Precious
HUNHAN/WINKDEEP
FAMILY
bagian 16
"Tolol." Umpat Kyungsoo di depan Sehun, saat ayah dua anak itu memasuki rumahnya bersama suaminya dan juga suami dari rekan sesama aktornya.
"Apa sih hyung?!" Sehun sewot ketika mendapati istri dari Jongin tersebut tiba-tiba saja memandangnya dengan tatapan tidak suka.
"Lo bikin Luhan sedih tolol."
Sehun menggigit bibir bawahnya karena ucapan Kyungsoo. Rasa bersalah kembali menyelimutinya. Jongin yang tadinya ingin membela sahabatnya pun langsung terdiam mendengar ucapan istrinya.
"Kalo ada masalah selesain berdua kalian udah 13 tahun nikah. Punya anak juga udah SMP masih aja kaya gini."
Sehun menunduk karena semburan Kyungsoo yang sama sekali tak disalahkannya. Matanya menatap lantai dan memikirkan wajah sedih Luhan yang menghantui benaknya.
"Gue sama dia emang lagi cek-cok." Ucap Sehun seraya menatap lurus Kyungsoo.
Kyungsoo hanya menggeleng mendengar jawaban Sehun yang super santai. "Dia tidur di kamar buat tamu. Kayanya Luhan semaleman gak tidur deh, capek banget mukanya lesu. Lo mau bawa dia pulang atau tinggal disini aja?" tawar Kyungsoo.
Sehun sempat bimbang. Ia baru saja diberi tahu Chanyeol bahwa Jihoon dan Daehwi berada di Busan. Membuat Sehun ingin segera pergi kesana. Jika Jihoon dan Daehwi ada disana pasti anaknya juga. Walaupun ketika ia bertanya pada Chanyeol, ia menjawab sebaliknya.
"Gue mau berangkat ke Busan hari ini." Sehun berjalan melewati Kyungsoo, ia berjalan mendekati kamar untuk tamu yang memang ada di lantai bawah.
"Ngapain ke Busan? Chanyeol sama Baekhyun sama aja sibuknya ka—"
"Anak kita ada disana sayang." Potong Jongin sebelum istrinya melanjutkan lagi ocehannya. Ia kemudian menarik Kyungsoo dalam dekapannya.
Seperti dugaannya, Kyungsoo langsung meledak. "APA?! BAGAIMANA DIA BISA BERADA DISANA?! KENAPA DIA SENEKAT ITU?! DIA SEDANG SAKIT JONGIN!!" Ia menatap wajah suaminya histeris.
Namun Jongin menenangkannya dengan memagut bibir istrinya dan menarik tengkuk sang istri agar ia diam.
"Tenanglah sayang. Dia aman disana. Chanyeol hyung menghubungiku tadi." Ujar Jongin yang langsung disusul hembusan nafas lega dari Kyungsoo.
Junmyeon yang dari tadi berdiri di dekat mereka hanya bisa menahan perasaan iri melihat keduanya yang kini saling melumat. Ia kemudian berjalan menuju ke sofa dan meletakkan pantatnya disana.
Sehun membuka pintu dengan sangat pelan. Takut-takut akan membangunkan Luhan. Ia tidak ingat bahwa ia belum mandi, dan bau badannya bisa membangunkan istrinya kapan saja.
Pria itu memandang wajah damai istrinya yang terlelap. Tak tega membangunkannya untuk mengajaknya langsung berangkat ke Busan, Sehun pun menggendongnya ala bridal style untuk memindahkan Luhan ke dalam mobil.
"Aku membangunkanmu ya?" tanyanya lembut saat Luhan membuka kedua matanya seraya Sehun terus melangkah menuju ke luar, melewati Jongin, Kyungsoo dan Junmyeon.
Luhan tersenyum atas pertanyaan suaminya. "Dimana Baejin?"
Suaminya menggeleng pelan, membuat Luhan meletakkan kedua tangannya ke leher Sehun untuk mengencangkan pelukan pada sang suami yang sedang menggendongnya.
Sehun memasukkan Luhan ke dalam mobil bersama dirinya di seat belakang. Diikuti Junmyeon berikutnya yang duduk di kursi kemudi. Dan Jongin yang berada di sebelah Junmyeon.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Junmyeon memandang rear-view-mirror.
Sehun mengangguk diikuti seruan Jongin, "yup!"
Luhan masih bingung mereka akan kemana. Ia menatap Sehun di sampingnya yang terlihat lebih tenang. Membuatnya berfikir perang dingin mereka sudah berakhir.
Sadar bahwa istrinya menatapnya, Sehun menoleh. "Apa?" tanyanya.
Luhan tersenyum dan menggeleng. 'Dasar tidak peka.' Batinnya.
"Kita mau kemana?" tanya nya akhirnya bersuara.
"Busan, baby." Jawab Sehun kemudian meraih Luhan untuk dirangkulnya. Membuat sang istri meletakkan kepalanya di bahu sang suami seraya kedua tangannya melingkari perut Sehun.
"Maafkan aku sayang." Sehun menciumi puncak kepala istrinya.
Luhan kembali hanya bisa tersenyum atas perasaannya. Ia memang tidak salah dalam menerima Sehun sebagai suaminya. Walaupun sampai sekarang tingkah kekanakkan pria itu masih kentara, Luhan akan selalu ada disana saat Sehun tidak menginginkannya sekalipun.
Luhan paham dan sangat mengerti bahwa Sehun bukan sosok ayah yang sempurna seperti Jongin dan Junmyeon. Tapi ia yakin cintanya untuk Sehun adalah sempurna dan itulah yang akan menjaga keluarga kecil mereka agar tetap bertahan.
"Aku sudah memaafkanmu bahkan tanpa kau minta maaf." Balas Luhan sambil mengecup bibir Sehun sekilas. Namun suaminya tidak membiarkannya, yang ada malah ia menarik tengkuk Luhan untuk membuat ciuman singkat itu menjadi pagutan penuh kasih sayang.
"Ew. Gross." Komentar Jongin membalas perkataan Sehun padanya tadi pagi.
"Diam."
x
x
x
Baejin membuka matanya. Dirasakannya sakit dan nyeri menjalari seluruh tubuhnya. Ia telah pingsan semalaman. Namun ketika bangun, sama saja. Karena anak itu berada di dalam sel gelap yang hanya diterangi satu buah lampu remang-remang dengan kaki tangan terikat.
"Aku dimana.." tanya nya pelan pada diri sendiri.
Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Lembab, gelap dan sangat berbeda dengan kamarnya yang nyaman. Ia semakin kaget karena menyadari bahwa dirinya berada di dalam sebuah sel kecil.
"Kau bangun?" Suara yang ia kenal memanggilnya dari arah samping. Saat Baejin menoleh dengan cepat karena waspada, ia mendapati Taehyung dengan kondisi yang tak jauh berbeda dengannya berada di dalam sel.
"Tae hyung! Kita ada dimana?!" pekiknya histeris. Dan karena ketegangan otot leher yang dihasilkannya dari memekik tadi, Baejin merasakan remuk di bagian punggungnya. "Argh!!"
"Jangan kebanyakan bergerak. Gue gak tau kita dimana tapi yang pasti ada yang gak beres sama rumah Irene. Setelah kita masuk ke rumah dia, entah kenapa kesadaran gue hilang gitu aja. Badan gue sakit banget. Gue yakin ada orang yang gebukin kita sebelum kita dimasukin ke sel ini.
Baejin tidak mempunyai sepatah kata pun untuk menanggapi perkataan Taehyung yang terlalu mencekik nafasnya.
"Gue curiga kita setelah ini bakal mati." lanjut Taehyung.
Ucapan terakhir Taehyung semakin membuat Baejin ketakutan dan hampir kencing di celana.
'Aku tidak boleh mati sekarang.. Haowen belum ku temukan.. dan games di rumah masih banyak level yang belum ku lewati.. aku juga masih membawa kartu kredit ayah.. bagaimana ini?!' batinnya ketakutan.
"Kalau gue bisa dapetin ponsel gue, kita bisa hubungin Jackson buat ngasih tau dimana kita sekarang." Ujar Taehyung lagi. Nafasnya terengah-engah dengan peluh bercucuran karena menahan sakit yang sama dirasakan oleh Baejin.
"Maksud lo? Gimana caranya Jesper bisa nemuin kita? Dia Cuma anak 10 tahun."
Taehyung menghela nafas panjang. Seolah enggan menjawab pertanyaan Baejin yang memang belum terlalu mengenal Jesper.
"Jackson masang alat deteksi di ponsel gue, papih sama mamih. Dia bisa tau dimanapun keberadaan anggota keluarga Cuma dengan alat itu. Ponsel Jackson juga terhubung sama satelite. Walaupun gue ada di ujung dunia sekalipun, dia pasti bisa nemuin gue."
Baejin terbelalak, sedikit tak percaya dengan cerita Taehyung namun akhirnya paham ketika mengamati wajah serius lelaki berambut blonde itu.
"Kalau Jackson udah tau kita dimana lalu apa?"
Taehyung memasang wajah datarnya. "Lo sama ayah lo sama-sama oon nya." Komentarnya pedas. Baejin hanye mendecih karenanya. Taehyung pun kembali melanjutkan penjelasannya.
"Pasti kita bisa selamat karena dia bakal ngirim bala bantuan buat nyelametin kita. Jackson itu anggota bayangan badan intelegent negara Amerika Serikat. Dalam kasus ini, CIA. Bisa dibilang kalau Jackson punya banyak sekali teman dan kenalan disana. Kalau dia tau dimana posisi kita sekarang, gak usah nunggu lama bentar lagi CIA bakal nyelametin kita."
Baejin, lagi-lagi ia semakin menganga mendengar penuturan Taehyung tentang adik laki-lakinya yang rese setengah mati ternyata punya kemampuan dan keahlian sehebat itu.
"Jackson bisa ngehack sistem keamanan apapun itu yang gue gak paham gimana cara kerja otaknya. Tapi karena dia baru 10 tahun, CIA Cuma jadiin Jackson sebagai anggota bayangan sampai umurnya 16 nanti."
Taehyung mencoba melepaskan ikatan di kakinya dengan menendang-nendang, namun nihil. "Tapi sekarang, gue sendiri gak tau ponsel gue ada dimana."
Baejin melihat perjuangan Taehyung tak henti mencoba melepaskan ikatan kencang di kaki dan tangannya, membuatnya berfikir apa yang bisa ia lakukan untuk Taehyung. Tidak mungkin ia akan terus bergantung pada hyungnya itu.
Seketika ia teringat memori terakhir sebelum pingsan. Dua orang lelaki yang melindunginya dan Taehyung. Kemana mereka sekarang?
"Taehyung. Dua agen yang waktu itu—"
"Gue gak tau mereka siapa. Tapi kalau dilihat-lihat mereka bagian dari—"
Percakapan serius keduanya terhenti dengan suara langkah kaki menuruni tangga kayu yang berderit-derit mengerikan. Membuat keduanya terdiam dan menunggu. Menebak-nebak apakah kematian mereka sudah datang?
"Selamat datang, Oh Baejin, Park Taehyung."
Tidak ada yang tidak terkejut dengan kemunculan sosok tersebut di depan sel keduanya. Jantung mereka berdegup kencang takut jika sosok tersebut akan menghabisi nyawa mereka saat itu juga.
"Kau.." Taehyung tercekat.
Wajah Baejin berubah marah saat mengetahui sosok yang berdiri di depan selnya. "Irene."
X
O
X
O
Double update.
