Every moment before this one depends on this one.

Just adding the sweetnest.

.

.

.


Disclaimmer

Kuroko no Basuke/黒子のバスケ© Fujimaki Tadatoshi

Crossover

Attack on Titan/進撃の巨人© Hajime Isayama

MOMENTS © Kina

ATTENTION : This story are purely fictitious (include MPreg). All characters appearing in this story are Fujimaki & Isayama (where some places and incidents either are products of the author's imagination or are used fictitious). Any resemblance to real persons, living or dead, is purely coincidental.


"Tidak mau!"

"Tapi ini nikmat, kau harus mencobanya."

"Jangan paksa aku, Kagami-kun."

Akashi Seijūrō yang sedaritadi melangkah terburu demi mengejar waktu meeting paginya, tiba-tiba saja terdiam.

Dari celah pintu dapur yang terbuka Seijūrō mengintip untuk melihat si pemilik suara.

Entah mengapa ada sebuah kelegaan ringan yang dirasakan Seijūrō setelah mengetahui apa yang sedang mereka perdebatkan di sini.

Kagami Taiga, dengan kerut permanen pada alis cabangnya tampak sedang kepayahan membujuk mantan bayangannya untuk memakan salad buatannya.

Mengandalkan wajah flat, Tetsuya tetap keras kepala menolak suapan yang coba dilakukan oleh Kagami.

"Teme …" sedikit menahan kesal, Kagami berujar. "sayuran itu bagus untuk kesehatan, jangan kau asup dengan susu dan burger terus.." nasihatnya tak sadar untuk diri sendiri.

Tetsuya yang sadar lalu merengut. "Aku induk karnivora."

"Oh ya, coba gigit aku."

Kedua tangan Tetsuya terangkat, mencoba menakuti dengan meniru mimik Nigou yang memang ditakuti Kagami.

Ketika Kagami mulai menerima tantangan Tetsuya dengan cara menyodorkan lengannya sendiri, Seijūrō memutuskan inilah saat yang tepat untuk menjinakkan kesayangannya.

Dengan senyum ramah (yang justru terlihat horror di mata Kagami), Seijūrō menyapa mereka.

"Good morning, can i help you?"

"Ou, pagi Akashi," sapa Kagami.

Masih dengan senyum tampan, Seijūrō bertanya."Saya lihat tampaknya Anda sedang kepayahan mengurusi istri saya, benar?"

Tetsuya yang sejatinya payah menunjukkan ekspresi, sudah jelas gagal menunjukkan ketidaksetujuannya melihat Seijūrō yang sepertinya akan bersekutu dengan Kagami.

"Begitulah. Padahal aku yakin salad yang kubuat ini cukup lezat," ujar Kagami menatap salad pada mangkuk yang dipeganginya.

Seijūrō mengelus sisi dagunya dengan gestur seolah berpikir.

"Kalau begitu, bagaimana jika kutambahkan sedikit bumbu rahasia?" Seijūrō mendekati Kagami, meminta mangkuk yang ada di tangannya berpindah pada tangan Seijūrō.

Agak ragu, Kagami lalu memberikannya setelah Seijūrō berdeham dengan senyum kharismatik.

Setelahnya, yang dilakukan Seijūrō adalah berjalan menuju counter. Menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku sebelum meraih beberapa botol bumbu—entahlah, baik Kagami ataupun Tetsuya tidak tahu persis apa yang ditambahkan pada saladnya dengan posisi Seijūrō yang memunggungi mereka seperti itu.

Tidak lama kemudian, Seijūrō kembali menghampiri Tetsuya.

"Silakan," Seijūrō mengaduk-aduk isi mangkuk, lalu menyendokkan salad itu ke wajah masam Tetsuya. "ada kiriman special.. sarapan penuh nutrisi dari Daddy untuk Aka-chan, mohon diterima.."

Mendengar itu perlahan wajah Tetsuya melunak. Seketika menggalau, antara ingin kekeuh menolak atau menerima. Namun, mengingat sesuatu yang juga hidup dalam tubuhnya..

Ini bukan saatnya keras kepala.

Sejurus kemudian, Tetsuya memajukan wajahnya, mulutnya terbuka dan satu suapan itu berhasil dilahap.

Seijūrō terus mengawasi mulut mungil itu yang sedang mengunyah pelan-pelan.

Pelan.. dikunyah.

Masih pelan dikunyah.

Kunyah..kunyah..

Telan.

Mata bulat biru itu bersinar.

"Enak. Seijūrō-kun berikan salad itu padaku."

.

Kagami Taiga cengo dengan tampang paling tablo yang dimilikinya. Antara takjub dan salute dengan kemampuan sang Maha absolut yang nyata terbukti.

Ia pun menatap Seijūrō —yang tersenyum tampan kepada Tetsuya—dengan tatapan heran. Tahu apa yang akan ditanyakan Kagami padanya, Seijūrō pun berujar dengan penuh kebanggaan.

"Tidak ada bumbu rahasia. Well, hanya cinta yang kutambahkan di dalamnya."

.

.

Beberapa bulan sebelum anggota keluarga Akashi bertambah.

Sudah menjadi kewajiban bagi Tetsuya untuk tinggal seatap kembali kepada kedua orangtuanya.

Meskipun hanya tinggal untuk sementara, namun kegembiraan dengan kembalinya sang anak semata wayang nyatanya mampu memberikan aura positif bagi pasutri; Levi dan Eren, tersebut. Sekalipun si ayah mah tidak terlalu kentara menunjukkannya. Maklum, Tsundere bawaan sedari di janin nyonya Kuchel terlampau mendarah daging.

Akan selalu ada celah untuknya membuat satu perdebatan (dari hal remeh sekalipun) demi membangun komunikasi dengan sang mantu sekaligus meraih notis si anak.

.

Salah satunya saat Seijūrō dan Tetsuya berkunjung di pertengahan November tahun ini.

.

Musim gugur selalu menyenangkan bagi pasangan konglomerat Akashi itu. Mereka sangat suka berjalan-jalan di antara guguran daun-daun coklat dan mendengar bunyi krasak setiap kali meluncurkan langkah demi langkah.

Setelah puas berjalan-jalan, mereka selalu sengaja merebahkan diri di atas guguran daun kuning dan orange itu sambil memandang langit biru dan menikmati angin musim gugur yang menyejukkan.

Tidak jarang pula, Seijūrō akan dengan sengaja menggelitik kulit Tetsuya dengan daun Momiji itu, hingga berakhir dengan perang lempar-melempar daun, tanpa sadar mata tajam tengah mengawasi aktivitas unpaedah (bagi si pengamat) mereka itu dari balik pohon.

Jika serakan daun sudah mencapai batas toleransi, sang Janitor akan menampakkan diri. Mengakhiri sesi love-dovey keduanya dengan kata penutup paling sarkastik.

"Oi bocah, jika sudah selesai segera ambil sapu lidi di pohon itu, dan bantu aku membersihkan kekacauan —tunjuk tumpukan daun, ini semua."

Tetsuya mendadak mules melihat pria bercadar lengkap dengan sapu dan celemek di hadapannya, ketika yang dilakukan Seijūrō hanya mengangguk menanggapi perintah Papi Levi.

Untung Seijūrō dan Tetsuya orangnya mah sabar pisan..

.

Di benci itu, lebih bijak menjadi pendusta.

Kenapa? Tanyamu?

Entahlah, mungkin awal cinta memang begitu.

.

.

.

つづく


November, 18th 2018 [2.30 AM]

a/n : beberapa scene based on reality, haha

Playlist :

1. Vanilla Twilight – Owl City

2. Everybody's Changing – Keane

3. My Heart Draws a Dream – L'Arc-En-Ciel

4. Rude – Magic!