Tiket Bioskop 21 adalah satu-satunya jalan untuk membuat Park Chanyeol menjadi miliknya. Setelah semua penyesalan yang Baekhyun rasakan selama lima tahun ini, dia mencoba bersikap egois.
-oOo-
Title:
Bioskop 21
Main Cast:
Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Other Cast:
Do Kyungsoo, Irene
Genre:
Mellow Drama/Fantasy
Rate:
17+
Author:
Hyun Jisoo
-oOo-
Desember 2012
Salju pertama musim dingin ini turun bertepatan dengan malam natal. Baekhyun berlari pulang dengan tergesa-gesa karena takut acara malam natal keluarga mereka berakhir sebelum dia sampai rumah. Sepanjang perjalanan dia sesekali mengeratkan mantelnya sambil berkali-kali mengutuk Timjangnimnya yang tak juga memberikan izin untuk pulang pada seluruh anggota timnya dengan alasan sebuah proyek mendesak harus selesai dikerjakan sebelum tahun baru tiba. Padahal ini malam natal, bukankah seharusnya semua orang bersenang-senang dengan menghabiskan waktu bersama keluarga mereka? Ini adalah suatu kesialan karena dia harus terjebak di depan komputer hingga malam telah larut.
"Aku pulang."
Baekhyun membuka pintu rumahnya dengan tersenyum ceria. Tapi rumah itu tampak sepi. Tidak ada sambutan hangat untuknya. Dia tak mendapati siapapun di sana meskipun semua lampu menyala. Lagu malam natal juga masih terputar di rumahnya. Dia lalu membuka pintu kamar orang tuanya. Tapi tetap saja dia tak mendapati keberadaan mereka.
"Eomma. Abeoji. Kalian di mana?"
Baekhyun mulai cemas. Dia mengambil smartphone di sakunya. Dia melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Park Daepyonim. Dia memang tak mempedulikannya meski dia sadar smarphonenya bergetar-getar sejak perjalanan pulang tadi karena tak ingin pria itu mengganggunya bahkan saat malam natal.
Tapi tiba-tiba smartphone itu bergetar kembali. Nama yang sama muncul. Baekhyun lalu segera mengangkatnya dengan kesal.
"Berhentilah menelepon saya Daepyonim. Ini sudah bukan jam kerja."
"Kenapa kau baru menjawabnya? Abeojimu berada di rumah sakit sekarang. Beliau kecelakaan saat pulang kerja. Aku baru saja mengantar Eommamu ke rumah sakit."
"Omong kosong. Bagaimana anda bisa..."
"Nanti saja penjelasannya. Cepatlah kesini. Rumah Sakit Hansin."
Baekhyun tak peduli lagi. Dia tak ingin tahu lebih lanjut tentang bagaimana Park Daepyonim bisa tiba-tiba saja terlibat dengan keluarganya. Yang dia pikirkan sekarang hanya keadaan ayahnya. Mengingat bagaimana nada bicara pria itu, sepertinya dia tak berbohong.
Baekhyun langsung berlari keluar dari rumahnya hingga ke ujung jalan. Dia melambaikan tangannya untuk menyetop taksi saat berada di jalan besar. Airmatanya mengalir tanpa bisa dia tahan. Abeoji. Teriaknya dalam hati.
-oOo-
Tubuh Baekhyun ambruk saat mendengar dokter mengatakan bahwa ayahnya tidak terselamatkan. Jika saja Park Daepyonim tidak menangkap tubuh mungil itu, pastilah lantai dingin dan keras di depan ruang UGD itu akan memukul tubuh Baekhyun.
"Chanyeol-ah. Abeojiku."
Kata-kata itu terhenti seketika. Berganti dengan raungan keras Baekhyun. Betapa pun dia telah menahan airmatanya untuk tidak jatuh sejak dalam perjalanan tadi. Nyatanya airmata itu keluar lagi tanpa bisa dia cegah saat mendengar ayahnya meninggal. Sungguh kado natal yang akan dia benci seumur hidupnya. Tangan Baekhyun mencengkeram erat lengan Chanyeol. Berharap rasa sesak di dadanya berkurang.
Sedangkan Chanyeol hanya bisa menahan rasa sakit di tangannya akibat cengkeraman itu. Baginya ini tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit orang yang sangat dikasihinya. Dia tidak tega melihat Baekhyun menangis seperti itu. Hingga tanpa sadar dia memeluk tubuh Baekhyun dengan erat. Berharap rasa sedih Baekhyun berpindah padanya, atau paling tidak, rasa sedih itu akan sedikit berkurang.
Baekhyun pun tidak menolak pelukan itu. Dia malah merasakan sesuatu yang hangat mengaliri dadanya. Perlahan raungannya terhenti. Berganti dengan senggukan pelan hingga akhirnya tangisnya benar-benar berhenti. Entah karena dia lelah, atau pelukan itu telah berhasil menenangkannya.
-oOo-
"Kita memenangkan tender untuk hotel baru JH grup. Terima kasih atas kerja keras kalian."
Tepuk tangan riuh itu memenuhi kantor bagian perencanaan mengiringi pidato singkat Chanyeol yang merupakan Daepyonim dari perusahaan itu.
"Aku tidak akan mengganggu kalian lagi selama libur tahun baru. Selamat bersenang-senang."
Chanyeol mengakhiri pidatonya dan berjalan keluar. Sekilas dia melirik Baekhyun dan tersenyum saat tubuh mereka berpapasan. Baekhyun hanya bisa menunduk tanpa berani membalas tatapan itu.
-oOo-
Baekhyun memandang pemandangan kota Seoul dari atap kantor sambil menunggu Kyungsoo yang tidak juga datang. Padahal jam istirahat makan siang hampir berakhir dan kopi di gelas yang dia letakkan di pagar pembatas juga telah habis. Tiba-tiba saja dia mendengar langkah kaki menuju ke arahnya. Dia bersiap melayangkan protes pada sosok itu dan berbalik.
"Kau lama sekali Kyung..."
Kata-kata Baekhyun terhenti. Matanya membulat sempurna saat mengetahui bahwa sosok yang berdiri di depannya bukanlah Kyungsoo melainkan Chanyeol.
"Daepyonim."
"Aku lebih suka kau memanggilku Chanyeol seperti malam itu."
"Saya melakukannya secara tidak sadar. Jeosunghamnida Daepyonim."
"Kau membuatku kecewa Baekhyun-ssi."
"Terimakasih untuk malam itu. Tapi bagaimana bisa anda mengantarkan Eomma saya ke rumah sakit?"
"Malam itu aku sengaja menunggumu di depan rumahmu. Lalu tiba-tiba saja Eommamu keluar rumah sambil menangis dan mengatakan bahwa suaminya kecelakaan. Jadi aku mengantar beliau ke rumah sakit."
"Untuk apa anda menunggu saya?"
Chanyeol mengeluarkan sebuket bunga mawar yang dari tadi dia sembunyikan di balik punggungnya. Bunga itu telah layu. Beberapa kelopaknya bahkan sudah mulai rontok. Dia menghadap Baekhyun dan mengulurkan bunga itu.
"Keuliseumas seonmul. Maaf karena sedikit rusak. Seharusnya aku memberikannya padamu malam itu."
"Gomawoyo Chanyeol-ssi. Saya akan memanggil anda seperti itu sebagai ucapan terimakasih karena anda telah ada di saat-saat terberat saya. Tapi jangan mengharapkan lebih dari itu."
"Baiklah Baekhyun-ah. Nado gomawo. Pulanglah lebih cepat hari ini. Habiskan waktumu bersama eommamu. Aku menyesal kau tidak bisa mengambil libur lebih lama karena proyek kantor kita yang sangat mendesak."
Sekali lagi Chanyeol tersenyum untuk Baekhyun. Senyum yang mampu membuatnya terkesima. Dia sadar seberapa sabarnya orang di depannya itu pada dirinya. Seberapa sering pun dia mencoba pergi, tapi orang itu selalu saja datang. Baekhyun mulai khawatir, seberapa jauh dia bisa berlari menghindar dari cinta tulus Park Chanyeol.
-oOo-
-Don't read and run, leave a review please-
-oOo-
Februari 2013
Musim semi akan segera hadir menggantikan musim dingin yang sangat tidak disukai Baekhyun sejak kematian ayahnya pada malam turunnya salju pertama. Tapi hatinya sudah lebih dulu menghangat karena seseorang bernama Chanyeol yang kini mengisi hari-harinya. Dia memang belum menerima cinta dari pria itu. Tapi hubungan mereka sudah jauh lebih baik sekarang.
Makan siang di luar kantor bersama Chanyeol, diantarkan oleh Chanyeol pulang ke rumah, dan mengobrol bersama Chanyeol di atap adalah hal yang wajar bagi Baekhyun kini. Bahkan tanpa Baekhyun sadari Chanyeol sudah semakin dekat dengan Eommanya.
"Mau pulang bersamaku Baekhyun-ah?"
Chanyeol menghentikan mobilnya dan menurunkan kaca jendelanya tepat di depan Baekhyun yang sedang berdiri di halte menunggu Busway. Dia menawari mengantar Baekhyun pulang.
"Kau tidak perlu mengantarku terlalu sering. Rumah kita berlawanan arah."
Baekhyun sedikit menunduk untuk melihat wajah Chanyeol melalui jendela mobil yang terbuka itu. Dia menolak tawaran itu dengan tersenyum. Rasanya terlalu memberatkan jika dia selalu menerima kebaikan Chanyeol sedangkan dia belum bisa membalas cinta dari pria tinggi itu.
"Tapi aku ada janji makan malam dengan Eomeoni."
"Eomeoni?"
"Eommamu. Bagaimana? Kau mau pulang bersamaku?"
Mau tidak mau Baekhyun masuk ke dalam mobil Chanyeol. Mobil itupun melaju dengan pelan menuju rumah Baekhyun. Chanyeol memutar lagu dengan volume rendah untuk menetralkan rasa gugupnya.
"Bagaimana bisa tiba-tiba saja kau menjadi dekat dengan eommaku?"
"Tidak tiba-tiba Baekhyun-ah. Sejak saat itu aku sering menghubungi eommamu untuk menanyakan kabar. Dan beliau menawariku makan malam di rumahnya hari ini."
"Ohh."
"Baekhyun-ah. Bagaimana bisa aku begitu senang hanya karena akan makan malam di rumahmu bersama ibumu? Kupikir aku sudah terlalu jauh mencintaimu."
"Kenapa membahasnya lagi? Kubilang aku tidak suka."
"Mianhaeyo. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
-oOo-
Chanyeol berbalik dan sekali lagi dia melambaikan tangannya pada pria yang mengantarnya ke depan rumah. Dia juga tersenyum sangat lebar pada pria itu hingga deretan giginya yang tertata rapi kelihatan.
"Masuklah Baekhyun-ah. Di luar sangat dingin."
Tetapi Baekhyun tidak membalas lambaian tangan itu. Dia enggan mengeluarkan tangannya dari saku mantel tebalnya karena udara memang sangat dingin. Sebagai balasannya, dia tersenyum sangat manis untuk lelaki itu.
"Cepatlah pergi Chanyeol-ssi."
Baekhyun berbalik dan melangkah kembali ke rumah. Tetapi belum genap dua langkah, dia berhenti karena merasakan seseorang memeluk pinggangnya dari belakang. Dia ingin melepas pelukan itu dan berbalik. Tapi orang yang memeluknya malah dengan sengaja mengeratkan pelukan itu.
"Sebentar saja. Biarkan seperti ini sebentar saja Baekhyun-ah."
Chanyeol mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya di bahu Baekhyun. Sedangkan Baekhyun hanya bisa mengepalkan tangannya karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada situasi semacam ini.
"Terimakasih."
"Untuk?"
"Aku tahu kau jijik dengan orang sepertiku. Terimakasih karena sudah menahannya selama ini dan tetap membiarkanku berada di dekatmu."
Hati Baekhyun menghangat. Entah karena ucapan itu atau karena udara di luar yang semakin dingin. Di lain sisi, kata-kata itu juga menamparnya dengan sangat keras. Dia tidak tahu mengapa ucapannya di atap waktu itu masih membekas di ingatan Chanyeol padahal dia sendiri saja hampir melupakannya.
"Aku tidak suka kau mengucapkan kata-kata seperti itu. Sampai kapan kau akan membuatku merasa bersalah seperti ini?"
"Mianhaeyo."
Baekhyun merasakan guncangan ringan di tubuhnya. Sepertinya pria yang sedang memeluknya itu menangis sesenggukan. Diapun melepas tangan Chanyeol dan berbalik.
"Kau menangis?"
Chanyeol dengan cepat menghapus airmatanya dan tersenyum. Dia takut Baekhyun semakin merasa bersalah karenanya.
"Aniya. Aku sedang bahagia."
Chanyeol mendekat dan mengeratkan kerah jaket tebal Baekhyun. Dia tidak ingin Baekhyun sakit. Dia tahu bahwa pria itu tidak kuat menahan udara dingin.
"Masuklah. Aku pergi."
Baekhyun hanya menatap heran pada Chanyeol yang melangkah pergi. Pelahan sosok itu menjauh dan menghilang di balik pintu mobil mewah itu. Dia hanya menghela nafasnya berat dan tak mau ambil pusing dengan tingkah aneh Chanyeol barusan. Dia pun memilih segera berbalik dan memasuki rumahnya.
"Baekhyun-ah."
Suara itu yang Baekhyun dapati saat memasuki rumahnya. Suara eommanya yang ternyata belum tidur dan memilih menunggunya sambil duduk di sofa.
"Eomma, kenapa tidak tidur?"
"Kau? Kau tidak pacaran dengan Daepyonimmu itu kan? Eomma melihat dia memelukmu."
Deg. Jantung Baekhyun seakan berhenti berdetak mendengar pertanyaan menyelidik dan penuh kekhawatiran dari Eommanya. Dia tahu Eommanya pasti menyadarinya cepat atau lambat, tujuan Chanyeol mendekatinya. Tapi Baekhyun segera menjawabnya karena dia tidak ingin Eommanya kecewa.
"Memangnya aku ada hubungan apa dengannya? Dia Daepyonim di perusahaan tempatku bekerja dan dia sangat baik. Itu saja Eomma."
"Benar itu saja? Kau tidak akan mengecewakan Eomma kan? Kau tidak akan membuat keluarga kita malu kan? Pikirkan bagaimana perasaan Abeojimu jika sampai anaknya bersikap bodoh seperti itu."
"Tentu saja. Aku sangat menyanyangimu Eomma, jadi mana mungkin aku mengecewakanmu. Sekarang Eomma tidur saja."
Baekhyun tersenyum menatap satu-satunya keluarga yang dimilikinya itu. Tapi senyum itu segera menghilang begitu eommanya membuka pintu kamar dan masuk ke kamar.
Inilah yang paling Baekhyun khawatirkan sejak dulu. Eommanya yang sangat takut akan pandangan orang-orang jika anaknya ternyata seorang gay. Melihat reaksi Eommanya tadi, sepertinya tidak menerima cinta Park Chanyeol adalah keputusan yang paling baik. Dia berharap pria itu segera melupakannya.
-oOo-
Karena proyek yang dihentikan secara tiba-tiba akibat sengketa lahan. SM Arsitektur dari SM grup terancam bangkrut.
Park Chanyeol, Daepyonim dari SM Arsitektur dikabarkan akan menikah dengan Irene, putri tunggal dari calon presiden Bae dari partai HQ.
Baekhyun mematikan tv dengan remote control di tangannya. Beberapa hari ini hanya berita seperti ini yang wara-wiri menghiasi siaran-siaran berita di tv, di radio, bahkan di koran bisnis. Membuatnya malas bahkan untuk melihat tv. Dia hanya memandang tiket bioskop bernomor kursi H26 yang ada di meja di depannya. Pikirannya melayang saat dia menerima tiket itu dari Chanyeol beberapa hari yang lalu.
Flashback
"Baekhyun-ah. Aku tidak bisa menunggu jawabanmu lebih lama lagi. Keluargaku sudah menyebarkan berita itu tanpa bisa kucegah."
"Apa yang kau inginkan dariku Chanyeol-ah?"
"Jawablah perasaan cintaku padamu Baekhyun-ah. Jika kau menerimaku, aku akan memberitahu pada dunia tentang kita dan membatalkan pernikahan konyol itu."
"Apanya yang konyol? Bukankah kau memang harus menikah untuk menyelamatkan SM Grup."
"Kau tahu pernikahan itu tidak akan membuatku bahagia. Aku hanya mencintaimu Baekhyun-ah. Aku sama sekali tidak peduli dengan SM Grup jika harus kehilanganmu."
"Bagaimana jika aku menolakmu?"
"Aku akan menerimanya jika alasanmu menolakku adalah karena kau tidak mencintaiku. Lalu aku akan menikah dengan Irene. Tapi jika alasanmu menolakku hanya karena kau mengkhawatirkan reaksi keluargaku dan SM Grup, aku akan sangat marah padamu."
"Berikan aku waktu."
"Kau selalu menolak jika aku mengajakmu nonton film. Aku berjanji ini yang terakhir. Jika kau juga mencintaiku datanglah ke gedung Bioskop 21 tepat pada hari valentine pukul 8 malam. Aku akan menunggumu disana."
Chanyeol segera beranjak pergi setelah menyerahkan sebuah tiket pada Baekhyun. Dia tidak ingin mendengar alasan Baekhyun lagi. Semua hal sudah terasa berat baginya.
Baekhyun hanya bisa melihat punggung Chanyeol yang perlahan menjauh darinya. Apa yang harus dia lakukan? Semua jawaban dari kebimbangannya adalah apakah dia benar-benar mencintai Chanyeol. Jika dia mencintai Chanyeol, sanggupkah dia menghadapi Eommanya dan juga pandangan miring dari orang-orang di sekitarnya? Sanggupkah dia menghadapi amarah seluruh keluarga SM grup? Rasanya keputusan untuk tidak menerima cinta Chanyeol adalah yang terbaik baginya mengingat dia sendiri juga ragu akan perasaannya.
Flashback end
Baekhyun beranjak dari depan tv. Meninggalkan tiket bioskop itu di meja. Hari valentine memang masih empat hari lagi. Tapi sepertinya dia telah menemukan jawaban yang harus dia berikan.
-oOo-
Hari valentine pun tiba. Baekhyun hanya berjalan-jalan di taman di tepi sungai Han. Sungguh banyak sekali muda-mudi yang memadu kasih di sini. Bersepeda bersama, memakan coklat bersama, atau sekedar mengobrol mesra di kursi taman.
Baekhyun masih saja heran. Sebenarnya untuk apa hari valentine itu. Jika hanya untuk mengungkapkan kasih sayang, bukankah setiap hari adalah sama. Mengapa tiba-tiba taman itu penuh dengan nuansa pink yang menjadi lambang cinta. Mulai dari kursi taman yang mendadak berwarna pink. Para penjaja coklat dengan bungkus pink. Pasangan-pasangan dengan baju couple berwarna pink. Lampu-lampu berwarna pink yang membentuk hati. Dia tidak membencinya, hanya tidak mengerti saja.
Sebenarnya tadi dia bersama Kyungsoo. Tapi melihat sepertinya Kyungsoo ingin bermesraan dengan kekasihnya, dia tahu diri dan memutuskan untuk jalan-jalan seorang diri. Sekarang dia hanya bisa tersenyum kecut karena mendapati bahwa semua orang berpasangan kecuali dirinya.
Baekhyun memutuskan duduk di rerumputan di tepi sungai. Menjauh dari lokasi keramaian dimana akan diadakan festival air mancur. Dia ingin menikmati ketenangan sambil memandang luasnya sungai Han.
Tepat pukul 8 malam. Baekhyun mengeluarkan smartphonenya. Mengetikkan sebuah pesan untuk seseorang yang telah menunggunya.
'Kau pulang saja Chanyeol-ah. Aku tidak akan datang. Maaf mengecewakanmu. Tapi aku benar-benar tidak bisa mencintaimu.'
Setelah benar-benar yakin dengan apa yang ditulisnya, Baekhyun segera menekan tombol kirim. Lalu dia memasukkan smartphonenya lagi ke dalam jubahnya. Dia sedikit banyak masih berharap untuk sebuah jawaban dari pesan singkat itu. Satu jam. Dua jam. Tapi pesan balasan tidak kunjung datang. Diapun bosan dan memilih pulang.
Saat akan melangkah masuk ke dalam rumahnya, smartphone Baekhyun bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.
'Baekhyun-ah. Kedua tokoh utama film yang kutonton tadi berakhir bahagia. Tapi entah kenapa aku malah menangis. Sepertinya aku iri pada mereka. Apa menurutmu aku benar-benar patah hati sekarang?'
Tangan Baekhyun bergetar saat membaca pesan itu. Tak terasa setetes airmata tiba-tiba saja lolos dari sudut matanya. Dia telah mematahkan hati seseorang yang telah sangat tulus mencintainya. Hanya karena dia ragu. Hanya karena dia takut.
'Maafkan aku.'
Baekhyun segera membalas pesan itu dengan singkat. Dia juga segera menghapus airmatanya karena tidak ingin Eommanya melihat dia menangis. Dia tidak ingin menambah masalah Eommanya yang sepertinya belum merelakan kepergian Abeojinya.
-oOo-
Next/End?
-oOo-
Review = Next, No Respon = End
Jika ingin mengenal saya, kontak saya di Whatsapp dengan nomor 08819217606 atau klik tautan 4HhgaixIqIm23RLTiI55NY
Tolong jangan melakukan copy paste. Jika ingin berbagi, bagikan saja linknya agar mereka juga membaca di sini.
Terimakasih telah menjadi pembaca yang baik. Semoga sehat selalu
