai terdengar di rumah besar tersebut. Suara tembakan dan berbagai macam suara barang pecah lainnya.

"Kalian siapa?! FBI?!" seru Taehyung saat kedua orang itu melindungi mereka dari entah apa yang terjadi di lantai atas rumah tersebut karena pandangan Taehyung dan Baejin tertutup punggung keduanya.

Salah satu dari dua pria dewasa tersebut, ke belakang masih dalam posisi siaga perlindungannya. "Kalian jangan panik. Aku agen K2 dan dia agen M." Orang berwajah imut yang mengaku bernama agen K2 tersebut menunjuk teman di sampingnya.

"Johny!!" Teman di sampingnya menggeram, membuat agen K2 menoleh lagi ke depan.

Sebuah gas air mata sudah dilemparkan ke arah mereka sebelum mereka dapat melarikan diri. Seketika membuat Baejin dan Taehyung terbatuk hebat luar biasa hingga keduanya kehilangan kesadaran.

x

o

x

o

JOSIE