A/N : Terima kasih bagi yang baca apalagi ya review! Sebenarnya saya bikin chapter ini duluan jadinya lama update XD Tenang aja disini full smooth ^3^

Disclaimer by Tadatoshi Fujimaki-sensei

Inspirasi dari doujinshi USUK rating M tentang Royal Flush

WARNING! mild YAOI! EYD ngaco, maybe typo dan OOC! Banyak OOC!

-,-

Sementara ini…. ROLE only~

King of Spade: Akashi

Queen of Spade: Furihata

Jack of Spade: Kuroko

King of Club: Murasakibara

Queen of Club: Himuro

Jack of Club: Kagami

King of Heart: Midorima

Queen of Heart: Takao

Ace : ?

-.-

Takao memandang lelaki berambut hijau yang kini tengah berbaring. Raut wajahnya masih terlihat pucat. Meskipun racun dalam tubuhnya telah dikeluarkan, bukan berarti nyawanya tidak ada dalam bahaya. Terutama karena berita mengenai King yang terluka telah menyebar. Entah siapa yang melakukannya. Tapi Takao pasti akan menemukannya. Bukan sebagai Queen. Tapi sebagai seorang 'Jack'. Meskipun dia tidak menyukai King of Heart, dan tidak akan pernah menyetujui dirinya menjadi Queen bagi makhluk ini, tapi dia tetap akan melakukan kewajibannya sebagai seorang 'Jack'.

Sebagai seorang Queen, seharusnya dia melakukan sesuatu terhadap King, terutama saat King sedang lemah seperti sekarang ini. Terutama karena energy negatif akan menyerang King saat pertahannya melemah seperti saat ini. Energi negatif yang merenggut waktu mereka. Sayangnya Takao sama sekali tidak merasakan apapun pada lelaki ini. Dia tidak tahu apa dia mau menyelamatkan atau mengakhiri waktu King of Heart. Sayangnya, meskipun lelaki ini mati Takao tidak akan pernah menjadi King. Seorang pemilik role hanya akan mempunyai satu role sepanjang hidupnya. Itu artinya dia akan tetap menjadi Queen. Mantan Queen, kalau sampai King of Heart yang sekarang meninggal. Impian yang tidak akan mungkin bisa terlaksana. Takao mendengus kesal.

"Kau benar-benar menyusahkan," kesalnya. Kalau lelaki ini bisa menghindar pasti dia sekarang sedang berada di garis depan memimpin pencarian orang yang melukai King. Bukan ada disini memandangi pria yang mengeram kesakitan.

Takao membuka ikatan robe yang sedang dipakainya. Mudah digunakan dan mudah dilepaskan. Karena itulah malam ini dia memakainya. Karena dia harus melakukan tugas Queen. Perlahan dia melangkah menuju kea rah tempat tidur King size yang berpondasikan kayu dan berukir lambang kerajaan. Takao mengalihkan sedikit pandangannya. Sepertinya dia harus mengambil nafas sekali lagi. Mencoba meyakinkan dirinya untuk sekian kalinya bahwa dia akan menyesali apa yang akan diperbuatnya.

"Seandainya aku bisa membiarkannya mati," kesalnya sambil berdecak. Tapi Takao tahu, dia tidak bisa melakukannya. Meskipun dia tidak akan menyesal, akan ada seorang gadis yang akan menangis untuk lelaki ini. Gadis yang mungkin saja tak pernah terlihat lagi senyumannya. Takao tersenyum miris. Dia tidak pernah menyukai King of Heart. Lalu kenapa takdir menyatukan mereka berdua? Tidak, mungkin bukan hanya mereka berdua. Semua anak yang berada di sekeliling Kise, mungkin sejak awal senyuman gadis itu yang membuat mereka terikat dengan takdir. Senyuman yang kini menghilang dari cahaya.

Dalam diam Takao menundukkan wajahnya semakin dekat dengan wajah King of Heart dan mendesah. Dia tidak bisa melakukan ini sambil memandangi wajahnya. Wajah lelaki yang selalu dibencinya. Tapi dia tidak bisa melakukan tugasnya tanpa melihat. Takao kembali menggumamkan kutukan demi kutukan sebelum menyatukan bibir mereka berdua.

Kedua tangan Takao menggenggam kedua sisi kepala Midorima sambil mengubah posisi bibir mereka agar gigi mereka tidak bertabrakan. Takao memutar kedua bola matanya karena dia pasti benar-benar menyesalinya. Dia memasukkan lidahnya ke dalam mulut Midorima dan merasakan sesuatu sedang terhisap darinya. Perlahan kedua tangannya merayap kebawah. Dari leher ke bahu, tangan, dada, sampai dia merasakan sesuatu sedang berusaha untuk 'keluar'. Dia bisa merasakan tubuhnya semakin merasa lemah dan nafasnya menjadi tidak beraturan. Tapi dia menolak untuk bersuara!

Takao menghentikan apa yang bibirnya lakukan dan menghisap jari tangan kanannya. Pahanya mengesek sesuatu yang semakin lama semakin terasa membesar. Suhu tubuhnya semakin panas. Dia harus melakukannya! Yakin Takao pada dirinya sendiri. Satu demi satu Takao memasukkan jarinya dan mempersiapkan diri sekali lagi. Dia telah melakukannya sebelum datang kemari. Tapi itu sebelum dia merasakan 'kepemilikan' King of Heart!

Dia menggesekkan tubuhnya pada Midorima dan membuka kain terakhir yang memisahkan bagian tubuh ter-horor dari King of Heart. Sekali lagi Takao mengalihkan pandangannya dan menelan ludah. Perlahan dia memposisikan dirinya untuk menaiki tubuh King. Tanpa memandangnya, Takao menggenggam apa yang dia juga miliki. Memposisikanya tepat ke arah lubang yang ada di tubuhnya. Sambil kembali mengumpat dan menggigit bibir bawahnya, Takao memasukkannya perlahan ke dalam tubuhnya.

-.-

Midorima merasakan sesuatu sedang menggerogoti tubuhnya. Sesuatu yang selalu dirasakannya setiap kali dia sedang melemah. Dia tahu saat seseorang mengincarnya. Hanya saja dia tidak tahu kalau apa yang mengores lengannya mengandung racun yang cepat bereaksi. Dia hanya bisa memandangi saat Takao menatap tubuhnya yang tergeletak di tanah dan tak bereaksi.

Midorima tahu meskipun Takao selalu mengatakan dia membencinya, Takao tidak akan pernah meninggalkannya. Karena itu dia tahu, saat ada orang yang berada di samping tempat tidurnya dan berdiri lama tanpa melakukan apapun, dia tidak bangun dari tempat tidurnya. Dia tahu bahwa orang itu pasti Queen yang selama ini ditunggu oleh 'Jack'.

Midorima kembali mengerang. Sesuatu sedang memasuki tubuhnya. Selalu seperti ini sejak dia menjadi King. Semua King akan merasakan hal yang sama. Karena itulah King tanpa Queen akan mati lebih cepat. Karena Queen satu-satunya yang bisa menetralkan apa yang kini sedang merayapi dirinya. Tapi dia tahu Takao tidak akan melakukannya. Kenapa dia haus menyelamatkannya? Apa yang pernah dia lakukan untuk Takao sehingga dia ingin lelaki itu menyelamatkannya?

Dia mengepalkan kedua tangannya dan mencoba menusuk telapak tangannya dengan jarinya, mencoba untuk tetap sadar saat tiba-tiba sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. DIa terdiam. Apa yang terjadi? Perlahan dia bisa merasakan sesuatu memasuki mulutnya dan mengirimkan sesuatu yang menghisap rasa sakitnya. Sesuatu yang terasa seperti honey.

Kedua tangan orang yang sedang ada diatasnya itu mengelus tubuhnya dengan pelan. Semakin lama semakin ke bagian bawah tubuhnya dan terhenti tepat di tengah-tengah pangkal kakinya dan menghilang bersamaan dengan hal yang manis yang memasuki mulutnya tadi. Midorima mengerang. Kali ini bukan karena rasa sakit tapi karena sesuatu yang lain yang dia sendiri tidak tahu apa. Dia mengernyit saat merasakan sesuatu sedang menggesek penisnya. Sesuatu yang semakin merangsangnya. Membuat suhu tubuhnya semakin naik dan rasa sakitnya kembali.

Midorima kembali menggepalkan tangannya. Menunggu apa yang akan dilakukan Takao padanya. Apa dia akan melakukannya? Atau dia akan meninggalkannya? Midorima tidak tahu apa yang harus dilakukannya sampai dia merasakan penisnya keluar dari celana yang sedang dikenakannya. Puncaknya menyentuh sesuatu yang padat namun terasa lembut.

Perlahan, sangat amat perlahan dia merasakan ada sesuatu yang mengapitnya. Waktu yang sangat amat menyiksanya, namun dia bisa merasakan bahwa pada saat bersamaan rasa sakitnya semakin berkurang. Semakin dalam semakin menyiksanya. Midorima mengerang untuk sekian kalinya. Tapi kenapa dia tidak bisa mendengar suara Takao? Saat keseluruhan dari dirinya ada di dalam Takao, dia bisa merasakan lelaki itu terdiam lama. Cukup lama sehingga dia bisa membuka kedua kelopak matanya dan menatap lelaki berambut hitam yang sedang menutup mata rapat-rapat sambil menggigit bibir bawahnya.

"Takao," panggilnya dengan suara serak yang membuat Queen-nya itu tersentak. "bersandarlah! aku tidak bisa melakukannya sendiri, tapi aku bisa membantumu." Dia bisa melihat Takao sedikit bergetar. Mungkin karena marah saat menyadari bahwa Midorima melihatnya melakukan tugasnya sebagai Queen. Namun mantan 'Jack' itu tetap bersandar pada tubuhnya dan memeluk lehernya erat meskipun tetap menggigit bibir bawahnya. Dari sudut matanya terlihat bulir-bulir air mata yang hendak mengalir keluar. Takao pasti merasakan rasa sakit saat ini. Midorima memeluk pinggang Takao dan mengelus-elus punggungnya. Memberitahunya bahwa dia tidak akan langsung bergerak. Setelah beberapa saat, dia bisa melihat bahwa Takao terlihat tidak sekaku saat pertama kali mereka memulainya. "aku akan bergerak, kamu bisa menggigitku kalau masih sakit," bisik Midorima. Perlahan dia mulai mengeluarkan dirinya dari dalam Takao sampai tinggal bagian ujung dan memasukkannya kembali dengan perlahan. Hal itu membunuhnya, tapi dia tidak ingin menyakiti Takao.

"…pat…"

"Apa?" Midorima menatap ke arah lelaki yang kini sedang membenamkan kepalanya di dadanya.

"kau... bisa lebih cepat," lirihnya. Midorima mengangguk sedikit dan memulai aktifitasnya.

"Argh!" seru Takao tiba-tiba yang membuat Midorima berhenti bergerak. Keduanya saling bertatapan selama beberapa saat sampai Midorima kembali bergerak lagi. "argh! Hen-ti… argh! Midorima!" teriaknya yang membuat kedua bola mata King bersinar. Semakin cepat, namun tetap stabil dan tepat. Nama King of Heart berulang kali dikumandangkan oleh Queen of Heart.

Hari itu Takao masih belum menyadari bahwa meskipun awalnya Midorima tidak tahu mengapa Takao menjadi Queen-nya, namun Midorima telah berjanji pada diri sendiri. Dia tidak akan membiarkan orang lain mendengarkan suara erangan Takao selain dirinya.

=.=

A/N : Midorima OOC! chapter depan mungkin Akafuri