A/N : Entah kenapa setelah posting Kise, Takao ngintip dibalik Furihata yang gemetaran. Next time Akafuri!

WARNING! Sho-ai, EYD ngaco, maybe typo, OOC!

-,-

Sementara ini…. ROLE only~

King of Spade: Akashi

Queen of Spade: Furihata

Jack of Spade: Kuroko

King of Club: Murasakibara

Queen of Club: Himuro

Jack of Club: Kagami

King of Heart: Midorima

'Jack' of Heart: Takao

Ace : ?

-,-

Midorima mengerutkan dahinya begitu sadar apa yang terjadi semalam bukan hanya mimpinya. Kenapa juga dia bermimpi seperti itu? Dia dan Takao hanyalah dua orang yang terikat dengan role, dirinya sebagai King dan Takao yang dipaksa untuk menjadi seorang Jack. Tidak, mungkin bisa dibilang lelaki berambut hitam yang selalu tersenyum itu -kecuali padanya- diancam untuk menjadi Jack. Karena meskipun Midorima tidak akan pernah mengakui, lelaki yang mempunyai kemampuan hawk eye, itu entah kenapa selalu berada di sekitarnya.

Takao Kazunari, salah satu teman baik dari Kise dan Momoi, kedua anak perempuan yang berkutat di sekeliling Aomine dan Kuroko yang entah kenapa menjadi dekat dengan dirinya dan Akashi. Pada mulanya kehidupan masa kecilnya hanya berkutat dengan kegiatan sehari-harinya yang amat sangat biasa, meskipun dia sering mendapatkan pandangan aneh dari orang-orang di sekelilingnya, dan berkompetisi dengan Akashi, meskipun dia hampir selalu kalah oleh lelaki bermata heteochromatic itu.

Takao diancam untuk menjadi Jack bukan hanya oleh pemilik role sebelumnya, tapi juga dari berbagai macam pihak sehingga setiap orang yang berada di ibukota Kingdom of Heart mengenalnya dan akan segera 'mengembalikannya' begitu 'menemukannya'. Hal yang dilakukan tiap individu yang entah kenapa menjadi sebuah tradisi hingga saat ini dan bagi anak-anak 'menghilangnya Takao' menjadi sebuah festival sehingga mereka semua akan berpencar dan mencarinya.

Hal yang serupa juga terjadi tadi malam saat dia sedang berjalan-jalan di taman, seorang lelaki 'mengembalikan' Takao padanya. Hal yang langsung mengundang omelannya karena lelaki itu langsung pergi begitu melemparkan Takao yang sepertinya mabuk saat melihatnya. Midorima bukanlah baby sitter Takao, bukan juga guardiannya. Tapi kenapa setiap orang sepertinya memperlalukannya seperti itu sejak pertama kali Takao mengambil role Jack?

Karena sudah malam dan ingin segera lepas dari Takao, Midorima akhirnya membantu lelaki itu berjalan kembali ke kamarnya, kamar yang entah kenapa berada tepat di sebelah kamarnya. Setelah membantu pemilik Hawk Eye itu melepaskan sepatunya dan melepaskan baju luarnya, sesuatu yang sangat ia sesali karena berusaha membantu 'Jack', tangan Takao mencengkram kerah lehernya dan membawa bibirnya bertemu dengan sesuatu yang lembut yang dapat dijelaskan sebagai bibir Takao. Setelah menyadari apa yang dilakukan 'Jack' dengan segera Midorima langsung melepaskan dirinya sementara sang terdakwa meringkuk di dalam kasurnya dan tertidur pulas tanpa tahu dakwaan apa yang akan dilimpahkan padanya.

Berusaha melupakannya, Midorima langsung pergi ke dalam kamarnya, mencuci muka beberapa kali dan berniat untuk benar-benar melupakan apa yang dilakukan lelaki yang tertidur dengan lelap di kamar sebelah padanya. Hal yang akan berhasil dilakukannya kalau saja barang keberuntungan OhaAsa bukan patung dua orang yang sedang berciuman!

Mata Midorima langsung menatap tajam pria yang sedang membereskan berkas-berkas di mejanya. Meskipun role Takao adalah sebagai seorang 'Jack' namun karena kemampuannya, lelaki itu lebih bertindak seperti seorang sekertaris baginya. Wajah lelaki yang hari ini memakai blazer berwarna hitam itu menyipit begitu sadar bahwa orang yang kini sedang duduk di hadapannya itu sedang menatapnya.

-.-

"Apa ada masalah?" tanyanya dengan nada kesal. Nada yang selalu digunakannya jika sedang berbicara dengan King of Heart, orang yang benar-benar tidak disukainya. Karena tidak hanya kemampuan mereka jauh berbeda melainkan karena terlalu sombongnya pria berambut hijau itu dengan kemampuannya sehingga membuat titik amarah dalam otaknya yang tidak pernah bersinar, langsung bersinar terang.

"Apa kamu ingat apa yang kamu lakukan semalam?" tanya King dengan nada datar. Tatapan matanya kini tertuju pada berkas-berkas yang menumpuk di meja sementara Takao mengerutkan keningnya.

Pikiran pemilik hawk eye itu kembali ke malam sebelumnya, dimana dia sedang curhat tentang kelakuan King of Heart pada salah satu teman yang berusia lebih tua darinya. Dia ingat karena terlalu bersemangat dia kebanyakan minum dan temannya itu mengantarnya kembali ke dalam kamar, atau setidaknya seperti itu karena saat dia tersadar dia sudah ada di tempat tidur di kamarnya. Tapi tunggu, temannya itu pasti akan langsung melemparkannya ke kasur tanpa melepaskan baju luar dan sepatunya. Namun saat dia bangun tadi pagi dia hanya mengenakan baju dalam dan sepatunya sudah dilepas. Hal yang tidak dia pedulikan meskipun Takao menganggapnya aneh karena sudah kesiangan sehingga dia hanya sempat mencuci muka dan langsung berlari untuk menyiapkan apa yang OhaAsa titahkan untuk memenuhi keinginan sang King yang amat sangat dibencinya itu. Bahkan dia tidak sempat mengganti baju dalamnya!

'Tapi kenapa King of Heart bertanya kejadian tadi malam? Apa kami bertemu?' tanya Takao dalam hati sambil melirik ke arah Midorima yang sepertinya sudah tidak peduli dengan pertanyaan yang tadi diajukannya.

"King, apa… aku melakukan sesuatu?" tanya Takao takut-takut, berharap kalau kebiasaan buruknya saat mabuk tidak keluar. Kebiasaan yang selalu dieluhkan teman-temannya sehingga sebisa mungkin dia selalu berusaha untuk tidak banyak minum.

"… kita bertukar mucus."

"Hah?" Takao menatap makhluk asing di depannya. Apa tadi dia dengar? Tunggu, sepertinya dia ingat sesuatu tentang…, "de… DEEP KISS!" serunya yang akan langsung mengundang puluhan prajurit yang berjaga di sekitar ruangan itu kalau saja mereka tidak sadar bahwa yang berteriak adalah 'Jack', karena 'Jack' yang berteriak apabila berada dalam satu ruangan dengan King adalah hal yang biasa.

King of Heart tidak memberikan reaksi apapun, namun Takao tahu bahwa lelaki yang minim kosa kata dan gerakan tubuh ini –meski awalnya dia mengira kalau pria ini mengalami keterbelakangan mental- meng-iya-kan pertanyaannya. "A… aku akan kembali ke kamarku," ujarnya dengan terbata-bata. Meskipun tidak dapat melihatnya sendiri, Takao yakin bahwa wajahnya pucat.

Dengan perlahan dia membuka pintu ruangan kerja King dan langsung berlari melesat menuju kamarnya. Berniat untuk mengetahui sesuatu yang selama ini ditakutkannya. Hal yang amat sangat mengerikan sehingga meskipun berada di dekat pria lumutan itu, Takao tidak pernah sekalipun menyentuhnya.

Setelah memeriksa kunci kamar dan menutup rapat jendela, pria berambut hitam itu menundukkan kepala mencoba mengintip apa yang disembunyikan bajunya. "Lebih baik kalau aku melakukannya sesegera mungkin," ucap Takao pada diri sendiri kemudian melepaskan bajunya dengan tangan bergetar dan mata tertutup rapat.

Semenit… lima menit… lima belas menit… meskipun tubuh bagian atasnya sudah tidak lagi tertutup oleh benda yang bisa menyembunyikan sesuatu yang mungkin saja tertoreh, namun kedua bola mata Takao masih disembunyikan oleh kelopaknya yang tak mau terbuka semilipun. "Tenang Kazunari, tenang, apa yang kamu takutkan pasti tidak ada. Benar, pasti tidak ada," gumamnya kemudian mencoba mengintip melalui cermin yang berada di kamarnya.

"Ti… TIDAKKKKKKK!"

-,-