Tiket Bioskop 21 adalah satu-satunya jalan untuk membuat Park Chanyeol menjadi miliknya. Setelah semua penyesalan yang Baekhyun rasakan selama lima tahun ini. Dia mencoba bersikap egois.

-oOo-

Title:
Bioskop 21

Main Cast:
Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Other Cast:

Do Kyungsoo, Irene

Genre:
Mellow Drama/Fantasy

Boys Love

Rate:
17+

Writer:
Hyun Ji Soo

-oOo-

APRIL 2012

Dua bulan begitu cepat berlalu. Tidak ada hal yang spesial terjadi di hidup Baekhyun. Dia masih menjadi pegawai magang yang disuruh-suruh sunbaenya mengerjakan ini itu seenak mereka. Hanya saja, yang membuat Baekhyun heran, mengapa Park Daepyonim selalu saja menyapa dan tersenyum padanya setiap kali mereka berpapasan dan bahkan bertanya hal-hal sepele padanya seperti 'Apa kau suka bekerja disini?', 'Apa pekerjaanmu lancar?'. Padahal dia hanya pegawai rendahan di kantor itu. Mungkin saja itu karena Park Daepyonim memang orang yang ramah pada karyawan. Tapi apakah hal ini wajar?

Seperti pagi itu. Rasanya akan sangat canggung jika berdua saja dengan Park Daepyonin di lift. Jadi Baekhyun segera menekan tombol close di lift saat melihat pria itu menuju ke arah lift. Tidak sopan memang. Tapi dia sudah jengah dengan gunjingan orang-orang bahwa dia berpura-pura menjadi gay demi bisa mendekati Park Daepyonim supaya diangkat menjadi pegawai tetap.

Sungguh sial bagi Baekhyun, tangan besar itu berhasil menahan pintu lift sebelum benar-benar tertutup. Membuat pintu lift itu terbuka kembali dan Park Daepyonimpun masuk. Lalu sosok tinggi itu segera mengucapkan sesuatu yang membuatnya semakin kesal.

"Mengapa kau menutup pintu lift tanpa menungguku?"

"Joesonghamnida Daepyonim. Saya tidak melihat anda."

Baekhyun membungkuk 90 derajat pada Park Daepyonim. Entah Daepyo itu melihatnya atau tidak. Karena posisinya sekarang ada di belakang daepyo itu meski agak menyamping.

"Tidak apa-apa Baekhyun-ssi. Bagaimana proyek timmu?"

"Sudah selesai Daepyonim. Timjangnim saya sudah menyerahkan beberapa proposal pada Bujangnim."

"Bagus. Kau sudah bekerja keras Baekhyun-ssi."

Ucapan itu keluar dari mulut Park Daepyonim tanpa menoleh sedikitpun ke arah Baekyun. Tapi dari pantulan pintu lift, Baekhyun tahu bahwa Park Daepyonim tersenyum padanya. Lama-lama dia jengah dengan senyuman itu.

"Gamsahamnida Daepyonim."

Baekhyun menunduk sekali lagi. Tapi kini hanya kepalanya saja. Tepat pada saat itu pintu lift terbuka dan Park Daeoyonim berjalan keluar dari lift. Setelah lift kembali tertutup, wajah Baekhyun yang semula tegang mulai tenang kembali. Dia mengendurkan ikatan dasinya untuk melancarkan nafasnya yang terasa tersendat.

"Sial. Kenapa lagi-lagi dia tersenyum seperti itu. Membuat semua orang salah paham saja."

-o-

"Setelah mendengar ceritamu, sekarang aku yakin 100% bahwa Park Daepyonim sudah terpikat oleh wajah cantikmu Baek."

"Lagi-lagi kau bicara omong kosong Kyung. Lagian aku ini tampan. Bukan cantik. Buktinya semua gadis tergila-gila padaku."

"Mereka bukan tergila-gila padamu. Mereka iri pada wajah cantikmu."

"Sudahlah. Yang jelas aku ini laki-laki normal. Aku tidak akan menyukai Park Daepyonim seberapapun sempurnanya dia."

"Jangan bicara seperti itu Baek. Atau kau akan menyesal nantinya."

"Tidak. Itu memang benar. Gay atau apalah itu, sangat menjijikkan. Menurutmu jika aku menjadi orang seperti itu, bagaimana aku bisa menghadapi tatapan orang-orang? Bagaimana hancurnya hati orang tuaku jika tahu anaknya memalukan seperti itu? Aku tidak akan seperti itu Kyung. Camkan itu."

Baekhyun meninggikan suaranya dengan penuh amarah, lalu beranjak pergi meninggalkan Kyungsoo seorang diri di atap kantor. Dia sangat kesal. Entah kenapa, percakapan mereka selalu saja berakhir seperti ini jika menyangkut Park Daepyonim. Dia merasa seperti Kyungsoo selalu saja menyudutkannya.

"Baek. Aku minta maaf."

Baekhyun tidak peduli dengan panggilan Kyungsoo. Dia terlalu kesal bahkan untuk sekedar berbalik dan menerima permintaan maaf itu.

Saat itu tanpa dia sadari, dari sudut lain, sepasang telinga mencuri dengar pembicaraan mereka dengan ekspresi wajah muram.

-o-

Baekhyun berdiri di depan sebuah restoran jepang yang terkesan mewah tapi tetap bernuansa alami dengan bunga-bunga sakura cantik di halamannya. Dia sedang menunggu Park Daepyonim yang sedang meeting bersama kliennya di dalam. Sepertinya ada sedikit masalah dengan proyek yang diusulkan timnya, hingga Timjangnimnya mengutusnya untuk secepatnya mengantarkan proposal yang telah direvisi langsung kepada daepyonim yang berada di restoran ini. Dan sialnya, Park Daepyonim menyuruhmya menunggu dengan alasan akan membutuhkan bantuannya untuk suatu hal. Jadi dia terpaksa menunggu sampai meeting itu selesai.

Setelah bosan menunggu setengah jam lebih di lobi restoran, Baekhyun memilih keluar dan berdiri di bawah pohon sakura yang cukup rindang. Dia menghirup aroma segar dari bunga-bunga yang sedang bermekaran dengan indahnya. Musim semi yang hangat, dan beginilah caranya menikmati musim semi tahun ini.

Pandangan mata Baekyun sesekali teralih pada mobil-mobil mewah yang sesekali melintas untuk keluar dan masuk restoran itu. Berbagai macam hal berkecamuk di pikirannya. Ah, bekerja sampai mati pun dia tidak akan bisa membeli mobil semacam itu. Pemikiran semacam itulah yang mendominasinya saat ini.

Tak berapa lama Park Daepyonim keluar dan menghampirinya. Lengkap dengan senyumnya yang menurut orang-orang sangat menawan.

"Kau sedang apa? Maaf membuatmu menunggu lama Baekhyun-ssi."

"Tidak apa-apa Daepyonim. Saya malah bersyukur bisa melihat bunga sakura di musim semi ini."

"Baguslah kalau begitu."

Sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan mereka. Seorang pria muda berjas rapi turun dari mobil itu dan menyerahkan sebuah kunci mobil pada Park Daepyonim dengan posisi membungkukkan badannya 90 derajat.

"Gomawoyo."

Park Daepyonim menerima kunci mobil itu sambil tersenyum dan berterimakasih. Sepertinya dia memang benar-benar ramah pada siapapun, bukan hanya kepada Baekhyun.

Sedetik kemudian Park Daepyonim melempar kunci mobil itu pada Baekhyun yang langsung ditangkap Baekhyun dengan gerakan reflek.

"Kau bisa menyetir Baekhyun-ssi? Menyetirlah untukku. Bukankah kau juga akan kembali ke kantor? Ada berkas yang harus aku pelajari selama perjalanan."

"Saya mengerti, Daepyonim."

Baekhyun segera membukakan pintu penumpang untuk Park Daepyonim. Setelah pria itu masuk, dia menutup pintu penumpang lalu masuk dan duduk di kursi pengemudi. Setelah memastikan semuanya siap dia mulai melajukan mobil itu menuju kantor.

Berkali-kali Baekhyun mencuri pandang pada Park Daepyonim dari kaca spion depan. Dia melihat pria itu tampak serius membaca beberapa berkas dalam sebuah map berwarna. Sepertinya hasil meetingnya tadi.

"Aku kira Timjangmu yang akan datang, tapi ternyata malah kau Baekhyun-ssi."

Baekhyun melirik spion sekali lagi. Dilihatnya Park Daepyonim berbicara padanya tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang tengah dibacanya.

"Timjangnim sedang mempersiapkan rapat, Daepyonim. Jadi beliau mengutus saya."

"Tidak apa-apa. Aku justru menyukainya."

"Apa maksud anda?"

"Kau tidak dengar? Kubilang aku menyukaimu Baekhyun-ssi."

Betapa terkejutnya Baekhyun mendengar pernyataan Park Daepyonim yang secara terang-terangan mengaku menyukainya. Dia reflek menoleh ke arah pria yang duduk di kursi penumpang di belakang.

Merasa di perhatikan, Park Daepyonim menutup berkas yang tengah dipelajarinya dan mengarahkan pandangannya pada Baekhyun yang telah kembali menatap ke arah jalanan di depan mereka.

"Mengapa terkejut Baekhyun-ssi? Bukankah kau sudah tahu jika aku seorang gay? Lalu apa salahnya jika aku menyukaimu?"

"Bukan begitu Daepyonim. Tapi saya..."

"Normal? Aku tahu. Kau tenang saja, aku tidak akan pernah memaksamu untuk apapun."

"Terimakasih untuk pengertiannya Daepyonim."

"Tapi Baekhyun-ssi. Kebahagiaan kita tidak bergantung pada pendapat orang lain."

Deg. Jantung Baekhyun seakan berhenti berdetak. Dia memikirkan kemungkinan terburuk bahwa Park Daepyonim mendengar pembicaraannya dengan Kyungsoo di atap kantor tempo hari. Dia sadar bahwa dia sudah berkata sangat kasar dan sudah pasti hal itu akan menyinggung perasaan pria itu.

"Joesonghamnida Daepyonim. Jika perkataan saya menyinggung anda."

"Sudahlah. Lupakan saja."

Park Daepyonim membuka kembali berkas-berkas di dalam mapnya lalu mulai membaca lagi. Membuat suasana di dalam mobil begitu canggung. Keheningan menyelimuti mereka berdua sepanjang perjalanan.

Baekhyun masih mencoba mencuri pandang dari kaca spion depan. Wajah tampan Park Daepyonim memang tengah tenggelam dalam keseriusannya, tapi Baekhyun masih bisa menangkap raut kekecewaan dari wajah itu. Sesungguhnya dia merasa sangat bersalah karena telah menyakiti hati pria baik itu dengan kata-kata kaarnya.

AGUSTUS 2012

Baekhyun tersenyum melihat tag namanya sekali lagi. Dia mendapatkan tag nama baru hari ini. Yang artinya dia telah resmi diangkat sebagai pegawai tetap. Dia senang bukan main karena sekarang dia sudah bisa dengan tega menolak permintaan sunbaenya untuk hal yang bersifat pribadi. Dia juga bisa menuangkan ide-idenya untuk beberapa proyek yang akan datang. Dia sudah bukan lagi anak magang yang tertindas. Semua kerja kerasnya selama 6 bulan ini seolah terbayar lunas.

Hari ini, Baekhyun merasa harus mentraktir Kyungsoo makanan lezat dan sekarang mereka berdua sudah ada di restoran steak yang cukup terkenal. Setelahnya, dia juga harus membelikan hadiah untuk kedua orang tuanya.

"Kau hebat Baek. Selamat udah menjadi pegawai tetap."

"Aku sungguh bersyukur Kyung. Tapi rasa iriku padamu karena kau diterima di perusahaan itu lebih dulu tidak juga menghilang."

"Kenapa membahas lagi cerita lama itu? Bukankah kau sudah mengakui bahwa aku memang lebih hebat darimu? Dulu saat SMA aku sengaja mengalah padamu."

"Kita bayar makanan ini sendiri-sendiri."

"Tega sekali kau. Setelah mengajakku makan di tempat mahal, lalu menyuruhku membayarnya sendiri? Kau tidak kasihan? Aku masih harus membelikan hadiah untuk hari jadi keseratus hariku dengan Seulgi."

"Kalau begitu diamlah. Makan saja steakmu dengan baik."

"Kau yang membahasnya lebih dulu Baek."

"Menyebalkan."

"Ngomong-ngomong kenapa kau memilih tempat seperti ini Baek? Dua orang laki-laki makan di sini membuatku merasa kita seperti pasangan gay yang sedang berkencan."

Mendengar kata-kata Kyungsoo barusan, tiba-tiba saja sebuah pemikiran tentang Park Daepyonim melintas di otaknya begitu saja. Ini sudah empat bulan sejak pria itu menyatakan perasaanya padanya. Dan sejak saat itu juga, pria itu menjadi lebih terang-terangan dalam mendekatinya. Seperti mengajaknya makan siang bersama, menawarkan mengantarkannya pulang, mengajaknya nonton ke bioskop, atau sekedar menawarkan bantuan jika kesulitan dalam pekerjaannya, tentu saja dengan dalih ingin menjadi teman.

Tapi selama itu juga, hati Baekhyun masih saja keras seperti batu. Dia tidak ingin goyah dan merubah orientasi seksualnya hanya karena rayuan pria itu. Dia akan terlalu malu pada dunia jika sampai melakukannya. Terlebih dia tidak suka jika orang lain mengaitkan pengangkatannya sebagai pegawai tetap adalah karena hubungannya dengan Park Daepyonim. Dia ingin diakui bahwa itu murni kerja kerasnya. Dia ingin menampik tudingan miring orang-orang terhadapnya. Sehingga dia mengabaikan semua ajakan dari Park Daepyonim dengan sopan.

Tukkk

Baekhyun memukul kepala Kyungsoo dengan garpu yang dipegangnya. Dia kesal karena Kyungsoo mengatakan sesuatu yang membuatnya mengingat Park Daepyonim. Pria yang harus dihindarinya.

"Sakit Baek. Kenapa memukulku? Kau sudah gila?"

"Karena kau sangat berisik. Cepat selesaikan makanmu. Lalu temani aku mencari hadiah untuk orangtuaku."

"Segeralah mencari pacar Baek. Kau kemana-mana selalu minta kutemani. Merepotkan saja. Atau jika tak ada gadis yang mau jadi kekasihmu, kau terima saja cinta Park Daepyonim."

Kyungsoo tertawa terbahak-bahak karena merasa telah berhasil membuat Baekhyun kesal. Tapi dia tidak pernah menyangka jika sosok di depannya itu akan mengarahkan pisau steak tepat ke lehernya disertai dengan seringaian dan tatapan seorang pembunuh berdarah dingin. Membuat tawanya terhenti seketika. Berganti dengan suara ludah yang ditelannya dengan sangat keras.

"Sepertinya kau sudah bosan hidup Kyung."

-o-

"Kau makan sendirian Baekhyun-ssi? Dimana sahabatmu yang bermata bulat itu?"

Baekhyun menatap heran saat tiba-tiba saja Park Daepyonim meletakkan nampan makan siangnya di meja lalu duduk di depan Baekhyun sambil tersenyum manis.

"Namanya Do Kyungsoo Daepyonim. Dia mungkin sedang makan siang dengan rekan timnya."

"Bisakah kau memanggilku Chanyeol jika sedang berdua?"

"Bagaimana saya bisa bersikap lancang seperti itu kepada seorang pemimpin perusahaan tempat saya bekerja?"

"Tapi aku ingin menjadi sahabatmu juga seperti Kyungsoo itu dan memanggilmu Baek. Itu terdengar lucu."

"Joesonghamnida Daepyonim. Saya harus segera kembali bekerja."

"Tapi kau belum menghabiskan makanmu Baekhyun-ssi."

Baekhyun mengangkat nampannya dan membawanya ke tempat cuci. Dia pura-pura tidak mendengar panggilan Park Daepyonim. Dia sudah muak dengan pandangan orang-orang di sekitar yang menatap kebersamaan mereka dengan tatapan tidak suka. Lebih baik dia mencari alasan yang tepat agar bisa segera menjauh dari pria itu.

-oOo-

To Be Continue/The End

-oOo-

Review = Next. No Respon = End.

Terimakasih telah menjadi pembaca yang baik. Semoga sehat selalu.