Taomio Present ...

~ Freaky Love ~

.

.

.

.

HunTao

Oh Sehun – Huang Zitao

GS

Inspired by Kana Nishino songs

(Sequel 'Instruction Manual')

DLDR

Happy Reading!

.

.

.

.

Chapter 2 : Never Know

Inspired by Kana Nishino Songs 'Never Know'

.

.

.

.

~ Freaky Love ~

.

.

.

.

~Ku tak'kan pernah tahu. Sayang, aku tak'kan pernah tahu. Kau tak'kan pernah tahu. Sayang, kau tak'kan pernah tahu. Jadi katakan padaku, katakan padaku apa yang kau mau?~

.

.

Lagi...lagi...lagi...

Dan untuk kesekian kalinya lagi...Pacarnya itu merajuk padanya tanpa alasan yang kuat!

Ia hembuskan nafas kesal sambil menatap ponselnya yang mati dalam genggamannya, kemudian melirik sekilas pada jendela kamarnya yang berembun akibat hujan sepanjang siang ini. Awan kelabu masih betah untuk menutupi kotanya hingga ia berdecak sebal dan diakhiri dengan menggaruk kasar rambutnya frustasi.

Sehun menyambar jaket dan kunci motornya yang tergeletak di meja belajar. Mendesis pelan sambil memakai jaketnya, "Kau tak memberiku pilihan lagi. Sialan."

Berjalan tergesa – gesa keluar rumah hingga membuat ibunya menaikkan salah satu alisnya. "Hujan akan turun lagi. Kau mau kemana?"

"Aku pergi sebentar bu. Jangan khawatirkan aku." Sehun berikan senyuman terbaiknya agar ibunya tak bertanya lebih lagi.

"Aku pergi."

Sialan! Gadis bernama Huang Zitao selalu tahu cara membuatnya untuk hidup tidak tenang di dunia ini. Di jalanan sebasah ini ia bahkan berani mengendarai motornya dengan kecepatan penuh tak memikirkan jalanan yang menjadi licin karena air hujan.

Rumah minimalis bergaya klasik itu terlihat masih tetap berdiri kokoh walaupun dihimpit dua rumah besar yang menjulang tinggi disampingnya. Ia berdecak sebal sambil melirik rumah itu dengan tatapan iritasi, "Yang benar saja? Aku pasti benar – benar sudah gila." Untuk kesekian kalinya, ia tak bisa menghitung sudah berapa kali ia mempertanyakan kewarasannya dalam satu hari ini.

Melepas helm yang entah kenapa terasa begitu sesak, Sehun mencoba mengambil nafas dalam sebelum masuk ke halaman rumah. Merapalkan doa serta mantera selama kakinya melangkah. Ia meneguk air ludahnya sendiri, ia pasti benar – benar sudah kehilangan kewarasannya setelah berpacaran dengan anak pemilik rumah ini. Bagaimana tidak? Ia terus saja melakukan hal – hal tidak waras selama menjalin hubungan dengan gadis itu. Ia tidak pernah melakukannya sebelumnya, sama sekali belum! Karena menurutnya hal gila itu tidak keren sama sekali. Tapi gadis itu dengan berani menuntut dan mengubahnya tanpa ia sadari sebelumnya. Dan bahkan berita buruknya, ia sekarang seringkali takut dengan gadis bermata panda itu. Sama sekali tidak keren! Memangnya dari segi mana ia harus takut dengan Zitao?

Ini adalah hari peradilan, maka ia harus melakukannya. Hidup atau mati.

Ia menekan bel, berharap hakim bisa muncul cepat dan memberikan keputusan walaupun dirinya sebenarnya tidak begitu siap.

"Siapa?" suara anak kecil terdengar dari interkom dan membuatnya sedikit lega, ia tersenyum pada kamera interkom dan memperkenalkan dirinya. "Temannya Zitao. Apa kakakmu dirumah?"

Setelah itu ia mendengar suara tidak jelas, namun samar – samar ia bisa menangkap bahwa anak lelaki itu tengah memanggil kakaknya dengan suara cempreng melengking khas anak kecil.

Ia menanti dengan sabar, walaupun sebenarnya dalam hatinya terjadi kepanikan luar biasa. Ia kacau. Pertama, tiba – tiba saja di sabtu siang yang berair dan dingin karena hujan, pacarnya itu menelponnya dan mengatakan bahwa ia tidak boleh menghubunginya lagi. Mempertanyakan pernyataan itu, Sehun berhasil mendapatkan suara operator yang menjawabnya. Menghubungi kembali, gadis itu keukeuh untuk tidak mengangkat panggilannya dan bahkan dengan beraninya menekan tombol merah pada ponselnya. Apakah sekarang Sehun bisa untuk tenang menanggapinya? Tidak! Ia butuh jawaban atas rajukan yang tidak jelas oleh gadis itu. Memangnya ia melakukan kesalahan apa lagi? Kemarin masih baik – baik saja, masih bergandengan tangan bahkan Sehun juga masih sempat mencium bibir tipis milik gadis itu sepulang sekolah. Apakah ada seseorang yang bisa memberi tahunya tentang kesalahannya? Adakah yang bisa?!

"Siapa?"

Pikirannya buyar, dengan tergesa – gesa ia segera menatap kamera sambil memasang wajah menuntut. "Apa salahku? Katakan padaku."

"Kata sandi?"

"Apa?!" bingung mulai menyeruak dalam pikirannya setelah mendengar kata – kata Zitao. Ini terlalu rancu!

"Kata sandi?" suara datar itu kembali keluar.

"Tunggu. Apa maksudmu?"

"Maaf. Kata sandi Anda salah."

"Kau gila ya? Mana kutahu?!"

"Kata sandi salah."

"Jangan bermain denganku Huang Zitao."

"Maaf, kata sandi Anda salah. Mohon ulangi lagi."

Sehun memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya, mencoba berpikir dan menenangkan diri.

"251993."

"Password incorect."

Bukan hari lahir. Nama panggilan?

"Panda?"

"Password salah."

Bagaimana ada wanita serumit ini? Ah semua wanita memang rumit sekali.

"123456?"

"Salah."

Aktor kesukaannya?

"Edison Chen?"

"Salah."

"Yak! Berhenti bermain – main! Katakan padaku bagaimana aku bisa tahu kalau kau saja tidak memberikan aku klu?!" emosinya sudah sampai ubun – ubun. Pacarnya ini benar – benar keterlaluan sekali!

"Tiga huruf."

Sehun terdiam berpikir, tiga huruf yang berkaitan dengan Zitao...

"Haeng-bok-hae. (Bahagia)"

"Ania."

"Ye-ppo-yo. (Cantik)"

"Ania."

"Sa-rang-hae."

Gadis itu terdiam sebentar, dan menghela nafas hingga terdengar jelas oleh Sehun. "Yang gadis benar – benar inginkan."

"Ke-i-keu? (Kue)"

"Kkot-pi-da? (Bunga mekar)"

"Mi-yong-sil? (Salon kecantikan)"

"Cheot-ki-seu? (Ciuman pertama)"

"De-i-teu? (Kencan)"

.

.

~Meski ini adalah kencan kita yang ketiga kalinya, namun mengapa tak sedikit pun terbersit di pikiranmu untuk melakukan tindakan yang berarti?~

.

.

"Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?" tanya Sehun tidak habis pikir.

Zitao berjalan di depan, mendahului Sehun sambil menjilati es krim vanila yang ada pada genggamannya. Sehun mengekor dari belakang sambil membawa satu balon berwarna kuning yang ia dapat dari bermain permainan menembak. Katakan saja, ia payah dalam menembak. Wajah tampan pun tak bisa menjamin kau bisa melakukan apapun atau mendapatkan apapun.

"Bisa kau jelaskan padaku?" tuntut Sehun sambil mengimbangi langkah gadis itu.

Zitao menatapnya santai, namun agak kesal juga, "Seharusnya kau tahu apa yang aku inginkan." Jari telunjuk lentik itu mendorong pelan dada bidangnya.

Sehun menggenggam jari telunjuk itu kemudian mengangkatnya di depan wajahnya serta wajah si pemilik jari telunjuk tersebut dengan gemas. "Untuk informasi saja, aku tidak bisa membaca pikiran."

"Seseorang tidak akan tahu jika tidak diberi tahu." Lanjutnya lagi mencoba menjelaskan dan membela diri. Sesuatu perlu diluruskan dan dijelaskan tentunya pada kekasihnya ini.

"Kau bisa mencari!" sanggah Zitao sambil menarik tangannya.

"Kau tidak bisa mencari sesuatu tanpa sumber." Sehun sedikit meninggikan suaranya. Ia kesal, dan gadis itu mulai menampakkan sifat kekanakannya lagi. Gadis itu pasti tidak akan mengalah apapun alasannya. Lihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Sekarang marah pun ia tak berani.

"A-aku minta maaf." Ia mengalah, ia baru berbaikan dengan Zitao dan ia sudah lelah jika harus merayu, mengemis maaf, dan menebak-nebak pikiran 'MAHA AJAIB' milik gadis itu lagi.

"Kau lupa hari pertama kita!" Tao melemparkan es krim yang ada pada genggamannya tepat ke dada bidang Sehun.

"Huh? Apa maksudmu?" Sehun kaget dengan es krim yang mendarat padanya dan tidak mengerti arah pembicaraan kekasihnya ini.

"Aku memberikanmu buku!" matanya berkilat marah menatapnya.

Sial! Sekarang ia tahu apa yang dimaksudkan oleh Zitao. Makian kasar berkumpul dalam otaknya.

Sehun mencoba menggenggam tangan gadis itu, namun sang empunya menolak dengan menyembunyikannya di belakang punggung serapat mungkin.

"Iya. Maaf. Aku minta maaf. Aku memang bersalah disini. Maaf melupakannya. Ingatanku tidak begitu baik, kau tahu itu."

"Bohong!"

"Aku minta maaf. Tapi tidak ada manusia yang dapat mengingat semua yang ada dihidupnya dengan sedetail mungkin."

"Kau melupakannya karena itu tidak penting kan menurutmu?!"

Matanya terpejam kesal. Sial! Sial! Sial!

"Bukan seperti itu maksudku Zi. Kau penting bagiku. Kau seharusnya lebih tahu itu."

"Aku tidak tahu! Jangan bicara denganku! Aku membencimu!" Tao mendorongnya marah, kemudian berlari meninggalkannya. Ia mencoba memanggilnya beberapa kali, namun kekasihnya yang kekerasan kepalanya sudah seperti bebatuan luar angkasa itu tetap tidak mengindahkannya sama sekali.

Ia menggeram kesal sambil memejamkan matanya, kemudian merapalkan kata-kata makian. Sudah berapa kali kencannya berakhir seperti ini? Semua! Semua kencannya berakhir dengan drama-drama melankolis dan penuh konflik seperti ini! Asal kalian tahu saja, di setiap kencannya Sehun selalu saja dicap sebagai tersangka pembuat keretakan hubungan mereka. Ia tidak yakin ada kenangan indah tentang kencan mereka, semuanya selalu berakhir seperti ini dan juga bahkan tidak ada hadiah kecupan ataupun gandengan tangan yang dapat bertahan lama. Bagaimana bisa ia menyukai seseorang yang kekanakan, susah sekali ditebak, diatur dan juga keras kepala seperti ini?! Kenapa ia menyukainya?

.

.

~Kau tak cukup berani? Atau kau berpura tidak peduli? Atau bahkan, di luar dugaan mungkin kau tak memikirkannya sama sekali.~

.

.

"Siapa laki-laki itu?" nada tidak bersahabat keluar.

Siapa yang tidak marah ketika melihat kekasihnya sedang bercengkrama riang gembira dengan seorang laki-laki yang dengan mudahnya meletakkan tangannya di atas pundak kekasihnya dan bahkan menyentuh rambut kekasihnya dan menepuk-nepuk kepala kekasihnya?!

"Itu penting?" tanya Tao dengan mata polosnya. Mata Sehun melebar kesal, tidak habis pikir dengan jalan pikir manusia satu ini. Ia menggigit pipinya kesal, benar-benar kesal namun ia tahan mengingat tadi malam ia baru saja berbaikan dengan kekasihnya ini dengan usaha yang sangat, sangat, sangat keras.

"Jawab saja." Setelah dapat mengontrol kekesalannya, ia mencoba menatap lembut Zitao.

Tao menutup novelnya, memandang sebentar kekasihnya dengan tampang polos. "Dia Johnny, hoobaeku dulu di Junior High School."

"Hoobae?!" Sehun terkejut tentu saja. "Dan dia berani bersikap tidak sopan seperti itu?!"

"Huh?" Zitao mengerutkan dahinya hingga kedua alisnya hampir saling menyentuh. "Memangnya di bagian mana dia tidak bersikap tidak sopan? Kami hanya berbicara." Tanyanya bingung.

Sehun menatap tidak habis pikir pada Tao. "Kau sedang berpura-pura atau benar-benar tidak tahu?"

"Tidak tahu." Jawab gadis itu santai sambil kembali fokus dengan ramennya.

"Demi Tuhan, Zi! Dia menyentuhmu!"

Tatapan Tao heran dan bingung mendengarnya. "Tapi Johnny hanya~"

"Hanya?! Dia merangkul pundakmu dan menepuk-nepuk kepalamu!" emosi Sehun membuncah memikirkannya.

"Kenapa kau kekanakan sekali?" tanya Tao sambil meletakkan sumpitnya.

Sehun hembuskan nafas berat. "Haruskah aku memberitahumu?" tanya pemuda itu dengan ekspresi yang sudah sangat berantakan.

Gadis itu menatapnya masih dengan ekspresi yang tanpa dosa sama sekali, membuat perasaan Sehun semakin membuncah.

"Aku cemburu Zi!"

Dan Zitao terdiam menatap pemuda yang sudah ia kencani beberapa bulan itu.

.

.

~Mengapa? Kita ini sama-sama manusia, namun mengapa? Isi kepalamu itu penuh dengan teka-teki.~

.

.

Sehun salah besar!

Ini tidak seperti yang ia pikirkan!

Gadis itu benar-benar bukan manusia!

Seharusnya manusia akan merasa bersalah dan gelisah ketika seseorang yang dekat dengannya mulai berhenti menghubunginya selama seminggu penuh!

Ia heran sekali. Kekasihnya itu termasuk makhluk hidup di planet bernama bumi ini atau tidak? Mungkin saja selama ini ia mengencani makhluk luar angkasa? Tidak ada yang bisa ditebak dari pikiran kekasihnya. Bagaimana kekasihnya tenang-tenang saja selama seminggu penuh tanpa memikirkan dirinya yang adalah kataya pacarnya?! Apa dia benar-benar manusia? Mengirim pesan saja tidak, apalagi menelpon. Dan hebatnya lagi! Ketika mereka bertemu kembali, Sehun sengaja untuk tidak menghindari kekasihnya lagi, gadis itu bertanya "Apa yang kau lakukan disini?" dengan polosnya?!

Sehun bisa gila!

"Seminggu kita tidak bertemu dan tidak berkomunikasi, kau malah bertanya seperti itu?!"

"Ada yang salah dengan pertanyaanku? Aku kan heran." Ya Ampun, selama seminggu ini sebenarnya kekasihnya ini hidup atau tidak? Dia berkata seperti tidak terjadi apapun diantara mereka selama seminggu ini. Padahal pertemuan terakhir mereka diwarnai dengan kemarahan. Apa dia berpacaran dengan makhluk hidup yang tak berperasaan?

"Aku tidak menghubungimu selama seminggu!"

Dan gadis itu kaget! "Oh benar. Memangnya kenapa? Pantas saja ponselku jarang berbunyi sekarang."

Rasanya kepalanya ingin pecah! Dia benar-benar tidak menyadarinya atau pura-pura kaget?!

"Apa kau ini manusia?!"

Gadis itu berdecak lucu, kemudian memeluknya "Tuan Oh, mari makan dan pulang bersama dengan Nona Huang."

Bukannya seharusnya gadis itu mengatakan maaf terlebih dahulu?

.

.

~Mengapa? Meski kita sudah saling berpandangan, tak'kan ada satu pun hal dari benak kita

yang akan tertulis di wajah kita. Kau juga pasti tak tahu, kan? Bahwa sebenarnya, aku sedikit berharap.~

.

.

Ia sudah tidak tahu lagi. Mantra apa yang sudah Zitao berikan padanya. Bagaimana ia selalu berakhir dengan mengiyakan semua permintaan gadis itu. Bagaimana ia selalu luluh akan rayuan lucu dan aneh milik gadis itu. Mantranya benar-benar bekerja dengan baik. Gadis itu pasti senang sekali.

"Kau tidak memakannya?"

Dan tangan gadis itu sudah meraih mangkuk ramennya tanpa menunggu jawabannya!

"Aku bahkan belum menjawab!" seru Sehun sedikit tidak terima.

"Aku tidak butuh jawabanmu. Aku kan cuma ingin mencicipinya saja." tangan mungil itu dengan lihai memutar mi ramen miliknya dengan sumpit dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Sehun melihat bibir tipis Zitao yang basah karena kuah ramen, kemudian mendecih tak habis pikir.

"Kita pesan ramen dengan rasa yang sama, Zi."

"Aku tahu." Gadis itu kembali makan ramennya dengan lahap. "Kau tidak tahu ya pepatah yang mengatakan rumput tetangga terlihat lebih baik?" ujarnya dengan mi yang penuh didalam mulutnya, berusaha mengunyah mereka sekaligus.

"Ayo bertukar ramen. Kau makan punyaku dan aku makan punyamu."

Mangkuk ramen milik Zitao sudah berada didepannya secepat gadis itu mengatakannya. Dan Sehun terkekeh pelan.

"Punyamu bahkan sudah hampir habis. Bukankah ini tidak adil?"

"Tidak. Ini adil sekali." Zitao menatapnya sebentar. "Ini setimpal karena kau seminggu tidak menghubungiku." Ujar gadis itu dengan kembali melanjutkan kegiatan makannya.

Ah gadis itu memikirkannya!

Tidak ada alasan lagi untuk melanjutkan acara merajuk ini. Setidaknya ia tahu kekasihnya ini tidak seapatis yang ia pikirkan.

Akhirnya mereka berdua selesai makan. Acara selanjutnya adalah mengantar nona Huang pulang. Walaupun rumah mereka berlawanan arah dan hari ini ia secara kebetulan tidak membawa motor dikarenakan motor kesayangannya menginap di dalam bengkel, namun Sehun masih membulatkan tekad untuk melaksanakan acara ini.

Selama seminggu penuh tanpa gadis itu, jujur Sehun merasa gelisah dan hampa. Walaupun hari mereka dipenuhi dengan intrik polemik tak berkesudahan, tapi setidaknya ada saatnya gadis itu membuatnya bahagia dengan segala sikap anehnya. Ia rasa ia mulai terbiasa dengan semua ini. Ia tidak bisa membohongi dirinya kalau ia rindu sekali dengan kekasihnya itu. Jadi ia tak akan melewatkan kesempatan ini. Karena mungkin saja setelah ini mereka akan kembali bertengkar lagi seperti biasanya.

Sepanjang perjalanan gadis itu bercerita tentang kucingnya yang hamil dengan kucing liar. Katanya ia tidak terima, ia tidak suka. Dia bilang kucing liar itu langsung meninggalkan kucingnya. Hei! Memangnya masalah ini sampai bisa membuatnya mati?! Bukankah itu hal yang wajar untuk kucing? Kenapa dia tidak bercerita tentang hubungan mereka saja?! Bagaimana seminggu ini tanpa ada kabar darinya sama sekali? Atau bagaimana perasaannya? Bukankah itu lebih penting dari topik kucing rumah yang dicampakkan oleh kucing liar?!

Tapi Sehun memutuskan diam. Menyimpan semua pemikirannya dalam otaknya sendiri, menguncinya rapat-rapat. Ia tidak ingin semakin menambah kepelikan hubungan mereka berdua. Ia sudah lelah jika harus kembali bertengkar lagi dengan Tao. Gadis itu pasti akan menang walaupun alasannya sangat tidak jelas.

"Kau bisa bayangkan kan?"

Ia hembuskan nafas dalam sepelan mungkin. "Tentu. Itu buruk sekali." Jawabnya, memaksa dirinya untuk tertarik dengan topik ini.

"Tapi aku tidak berniat membuang mereka jika nanti sudah lahir. Mereka akan sangat sedih jika berpisah dengan ibunya."

"Tentu. Itu pilihan yang bijak."

"Itu benar kan?" nada pertanyaan bangga keluar dari mulut kecil itu. "Oh, sudah sampai!" ia menjerit kecil saat melihat gerbang rumahnya.

"Kau bisa pulang sekarang." ujar gadis itu saat membuka gerbang rumahnya.

Setidaknya bukankah dia harus mengucapkan terima kasih atau menawarinya untuk mampir terlebih dahulu untuk minum teh atau kopi?

"Kenapa? Ada sesuatu yang menganggumu?"

Itu Kau! Bagaimana dia tidak bisa mengartikan sikapnya ini? Kalau dia diam didepan rumahmu seperti ini artinya ia ingin kau menawarinya masuk ke dalam rumah?! Sehun tidak habis pikir bagaimana ia bisa tergila-gila dengan gadis ini.

"Tidak, aku akan pulang sekarang."

Sehun merutuki dirinya yang tidak bisa jujur dengan perasaannya pada Tao.

"Hati-hati di jalan."

Dia langsung masuk begitu saja setelah mengatakannya?!

Tidak ada ucapan terima kasih atau ciuman selamat tinggal?!

.

.

~Seperti biasa, tak ada satu pun balasan dari pesan yang kukirimkan padamu. Atas dasar alasan apa, sampai kau tak punya waktu untuk membacanya? Apakah kau benar-benar sibuk? Ataukah kau sudah tidur? Atau mungkin, kau hanya membaca sekilas satu dua baris saja?~

.

.

Sehun mendesah di atas tempat tidurnya. Menatap langit-langit kamarnya yang dipoles dengan cat berwarna cokelat muda.

Dia berpacaran tapi rasanya tidak berpacaran. Apa gadis itu sedang main tarik ulur? Itu aneh sekali, mereka sudah berpacaran dan gadis itu tida bisa melakukan permainan tarik ulur seperti ini dengannya. Mereka sudah official. Dan permainan itu bukannya untuk pasangan-pasangan yang masih dalam tahap pendekatan? Ataukah dia yang salh mengartikan? Ataukah itu memang sifat Zitao sesungguhnya? Ataukah dia tidak pernah memikirkannya?

Mengucapkan selamat malam atau mimpi indah saja gadis itu jarang sekali melakukannya. Membalas pesannya saja tidak. Menelpon apalagi!

Apa gadis itu memang manusia? Jika gadis itu sudah bosan padanya, katakan saja. Jika gadis itu ingin berpisah bilang saja. Ia memang belum siap. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada dalam belenggu permainan gadis itu yang tidak berkesudahan. Dia butuh perhatian!

Sehun tahu, Zitao adalah gadis aneh. Bahkan semua temannya sudah berulang kali mengatakan fakta itu padanya tanpa bosan.

Gadis itu masih belum membalas pesannya. Tanda sudah dibaca tidak tertera disana. Ia ragu apakah gadis itu benar-benar belum membaca atau tidak. Karena bisa saja gadis itu mematikan tandanya.

Kalau begini terus, ia bisa saja memilih pergi dan berhenti. Tidak ada laki-laki yang mau digantung seperti ini setiap harinya!

.

.

~Mengapa? Kita ini sama-sama manusia, namun mengapa? Kau ingin lari saat aku mengejarmu? Mengapa? Tak ada satu pun dari perasaanmu tercantum dalam buku best seller "Aturan dalam Pacaran".~

.

.

"Kau membaca buku itu?" Kai menatap heran.

"Aku hanya iseng membacanya." Sehun menutup buku yang ia pegang sambil tersenyum santai.

"Tidak mudah ya menjalin hubungan dengan Tao?"

Ia tersenyum masam mendapati temannya bisa menebak tepat situasinya sekarang.

"Hari ini kulihat dia mencoba menghindarimu lagi. Kalian bertengkar?"

Sehun mendengus keras. "Tidak. Kami tidak bertengkar. Dan dia selalu seperti itu? Tiba-tiba menghindar, tiba-tiba marah, tiba-tiba datang, dan kadang tiba-tiba memberikan cinta tanpa henti. Apa kau bisa menyimpulkan masalah ini?"

"Apa semua wanita seperti ini?! Aku tahu wanita itu rumit, tapi yang ini rumit sekali dan berita buruknya aku cinta mati!"

"Bahkan buku ini tidak membantu sama sekali!"

"Aku ingin pergi, tapi aku tidak bisa pergi. Aku ingin berhenti dengan ini semua. Tapi aku benar-benar tidak bisa berhenti. Bagaimana menurutmu?"

Kai menepuk-nepuk bahunya menguatkan. "Semangat!"

.

.

~Kasih, aku tak'kan pernah tahu. Aku tak bisa memahamimu. Kau juga pasti tak tahu, kan? Aku merasa gelisah hingga tak bisa tidur. Kuingin menelponmu! Namun, aku merasa khawatir. Aku tak ingin kalah darimu~

.

.

Jika dia bisa bersikap seperti itu padanya. Maka ia juga bisa melakukan itu padanya. Baik. Mari kita lihat siapa yang akan bertahan? Walaupun ia sedikit ragu apakah ia akan menang.

Gadis itu tidak memberinya pilihan sama sekali. Ia akan menjadi apatis sekarang. Ia tak ingin kalah darinya.

Ia ingin mencoba jujur dan mengungkapkan segala rasa yang ia sembunyikan dalam hatinya. Kemungkinan besar dia akan membencinya setelah mengatakannya. Sehun tak ingin hal itu terjadi. Jadi dia terus menyembunyikannya, menutupnya rapat-rapat dan berharap gadis itu mengerti akan sikapnya.

.

.

~Kasih, aku tak'kan pernah tahu. Aku tak bisa memahamimu. Kau juga pasti tak tahu, kan? Sebenarnya, aku begitu menyukaimu hingga aku tak bisa berbuat apapun. Karena aku tak'kan pernah mengatakan hal itu, hanya kepadamu. Katakan padaku apa yang kau mau? Kau tak'kan pernah mengetahui rasa cintaku.~

.

.

Ada yang pengen jambak Tao? :V

Buka draft fanfic di notebook. Terus ketemu ama draft ini. Udah lama banget gue buatnya. Pas awal sik niatnya bukak draft lama buat nyari ilham nulis lanjutan ISICBP. Chapter menye-menye soalnya sik. Geregetan sendiri ama cerita gue sendiri anjay xD lol

Yang nunggu ISICBP tolong panjangin usus kalian yak. Chapter menye-menye tuh nguras pikiran, yakin dah :'3 apalagi kalau mood gue lagi bahagia. Gak bisa meresapi kesedihan dalam cerita kalo ati gue dugeman didalem. Kan gak sinkron xD /digampar/

Tapi gue bocorin yak, chapternya udah mau End. Gue mungkin bakal ngakhirin cerita itu dalam 2 atau 3 chapter lagi. Doa yang kenceng buat pair endingnya yak :'V

Buat cerita ini.. jujur ajah kasihan ama Sehun sik yak. Cuma selalu ada alesan kan yak kita ngelakuin sesuatu. Jadi.. tinggalin review ajah! /ditabok rame-rame/