A/N : Terima kasih untuk semua yang baca apalagi yang review. Untuk Kise dan senpai *blush sementara saya nggak bisa jawab karena nanti spoiler. Untuk Midotaka, uhuk kalau Takao langsung didorong ke kamar sama Midorima masih lama uhuk. My treat karena ini ultah saniwa, ada hint Akafuri XD
-,-
WARNING! Sho-ai, tidak mengandung EYD yang baik dan benar, maybe typo. OOC!
Sementara ini…
King of Spade : Akashi
Jack of Spade : Kuroko
King of Club : Murasakibara
King of Heart : Midorima
'Jack' Of Heart : Takao
o,o
"Oi Tetsu apa maksudnya ini?" teriak seorang pria berambut biru tua pada Tetsuya yang baru saja selesai mengirimkan undangan ke kerajaan yang lain. Lelaki berambut cyan itu menatap teman karibnya dan menghela nafas.
"Akashi-kun sudah menemukan Queen, bukankah kita harus berbagia?" tanyanya.
"Berbahagia?! Oi yang kita bicarakan itu Queen, Q-U-E-E-N!"
"Kamu tidak perlu mengeja Aomine-kun, nanti lidahmu tergigit," ujar Tetsuya yang sedikit khawatir akan temannya yang kesusahan menyebutkan huruf Q.
"Kenapa Queen kita bukan Mai-chan!" serunya histeris. "ukh, paling tidak aku sudah berharap kalau nanti kita akan punya queen minimal dadanya beukuran D, bukan AAA!" jeritnya.
"Aomine-kun itu semua hanya ada di dalam kepalamu. Lagipula Akashi-kun sama sekali tidak peduli pada ukuran dada," ucap lelaki berwajah datar itu.
"Paling tidak pedulilah pada jenis kelamin!" serunya.
"Memangnya Kingdom of Club punya Queen wanita?" tanya Tetsuya bosan karena temannya itu pasti bereaksi seperti ini tiap kerajaan lain memiliki Queen yang tidak sesuai dengan harapannya, model gravure yang dipanggilnya Mai-chan.
"Paling tidak lihat Himuro! Saat dia cosplay kamu akan melihat seorang oujo-sama, lihat Queen kita lihat!" histerisnya.
Tetsuya kembali menghela nafas, untung saja mereka sudah berteman lama. Kalau tidak dia pasti sudah menyumbal rapat-rapat mulut lelaki pecinta dada besar ini. "Aomine-kun, bagaimana kamu tahu wajah Queen of Spade. Bukannya beliau masih istirahat karena tanpa sadar menyerap energy negatif dari King?" tanyanya.
"Aku masuk lewat jendela," jawabnya ringan seolah-oleh sudah seharusnya Jack tahu tentang hal itu. Tetsuya benar-benar ingin melakukan facepalm saat ini. Karena Aomine yang seperti inilah King melarang lelaki ini memasuki ruangan tempat Queen beristirahat. Siapa sangka makhluk ini belajar ilmu pendakian gunung demi naik tembok. Sepertinya Tetsuya harus mempererat penjagaan pada kamar mandi wanita karena mahkluk yang kini disesalinya dianggap sebagai teman.
"Lalu, kenapa kamu datang kemari?" tanya Tetsuya yang sudah pasrah punya teman mesum seperti ini.
"Ah, tugasku di pintu gerbang sudah selesai. Ngomong-ngomong kenapa Akashi berada di gerbang masuk kerajaan?" tanyanya pada sang Jack.
"Kamu tahu kasus yang sedang kita hadapi?"
"Penyelundupan senjata api," jawab Aomine sambil mengangguk.
"King curiga ada campur tangan petugas sehingga kami pergi kesana. Sementara King mencari tahu dari luar aku diam-diam mencari dari dalam." Aomine mengangguk, itu sebabnya dia sebagai salah satu komandan pasukkan pelindung raja tiba-tiba ditempatkan di gerbang kota. "paling tidak, sekarang Queen sudah ditemukan. Jadi King tidak akan terkena dampak negatif kekuatan King."
"Tapi apa Chihuahua itu sanggup menjadi Queen?" tanya lelaki berkulit coklat itu acuh. "semakin kacau sebuah kota semakin banyak energi negatif yang akan diterima oleh King sehingga King harus mentransfernya pada Queen, kemudian Queen bisa menetralisirnya. Tapi Queen kita tumbang setelah hanya beberapa saat memegang tangan Akashi," jelasnya.
"Aku yakin King sudah menyadari hal tersebut. Itu sebabnya King memintaku mencari tahu mengenai Queen. Kalau kita sudah mendapatkan persetujuan dari King of Club, aku akan memulainya," ujar sang Jack.
"Sepertinya aku harus menjadi bayangan Jack lagi," ucap Aomine sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kuroko memang sudah terpilih menjadi Jack sejak berusia 12 tahun, namun Aomine sebagai the best knight menjadi bayangan Jack selama lelaki berambut cyan itu melakukan misi rahasia yang ditugaskan King of Spade padanya.
"Aomine-kun sebenarnya aku ingin bertanya satu hal dari tadi," ujar Kuroko dengan wajah datar.
"Apa?" tanya lelaki berkulit coklat itu.
"Kalau kamu pergi diam-diam ke kamar Queen, lalu tas perlengkapanmu dimana?"
"Ah!"
O,o
Kouki melihat ruangan tempat dia baru saja terbangun. Keringat dingin keluar tiba-tiba dari tubuhnya. 'Aku ada dimana?' jeritnya dalam hati. Dia terbangun di tempat tidur queen size yang berkanopi, ruangan yang sepertinya bakal memuat seluruh isi rumah barunya, dan mengenakan baju super lembut yang pernah dikenakannya.
Tunggu, baju super lembut? 'Dimana bajunya?!' histerisnya. Dia mencari dengan panik sesuatu yang mungkin saja terlihat seperti pakaiannya namun tak juga ditemukannya. Pikiran lelaki berambut coklat itu berkecamuk. Dengan segera dia menepiskan selimut yang menutupi tubuhnya dan berniat pergi sebelum tiba-tiba tubuhnya terjebam ke lantai.
Sambil mengaduh karena wajahnya yang tiba terlebih dulu ke lantai, dia melihat ke arah benda yang menyebabkannya jatuh itu. Sebuah tas terongok disana yang menyebabkan Kouki semakin kebingungan karena tidak merasa mempunyai tas tersebut. "Apa aku boleh membukanya?" gumamnya pada diri sendiri sebelum menggelengkan kepala. "Tidak! Ini barang orang lain, aku tidak boleh membukanya! Tapi…" matanya mulai mencari dengan teliti seluruh ruangan. "barangku ada dimana?" tanyanya pada diri sendiri.
Dia menatap tiga buah pintu yang ada disana. 'Seharusnya aku bisa keluar lewat salah satu pintu itu,' yakinnya. "Tapi pintu mana yang menuju ke jalan keluar?" bingungnya karena ada satu pintu di kanan kiri dan depan tempat tidur yang tadi di tempatinya. Tiba-tiba dia ingat wewejangan salah satu perempuan yang dihormatinya.
"Dengar ya Furihata, dalam keadaan panik seseorang biasanya memilih kiri, jadi kalau ada pilihan kanan atau kiri, pilih kanan!"
Kouki mengangguk dengan mantap, dengan penuh kepastian dia membuka pintu sebelah kanan ruangannya dengan terbuka dengan mulusnya. Kouki yakin, ini adalah pintu keluar! Sampai…
"Akhirnya kamu bangun," lega sebuah suara yang keluar dari lelaki berambut merah di depannya. Kouki mencoba melehan ludah karena tiba-tiba merasakan mulutnya kering.
Di depan matanya berdiri seorang lelaki bermata heterochromatic di sebuah ruangan yang mirip dengan ruangan tempat dia terbangun. Hanya saja dia bisa merasakan kesan maskulin bukan lembut seperti baju kalau Kouki tidak bisa menyebutnya gaun tidur yang dikenakannya. Lelaki di depannya itu tiba-tiba menyunggingkan senyum yang langsung membuat perutnya tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Apa dia ingin ke kamar mandi? Sepertinya bukan.
Lelaki yang bertelanjang dada itu… Tunggu! Bertelanjang dada?! Tiba-tiba wajah Kouki tiba-tiba memerah, kakinya langsung terasa lemas sehingga lelaki yang sepertinya pernah dilihatnya sebelumnya itu berlari ke arahnya dan langsung memeluknya.
"Ah!" Keduanya terdiam. Kouki ingin mengubur diri. Kenapa dia bersuara aneh seperti itu?
"Sepertinya kamu masih belum sehat, aku akan membawamu kembali ke kamarmu," ujarnya yang langsung menggendongnya ala putri, yang kembali membuat Kouki berdesah. Kali ini keduanya mematung.
'Aku ingin matiiii!' jerit Kouki yang berusaha menutupi wajahnya yang super duper merah dengan kedua tangannya. "Ah!" jerit Kouki lagi saat tiba-tiba dia dipeluk semakin erat sehingga dia harus memeluk leher lelaki tersebut sehingga menyebabkannya memandang dada milik lelaki itu.
"Kamu… siapa namamu?" tanya lelaki itu yang langsung membuat Kouki memandangnya. Saat mata mereka bertatapan tiba-tiba perutnya kembali merasa aneh.
"Fu… Furihata Kou.. Kouki," jawabnya dengan terbata-bata. Entah kenapa Kouki tidak bisa melepaskan pandangannya dari sepasang bola mata indah itu.
"Kouki," panggilnya yang langsung membuat lelaki yang dipeluknya itu semakin memerah. "Mulai hari ini, kamu adalah milikku!"
"Eh?"
