Precious

HUNHAN/WINKDEEP

Family

bagian 17

Junmyeon, Jongin, Sehun yang sudah mandi dan Luhan hampir sampai ke Busan. Terlihat Junmyeon tertidur di seat samping Jongin yang kini mengemudi. Dan Luhan yang juga tidur dalam dekapan Sehun.

"Jongin." Panggilnya saat suasana terasa begitu sepi.

Perasaan bersalah itu tak bisa ditepisnya, dari tadi terus menghantuinya dan membuatnya gelisah.

"Maafkan aku. Karena anakku, anakmu jadi—"

"Tidak papa." Jongin terkekeh. "Aku tidak menyalahkanmu sama sekali."

"Tapi—"

"Baejin itu keren, dia pasti akan menjaga Jihoon." Ucap Jongin dan seketika membuat hati Sehun lega.

"Terima kasih Jongin."

"Papa!" Jihoon menghambur memeluk Jongin ketika sore harinya, dia, Sehun, Luhan dan Junmyeon telah sampai di kediaman Chanyeol dan Baekhyun di Busan.

"Kamu kenapa kabur? Kalau mau ke Busan kan bisa bilang sama papa nanti papa anterin kamu." Jawab Jongin yang kemudian berjongkok dan memencet hidung anaknya gemas.

Park Chanyeol, sang pemilik rumah, muncul dari lantai atas dengan menggendong anak bungsunya yang terlihat sangat manja ketika ayahnya kembali.

"Kalian terlambat." Ucap Chanyeol tiba-tiba.

"Apa maksudmu? Mana anakku?!" Sehun membentak karena tatapan Chanyeol padanya sudah tidak mengenakkan.

Chanyeol kemudian menurunkan Jackson agar berjalan sendiri. Ia melangkah mendekati Sehun masih dengan rahangnya yang mengeras.

Sehun tidak menyangka bahwa detik berikutnya.

Buagh!

Chanyeol menghajarnya telak di pipi. Hingga membuat ayah dua anak itu terpental dan jatuh terjengkang ke belakang.

"Sehun!" Luhan, Jongin dan Junmyeon berseru kompak karena sangat tidak menyangka dengan perbuatan Chanyeol barusan.

Jihoon pun sama terkejutnya, anak itu sampai tak bisa berkata apapun. Sedangkan Jackson, anak itu menutup kedua matanya dengan kedua tangan agar tidak menyaksikan adegan tersebut secara terang-terangan.

"CHANYEOL!" geramnya yang kemudian bangkit untuk membalas pukulan Chanyeol.

Belum sempat pukulan Sehun mendarat di wajah mulus ayah Jackson dan Taehyung tersebut, Jongin sudah memeganginya dan menahan tubuhnya agar tidak menyentuh Chanyeol. Junmyeon pun berdiri di depan Chanyeol dan merentangkan kedua tangan untuk melindungi sahabatnya.

"LEPASKAN! BIAR KU HAJAR SI TIANG INI!" Sehun masih meronta. Kaki kirinya ia gerakkan ke depan beberapa kali mencoba menendang Junmyeon di hadapannya yang menutupi Chanyeol.

"TENANGLAH SEHUN!" Junmyeon membentak. Pria yang jarang marah itu kini membentak Sehun, suaranya menggelegar dan langsung membuat Sehun terdiam.

Luhan, sang istri hanya bisa berdiri tak jauh dari mereka dengan hati gundah, ia meraih Jihoon dan meletakkan kedua tangan di kedua bahu anak itu yang kini menatapnya cemas.

Sehun mendecih.

Chanyeol yang merasa bahwa Sehun sudah bisa diajak bicara secara serius pun maju perlahan untuk mendekati sahabatnya tersebut. Ia menggeser Junmyeon pelan agar membuatkannya jalan.

"Sehun, jelaskan padaku. Kenapa kau jadi sebrengsek ini." Desisnya tajam dengan tatapan mata menusuk seolah Sehun telah melakukan sesuatu yang sangat fatal.

"KAU YANG BRENGSEK!" Balas Sehun membentak.

"Sehun!" Kali ini Jongin ambil suara untuk memperingati sahabatnya tersebut. Ia tahu betul Chanyeol tidak akan bertindak tanpa alasan. Maka dari itu Junmyeon membelanya dan tetap membiarkan Chanyeol meneruskan bicaranya.

Chanyeol mendengus. "JELASKAN PADAKU SIAPA HAOWEN?! DIA ANAK IRENE KAN?! DIMANA OTAKMU TEGA BERBUAT SEPERTI ITU DI BELAKANG LUHAN SAMPAI PUNYA ANAK SEGALA!!"

Sehun tercekat, begitupun Luhan. "Siapa yang membuatmu bisa mengatakan hal itu padaku?" desis Sehun. Tatapannya berubah tajam dan siap menerkam Chanyeol.

Junmyeon dan Jongin tak jauh beda. "A—apa maksudmu Chanyeol?!" panik keduanya.

"Selama ini aku tidak pernah mendengar kabar Luhan mengandung anak kedua kalian. Dan tiba-tiba saja sudah ada Haowen yang kau akui bahwa itu adalah anakmu. Apa maksudmu?!" bentak Chanyeol yang kini tepat berjarak hanya beberapa centi meter di depan wajah Sehun yang menunduk seolah menyembunyikan sesuatu.

Junmyeon menoleh ke arah Luhan. "Apa itu benar Luhan? Apa Haowen bukan anak kandungmu?" tanyanya panik, kaget sekaligus histeris.

Luhan hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak melihat Junmyeon. Ia menggigit bibir bawahnya kencang dan tak tau harus mengatakan apa. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Junmyeon.

"Sehun, anak siapa Haowen sebenarnya?" Jongin yang masih memegangi Sehun agar tidak bergerak dengan bebas tak kalah panik.

"Anak Sehun dan Irene." Namun sebelum Sehun menggerakkan bibirnya menjawab, Chanyeol sudah menjawab pertanyaan Junmyeon dan juga Jongin. Membuat keduanya membelalak kaget. Sangat kaget.

"APA?!" Junmyeon, tak bisa ia pungkiri ia begitu terkejut atas apa yang didengarnya. Ia tidak menyangka bahwa Sehun adalah lelaki yang sungguh sangat tega terhadap istrinya sendiri.

"Dimana otakmu Sehun?" Kali ini Jongin berkata lirih dengan kekecewaan berat yang menyesakkannya. Ia tidak menyangka sahabatnya akan berbuat hal semengerikan itu.

Orang-orang tersebut terdiam satu sama lain tanpa ada yang berani mengeluarkan suara termasuk sang empunya rumah. Kesunyian itu terpecah dengan celetukan Jackson, anak bungsu Chanyeol.

"Kita harus segera mencari kakak dan Baejin. Mereka dalam bahaya pih."

Brak!

Pintu depan terbuka lebar, menampakkan dua sosok agen Mertubuh tinggi, agen K2 dan agen M yang tiba-tiba saja masuk tanpa izin ke rumah Chanyeol.

"Siapa kalian?!" Seru sang pemilik karena rumahnya telah dimasuki dua orang asing secara ilegal.

"Tenanglah pih, mereka di pihak kita." Jawab anaknya. Membuat Chanyeol bernafas lega dan mengikuti alur permainan memusingkan yang sedang terjadi di hidupnya sekarang.

Luhan, Junmyeon, Jongin dan juga Sehun menoleh ke arah dua agen yang sudah masuk tersebut.

"Ka—kalian?" Sehun terbata.

"Oh Sehun. Kau harus ikut kami sekarang."

"DIMANA ADIKKU DASAR WANITA JELEK!" Seru Baejin tak bisa menahan amarahnya ketika melihat Irene. Sosok yang telah membuat adiknya kabur dari rumah, membuat kedua orang tuanya bertengkar dan sempat merenggut kebahagiaan ayahnya dulu.

"Adikmu? Mungkin yang kau maksud adalah anakku." Ucap Irene dengan senyuman licik yang terukir dari bibir merahnya.

Baejin mendecih. Ia benar-benar tidak tau apa yang dibicarakan wanita itu. "DIMANA HAOWEN DASAR SIALAN!"

Irene mendesis menyuruhnya diam. "Ssssh.. kalau ngomong sama orang tua yang sopan Jinyoung, apa ibumu tidak pernah mengajarimu? Oh aku lupa. Ibumu orang bodoh dan tidak bisa diandalkan sama seperti ayahmu. Makanya anaknya seperti ini."

"Diam kau nenek-nenek." Sambung Taehyung yang sedari tadi sudah sangat ingin menampar wajah wanita itu. Ia mengumpat dalam hati bahwa penampilan sexy Irene malah menambah kesan menjijikkan ketika memandangnya.

"Aduh anaknya Baekhyun dan Chanyeol yang bahkan lebih bodoh dari adiknya sendiri." Cibir Irene pada anak berumur 15 tahun tersebut.

"FUCK! JANGAN PERNAH BANDING-BANDINGKAN AKU DENGAN ADIKKU DASAR JALANG!" Teriak Taehyung.

Taehyung selama ini memang menyimpan perasaan iri dan cemburu pada Jackson adiknya. Orang tua mereka lebih menghabiskan perhatian untuk Jackson karena kemampuan otaknya.

Ia merasa jauh tertinggal di belakang dan tentu saja akan sangat marah dan merasa terhina ketika ada orang yang membanding-bandingkannya dengan Jackson.

"Kalian tau kenapa kalian ada disini?" tanya Irene seraya mondar-mandir di depan sel keduanya. "Kalian akan menemui kematian kalian sebentar lagi." Ucapnya lagi dan pergi berlalu begitu saja.

Sosok Irene tergantikan dengan seorang perempuan berwajah keras dan berambut hitam panjang yang sepertinya dia adalah anak buah wanita licik tersebut.

Lantai yang mereka duduki bergoyang tiba-tiba saja seolah ada gempa.

"Salam kenal anak-anak nakal. Aku agen L." Sapa wanita yang berpakaian lengkap dengan peralatan agen.

"Ucapkan kata-kata terakhir padaku. Jika orang tua kalian datang dan menemukan mayat kalian, aku bisa mengatakannya dengan perasaan berduka sedalam-dalamnya." Tutur agen L yang kini berjalan ke tiang yang ada diantara sel Taehyung dan Baejin.

Taehyung dan Baejin diam kehabisan kata-kata. Ucapan Irene tidak main-main. Karena takut, mereka menunduk mengalihkan pandangan dari wanita itu. Taehyung berfikir keras mencoba mencari jalan keluar untuk melarikan diri tapi yang ditemukannya hanya kebuntuan. Ia tidak menemukan jalan keluar. Rasanya ingin menangis namun menangis bukan jalan keluar.

"Katakan pada papih dan mamihku, kalau aku benci mereka yang suka membandingkanku dengan Jackson." Taehyung menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Matanya berkaca-kaca karena air matanya yang mendesaknya.

"Tae hyung!" Peringat Baejin yang menyadari bahwa Taehyung, sosok seangkuh itu sudah menyerah sebelum bertarung.

"Baiklah Park. Kalau kau Oh?" Agen L beralih pada sel Baejin.

Lelaki yang baru saja menginjak umur 13 tahun itu menggigit bibir bawahnya kencang. Ia ingin menangis namun air matanya tidak keluar karena begitu ketakutan.

Ia bertekad kuat bahwa laki-laki tidak pernah menunjukkan kelemahan mereka di depan perempuan, seperti apa yang selama ini ayahnya katakan.

"A—aku.." Baejin berfikir.

Ia baru pertama kali merasakan kebebasan dan pergi tanpa kedua orang tuanya ke dunia luar.

Hubungannya dengan ayahnya masih dibilang renggang dan belum ada kesempatan untuk merekatkannya lagi.

Ia menyesal mengatakan bahwa ia sangat membenci ayahnya sendiri dimana perasaan itu adalah salah.

Ia belum melihat wajah Haowen untuk yang terakhir kalinya.

Dan sekarang ia harus bertemu kematiannya?

"Katakan pada ayahku, aku sangat menyayanginya.. aku menyesal selama ini selalu menolak kasih sayangnya.. aku hanya ingin dia berada di sampingku dan melihatku tumbuh.. aku ingin ayah tahu bahwa dia adalah pahlawanku.. penyelamat hidupku.. katakan padanya aku minta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam." Baejin menatap agen L tanpa gentar.

"Pesan diterima." Jawab Agen L yang langsung memencet tombol merah besar yang ada di tiang tadi.

Kret!

Tembok di belakang Taehyung dan Baejin kini terbuka. Ketika mereka menoleh ke belakang, yang ada hanya laut biru menanti mereka jatuh ke bawah.

Keduanya berada di atas kapal besar yang baru saja berlayar.

Detik berikutnya, Baejin dan Taehyung jatuh ke dalam samudera. Tidak bisa bergerak untuk berenang ke permukaan karena kaki tangan mereka yang terikat.

Nafas mereka tercekat karena jika mereka menghirup, yang ada hanyalah paru-paru mereka akan terisi air dan kemudian mati.

Kepala Baejin serasa mau pecah. Ia sangat membutuhkan oksigen. Ia tidak bisa melihat dengan jelas keberadaan Taehyung yang ikut tenggelam bersamanya.

'Ayah.. aku tidak mau mati seperti ini..'

x

o

x

o

review? yang banyak yahhh ehehe this story is gonna be over soon