Precious
Bagian 15
HUNHAN/WINKDEEP
YAOI! Family
(One day later: Sehun and Luhan are looking for their children)
Kedua pria dewasa dengan umur berpaut satu tahun tersebut telah sampai di rumah Kim Junmyeon untuk mencari anak-anak mereka. Terlihat sang pemilik rumah dan anak satu-satunya sedang dengan khusyuknya makan di ruang makan luas mereka tanpa sang ibu.
Junmyeon melambai dan menyuruh dua sahabatnya yang berdiri di ambang pintu untuk masuk dan bergabung dengan acara makan pagi keluarganya.
"Apa maksudmu? Baejin dan Jihoon tidak kesini sama sekali." Ucap Junmyeon setelah Sehun dan Jongin mengutarakan niat mereka datang ke rumah pria super kaya itu.
Jongin mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanan dan kirinya, ia mendecak bingung kemana anaknya satu-satunya pergi.
Guan Lin, anak Junmyeon hanya makan dalam diam tanpa bersuara. Walaupun tidak bersuara, bukan berarti anak itu tidak mendengar pembicaraan papanya dengan teman-temannya.
"Haowen hilang?!" pekik Guan Lin saat Sehun kelepasan menceritakan tujuannya ke rumah Junmyeon.
Junmyeon menepuk jidatnya, ia lupa kalau anaknya juga ikut serta dalam acara makan pagi. Pria itu bingung harus menjawab pertanyaan anaknya dengan apa. Ia tidak ingin membuat Guan Lin cemas sama seperti yang dirasakannya.
Guan Lin menarik-narik lengan kaos papanya, "Haowen kemana papa?! Dia beneran ilang?!" pekiknya meminta jawaban.
Junmyeon menatap Jongin dan Sehun yang sudah bertampang tak karuan, antara ingin memberi tahu Guan Lin yang sebenarnya atau tetap tutup mulut.
Kedua ayah yang kehilangan anak-anak mereka tersebut akhirnya saling pandang dan mengangguki satu sama lain.
Junmyeon menarik nafas dalam-dalam ia kemudian mengelus puncak kepala putrinya pelan. "Iya sayang, Haowen hilang. Papa, uncle Sehun dan uncle Jongin tidak tau dimana dia sekarang." Ujarnya dengan raut wajah sedih.
"Padahal baru kemarin aku dan dia bermain bersama."
Celetukan anak berumur 12 tahun itu membuat Sehun mengernyit. Ia tertarik dengan arah pembicaraan Guan Lin yang mungkin saja bisa memberinya petunjuk harus kemana mencari anak bungsunya.
"Coba kau ceritakan semuanya Guan Lin. Uncle ingin tau apa saja yang kalian bicarakan sebelum Haowen menghilang." Suruh Sehun, wajahnya mengisyaratkan bahwa ia sangat berharap pada anak Junmyeon itu.
Guan Lin berubah gugup. Ia takut papanya akan memarahinya karena yang dia lakukan adalah menunjukkan foto-foto kenangan masa lalu kisah cinta ayah-ayah mereka pada Haowen.
Anak kecil itu merasa sedikit bersalah dan bertanya-tanya apakah perbuatannya adalah hal yang memprovokasi kepergian anak bungsu keluarga Oh yang berusia 10 tahun itu.
Melihat anaknya menatapnya dengan tatapan takut disalahkan Junmyeon hanya tersenyum menenangkan. "Berceritalah nak, papa tidak akan marah padamu." Junmyeon menolehkan kepalanya menatap Jongin dan Sehun.
Keduanya menatap Guan Lin teduh. "Ayo Guan Lin." Perintah Jongin dengan senyuman Sehun yang menganggukinya.
"A—aku sehari sebelum Haowen ulang tahun pergi ke rumah uncle Sehun. Papa, uncle Sehun sama uncle Jongin belum pulang dari tour waktu itu."
Guan Lin berhenti sejenak, ia meminum susunya, membuat Junmyeon, Sehun dan Jongin menggerakkan mata mereka mengikuti gerak-gerik yang dilakukannya.
Seolah merasa seperti diintai, Guan Lin tersedak saat meminum susunya.
"Aduh, hati-hati nak." Junmyeon segera mengelus punggung putranya berkali-kali hingga batuknya berhenti.
Anak itu hanya mengangguk dan meneruskan ceritanya setelah dirasa batuknya berhenti. "Aku menemukan foto-foto lama papa, uncle Jongin, uncle Sehun dan uncle Chanyeol dengan pacar uncle-uncle di masa lalu. Kemudian aku menunjukkannya pada Haowen." Lanjutnya.
Junmyeon sedikit shock mendengar penuturan anaknya. 'Kalau ketahuan mamamu, aku bisa mati Guan..' batinnya.
Sehun mengernyit, sama seperti yang Jongin lakukan. "Fotoku dengan siapa?" tanya Jongin.
Guan Lin menatap iris cokelat Jongin takut-takut. "K—Krystal.." ucapnya ragu.
Sehun dan Junmyeon langsung menahan tawa mereka yang hampir meledak sehingga malah menimbulkan suara 'pfffft', membuat Jongin melempar death glare pada keduanya.
"Kalau uncle?" tanya Sehun semakin penasaran, karena dari dulu sampai sekarang seseorang yang bisa mengisi hati dan hidupnya hanyalah Luhan seorang.
Guan Lin semakin ragu. Ia menatap mata papanya lagi. Junmyeon masih dengan senyuman termanisnya menguatkan anaknya untuk bercerita.
"De—dengan Irene."
Dan dengan jawaban terakhir Guan Lin, Sehun akhirnya menemukan letak kesalahannya.
Sekarang ia tahu kemana perginya si bungsu.
"Foto-foto lama itu kau dapatkan darimana Guan?" tanya Sehun dengan raut wajah yang berubah cemas.
"Aku tidak tau uncle, saat mama dan papa tidak ada di rumah, aku menemukannya di..."
Perkataan Guan Lin terpotong oleh panggilan mamanya.
"Guan Lin! Ayo berangkat sayang!" istri Junmyeon muncul di meja makan sebelum anaknya menceritakan foto dirinya dengan siapa yang ia tunjukkan pada Haowen, membuat papanya menekuk wajahnya dan Sehun yang belum menemukan jawaban.
"Iya mama!" Anaknya bangkit dan menggendong tasnya. "Bye papa!" Tak lupa sebelum berangkat ia mencium pipi kiri Junmyeon dengan Yixing yang mencium sebelah kanan.
Sehun dan Jongin yang melihatnya langsung memasang wajah iri mereka. "Enak banget idup lo. Punya istri nurut, penyayang, anak nurut, perhatian, bikin ngiri aja." Celetuk Sehun.
Junmyeon hanya terkekeh menanggapinya. "Lo ga sadar Luhan juga cantik, Baejin gantengnya minta ampun jadi pujaan satu sekolahan. Haowen imutnya bikin pengen meluk terus." Cerocos Junmyeon membuat sudut bibir Sehun terangkat.
Ia membenarkan jawaban Junmyeon, membuatnya bersyukur memiliki istri seperti Luhan yang bisa memberikannya keturunan seindah Baejin dan Haowen.
Pria itu rindu pada Luhan sekarang. Namun mengingat mereka masih bertengkar, yang ada rasa rindu itu malah semakin dalam.
"Yixing gak marah sama lo pas kita mabuk kemarin?" tanya Sehun.
"Gak, Yixing tahu semuanya dan dia gak marah. Kuncinya Cuma saling percaya aja Hun." Junmyeon mengembangkan senyuman lebarnya.
Perkataan Junmyeon membuat Sehun menyadari sesuatu.
"Kenapa emang Hun?"
"Gak. Gak papa."
Hatinya kini dilanda rasa bimbang.
'Kenapa Luhan tidak seperti Yixing..'
Junmyeon, Jongin dan Sehun sedang dalam perjalanan kembali ke rumah Jongin untuk menjemput Luhan. Ketiganya sudah merencanakan kemana mereka akan mencari Haowen, Baejin dan Jihoon serta Daehwi.
"Kenapa lo bisa tau kalo mereka ke Busan?" tanya Jongin yang masih tidak mengerti dengan rencana sahabatnya.
"Ini Cuma firasat gue sebenernya. Tapi gue yakin kalo mereka disana. Lo gak usah banyak nanya. Gue ayahnya Haowen, dan gue tau betul anak-anak gue."
Junmyeon terkekeh. "Iya, tau betul sampe anak sendiri aja benci sama lo." cibirnya.
Jongin ikut tertawa kaku mengingat peristiwa Baejin melayangkan pukulannya pada perut Sehun saat ulang tahun Haowen.
"Diem." Desis Sehun, masih fokus menyetir namun tangannya yang lain menggeplak kepala Jongin yang duduk di samping seat kemudi.
Drrt drrrt
Ponsel Jongin bergetar tanda pesan masuk.
Dari Chanyeol.
Jongin membaca dengan cermat pesan tersebut. Ia terkejut sekaligus senang karenanya. Kemudian ia menatap Sehun di seat kemudi.
"Ku rasa insting mu benar Hun."
Sehun hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa menoleh ke belakang. Sedangkan Junmyeon langsung memasang wajah meminta jawabannya pada Jongin dengan menoleh ke belakang.
Keduanya menunggu Jongin kembali bersuara.
"Chanyeol baru saja mengirimiku pesan."
x
o
x
o
A/n:
Hay guys. Kenapa. Ceritanya gue males gue lanjutin adalah karena sedikit bgt review yg masuk tapi yg baca lumayan banyak. Jadi... At least 10 review baru kita lanjut ke part berikutnya.. Don't make me males ngelanjutin yaaa
Xoxo, Josie
