A good life is a collection of happy moments.

.

.

.


Disclaimmer

Kuroko no Basuke/黒子のバスケ© Fujimaki Tadatoshi

MOMENTS © Kina

ATTENTION : This story are purely fictitious (include MPreg). All characters appearing in this story are Fujimaki Tadatoshi (where some places and incidents either are products of the author's imagination or are used fictitious). Any resemblance to real persons, living or dead, is purely coincidental.


Tetsuya selalu menjawab, menjawab dan–

"Baik, kalau begitu opsi kedua; ikut denganku ke Inggris." Terdiam, pada pilihan yang diberikan si pendominasi.

Ia menimbang-nimbang jawaban untuk dua buah pilihan di sela-sela aktivitas mengetiknya. Dan dari jarak mereka; yang nyaris tanpa batas itu, Tetsuya dapat merasakan pandangan tidak sabar dari sepasangan bola mata memikat di sana.

Klak!

Seijūrō mencapai batas, Tetsuya bertahan; dengan tidak melihat, dan itu merupakan awalnya.

"Jangan uji aku lebih dari ini, Tetsuya." satu tangan diraih, menjauhi jangkauan papan keyboard yang telah tertutup layar. "ini semua demi kebaikanmu."

Tetsuya hanya menelengkan kepalanya yang mulai terasa pusing ketika ia kembali mendengar pernyataan dari seorang dengan kadar reseptor pubertas berlebih.

Tangan dalam genggaman bergerak naik, menangkup tiap lekuk tegas pada paras yang sedikit memelas.

"Tenanglah, kami akan baik-baik saja, ayah." Satu kecupan singkat diberikan, setelahnya Tetsuya segera beranjak, meninggalkan Seijūrō yang termangu.

Sadar, tepat saat bunyi kunci pintu ruang sebelah kamar terdengar.

Dari balik pintu Tetsuya kembali mendengar Seijūrō yang berkata,

"Tetsuya, sudah dua hari kita belum menemukan mufakat–"

Persetan. Jika mufakat yang dimaksud masih berkaitan dengan profesinya yang harus dilepas, maaf saja, itu bukanlah cara meredusir yang bijak bagi Tetsuya.

Ketahuilah, mengajar ditambah anak-anak adalah sama dengan besarnya cinta kepada susu vanilla.

"Semoga sifat menyebalkan ayahmu tidak menurun padamu ya, aka-chan." Ujar Tetsuya di sela usapan-usapan lembut pada perutnya.

Tok … Tok …

"Tetsuya aku mendengarnya."

'Maaf, Seijūrō-kun'

.

.

Pada dasarnya, Akashi Seijūrō adalah seorang yang jenius . Di mata orang lain pun Seijūrō adalah sosok yang disiplin, tegas dan selalu menjadi panutan bagi orang-orang sekitarnya. Namun sepertinya untuk menakhlukkan Tetsuya, modal otak saja tidak cukup.

.

"Manisku, apa isi bekal yang kau buat ini?"

"Aku membuatkan makanan kesukaanmu, Sayangku. Semur tofu. Bagaimana? Hm?"

"Cerdas … Kau memang pengertian. Aku cinta padamu, Istriku sayang."

"Dan aku padamu, Suamiku."

"Ngomong-ngomong, nama yang bagus untuk anak kita nanti siapa ya?"

"Lho, bukankah minggu lalu kau sudah mencarinya dari berbagai situs?"

"Memang, tapi entahlah. Aku merasa kau lebih tepat memutuskan. Pilihanmu adalah pilihanku juga."

"Suamiku, kau benar-benar berjiwa emas. Bagaimana mungkin aku pantas untukmu?"

"Istriku, langit biru telah menggariskan takdir untuk selalu bersisian dengan matahari. Pantaslah eksistensimu untuk selalu bersama denganku. Selamanya."

"Benarkah, pangeran?"

"Tentu puteri, maka dari itu ikutlah bersamaku, melintas dunia di bagian lain dari bumi ini, hm?"

"Oh, Seijūrō-kun, cahayaku."

"Oh, Tetsuya …"

Dan mereka berdua, saling mendekat, merasakan kehangatan tubuh masing-masing, sebelum mengunci momen itu dengan satu ciuman mesra…

Belum?

Belum juga...?

"Buweeh … Never!"

"Never say never, dear!"

.

"Yah, kok macet di tengah-ssu?"

"Padahal dikit lagi-joss!"

Dua pasang mata mengeluarkan sinar zone mematikan.

Detik itu, kalau pepatah 'tatapan dapat membunuh' benar adanya, maka dua mantan hamba sahaya sudah pasti tewas di tempat.

Sreekk

Acara reuni dadakan itu dimeriahkan oleh sobekan kertas dan protesan kompak dari pasutri paling menarik perhatian khalayak di Bandara Narita pada saat itu.

.

"Siapa pembuat skrip drama ini?"

Shintarō, Atsushi dan Daiki mendadak mengalami disfungsi telan saliva kronis, sebelum akhirnya mengangkat telunjuk mereka yang terkena tremor ke arah sang sutradara di bangku terujung.

Kise Ryōta, sepertinya minta dianal pakai kaleng Khong Guan.

.

.

.

つづく


SEPTEMBER, 04th 2017

a/n : awali senin pagi dengan senyuman. #ngomongdepankaca :"D

lanjut?