Some moments are nice

Some are nicer

Some are even worth writing about..

Yeah, some good nor bad.

.

.


Disclaimmer

Kuroko no Basuke/黒子のバスケ © Fujimaki Tadatoshi

MOMENTS © Kina

ATTENTION : This story are purely fictitious (include MPreg). All characters appearing in this story are Fujimaki Tadatoshi (where some places and incidents either are products of the author's imagination or are used fictitious). Any resemblance to real persons, living or dead, is purely coincidental.


Tetsuya yang dahulu miskin ekspresi, yang hanya tahu cara membelokkan logika saat garis lurus pada bibir manisnya melengkung; meski hanya seujung kuku. Kini, memasuki dapur dengan dahi berkerut. Bibir mencibir, plus rambut mencuat tak karuan. Susah payah (dengan menolak bantuan yang ditawarkan pria di hadapannya) ia mencoba duduk pada sebuah kursi kayu tinggi tanpa sandaran. Sikunya ditempelkan pada konter di depannya, dengan dagu yang ditopangkan pada telapak tangannya. Memerhatikan pria yang kembali memunggungi dengan kesibukannya. Di saat yang sama, sepasang iris merah menilai dari sudut matanya.

Memainkan peran favorit sebagai 'suami pengertian', Seijūrō pun menghampiri kekasih hati dengan menawarkan sesuatu ditangannya.

"Vanilla cake?"

Tetsuya memandangi Seijūrō dengan wajah yang (masih) kusut. Tanpa mengucapkan apa-apa, ia mengambil garpu kecil yang ada di sebelah potongan kue tersebut, lalu menjejalkannya ke mulut dalam beberapa potongan besar.

"Jadi ... mau cerita?" tanya Seijūrō sambil mengelap sudut bibir Tetsuya dengan ibu jarinya.

Yang ditanya tidak lantas menjawab. Ia masih sibuk melahap kue kesukaan buatan Seijūrō-nya. Hingga tak lama kemudian, kue itu pun tandas.

"Tidak."

Diletakkannya garpu begitu saja. Seijūrō sempat terdiam beberapa saat sebelum mengerti maksud dari kedua tangan Tetsuya yang terjulur padanya. Dengan penuh kelembutan dan hati-hati, Seijūrō mengangkat tubuh Tetsuya; yang kini terasa bertambah bobotnya, untuk turun dari kursi kayu tinggi tersebut. Setelah menapak kaki pada lantai, Tetsuya bergegas keluar dari dapur; menghindar dari sesi ciuman pagi yang selalu mereka bagi.

Tidak ambil pusing, kedua tangan telaten membersihkan bekas sarapan Tetsuya. Sisa krim vanila pada piring dicolek lalu dijilat. Entah mengapa rasa manis yang ia rasa sangat identik sekali dengan Akashi Tetsuya, membuat Seijūrō tak mampu menahan diri untuk tidak tersenyum saat kembali mengingat tingkah laku sang istri tercinta yang tadi, yang kemarin, bahkan sampai yang tujuh bulan silam.

"Mood swings, kah.."

.

.

Ketika menyadari bahwa Tetsuya telah menjadi seorang yang begitu perasa, Seijūrō dengan segera menyiapkan dirinya untuk menghadapi hal-hal tak terduga. Baik secara situasi, kondisi, maupun konversasi verbal.

Namun ia melupakan sesuatu yang fatal.

Itu terjadi semalam; sebelum pagi tadi mood swings kembali berulah. Tetsuya bertanya sesuatu pada Seijūrō.

"Apa yang kau sukai dariku, Seijūrō-kun?"

Seijūrō melirik dari bukunya ke wajah manis Tetsuya. Mengalihkan kinerja otak untuk menjawab pertanyaan menarik daripada sekumpulan ilmu eksakta. "Kau sangat baik, sangat menyayangi anak kecil, setia dan juga pengertian. Selain itu, kau memiliki karakter unik yang bisa membuatku tertarik hingga jatuh cinta padamu."

"Ada lagi?"

Seijūrō mengecup kening Tetsuya seraya mencari kenyamanan lebih dalam posisi tidurnya.

"Kau cantik."

That's it! Tetsuya kembali bersemu; dengan sensasi yang serupa seperti saat Seijūrō pertama kali 'menembak'nya. Ia mengecup pipi Seijūrō sebagai apresiasi.

Seijūrō menarik selimut lebih tinggi sebelum kemudian mematikan lampu kamar.

Namun, setelah itu, Tetsuya tersentak bangun di tengah malam. Ia merasa ada yang tidak benar, sesuatu yang mengganjal pikirannya pada setiap deskripsi yang tadi dikatakan suaminya.

'Cantik?'

Tetsuya menoleh pada sosok yang telah terlelap di sampingnya.

.

"Apa Seijūrō-kun punya istri yang lain?!"

.

.

.

つづく


APRIL 1st, 2018

a/n : 'Ketika suami teringat sang ibu ...'

Happy prank day.