There are many forms of love,

and you are capable of feeling them all at different stages of your life,

as there is moments in time between you and me..

.

.


Disclaimmer

Kuroko no Basuke/黒子のバスケ© Fujimaki Tadatoshi

MOMENTS © Kina

ATTENTION : This story are purely fictitious (include MPreg). All characters appearing in this story are Fujimaki Tadatoshi (where some places and incidents either are products of the author's imagination or are used fictitious). Any resemblance to real persons, living or dead, is purely coincidental.


Memboros waktu bersama Tetsuya sepertinya telah menjadi satu ritual yang sangat sakral bagi si (calon) ayah muda.

Bagaimana tidak? Jika rutinitas kampus dan perusahaannya telah menjelma menjadi 'kamvret durhaka' serupa dengan 'pihak ketiga' di antara Seijūrō dan Tetsuya, itu sama saja dengan ancaman atau kiamat kecil bagi kelangsungan rumah tangga mereka.

Memonopoli keduanya dalam kesibukan masing-masing. Sungguh tidak dapat ditolerin; terlebih bagi dia dengan kadar posesif berlebih.

Maka ketika libur menjelang natal telah datang. Tidak sedetik pun waktu yang mereka sia-siakan. Berbagai alat komunikasi dinonaktifkan. Televisi, komputer, radio dibisukan. Bahkan segala akses yang menghubungkan kehidupan dalam dengan luar apartemen seluruhnya telah terkunci-tertutup tanpa cela. Atau pun kalau perlu Seijūrō akan mempertimbangkan untuk memasang signboard bernanda perintah 'do not disturb us' pada pintu kamar demi meraih 'quality time'.

Karenanya, Akashi Seijūrō sangat menikmati momen yang telah lama dinanti ini.

Di mana ia terbaring dengan nyaman di sofa depan perapian, berbantal dakimakura berwujud nyata dari seorang Akashi Tetsuya. Bahkan saking keenakannya, Seijūrō sampai beberapa kali harus berjuang melawan kantuknya yang seolah memberi pemberat pada kelopak mata. Mengabaikan buku micro economics dalam genggaman terjatuh ke karpet bulu.

Siapa yang tidak terbuai? Paha empuk, usapan lembut, lalu monolog Tetsuya pada aka-chan; suaranya bahkan lebih terdengar seperti lullaby ditelinga Seijūrō. Merdu mix syahdu.

Harmonisasi itu terakumulasi dalam satu wadah.

Setiap sentuhannya memberikan rasa nyaman, ketika pelukannya menawarkan rasa aman. Itulah yang dilakukan Seijūrō saat ia merasakan gerakan kecil pada perut Tetsuya.

"Baik-baik yah di dalam, jangan nakal." Pesan Seijūrō yang kemudian ditutup dengan kecupan lembut pada perut berbalut sweater.

"Iya.." Jawab Tetsuya seolah menerjemahkan tendangan yang kembali ia rasakan dalam perut.

Pelukkan terasa kian membungkus tubuh Tetsuya, Seijūrō semakin menyamankan tidurnya.

Lima belas menit kemudian, Tetsuya ikut bergabung memasuki dunia mimpi bersama Seijūrō.

oh, jangan lupakan aka-chan yang ikut bergabung, papa..mama.

.

.

Kadang-kadang, jika Seijūrō sudah merasa lelah, lelaki itu bisa tiba-tiba menjadi seorang yang melankolis dan manja.

Dan ... menyebalkan.

Seperti malam ini, misalnya.

"Kau yakin menolak tawaranku, Tetsuya?"

Kepala mengangguk, selimut ditarik hingga membungkus seluruh tubuh Tetsuya bagai kepompong.

"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kau bosan dengan pria ganteng ini?"

'Mulai, 'kan.'

Selimut disibak gusar, Tetsuya menoleh pada seseorang yang ikut merebah di kasur.

Seringainya memang memikat, tapi mengingat konsekuensi yang didapat setelahnya, membuat Tetsuya ingin menjejalkan cabai setan ke mulut suaminya itu.

"Jika ada waktu, belajarlah mengendalikan diri. Kudengar Mibuchi-san membuka praktik untuk meditasi."

Sifat bawaan keluar; tidak mau kalah, Seijūrō pun membalas. "Berlaku jika Tetsuya mampu belajar untuk mengendalikan aura."

'Biji matamu bertato!'

Hawa keberadaannya yang sudah mistis seperti ini, apa yang perlu dikendalikan? Tetsuya sungguh gagal jenius-telak.

"Kau ingin aku menjelma menjadi makhluk halus?"

"Yang kumaksud feromonmu, Tetsuya. Lagipula kenapa harus menjadi makhluk halus, jika sudah menjelma menjadi malaikat memikat?!" Yang satu kurva, yang satu lagi garis lurus di bibir. Berbeda tetapi tetap bersatu; dalam harfiah berkomposisi mature.

Yap, karena pada akhirnya mereka kembali menutup malam dalam penyatuan diri hingga fajar.

.

Tetsuya bermimpi dengan adegan di masa depan ketika anak mereka mulai bertanya dengan polosnya, "Kenapa ayah dan mama melahirkanku?"

Dengan raut yang tidak kalah berdosanya dengan sang anak, Tetsuya menjawab, "Karena mama butuh ruang untuk melayani papamu."

Atau dalam bahasa ilmiah, 'untuk memproduksi janin.'

Kabar gembiranya, Seijūrō sungguh-kelewat-dermawan untuk menurunkan DNA-nya yang unggul kepada Tetsuya.

.

Yang ia sebut sebagai bukti cinta.

.

.

.

つづく

DECEMBER 4th,2017

a/n : Damn, i need to stop this or my brain will carck out (even i know it's been craked already)